
Dengan suara yang lembut dan penuh penyesalan, aku berkata kepadanya, "Sebas, maafkan aku atas kata-kata kasar yang tadi. Hentikan tangisanmu, itu hanya akan meredakan semangatmu."
Sebas menatapku dengan ekspresi penyesalan.
"A-ayah, maafkan aku. Aku bodoh telah membuatmu marah dan kecewa padaku," katanya dengan penuh penyesalan, matanya masih penuh ketakutan.
Aku merasa haru melihat ketulusan dan penyesalan dalam matanya.
Bagiku, Sebas adalah anak-anakku yang memerlukan dukungan, dan aku berjanji untuk menjadi sosok ayah yang lebih baik baginya.
Aku menanggapi Sebas dengan lembut, "Kau salah, Sebas. Ini bukan kesalahanmu. Kesalahan ini adalah milikku, aku yang gagal sebagai orang tua bagimu. Maafkan aku, anakku."
Sebas menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca, dan air mata pun kembali mengalir di wajahnya yang baru saja aku keringkan.
"T-tidak, A-ayah. Ayah tidak salah. Ini semua karena kebodohanku yang membuat ayah marah. Bagiku, ayah adalah sosok ayah yang sempurna tanpa cela dan itu merupakan fakta," katanya dengan penuh keyakinan, seolah-olah aku yang tidak bersalah.
Tawa lepasanku membuat Sebas dan bahkan Lithos terkejut.
Sebas mungkin mengira aku tertawa sinis ke arahnya, sedangkan Lithos hanya mengira aku, seorang naga, sedang gila karena tertawa begitu keras.
Namun, tawaku tak berlangsung lama.
Cahaya terang sekali lagi meliputi tubuhku, dan aku merasa skill pasifku, [Suppresor], aktif kembali.
Emosiku yang tadinya begitu ceria kini kembali tenang, tanpa ekspresi berlebihan.
"Dasar kadal gila," gumam Lithos dengan nada kecil, komentarnya jelas terdengar olehku.
"Cih, pasifku aktif kembali"
Aku merasa kesal karena skill pasifku selalu mengontrol emosiku, membuatku tidak bisa terlalu senang atau marah.
Aku hanyalah seperti boneka datar tanpa ekspresi yang berlebihan.
Inilah salah satu dari banyak permasalahan yang harus aku hadapi dalam hidupku sebagai naga dalam dunia fantasi ini.
Saat aku meminta maaf tulus kepada Sebas, aku merasa lega.
Tidak hanya aku yang merasa lega, Sebas pun sepertinya merasa lega mendengar permintaan maafku yang tulus.
Dengan tulus dan penuh emosi, aku bertanya kepadanya,
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan kembali bertanya kepadamu, maukah kau memaafkan pria tua satu ini, putraku?"
Sebas melihatku dengan mata yang dipenuhi air mata.
Setelah beberapa detik, tangisannya meledak, dan dia menjawab dengan suara lantang dan penuh emosi, "YA AYAH! AKU MEMAAFKAN AYAH!"
Tangisannya yang hebat menggema di ruangan itu, dan aku merasa hubungan kami menjadi lebih kuat.
Aku saat itu juga tersenyum dan mengelus bahunya kembali dan hingga suatu ketika saat aku mengelusnya sebas menjerit seakan-akan kesakitan yang dapat saat dia menangis hebat.
Setelah Sebas tiba-tiba menjerit saat aku mengelus bahunya, kekhawatiranku pun langsung muncul.
Aku segera bertanya dengan nada khawatir, "Apa kau baik-baik saja, putra-ku?"
Namun, Sebas dengan cepat menutupi rasa sakitnya dan memberikan alasan yang tidak masuk akal, "Ah, ti-tidak a-ayah, aku menjerit karena aku sedang lapar," katanya sambil tersenyum tulus setelah berhenti menangis.
Aku menerima alasan bodohnya dengan senyum, tanpa curiga. Kemudian, aku kembali memegang bahunya dengan lembut dan berkata, "Baiklah, kita akan mencari makanan bersama-sama, putra-ku."
Dengan tanganku yang masih ada di bahu kiri Sebas, aku menepuknya pelan sebagai tanda bahwa kita akan berangkat.
Namun, tiba-tiba dia menjerit keras lagi.
Dia berusaha meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi aku mulai mencurigai ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.
Saat aku merasa dia masih menyembunyikan sesuatu, aku memeriksa lagi dengan menepuk pelan bahu kirinya.
Saat itu juga, Sebas berusaha menahan rasa sakit dan tampaknya dia ingin menjerit lagi, tapi ia berhasil menahannya.
Aku menyadari bahwa dia tengah berjuang dengan rasa sakit yang aku timbulkan saat itu.
Aku teringat Sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan saat marah padanya di markas petualang, yaitu mencekram bahunya dengan keras.
Aku memerintahkan Sebas dengan cepat untuk membuka jas dan kemejanya, tapi ia enggan dan alasan-alasan yang ia berikan semakin memicu rasa curiga di dalam diriku.
Dia berkata bahwa ia malu karena bisa dilihat orang di luar sana, namun alasan-alasannya tampak tidak masuk akal.
Dengan serius, aku berbicara lagi kepada Sebas, "Kau seorang pria, jadi mengapa harus malu untuk telanjang dada? Bukalah pakaianmu sekarang, aku ingin melihat bahumu." Suaraku yang serius sepertinya membuatnya takut bahwa aku akan marah lagi.
Dengan cepat, Sebas melepaskan jas hitam mewah yang ia kenakan dan hendak meletakkannya di lantai.
__ADS_1
Aku dengan cepat mengambil dan memegang jas hitam itu di tanganku, sementara mataku tertuju pada bahunya yang mungkin telah terluka akibat kemarahan bodohku sebelumnya.
Kemeja putihnya perlahan terbuka, dan aku bisa melihat tubuh Sebas yang penuh dengan otot keras.
Namun, fokusku langsung tertuju pada bahunya. Bahu kanannya terlihat baik-baik saja, tetapi bahu kirinya mengejutkanku dengan luka yang parah.
Bahu kirinya memar, bonyok, berwarna kebiruan, dan terlihat seperti luka dalam yang serius.
Tidak hanya itu, tapi aku juga melihat bahwa tulang selangka di bahu kirinya tidak sejajar dengan yang di bahu kanannya.
Aku melihat adanya benjolan panjang yang berwarna putih seperti tulang yang menonjol keluar dari kulitnya dan tampaknya mengeluarkan sedikit darah.
Saat itulah aku menyadari bahwa tulang selangka di bahu kirinya telah patah akibat cengkramanku yang keras saat aku marah kepadanya.
Rasa penyesalanku langsung membanjiri pikiranku, dan aku merasa bersalah atas luka yang kuberikan kepadanya.
Terdapat penyesalan yang mendalam dalam hatiku saat aku menyadari tindakanku yang bodoh.
Aku teringat bagaimana aku pernah menggeplak kepala Sebas dengan keras sebelumnya.
Dalam ketakutan, aku memeriksa kepalanya, meraba, dan memeriksa teliti.
Beruntung, tulang tengkoraknya tidak retak, meskipun ada benjolan merah di kepalanya akibat perbuatanku.
Hatiku dipenuhi perasaan kemarahan dan penyesalan yang mendalam terhadap diriku sendiri.
Aku merasa bodoh dan tolol karena telah melukai mereka yang seharusnya aku lindungi dengan kekuatanku yang melebihi mereka.
Statistik pertahanan tinggi Sebas mungkin tidak mampu melindunginya dari kekuatanku yang melebihi dirinya, meskipun mencapai 175 poin.
Bagiku, dia tetap terasa rapuh. Dengan statistiku kekuatanku yang telah mencapai 400, aku menyadari betapa bodohnya tindakanku yang telah mencengkramnya dengan keras sebelumnya.
Meski angka pertahanannya tinggi, itu tidak cukup untuk melindunginya dari rasa sakit yang dia alami.
Aku dengan cepat memeluknya, menggendongnya seperti seorang bayi, dan merangkulnya dengan penuh penyesalan dan kasih sayang.
Air mataku pun tak terbendung, meskipun wajahku tersembunyi di balik helm besi.
Sambil menangis, aku berulang kali meminta Sebas untuk memaafkan tindakanku yang bodoh, berkali-kali, tanpa henti.
Tentunya mereka tidak dapat melihat wajahku yang dilanda air mata, tersembunyi di balik helm besi yang kukenakan.
__ADS_1