
Saat itu, dalam keheningan yang menyelimuti pertempuran yang mematikan, debu-debu terangkat dan terdengar teriakan kemarahan dan kebencian yang memenuhi udara.
Suara itu berasal dari Sebas, sepasang sayapnya yang mengeluarkan hembusan angin dahsyat saat dia melayang menuju Lithos.
Dengan pandangan penuh kebencian, Sebas meneriakkan amarahnya yang tak terbendung, "TIDAK! TIDAK! AKU TIDAK INGIN KEHILANGAN AYAH LAGI! AKAN KUBUNUH KAU, MAKHLUK BAJINGAN!" Suaranya penuh dengan nafsu pembunuh yang memancar ke seluruh tubuhnya, dan dia menatap Lithos dengan tatapan yang penuh dengan kebencian yang mendalam.
Tiba-tiba, dari dalam diri Sebas, terdengar suara raungan yang menggetarkan jiwa.
"GROAAARR!"
Raungan itu menggema di sekitar pertempuran, memancarkan rasa kemarahan dan dendam yang tak terbayangkan.
Suara itu mengirimkan pesan yang jelas kepada Lithos bahwa Sebas tak akan tinggal diam setelah melihat ayahnya diserang.
Sebas menunjukkan kekuatannya dengan mengeluarkan suara raungan yang mengguncangkan tanah, memancarkan aura yang menakutkan bagi makhluk lemah.
Dalam hati Sebas, ada api dendam yang menyala terang, membara di dalam dirinya. Dia bersumpah untuk menghancurkan Lithos dan membalaskan dendam ayahnya.
Dalam keadaan penuh kebencian dan keputusasaan, Sebas mengumpulkan semua kekuatannya. Dan menyerang lithos dengan bola apinya.
Lithos berdiri tegak di tengah medan pertempuran yang diliputi ledakan dan kobaran api.
Serangan hebat dari Sebas tidak mampu merusak tubuh kristal Lithos yang tetap utuh meski terkena serangan dengan kekuatan yang luar biasa.
Meskipun tahu bahwa dia jauh lebih lemah daripada Lithos, Sebas tidak gentar dan tidak merasa takut dengan kelemahannya.
Tujuannya yang utama adalah untuk membantai dan membunuh Lithos.
Dalam keadaan yang penuh keputusasaan, Sebas mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan melancarkan serangan terakhirnya.
Ia melepaskan serangan bola api dengan kekuatan maksimal, dengan harapan dapat menghancurkan Lithos sekali dan untuk selamanya.
Namun, serangan itu hanya berhasil menciptakan ledakan besar dengan kobaran api yang menyala-nyala. Panas ekstrem menjalar di sekitar medan pertempuran, menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.
Namun, saat debu dan asap mereda, Lithos masih berdiri kokoh, tidak terpengaruh oleh serangan tersebut.
Tubuh kristalnya masih utuh, dan dia tetap menatap Sebas dengan mata yang penuh dengan tekad dan keberanian.
Meski tubuhnya terluka, Lithos tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Dia tahu bahwa dia harus bertahan dan melawan, meskipun itu berarti menghadapi musuh yang jauh lebih kuat darinya.
Sebas merasakan keputusasaan dan kelemahan yang melanda dirinya. Dia menyadari bahwa upayanya untuk membunuh Lithos hampir tidak mempan.
Lithos hanya menyaksikan dengan sikap santainya saat serangan sebas tidak mempan kepadanya.
"Hmm, jangan lupa untuk mengubur tubuh ayah bodoh yang kau manjai itu yang sudah tewas karena kebodohannya telah meremehkanku!" ucap Lithos dengan nada sinis dan kejam.
Kata-katanya seperti jarum yang menusuk hati Sebas, memicu kemarahan lebih dalam di dalam dirinya.
Sebas semakin marah mendengar kata-kata Lithos yang menyakitkan itu.
"KAU BILANG APA?! [DESPERADO]!" Teriak Sebas dengan keras, sambil mengaktifkan skill terkuatnya.
Dia bergerak dengan cepat, menyelinap ke dalam bayangan Lithos dan melepaskan serangan eksplosif dengan kekuatan gabungan kegelapan dan suci.
__ADS_1
Skill [Desperado: Shadowstrike] milik Sebas mampu mengurangi pertahanan musuh sebesar 50% selama 5 detik.
Namun, saat Sebas melayang di udara, tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak. Lithos yang melihatnya kaget dan bingung.
"Dimana bocah kurang ajar itu?" gumam Lithos, mencoba mencari tahu keberadaan Sebas yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
Sementara itu, Sebas berada dalam dimensi bayangan yang tersembunyi di balik kenyataan. Dia menggunakan skill-nya untuk menyelinap ke dalam bayangan Lithos dan menghindari serangan balasan.
Sebas bergerak dengan cepat, melepaskan serangan-serangan bayangan yang menghantam tubuh Lithos dari segala arah. Setiap serangan membawa kekuatan yang luar biasa, membuat tubuh Lith
KRAK! Suara keras memenuhi medan pertempuran saat Sebas dengan penuh emosi menyerang Lithos.
Ledakan dahsyat terjadi di sekitar Lithos, dan dengan sekejap, tubuh kristal Lithos meledak dengan hebat.
Serpihan-serpihan kristal terbang ke segala arah, menyebabkan medan pertempuran dipenuhi dengan hancuran dan kekacauan.
"matilah!" Teriak Sebas dengan puncak emosi, meluapkan kebenciannya kepada tubuh Lithos yang sudah hancur total.
Namun, saat serpihan kristal Lithos beterbangan dan melayang ke satu tempat, hal yang mengejutkan terjadi.
Serpihan-serpihan tersebut berkumpul dan menyatu menjadi satu, membentuk kembali tubuh kristal humanoid Lithos yang utuh.
Lithos kembali berdiri di hadapan Sebas dengan tubuh kristal yang baru terbentuk.
Pandangannya penuh dengan hinaan, tidak memperlihatkan sedikitpun tanda kelemahan.
Sebas melihat dengan penuh kebencian saat lithos meregenerasi dirinya dengan sempurna. Tubuh kristal lithos bergabung kembali dan membentuk sosok humanoid.
Sebas mempersiapkan dirinya untuk menghadapi lithos sekali lagi, mengetahui betapa sulitnya untuk mengalahkannya. Hanya ayahnya yang mampu membunuh lithos dengan cepat.
Sebas menatap lithos dengan penuh kebencian. Ia tidak bisa memahami mengapa lithos menyerang ayahnya.
Ayahnya adalah teman bagi lithos, atau setidaknya begitu Sebas pikir.
"Menyerah? Tentu saja tidak!" jawab Sebas dengan penuh keberanian. "Dan mengapa kau menyerang ayahku? Bukankah kau menganggap ayahku sebagai temanmu?"
Lithos tertawa terbahak-bahak, menganggap pertanyaan Sebas sebagai kebodohan. "HA! Apakah kau bodoh? Dialah yang memulai pertarungan ini, bocah bodoh! Lagipula, dia telah berani meremehkanku! Anggap saja kematiannya sebagai peringatan bagimu, bocah biadab!" Lithos menatap Sebas dengan pandangan penuh keangkuhan.
Namun, sebelum Sebas bisa menjawab, angin kencang tiba-tiba menerpa mereka.
Sebas dan lithos terkejut saat melihat sosok naga raksasa muncul di hadapan mereka.
Naga itu memiliki tubuh yang besar dengan berbagai corak warna indah dan tanduk emas yang menjulang megah.
"Ayah!" seru Sebas dengan kegirangan saat melihat ayahnya kembali dengan selamat.
Ia memperhatikan bahwa ayahnya tidak terluka sedikit pun.
Ayah Sebas mendarat dengan anggun di samping mereka, memancarkan aura kekuatan yang mempesona.
"Mati? Apakah kau bercanda, temanku? Bukankah sudah kukatakan bahwa kau terlalu lemah bagiku?" ejek Calliga dengan nada meremehkan.
Lithos tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Ia telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk melancarkan serangan dahsyatnya yang ditujukan kepada Calliga.
__ADS_1
Namun, dengan kejutan yang luar biasa, serangan itu tidak berdampak apa pun pada Calliga.
"Mustahil!" seru Lithos dengan tercengang. Ia merasa telah mengeluarkan seluruh kemampuannya, tetapi Calliga tidak terluka sedikit pun.
Dalam kebingungannya, Lithos mencoba untuk kembali menyerang.
Namun, tiba-tiba ia merasa tubuhnya membeku seperti patung. Ia tidak bisa menggerakkan sehelai rambut pun.
Keadaan ini membuatnya semakin terkejut dan bertanya-tanya, "Hah?, kenapa aku tidak bisa menggerakan tubuhku?, Apa yang terjadi?".
Sementara itu, Calliga melihat dengan senang hati bahwa Lithos yang terjebak tidak dapat bergerak.
Ia tersenyum sinis, menikmati kemenangannya. "HAHAHAHAHA! Sepertinya kau baru sadar, temanku," ejek Calliga dengan nada sombong.
Lithos merasakan kekesalan yang memuncak di dalam dirinya. Ia mencoba sekuat tenaga untuk bergerak, memanipulasi kristal-kristal di sekitarnya, tetapi semua upayanya sia-sia.
Ia merasa seperti terperangkap dalam penjara tubuhnya sendiri akibat serangan licik Calliga.
"Bajingan! Apa yang kau lakukan, sialan!" teriak Lithos dengan amarah yang membara.
Ia merasa putus asa, berusaha membebaskan diri dari kungkungan yang membelenggunya.
Namun, Calliga hanya tertawa dengan geli. "Apakah kau belum sadar juga? Kalau begitu, lihatlah ke bawahmu, bodoh," ucap Calliga dengan penuh keangkuhan.
Lithos menggunakan bola mata kristalnya untuk melihat ke arah tanah. Dan saat itu juga, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.
Terdapat bayangan hitam panjang yang terhubung antara Calliga dan dirinya.
Ia menyadari bahwa Calliga telah menggunakan skill bayangannya yang telah menyusup ke dalam dirinya, mengunci kekuatannya dan mengendalikannya.
Kesadaran akan keadaan yang sebenarnya membuat Lithos merasa terpukul.
Ia menyadari bahwa ia telah terperangkap dalam permainan licik Calliga, yang bertujuan untuk menghancurkan segala harapan dan ambisinya.
Lithos berdiri di tengah arena pertempuran yang sunyi, kelelahan melanda tubuhnya yang terluka.
Dia menatap tajam ke arah Calliga.
Bayangan hitam yang terhubung dengan Calliga telah mengunci gerakannya, membuatnya terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Namun, di balik wajahnya yang lelah, api kemarahan membara di mata Lithos.
"Sepertinya aku harus berterima kasih atas otak bodohmu, ah bukankah kau tidak memiliki otak?," ejek calliga.
"Kau telah memperkirakan aku mati, tapi kau tidak tahu bahwa aku memiliki skill bayangan yang mampu mengikatmu tanpa kau sadari."
Calliga tersenyum sinis, menikmati kemenangannya yang tampaknya sudah pasti.
Mendengar kata-kata itu, Lithos merasakan rasa marah yang membara dalam dirinya.
Nafasnya menjadi tidak beraturan, dan pikirannya dipenuhi dengan keinginan untuk membalas dendam. Dia melihat Calliga dengan pandangan penuh kebencian.
"Bajingan dasar curang!" teriak Lithos dengan suara yang bergemuruh di arena.
__ADS_1
"Bertarunglah dengan adil, kadal bajingan!"