
"Baiklah, waktunya untuk melanjutkan pembicaraan kita," ucap Sebas sembari memandang Gameciel yang duduk di hadapannya dengan serius.
"Apakah ini mengenai 'itu', Kak?" tanya Gameciel, merujuk pada suatu kejadian misterius yang hanya mereka berdua alami sebelumnya.
Sebas mengangguk, "Ya, kau benar. Aku masih bingung tentang apa yang terjadi pada kita berdua saat itu."
Sambil minum kopi dengan anggun, Gameciel mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah selesai, ia meletakkan cangkir kembali ke meja.
Gameciel memberanikan diri untuk mengemukakan teorinya kepada saudaranya Sebas, "Kak, apakah mungkin kita terlempar ke masa lalu?"
Sebas memikirkannya sejenak sambil memainkan jenggotnya, "Hmm... Sepertinya apa yang kau katakan itu masuk akal. Hal yang mendukung pernyataanmu adalah bahwa aku masih memiliki inti permata dungeon yang ayah berikan sebelum kita berpindah ke masa lalu ini."
Sebas melanjutkan, "Aku juga sudah memberikan inti permata dungeon milik ayah di masa depan yang sudah tiada kepada ayah di masa sekarang ini. Jadi, bisa dikatakan bahwa ada dua inti permata dungeon ayah yang sama."
Gameciel mendengarkan dengan serius, merasa mereka semakin mendekati jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
Gameciel masih penuh kebingungan, "Kak, jika kita sekarang berada di masa lalu dan kita berhasil menyelamatkan ayah, apakah itu berarti garis waktu di masa depan akan tetap sama seperti sekarang ini?"
Sebas juga merasa kebingungan, "Aku juga tidak tahu, ini sulit untuk dijelaskan atau ditafsirkan."
Namun, tiba-tiba ekspresi Sebas berubah menjadi terkejut dan kemarahan.
Dengan perlahan, ia membuka ruang dimensi penyimpanannya, ia berencana untuk mengambil manusia yang pernah menghina ayahnya di masa lalu sebelum mereka terlempar ke masa lalu yang sekarang menjadi kenyataan.
Sementara Gameciel bingung, ia hanya bisa memandangi saudaranya, Sebas, yang tiba-tiba tampak sibuk dengan sesuatu di dalam ruang penyimpanan dimensinya.
"Kak, apa yang kau lakukan?" tanya Gameciel dengan kebingungan saat ia melihat Sebas memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan itu.
Namun sebas tidak menanggapinya.
Tiba-tiba, Sebas berhasil menarik keluar seorang pria bandit berotot dengan kasar.
Tubuh pria itu terjatuh ke lantai dengan tangan yang tampaknya tak berbentuk lagi.
Plok..
Pria bandit itu berteriak ketika dia menyadari bahwa dia sekarang berada di hadapan Sebas, yang tampak sangat marah.
"Tolong... Tolong..." ucap pria bandit tersebut sambil menangis.
Gameciel, dengan wajah bingung, memandangi manusia yang tergeletak di lantai.
Ia tidak memahami mengapa Sebas tiba-tiba mengeluarkan pria bandit ini dari ruang penyimpanan dimensinya.
Sementara itu, pria bandit berotot yang terjatuh tiba-tiba memperhatikan kehadiran Gameciel, malaikat rupawan yang berdiri di depannya.
Kepada matanya yang tak percaya, Gameciel terlihat seperti utusan dewa yang datang untuk menyelamatkannya dari iblis jahat yang telah melukainya.
Dengan mata berkaca-kaca, pria bandit itu memohon kepada Gameciel, "Tuan Malaikat Agung, tolong bantu aku, bunuh dia! Dia adalah iblis jahat!" Sambil menunjuk ke arah Sebas yang berdiri di sampingnya.
Sebas hanya tersenyum melihat reaksi pria bandit tersebut, merasa senang dengan situasi yang terjadi.
Gameciel yang melihat pria bandit tersebut perlahan berdiri dari bangkunya dan berjalan kepadanya yang tersungkur dilantai.
Klak.. Klakk... Gameciel perlahan berjengkok ke arah pria bandit dengan tangan hancur tersebut.
Saat Gameciel mengulurkan tangannya menuju tangan pria bandit yang terluka parah, suasana di ruangan itu menjadi hening.
Pria bandit tersebut, yang sebelumnya teriak-teriak memohon pertolongan, kini tampak tenang dan bahagia, seakan-akan tahu bahwa pertolongan sudah datang.
Gameciel dengan lembut menyentuh tangan yang penuh luka pria bandit itu. Diucapkanlah satu kata, "[Heal]!" Sesaat setelah itu, keajaiban pun terjadi.
__ADS_1
Pemulihan tangan pria bandit dimulai dengan cepat.
Tulang-tulang yang hancur dengan brutal mulai tumbuh kembali dengan cepat. Kemudian, jaringan otot dan daging perlahan membentuk struktur yang sempurna.
Terakhir, kulitnya tumbuh menutupi semuanya, seperti proses menyembuhkan yang ajaib.
Tangan yang tadinya hancur, kini pulih dengan sempurna. Pria bandit itu mengangkat tangannya yang baru pulih dengan takjub, menggerakkan jemarinya dengan hati-hati.
Terlihat senyum di wajah Gameciel saat ia menyelamatkan nyawa dan tangan pria bandit tersebut.
Pria bandit tersebut terkejut saat merasakan perubahan pada tangannya. Rasa sakit yang sebelumnya menghantui, kini telah hilang tanpa bekas.
Airmata bahagia mengalir dari matanya, membasahi pipinya yang kotor.
Ketika Gameciel menyelamatkan nyawa dan kembali memberikan tangan yang sempurna kepada pria bandit itu, ia merasa terharu.
Tanpa ragu, pria bandit itu berlutut di depan Gameciel, sepenuh hati mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Tuan Malaikat Agung! Terima kasih banyak, Tuan Malaikat Agung!" ucapnya dengan suara yang penuh emosi, sambil menangis tersedu-sedu.
Saat itu, di dalam ruangan yang tadinya hening karena ketegangan, kini terpenuhi oleh suara tangis dan ucapan terima kasih yang tulus.
Lalu Gameciel perlahan bertanya kepada manusia yang berada dilantai tersungkur, "Siapa namamu?" ucapnya.
"Namaku Gideon, Tuan malaikat agung!" ucap pria bandit berotot tersebut.
Gameciel memandang pria bandit yang bernama Gideon dengan penuh perhatian. Namun, sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, terdengar suara batuk dari sebas yang duduk di sampingnya.
Suara batuk tersebut memecah keheningan yang baru saja tercipta.
"Ahek... Ahem," batuk sebas dengan nada ringan.
Ketegangan semakin meningkat ketika Gideon dengan cepat berteriak kepada Gameciel, memohon agar ia membunuh sebas.
Matanya yang penuh rasa takut dan amarah memandang Gameciel, berharap bahwa malaikat itu akan memenuhi permintaannya.
Namun, di tengah ketegangan tersebut, Gameciel hanya terdiam sejenak, merenungkan pilihan yang harus ia buat.
Gideon dengan penuh keyakinan menunjuk kepada Sebas, memohon Gameciel untuk menghabisi makhluk iblis yang, menurutnya, sangat jahat itu.
"Tuan malaikat agung, habisi makhluk iblis yang jahat itu!" serunya sembari matanya penuh harapan.
Sebas, dengan cemoohan di wajahnya, menjawab, "Kau pikir dia akan menolongmu?"
Dengan percaya diri yang tak goyah, Gideon menyatakan, "Tentu saja! Tuan malaikat agung pasti akan menghabisimu! Dia adalah utusan dari dewa yang memberantas makhluk jahat dan iblis sepertimu!"
Sebas hanya tertawa terbahak-bahak, menggema di dalam ruangan tersebut.
"HAHAHAHAHA, lucu sekali manusia seperti dirimu yang sering melakukan kejahatan dan berharap dewa akan menolongmu!"
Gameciel bergerak perlahan ke arah Sebas, membuat Gideon semakin bersemangat karena dia berpikir Malaikat Agung akan menghukum makhluk jahat seperti Sebas.
"Habisi dia, Tuan Malaikat Agung!" ucap Gideon bersemangat kepada Gameciel yang berjalan mendekati Sebas.
Namun, saat itu Gideon mendengar sesuatu yang tak terduga dari Malaikat Agung yang tinggi di sekitarnya.
"Kak... Apa maksud kakak dengan mengeluarkan manusia itu?" ucap Gameciel kepada Sebas sembari menggaruk kepalanya.
Sebas, sambil menatap Gideon di kejauhan, menjawab adiknya, Gameciel.
"Dia adalah makhluk rendahan yang berani menghina ayah!" balas Sebas dengan tajam, matanya memandang tajam ke arah Gideon.
__ADS_1
Gameciel memalingkan pandangannya ke manusia itu dan dengan cepat mendekatinya dengan ekspresi emosional yang tak biasa.
Gideon mendengar Sebas memanggilnya "kak" dan "ayah" kepada sesuatu yang ia tak kenal, yang pasti "ayah" mereka merupakan entitas yang mungkin adalah dewa besar, yang pernah sebas katakan kepadanya dulu kala.
Keadaannya berubah drastis, keringat mulai mengalir deras di wajahnya dan ketakutan kembali merayap saat ia menyadari bahwa Malaikat Agung dan Sebas adalah saudara.
Seketika itu, ia kembali diliputi oleh rasa takut, menyadari bahwa Malaikat Agung ini tidak akan memberinya perlindungan melainkan hukuman.
Gideon berlari mengelilingi kamar mewah Sebas dengan kepanikan yang semakin meningkat, tetapi ia tidak bisa menemukan jalan keluar.
Dalam sekejap, Gameciel mencapainya dengan kecepatan yang luar biasa dan menggenggam kepalanya dengan satu tangan.
Kepala Gideon terangkat dengan paksa oleh malaikat besar tersebut, menyebabkan napasnya tersengal.
Wajahnya memerah akibat kesakitan, dan matanya penuh dengan ketakutan yang tak terkendali.
"Lepaskan aku, Tuan Malaikat Agung," Gideon berteriak dengan suara parau, tetapi tidak ada belas kasihan dalam mata Gameciel yang memandangnya.
Ia merasa terjebak dalam genggaman malaikat yang kuat, tanpa jalan keluar.
Hingga suatu ketika.
Tok..
Tok..
Tok..
Sebagai respons terhadap ketukan pintu, Gameciel melepaskan cengkeramannya dari Gideon yang segera berlarian ketakutan dan bersembunyi di bawah kasur Sebas.
Sebas mengangkat alisnya dengan heran.
"Ya?, siapa itu?" tanya Sebas.
Suara lembut seorang wanita terdengar dari luar kamar, menghentikan ketukan pintu yang berulang.
"Permisi, Tuan Sebas. Tuan Calliga memanggil Anda," ucap seorang pelayan wanita yang berdiri di luar pintu kamar Sebas.
"Wah, Ayah memanggilku?" ucap Sebas, wajahnya berseri-seri.
Ia segera melupakan emosinya terhadap manusia bernama Gideon, fokus pada panggilan ayahnya.
Sebas dengan tenang memerintahkan Gameciel untuk menangani Gideon dan mengingatkan agar ia tetap merahasiakan peristiwa di masa lalu mereka.
"Sesuai perintah Anda, Kak!" sahut Gameciel dengan semangat, siap menjalankan perintah kakaknya.
Sebas kemudian meninggalkan kamarnya dengan hati yang riang untuk bertemu dengan ayahnya yang telah memanggilnya.
Pintu kamar yang megah itu tertutup dengan mantap, memisahkan Sebas dari Gameciel dan Gideon yang berada di dalam.
Tanpa ampun, Gameciel memandang Gideon dengan tatapan yang membuat nyalinya hampir hilang.
"Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini, manusia bodoh yang berani menghina ayahku!" ucapnya dengan nada yang mengancam.
Gideon, yang saat itu terjebak di bawah tempat tidur Sebas, merasa takut setengah mati. Bahkan, ketakutan yang mendalam membuatnya mengompol tanpa sadar.
Dia mengetahui bahwa situasinya sangat buruk, dan dia melihat bayangan malaikat yang menyeramkan mendekatinya dengan perlahan.
Saat Gameciel semakin mendekat, Gideon tak bisa menahan diri lagi.
Dia menjerit ketakutan, mencaci maki, dan berteriak keras di dalam tempat persembunyiannya yang sempit di bawah tempat tidur Sebas.
__ADS_1