
Sejauh ini, masih ada tanda-tanda bahwa orang yang mengikutinya masih ada di belakangnya.
Sebas terus berjalan melalui hutan La Veda, menyadari bahwa ancaman di sini tidak sebanding dengan hutan Elysian yang penuh bahaya.
Di hutan ini, makhluk-makhluk seperti goblin, troll, dan hewan buas adalah ancaman yang umum dijumpai, dan bagi petualang peringkat rendah, mereka bukanlah masalah besar.
Hutan La Veda juga memiliki jalan besar yang menghubungkan Kerajaan Arvandor dengan Kerajaan Eldorado yang diperintah oleh Raja Bo Peng.
Namun, Sebas tidak memilih untuk melalui jalan besar tersebut. Sebaliknya, ia memutuskan untuk berjalan lebih dalam ke dalam hutan La Veda, mencoba mengelabui orang-orang yang tampaknya mengikutinya secara diam-diam.
Saat berada di dalam hutan yang tak terjamah oleh manusia, Sebas tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kalian bisa keluar sekarang," ucap Sebas dengan nada tegas, menyadarkan orang-orang yang mengikuti diam-diam.
Suaranya belum selesai bergema, semak-semak di sekitarnya mulai bergerak. Keluar dari semak-semak tersebut muncullah lima pria manusia, semuanya tampak kurang senang dengan situasi ini.
Wajah Sebas menunjukkan ekspresi kesal saat melihat orang-orang ini.
"Kau?" desis Sebas, mata tajamnya tertuju pada salah satu dari mereka yang wajahnya sangat dikenalnya.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan, "Ah, jadi Kau masih ingat aku, kakek tua?"
Sebas menjawab dengan nada mengolok, "Hmm, aku hanya ingat tangisan teriakanmu yang keras, suaramu seperti perempuan saat aku melemparmu."
Pria yang sekarang berbicara kepada Sebas ternyata adalah seorang petualang peringkat silver yang pernah menggoda Luna di guild petualang.
"Ah, kakek tua, kau beruntung saat itu aku tidak fit dan masih sakit. Jika tidak, aku sudah menghabisimu, sialan!" balas pria tersebut dengan nada merendahkan, mengenang insiden sebelumnya di mana Sebas meredamnya.
Lalu, pria berotot itu melanjutkan dengan nada agresif, "Serahkan seluruh uangmu, kakek sialan! Atau tidak, kami akan membunuhmu! Keluarkan cepat!"
Anak buah pria berotot tersebut langsung mengeluarkan pedang mereka, mengancam Sebas dengan mata memancarkan niat jahat.
Sebas tetap tenang, mengelus jenggotnya seolah tak terpengaruh oleh ancaman tersebut. Ia mendengar kata-kata pria tersebut dan merogoh saku jasnya dengan perlahan.
Tanpa terlihat cemas, ia menarik keluar sebuah kantong koin yang tampak sangat berisi.
Kantong itu transparan seperti plastik tebal, membuat koin-koin platinum di dalamnya berkilauan.
__ADS_1
Para pria yang mengancamnya tidak bisa menahan pandangannya dari isi kantong tersebut yang memancarkan kilauan menggiurkan.
Lalu, para bandit, yang sekarang penuh antusiasme, terkejut melihat isi kantong koin platinum yang Sebas pegang. Kilauan koin-koin tersebut membuat mata mereka berbinar-binar.
"Kita akan menjadi sangat kaya!" seru salah satu bandit, matanya bersinar-sinar dalam antisipasi kekayaan mendadak.
"Boss! Aku tidak menyesal mengikutimu kemari," ujar bandit lainnya kepada pemimpin mereka dengan suara gemetar karena terlalu senang.
"Sebentar lagi, aku akan menyewa gadis bangsawan yang premium dengan uang ini, hahaha!" seru seorang bandit dengan mata berbinar-binar.
"Hahaha! Ini adalah hari keberuntunganku!" ujar pria berotot tersebut, pemimpin para bandit, sambil tertawa keras dalam kebahagiaannya.
Mereka sudah melupakan ancaman yang mereka tujukan kepada Sebas sebelumnya, terlena oleh impian mendapatkan kekayaan tiba-tiba.
Pria berotot itu memberi isyarat kepada Sebas untuk menyerahkan kantong koin platinum tersebut padanya dengan gerakan tegas.
"Serahkanlah sekarang atau kau akan kutumpaskan tanpa ampun!" ucap pria berotot tersebut dengan nada mengancam.
Sebas, tanpa terburu-buru, menanggapi dengan sikap santai, "Kau ingin ini?" sambil memegang kantong transparan berisi koin platinum yang berkilauan.
"Hmm, sebenarnya aku ingin pergi cepat ke rumah ayahku, tapi kalian semua menghalangiku. Aku tidak berniat memberikan kalian uangku, atau seharusnya aku katakan uang ayahku. Aku memperingati kalian, Pergilah dari hadapanku sekarang, aku tidak ingin berhadapan dengan makhluk lemah seperti Kalian," ujar Sebas dengan nada acuh tak acuh.
Mendengar kata-kata Sebas, para bandit saling pandang, bingung dan kaget.
Namun, tak lama kemudian, gelak tawa riuh terdengar di tengah hutan lebat La Veda.
"Kau sudah tua bangka dan ayahmu masih hidup di usiamu yang senja?" ejek salah satu bandit dengan cemoohan.
"Benar-benar lucu! Ini kali pertama aku melihat kakek tua seperti dirimu!" timpal pria berotot dengan nada merendahkan.
"Ah, aku mengerti sekarang. Jadi, kau ingin menggunakan uang itu untuk membeli peti mati untuk sang ayah yang sudah tercium bau tanah itu? Apakah uang di tanganmu ini akan menjadi imbalan untuknya? Sepertinya ayahmu yang hampir berusia abadi dan sudah berbau tanah akan segera berpulang, semoga saja dia tewas secepatnya. Benar-benar kasihan melihat anak yang sudah tua merawat ayahnya yang menyusahkan," ledek salah satu bandit dengan nada sinis, membuat suasana semakin cair.
Tidak dapat menahan tawa, kelima bandit itu tertawa dengan keras, seolah menemukan hiburan yang luar biasa dalam situasi ini.
Saat itu, seketika mata para bandit terbelalak kaget ketika Sebas tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.
Namun, sebelum mereka bisa bereaksi, Sebas muncul dengan cepat di hadapan salah satu pria bandit yang paling berani menghina ayahnya.
__ADS_1
Wajah pria bandit itu langsung memucat dan terkejut melihat hadirnya Sebas begitu dekat.
Tidak ada waktu bagi pria bandit tersebut untuk memberi reaksi, karena tiba-tiba terjadi ledakan yang menggelegar.
DUAR!!
Kepala pria bandit yang begitu sembrono dalam perkataannya tadi meledak dengan kejam akibat pukulan telak dari Sebas.
Pemandangan mengerikan tersebut disertai dengan pecahan kepala dan cipratan darah yang berkelebatan, melukai dan mengejutkan para bandit yang tersisa, termasuk sang pemimpin berotot.
Banyak darah menciprat keseluruh empat bandit yang tersisa, termasuk pemimpin para bandit yang berdiri di belakang mereka.
Pria berotot tersebut hanya bisa terpaku dalam kebingungan dan kepanikan.
Wajahnya yang tadinya penuh dengan percaya diri dan ejekan, kini dihiasi oleh darah yang menciprat dan ekspresi yang tak percaya.
"Apa yang terjadi?" ucap pria berotot dengan suara gemetar, tidak percaya pada adegan yang tengah berlangsung di depan matanya.
Darah mengalir deras dari tubuh temannya yang terluka, sementara Sebas tetap berdiri dengan tatapan tajam dan sikap yang tenang, seolah-olah ini adalah hal yang lazim baginya.
Namun, hanya dalam beberapa detik, kenyataan mengerikan menghampiri para bandit.
Salah satu teman mereka sudah tewas dengan kepala hancur dan darah segar yang menggenangi tanah serta rumput di sekitarnya.
Kengerian menyergap mereka saat mereka memandangi mayat rekan mereka yang kejiwaannya terpisah dari tubuhnya.
Mata mereka melirik ke arah Sebas yang berdiri di dekat mayat tersebut, kebingungan dan rasa takut menguasai ekspresi mereka.
Salah satu bandit akhirnya mempertanyakan tindakan Sebas dengan nada penuh amarah.
"Apakah yang kau lakukan, kakek tua sialan?!" bentak salah satu bandit tersebut.
Namun, dalam sekejap, ekspresi wajah Sebas berubah total. Kebencian mendalam memenuhi matanya, dan pandangannya membara merah seolah-olah menjadi lampu merah menyala.
Wajahnya yang tadinya tenang kini dipenuhi oleh kemarahan yang mematikan.
"BERANI-BERANINYA KALIAN MAKHLUK RENDAHAN YANG BERANI MENGHINA AYAHKU! TIDAK AKAN KU BIARKAN KALIAN HIDUP BANGSAT!" teriak Sebas dengan penuh amarah, mengeluarkan aura pembunuh yang mematikan.
__ADS_1