
Aku perlahan menatap kembali Lithos yang sepertinya menatapku dengan tatapan tajam, bersiap untuk menyerangku.
Namun, aku segera merencanakan langkah selanjutnya.
Lalu aku memerintahkan Vael untuk menjauh dariku sejauh mungkin, dengan harapan dia tidak akan terkena dampak seranganku.
"Kau pergilah sejauh mungkin dari tempat ini, anak muda," ucapku kepada Vael dengan tegas, berusaha menjaga keselamatannya.
Namun, Vael memiliki sikap keras kepala. "Tapi aku ingin melindungimu, ayah," katanya dengan enggan, menunjukkan tekadnya untuk tetap berada di dekatku.
Sungguh, sikap keras kepala Vael telah menjadi hal yang sangat jelas sejak awal.
Aku merasa frustrasi dengan perdebatan ini. Aku harus mengatakan beberapa kali agar dia benar-benar mengikuti perintahku.
"CUKUP! IKUTILAH PERKATAANKU!" teriakku dengan keras, mencoba menekankan urgensi situasi ini kepada Vael.
Teriakan itu membuat Vael terkejut dan dengan cepat dia terbang menjauh dari tempatku berdiri.
Aku tahu bahwa kadang-kadang suara keras adalah satu-satunya cara untuk membuatnya mendengarkan.
Walaupun aku tahu dia khawatir padaku, keselamatannya tetap menjadi prioritas utama.
Dan sekarang hanya ada Lithos yang berdiri di dekatku, siap menantangku.
Tatapannya tajam seperti kristal yang menghujam ke dalam diriku.
"Ah, sangat menarik. Ini pertama kalinya aku melihat kadal besar sepertimu yang peduli pada bawahannya," ucap Lithos sambil memandangku dengan tatapan tajam.
Aku tidak tinggal diam.
"Apakah itu pujian atau hinaan? Dan untuk klarifikasi, kau salah, Dia bukan bawahanku, dia adalah putraku," tegas jawabku, merasa perlu untuk menjelaskan hubungan sebenarnya.
Lithos hanya menghela napas kristalnya. "Hmm, kau memang sangat berbeda dari kadal besar yang pernah kutemui dulu. Dan bisa dibilang ucapanku sebelumnya bisa diartikan keduanya. Baiklah, cukup basa-basinya. Sekarang, apakah kau sudah siap mati, kadal besar?" ancam Lithos dengan nada yang menggertakkan.
Aku mendengus ringan. "Jika aku sudah mati, maka kau juga pasti akan menemui nasib yang sama. Tapi aku tidak berniat mati hari ini, kau yang akan menyesal telah menghadapiku," ucapku dengan percaya diri, menghadapi ancaman itu dengan tenang.
Seketika, atmosfir di sekitar kami terasa semakin tegang.
Dengan gesit, Lithos meluncur menuju arahku dengan kecepatan luar biasa.
Tangannya yang menyerupai pedang tajam mengarah langsung ke leherku, mencoba mengenainya dengan pukulan mematikan.
Ting...
__ADS_1
Namun, reaksiku tidak kalah cepat. Tanganku dengan sigap memblokir serangannya, bertemu dengan pedang kristalnya dengan sempurna.
"Hmm, dia cukup cepat," gumamku dengan nada santai, meski sebenarnya dalam hatiku aku merasakan kejutan akan kecepatan serangan Lithos.
Saat itu juga, Lithos terdorong mundur dengan cepat, mungkin berusaha mengatur ulang posisinya untuk menyerangku sekali lagi. Namun, aku tidak akan memberinya kesempatan.
Dengan gerakan perlahan yang penuh kekuatan, aku mengarahkan satu tanganku ke arahnya, menyusun jari-jari tanganku seolah sedang memainkan tarian yang memanggilnya.
"[Death Grip]!" seruku, memanggil kekuatan Cengkeraman Kematian.
Aku merasakan energi hitam memancar dari tanganku, dan tanganku terbentuk menjadi cengkeraman yang kuat, seolah-olah memiliki kekuatan magnetik yang tak terbantahkan.
Saat itu juga, Lithos dari kejauhan terdorong ke arah cengkraman tanganku.
Tubuhnya terhuyung, seakan tertarik oleh gaya tarik yang tak terlihat.
Ada suara keras saat dia tiba-tiba terdorong ke dekatku, terperangkap dalam cengkraman kuat.
BAMM!!
Suaranya bergema di ruangan saat dia hampir terhempas ke dinding oleh gaya tarik yang kuat.
Sementara itu, aku dengan santai melangkah lebih dekat, menatap Lithos dengan dingin.
Dia berusaha keras untuk melepaskan diri, tapi sepertinya usahanya sia-sia. Tidak ada perlawanan yang mampu melawan kekuatan Cengkeraman Kematian ini.
Aku hanya menatapnya dengan sebelah mata, menyampaikan pesan bahwa aku tidak akan mundur sedikit pun.
"Kau terlalu lemah bagiku," ucapku dengan nada sombong, suaraku merayap dengan kepercayaan diri yang menggelora. Aku menatap Lithos yang terjepit di cengkeramanku, sensasi kemenangan menggelora dalam diriku.
Namun, tak puas hanya dengan itu, aku memutuskan untuk menunjukkan kekuatan sejati.
Dengan cepat, aku mengaktifkan skill korosif asamku, [Acid Manipulation].
Seperti tarian gelap, aku mengendalikan asam dengan gerakan tanganku, dan dari tangan itu, lahir cairan asam berwarna kehijauan pekat.
Cairan tersebut menyeruak menuju Lithos dengan kecepatan gemuruh hujan deras. Tubuh kristalnya, yang seolah tak terkalahkan, mulai terpenuhi oleh asam tersebut.
Aku melihat bagaimana kristal-kristal tersebut meleleh, bagaimana lobang terbentuk pada tubuhnya, dan bagaimana serpihan kristal jatuh ke tanah.
Tanah tergenang oleh cairan asam, sedangkan Lithos semakin lama semakin terkikis.
Dia mencoba berjuang, tapi asam itu tak terelakkan.
__ADS_1
Akhirnya, tubuh kristalnya hancur dan dia jatuh ke tanah dalam bentuk serpihan-serpihan yang penuh dengan asap hijau.
Dengan tangan kosong, aku melepaskan cengkeramanku pada tubuh kristal Lithos yang sudah hancur.
Aku melihat hasil pekerjaanku dengan senyum puas, merasakan kepuasan terdalam dalam hatiku.
Tiba-tiba, ruangan yang awalnya dipenuhi dengan kristal berbagai warna yang menyala terang berubah-berubah warna seperti lampu neon yang tak pernah berhenti.
Warna-warna yang mencolok dan membingungkan mengalir menuju tubuh kristal Lithos yang hancur.
Aku menyaksikan bagaimana tubuhnya mulai terbangun dari kepingan-kepingan seperti puzzle yang bergerak sendiri, membentuk kembali dirinya dengan cepat.
Lithos yang kini telah pulih dengan penuh kemarahan langsung melancarkan serangannya dengan kata-kata tajam.
"Apakah Kau yakin aku lemah?! Kau kadal cabul menjijikan, yang berani menculik malaikat didomain dewa dan melahirkan anak malaikatmu yang Tabu itu?!"
Namun, aku tak tinggal diam. Dengan santai, aku merespons.
"Ah jadi seperti itu, aku paham, apakah aku harus menghancurkan kristal diseluruh ruangan ini agar Kau tidak meregenerasi kembali? Itu cukup mudah bagiku."
Lithos menjadi sejenak terdiam, nampaknya khawatir bahwa aku telah menemukan kelemahannya.
Dia tak berkata apa-apa, diam seribu bahasa. Aku memandangnya dengan tatapan tajam, merasa senang karena tebakan ku ternyata tepat.
"Tidak perlu kata-katamu, aku sudah tahu jawabannya," gumamku dengan ringan, merasa mendominasi situasi dengan permainan pikiran yang sedang berlangsung.
"Kemarilah dan serangku, makhluk rendahan," ujarku dengan enteng, memberikan isyarat pada Lithos untuk mendekatiku.
Sambil menggunakan jari telunjukku, aku menggerakkan tanganku ke arahnya, mengundangnya untuk menyerang.
"JANGAN MEREMEHKANKU, KADAL CABUL!!!" teriak Lithos, terprovokasi oleh kata-kataku.
Dia dengan cepat merespon dengan memanipulasi kristal di seluruh ruangan, merubahnya menjadi peluru kristal tajam yang berkecepatan tinggi, berusaha menghujamiku yang sedang terbang.
Shoot...
Shoot...
Namun aku tidak gentar.
Aku dengan cepat mengaktifkan [Reality Phasing] untuk menembus serangan-serangan itu.
Saat aku melayang dalam penerbangan, aku merasa yakin bahwa inilah saat yang tepat untuk menggunakan kemampuan ini.
__ADS_1