Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 137


__ADS_3

Aku memandang Lithos dengan ekspresi marah, "Tapi tetap saja, semua ini terjadi karena perbuatan bodohnya. Misi kita terganggu dan banyak manusia yang pasti akan curiga kepada kita terutama kepada dia, berkat ulahnya yang dangkal dan tolol!" ucapku dengan amarah yang masih terasa.


Sebas terus menangis tersedu-sedu di sampingku setelah aku memarahinya dengan kata-kata kasar.


Aku masih merasa marah dan tidak berniat memberinya simpati.


Namun, Lithos, yang berdiri di hadapanku dalam wujud manusia yang mengenakan jubah seperti seorang magic caster misterius, menatapku dengan serius dan melipat tangannya kepadaku.


Dia mencoba membela Sebas, membuatku semakin bingung.


Lithos berbicara, "Kawanku, sebenarnya aku tidak berniat membela anak muda satu itu, tapi kenapa kau begitu marah padanya? Tahukah kau bahwa dia sebenarnya mencoba melindungi nama baikmu dan sangat menghormati serta menyayangimu?, oleh karena itu dia membela-mu mati-matian."


"Jika aku menjadi dirimu, aku bahkan mungkin akan bergabung dengannya untuk menghukum makhluk rendahan yang berani menghina ku." Ucap Lithos sembari melirik ke arah Sebas.


Meskipun sering bertengkar dengan Sebas, sepertinya Lithos merasa kasihan padanya kali ini.


Lithos melanjutkan kembali dengan ekspresi heran, "lagipula kau terlalu baik kepada makhluk rendahan tadi yang menghina dan meremehkanmu, terutama sikupung runcing (elf). Bahkan, kau menundukkan kepalamu padanya. Sangat aneh, sekali lagi aku heran dengan kadal sepertimu. Kadal biasanya selalu menjaga kehormatan mereka dengan sikap arogan, pemarah, dan ogah menundukkan kepala mereka kepada makhluk rendahan. Namun, kau berbeda dengan kadal pada umumnya."


Aku mendengarkan kata-kata Lithos dengan hati yang berat.


Benarkah aku terlalu baik kepada manusia dan elf? Apakah perilaku ini sungguh tidak biasa di antara naga lainnya?


Pertanyaan-pertanyaan ini membuatku merenung, terlebih karena selama hampir tiga tahun sejak aku bereinkarnasi menjadi naga, aku belum bertemu dengan sesama rasku.


Aku benar-benar tidak tahu bagaimana naga lainnya berperilaku.


Pikiranku terus berputar, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.


Hmm, sebenarnya kalau diingat-ingat kembali, saat aku baru menetas sebagai bayi naga yang lemah yang membuat rumahku yang sekarang menjadi dungeon, aku pernah melihat naga yang terbang dilangit kala itu.


Tapi sayangnya, naga itu malah menyerangku dengan kebodohannya yang luar biasa!


Aku terluka parah saat itu, padahal aku masih sangat lemah.


Apakah sebaiknya aku mencari naga itu yang telah berani menyerangku dulu kala?


Sepertinya itu adalah ide yang menarik, suatu saat aku akan membalasnya dengan setimpal.


Tidak hanya itu, Ketika aku menetas menjadi bayi naga, aku terdampar sendiri di sebuah pulau terpencil yang dikelilingi oleh lautan yang luas.


Sampai saat ini, aku masih bingung dan tidak tahu mengapa aku tiba-tiba berada dalam sebuah telur dan kemudian bereinkarnasi menjadi naga.


Saat ini, sebuah pertanyaan muncul dalam pikiranku yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.


Apakah aku memiliki orang tua kandung naga? Ibu naga? Ayah naga? Di mana mereka berdua sekarang?


Aku tidak pernah melihat tanda-tanda mereka semenjak aku menetas sendiri di pulau terpencil.

__ADS_1


Naga tentunya adalah reptil dan tentunya bertelur banyak, dan itu berarti seharusnya aku memiliki saudara naga lainnya, bukan hanya telurku yang terdampar di pulau terpencil.


Apakah mungkin mereka membuangku saat aku belum menetas karena mereka tahu bahwa aku adalah manusia yang bereinkarnasi ke dalam tubuh anak naga mereka?


Tapi sepertinya itu tidak mungkin.


Misteri asal usulku sebagai naga terus menggelitik pikiranku.


Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam benakku, dan aku semakin penasaran tentang asal usulku yang terlahir kembali menjadi naga.


Mengapa aku terdampar sendirian di pulau terpencil?


Akankah aku pernah bertemu dengan orang tua kandungku di dunia ini?


Entahlah, misteri ini hanya akan terungkap suatu saat nanti.


Lithos menyebutkan bahwa naganya pada umumnya adalah makhluk arogan dan pemarah. Aku memikirkannya sejenak, dan sebenarnya, itu masuk akal.


Namun, aku sangat berbeda dari naga-naga yang mungkin pernah ditemui oleh Lithos.


Aku tidak memiliki sifat arogan ataupun pemarah seperti naga pada umumnya.


Ya iyalah tentu saja berbeda!


Aku saja manusia yang terjebak ditubuh naga bodoh ini dan setiap hari aku harus berperan menjadi penguasa "naga" yang melelahkan agar semua penghuni rumah dungeonku tidak curiga kepadaku dan agar mereka segan kepadaku.


Aku sangat berbeda dengan naga pada umumnya, dan jika aku memberitahu Lithos bahwa sebenarnya aku adalah manusia yang terjebak dalam tubuh naga ini, apa yang akan terjadi?


Jika aku memberi tahu kebenaran, ada tiga kemungkinan reaksi dari Lithos: ketidakpercayaan, terkejut dan kemungkinan kebencian.


Aku tidak tahu bagaimana cara dia akan merespons, dan aku takut bahwa dia mungkin akan membenciku jika dia tahu aku adalah manusia yang bereinkarnasi menjadi naga.


Lithos mengira aku adalah makhluk kuno yang telah ada selama ribuan tahun yang selevel dengannya, sementara kenyataannya, aku hanyalah manusia biasa yang telah hidup hampir tiga tahun di dunia ini yang dipenuhi dengan fantasi dan makhluk ajaib.


Mungkin aku beruntung karena evolusi yang telah aku alami selama tiga tahun ini.


Aku tumbuh dan menjadi kuat dengan cepat, sehingga aku bisa berdiri di sini dengan kekuatan yang ku miliki saat ini.


Aku sudah mencapai tingkatan evolusi ke-4.5, dan aku bertanya-tanya apakah tingkatan ini adalah tingkatan makhluk kuno yang telah ada selama ribuan tahun, seperti Lithos?


Aku tidak tahu, sayangnya aku hanya bisa melihat nama orang lain tanpa bisa melihat status lengkap mereka.


Tapi aku bisa melihat status penuh dari penghuni dungeonku, para NPC yang ada di sini. Ini membuatku bertanya-tanya, apakah suatu saat nanti jika aku bertemu dengan makhluk kuno seumur hidup Lithos, mereka juga akan mengira bahwa aku adalah sesama makhluk kuno?


Misteri tentang identitasku dan evolusiku terus menghantuiku, namun satu hal yang pasti, aku harus tetap berhati-hati dan beradaptasi dengan dunia ini untuk bertahan hidup.


Kalau begitu, sudah kuputuskan, sebaiknya aku tidak usah memberitahu Lithos.

__ADS_1


Keputusan untuk tidak memberitahu Lithos tentang asalku sebagai reinkarnator manusia adalah keputusan yang kuambil dengan hati-hati.


Dia adalah satu-satunya temanku di dunia ini, dan hubungan kami telah menjadi sangat dekat. Kami sering mengobrol bersama, dan dia selalu berbicara dengan jujur dan santai, tanpa formalitas yang membuatku merasa nyaman di rumah dungeonku.


Ini adalah perbedaan yang jelas jika dibandingkan dengan penghuni dungeonku yang merupakan NPC ciptaanku.


Mereka selalu berbicara secara formal dan kaku kepadaku, tidak berani untuk berbicara dengan santai.


Mereka melihatku sebagai dewa pencipta, dan hormat serta kagum mereka terhadapku membuat mereka terlalu takut untuk bersikap lebih bebas.


Meskipun aku sudah mencoba untuk membuat mereka berbicara dengan lebih santai, mereka tetap enggan dan tidak berani melakukannya.


Kehidupan di dungeonku, meskipun terasa kaku karena formalitas dari penghuni dungeonku, telah menjadi bagian dari diriku yang aku mulai terima.


Terutama berkat kehadiran Lithos yang seperti kawan dekat tanpa batasan formalitas, aku merasa nyaman.


Saat ini, Lithos adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara dengan aku tanpa formalitas, dan itulah yang membuat aku tidak jenuh dirumahku, karena aku memiliki teman untuk berbicara.


Aku tidak ingin kehilangan teman satu-satunya didunia ini, dengan mengungkapkan rahasia besar tentang diriku.


Saat aku merenung tentang masa laluku sebagai manusia, rasa-rasa itu muncul, dan aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku merindukan kehidupan manusiaku?


Namun, seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa aku tidak ingin kembali menjadi manusia.


Kehidupan sebagai naga yang merupakan monster memberiku kebebasan dan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


Aku tidak ingin merasa terikat oleh masa laluku yang memprihatinkan.


Saat ini, aku merasa nyaman dan bahagia dengan kehidupanku sebagai naga.


Memori tentang masa lalu sebagai manusia yang dihantui oleh kepahitan dan perbudakan adalah hal yang tidak ingin aku kenang.


Aku bukan lagi manusia bernama, Stevan Harlow, manusia lemah dan tak berdaya yang merupakan budak.


akan tetapi sekarang aku adalah Calliga, seorang naga yang memiliki kekuatan dan memerintah sebuah dungeon yang sangat dihormati para bawahanku layaknya dewa.


Lithos telah memunculkan banyak pertanyaan yang melingkari pikiranku, dan aku merasa pusing hanya dengan mencoba memahaminya.


Semua ini terasa sangat rumit dan sulit dimengerti.


Aku memutuskan untuk tidak terlalu mendalami pertanyaan-pertanyaan itu saat ini.


Yang pasti, aku ingin fokus pada kehidupanku sebagai naga yang kuat dan penguasa dungeon yang dihormati, dan meninggalkan masa laluku yang kelam di belakang.


Aku terdiam dalam lamunan yang mendalam, hingga Lithos menepuk pelan pundakku dengan ekspresi yang khawatir.


Suaranya membangunkanku dari lamunanku yang panjang.

__ADS_1


"Apakah kau baik-baik saja, kawanku?" ucap Lithos dengan nada khawatir dalam suaranya.


Aku tersentak dari renunganku yang mendalam saat Lithos bertanya kepadaku.


__ADS_2