
...***Sementara itu***...
Sariel, yang melihat tuan penciptanya, telah menghilang dari pandangannya dan tidak lagi berada di kamarnya, ia berjalan dan duduk di ranjang yang sebelumnya ditempati oleh putra tuannya, Sebas.
Dengan air mata yang sudah kering di wajahnya, ia merenung di tempat tidur itu.
"Ini baru pertama kalinya aku melihat sisi tuanku yang lembut dan penyayang," ucapnya dengan pelan di dalam kamar mewahnya yang kini sepi, sambil memanggil familiarnya, seekor kelelawar, yang hinggap di lengannya.
Sariel selalu melihat tuannya, Caliga, selalu mengenakan ekspresi serius sepanjang waktu. Baginya, Caliga adalah tuan yang memiliki sikap dingin yang terkadang menyeramkan.
Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa Tuan Caliga ternyata memiliki sisi lembut yang begitu dalam.
Ia mengusap kepala kelelawarnya seperti menjaga hewan peliharaan, yang duduk dengan nyaman di lengan kanannya.
"Aku kira Tuan Caliga selalu galak dan menyeramkan, ternyata tidak sepenuhnya begitu setelah melihatnya tadi. Dia sangat menyayangi putranya, Tuan Sebas, dengan penuh kasih sayang."
"Ah, betapa iri aku melihat kemesraan mereka berdua, terutama saat Tuan Sebas dipeluk oleh Tuan Caliga. Andai saja, Tuan Caliga, memelukku dengan tubuh kekarnya, aku ingin merasakan sentuhan kehangatannya juga," ucapnya sembari mengusap kelelawarnya dengan muka yang memerah.
Kemudian, Sariel berdiri dari kasurnya dan perlahan berjalan ke meja rias yang terdapat cermin besar.
Saat itu, ia duduk di kursi di depan meja rias dan perlahan membuka kerudung pengantin berwarna putih tembus pandang yang ia kenakan di kepalanya.
Sariel memandangi cermin yang mencerminkan gaun pengantinnya dengan rasa penasaran, namun ia menyadari keterbatasannya sebagai seorang vampir.
Wajahnya yang pucat dan mata merah seperti darah tidak dapat dilihat dalam pantulan cermin. Ia berbicara pada dirinya sendiri dalam kebingungan, merenungkan penampilannya.
"Sangat disayangkan aku tidak dapat melihat diriku sendiri dicermin. Apakah aku cantik? Buruk rupa? Aku tidak tahu. Apakah Tuan Calliga menyukai penampilanku ini? Semoga saja ya, dikarenakan Tuan Calliga yang telah menciptakanku seperti ini."
Meskipun Sariel tidak bisa melihat dirinya sendiri, ia tetap mencoba memahami penampilannya dengan cara yang unik, mencerminkan gaun pengantinnya dengan harapan bahwa penampilannya disukai oleh penciptanya.
Sariel menghela nafas dalam-dalam dan kemudian menginstruksikan familiarnya yang berupa kelelawar untuk duduk di meja riasnya.
Dalam keadaan yang terlihat seperti percakapan dengan dirinya sendiri, ia membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan sebuah lukisan yang ia ciptakan sendiri.
Sariel terpesona saat melihat lukisan itu, seakan menunjukkan sebuah harapan.
"KYAAAAA! Semoga saja suatu saat kami berdua akan seperti ini," serunya dengan antusias, wajahnya memerah karena rasa malu dan terpesona.
Gambaran yang ia lukis dengan begitu indahnya seperti foto asli dilindungi oleh bingkai emas yang memiliki simbol hati dengan tulisan "My Love" di bawahnya.
Dalam momen ini, Sariel mengungkapkan perasaannya dengan cara yang indah, melalui seni lukisannya yang penuh dengan harapan dan keinginan.
Dalam gambaran yang ia lukiskan, terlihat momen pernikahan Sariel dan Calliga yang begitu romantis.
Mereka berdua berdiri di pelaminan, sedang menikah, dan dalam pelukan hangat, mereka berdua bertukar ciuman penuh kasih.
Calliga dengan lembut menggendong Sariel, istri tercintanya, sebagai tanda cinta abadi.
Sariel, meskipun tidak pernah bisa melihat dirinya sendiri, menggambarkan dirinya sebagai pengantin wanita yang sangat cantik, mirip dengan anak putri Tuan Calliga yang bernama Karina.
Calliga, di sisi lain, mengenakan jas hitam seperti yang sering dipakai oleh Sebas. Sariel tetap dalam gaun pengantinnya yang cantik.
Lalu, Sariel mencium bingkai lukisannya berkali-kali, penuh dengan kasih sayang kepada Calliga.
"Muach... Muach... Muachh..." bekas lipstik merah dari ciuman-ciumannya menandai gambaran foto Calliga yang indah.
__ADS_1
Momen ini mengungkapkan betapa dalamnya perasaan Sariel kepada Tuan Calliga, bahkan dalam bentuk seni, melalui lukisan yang indah ini.
Sariel terus bersemangat, mencium gambaran foto pernikahan Calliga dengan penuh kasih sayang dan berteriak-teriak dengan gembira.
"CINTAKU SAYANGKU! AKU SEPENUHNYA MILIKMU! SUAMIKU YANG TAMPAN!" Ruangan kosongnya terdengar berisik oleh teriakannya yang penuh cinta.
Familiarnya, kelelawar, hanya menggelengkan kepala kecilnya, nampaknya sudah terbiasa dengan tingkah aneh majikannya ini.
Namun, setelah serangkaian ciuman dan teriakan, Sariel akhirnya berhenti dan meletakkan gambaran foto pernikahan itu di meja riasnya.
Dia bertanya kepada familiarnya yang setia, "Apakah kau yakin suatu saat kami berdua akan menikah, dan aku akan menjadi istri tercintanya?" dengan ekspresi campur aduk antara harapan dan keraguan.
Familiarnya yang setia, si kelelawar, mengangguk tanda setuju kepada Sariel, memahami betapa dalam angan-angan majikannya ini.
Sariel kembali terhanyut dalam imajinasinya, "KYAA! YA KAU BENAR! ITU PASTI AKAN TERJADI! SUATU SAAT TUANKU AKAN MENJADI SUAMI TERCINTAKU!" teriaknya dengan semangat yang meluap-luap.
Dia mengambil beberapa lukisan yang berada di meja riasnya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Lukisan-lukisan itu adalah gambaran tentang imajinasi mereka sebagai keluarga yang harmonis:
Sariel dan Calliga sebagai suami-istri yang bahagia dengan seorang anak perempuan kecil di tengah mereka, yang diberi nama LLi-LLi.
Nama itu diambil dari bagian "LLi-" dalam nama pencipta sariel, CaLLIga.
Sariel merenung sejenak pada lukisan angan-angannya yang menampilkan bayi mereka yang belum lahir.
"Lli-lli, suatu saat kau akan menjadi kenyataan," bisiknya dengan suara lembut sembari tersenyum.
Lukisan itu dengan hati-hati ditempatkan di samping gambar pernikahan mereka berdua. Sariel meraih perutnya, mengelusnya lembut, dan merenung jauh ke depan, membayangkan momen saat Tuan Calliga akan mengisi perutnya dengan cinta dan kehangatan.
Namun, khayalannya terganggu oleh teriakan tiba-tiba yang menggetarkan hatinya.
Sariel terkejut dan segera berbalik, siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.
"DASAR WANITA ******!" Teriakan tajam memecah keheningan, mengguncang hati Sariel.
Dia segera berdiri dari kursi meja riasnya, mata merahnya yang memancarkan aura menengadah ke sumber suara tadi.
Mata Sariel segera menemui sosok wanita yang seluruh pakaiannya hitam ninja dengan jubah merah yang berkibar anggun di angin.
Zara, pelayan pertama Calliga yang dahulu merupakan seorang kumbang, sekarang telah berubah menjadi bentuk manusia dengan kulit putih merona.
Kehadiran Zara di luar dugaan Sariel membuatnya kaget.
Dia berdiri tegak, matanya yang berkilauan dengan warna merah menatap tajam ke arah Zara.
Pertemuan ini membawa berbagai misteri dan ketegangan.
Zara melangkah lebih dekat, raut wajahnya penuh dengan kemarahan yang nyaris membutakan akal sehatnya.
Ia memandang sinis pada Sariel yang tersenyum licik, memanggilnya dengan panggilan merendahkan 'kumbang'.
"Apakah kau ada masalah denganku, kumbang?" gumam Sariel dengan nada merendahkan, membuat kemarahan Zara semakin mendidih.
Namun, tindakan Sariel yang dengan sembrono menunjukkan foto pernikahan Calliga dan dirinya, membuat Zara benar-benar meledak.
__ADS_1
Ia berdiri di hadapan gambar itu, tangan-tangan kecilnya menggenggam jubah merahnya dengan erat.
"Kau benar-benar berani, vampir sialan!" Zara berseru dengan nada penuh kemarahan.
Dia bersikeras akan menjadi satu-satunya istri Calliga, dan imajinasi Sariel yang terlalu jauh tentang pernikahan itu menyulutnya lebih dari sebelumnya.
Dalam ledakan kemarahan, Zara melemparkan bingkai foto itu dengan liar.
Pecahan bingkai beterbangan, dan lukisan pernikahan Sariel dan Calliga hancur menjadi potongan-potongan kecil.
"KAU BERANGAN TERLALU JAUH, WANITA ******! TUAN CALLIGA ADALAH MILIK-KU, DAN AKU YANG AKAN MENJADI ISTRINYA, BUKAN WANITA ****** SEPERTIMU, SIALAN!" Teriaknya dengan lantang, mengejek Sariel dengan panggilan yang merendahkan.
Sariel, dengan mata membara kemarahan, meraih potongan-potongan lukisan yang hancur.
Wajahnya memancarkan kemarahan yang intens, dan air matanya tak terbendung.
Lukisan itu, yang selalu menjadi sumber semangatnya, sekarang rusak dan lecak, dan Sariel tak bisa menahan amarahnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN, KUMBANG BODOH!" bentak Sariel dengan lantang, sementara Zara hanya tersenyum dan tertawa bahagia.
Baginya, hancurnya lukisan itu adalah kemenangan atas Sariel yang ia benci.
Calliga adalah miliknya, dan ia tidak akan membiarkan wanita lain, terutama wanita ****** seperti Sariel, mendekatinya.
Sariel dengan cepat menyimpan lukisan pernikahannya dengan Calliga di dalam dimensi penyimpanannya.
Dia kemudian memerintahkan para familiarnya, kelelawar-kelelawarnya, untuk membersihkan puing-puing dari bingkai foto yang pecah.
Kemudian, Sariel berjalan menuju Zara dengan langkah tegas. Keduanya berdua terlibat dalam cekcok yang semakin memanas.
sampai akhirnya mereka saling menekan kepala satu sama lain dengan keras, mengeluarkan aura pembunuh yang sangat kuat.
"AH, PANTAS SAJA PIKIRANMU DIPENUHI DENGAN PERNIKAHAN YANG BODOH, KARENA KAU ADALAH MAKHLUK YANG SUDAH MATI, TEROBESI MENGENAKAN GAUN PENGANTIN DAN KAU BERHARAP AKAN MENIKAHINYA? JANGAN TERLALU PERCAYA DIRI, DASAR ******!" teriak Zara dengan gemas, matanya berkilat siap untuk menyerang Sariel.
Aura pembunuh mereka saling bertabrakan, menciptakan ketegangan yang memenuhi ruangan.
Sebuah konfrontasi yang mematikan di antara mereka tampaknya tak terelakkan.
Sariel merespon dengan emosi yang memuncak, "DIA TELAH MENCIPTAKANKU SEPERTI INI! APAKAH KAU MEMPERTANYAKAN AKU YANG MERUPAKAN CIPTAANNYA? ITU BERARTI KAU MENGHINANYA, DASAR KUMBANG BODOH!" Teriakan Sariel memotensi masalah ini lebih jauh, terutama ketika Zara menghina gaun pengantin yang diberikan oleh tuan penciptanya, Calliga.
Kedua aura pembunuh yang sangat kuat bertabrakan, menciptakan gempa mini yang mengguncang sekitarnya.
Warga lantai 7 tentu saja akan sadar akan keributan ini.
Namun, tiba-tiba pintu kamar Sariel terbuka dan seorang gadis kecil muncul, melihat mereka berdua yang tampaknya tengah bertengkar karena hal yang sepele.
Gadis kecil ini, yang tampaknya memiliki hubungan dekat dengan Sariel, dengan marah menginterupsi pertengkaran mereka.
"Apa-apaan ini! Apa yang kalian berdua lakukan?! Berhentilah membuat keributan! Apakah kalian berdua berniat menghancurkan koloseum yang telah ayahku ciptakan?! DASAR BODOH!!!" Teriak gadis kecil itu dengan marah, menegur mereka berdua yang tampaknya berkelahi dengan ceroboh.
Situasi yang sudah sangat tegang tiba-tiba dipatahkan oleh kemunculan gadis kecil ini, yang sepertinya memiliki wewenang di lantai 7.
Sariel dan Zara terkejut, dan dengan cepat mereka berdua menghentikan aura pembunuh mereka.
Mereka lalu berlutut dan memberi hormat di hadapan gadis kecil tersebut, yang ternyata merupakan penguasa mutlak di lantai 7 ini, Luna.
__ADS_1
"Ti-tidak seperti itu, Nona! Maafkan tindakan bodoh kami, Nona!" ucap Zara dan Sariel bersamaan dengan keringat mengalir wajah mereka, memohon maaf kepada Luna, salah satu anak putri tuan mereka yang sangat dihormati.