Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Meanwhile


__ADS_3

...*** Sementara Itu ***...


Vael berada di ruang ayahnya, lantai 10. Dia dengan hati-hati mengawasi ayahnya yang sedang tertidur di kasur raksasa.


Perasaan bahagia menyelimuti hatinya, karena dia bisa berada begitu dekat dengan ayah yang agung.


Dengan senyum yang hangat, Vael merenungkan tentang keinginannya untuk berpetualang di dunia luar bersama kakaknya, Sebas. Dia merasa itu pasti akan menjadi pengalaman yang sangat seru.


Namun, ayahnya telah memilih adik-adiknya untuk menemani, Saudara tertua mereka, Sebas. Meski begitu, Vael mempercayai keputusan ayahnya dan yakin bahwa ayahnya pasti memiliki rencana mendalam dalam setiap keputusannya.


"Tapi tadi ayah sebelum tidur berkata padaku bahwa dia akan pergi ke suatu tempat, ke dungeon kuno. Dan salah satu di antara aku dan Karina akan menemani-nya. Semoga saja ayah memilihku," gumam Vael dengan semangat kembali. Dia melihat ayahnya yang tertidur dengan rasa harap dan senyum bahagia di wajahnya.


Tiba-tiba, Vael merasakan sesuatu yang aneh, dan dia dengan cepat menyadari bahwa ada penyusup yang berani masuk ke dungeon rumah ayahnya.


Wajah malaikatnya tampan yang semula tersenyum bahagia berubah menjadi kesal, marah, dan penuh emosi.


Dengan penuh emosi "Berani-nya para penyusup bajingan itu menginjakkan kaki kotor mereka di rumah ayahku yang agung!"


Dalam kebingungan, Vael bergumam, "Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus membangunkan ayah yang sedang istirahat? Tapi aku tidak mau mengganggu istirahatnya." Ia berusaha mencari cara untuk menghadapi para penyusup tanpa mengganggu ayahnya.


"Aha! Aku punya ide!" seru Vael dengan semangat.


"Sepertinya aku harus menghubunginya."


Vael mengucapkan "[Message]!" dan mem-fokus-kan pikiran-nya kepada adik perempuannya, Karina.


Suara lembut adiknya, Karina, terdengar melalui skill komunikasi [Message]. "Hmm, jarang sekali kau menghubungiku, apa yang kau mau kali ini?" ucap Karina, memancing rasa ingin tahu Vael.


Vael menggaruk kepalanya, mencoba mencari cara untuk memberitahu Karina tentang penyusup di dungeon ayah mereka. "Umm, kau sekarang berada di mana?" tanya Vael dengan hati-hati.

__ADS_1


"Hmmm, mengapa kau menanyakan ini? Aku curiga dengamu, pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan," balas Karina dengan nada curiga.


Tapi Vael mulai kehilangan kesabaran dan membalas dengan sedikit marah, "Jawab saja cepat! Aku tidak menyembunyikan sesuatu!"


Karina pun bingung dengan reaksi kakaknya yang tampaknya marah, karena Vael jarang sekali marah bahkan tidak pernah.


Dengan cepat, Karina membalas, "Aku berada di lantai 15 sekarang. Dan apakah terjadi sesuatu yang genting?"


Vael tampaknya curiga dengan adiknya dan membalas, "Ngomong-ngomong, kenapa kau berada di lantai 15? Bukankah ayah sudah menyuruh kita semua untuk tidak berada di lantai tersebut?" tanya Vael.


Takut akan emosi kakaknya, Karina pun menjawab dengan hati-hati, "Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi kau berjanji jangan memberi tahu ayah!"


"Aku tidak mau berjanji, tapi jika kau mempunyai alasan yang masuk akal, aku tidak akan memberi tahu ayah," balas Vael dengan tegas.


"Aku sedang mengekspansi dan memperluas dungeon ayah sekaligus mendekorasi-nya secara diam-diam," jawab Karina dengan menghela nafas.


Sebelum Vael ingin membalas, adiknya berkata lebih lanjut, "Aku sudah tahu pertanyaanmu, aku tahu ayah menyuruh kita semua untuk menghentikan ekspansi dungeon dan beristirahat yang lama, tapi apakah kau tahu? Aku sangat frustasi berdiam diri saja dan tidak melakukan apa-apa, jadi aku secara diam-diam mengekspansi dungeon ayah. Jadi aku mohon, jangan beritahu ayah," pintanya dengan tulus kepada kakaknya, Vael.


"HAAH??!! Mengapa Kau baru saja memberitahuku! Mengapa tidak dari tadi! Dan mengapa tidak Kau saja yang pergi ke lantai atas dan menghabisinya sendiri?!" balas Karina yang tampaknya marah.


"Apakah Kau tidak ingat hari ini aku yang bertugas untuk menjaga ayah sekarang?" jawab Vael.


"Oh ya, aku lupa. Ngomong-ngomong, apakah ayah sudah tahu bahwa ada penyusup bajingan yang berani datang ke dungeon ayah ini?" tanya Karina.


Lalu Vael menjawab adiknya, "Sepertinya belum, karena ayah sedang beristirahat di tempat tidurnya sekarang, dan aku berada berdiri di sebelahnya. Aku pun tidak mau membangunkan dan mengganggu istirahat ayah karena hal sepele ini. Aku tahu ayah menciptakan kita semua untuk menjadi kaki tangannya dalam situasi seperti ini."


"Hmm, keputusan yang tepat Kau tidak membangunkan ayah, baiklah kalau begitu aku akan menggantikanmu, kau bisa menghabisi nya dengan tanganmu sendiri" balas karina.


Vael mendengus kesal melalui [Message]. "Haaahh?!! Hey, aku tahu niat jahatmu! Kau ingin bersama dengan ayah, bukan?! Jangan egois, Karina! Hari ini aku yang menjaga ayah! Kemarin Kau sudah bersama ayah, sekarang giliranku!" balas Vael dengan emosi.

__ADS_1


Suara menghela nafas adiknya, Karina, terdengar melalui [Message], lalu Karina menjawab, "Baiklah! Aku ketahuan, sepertinya kau tahu niatku. Kalau begitu, aku akan pergi ke lantai atas untuk menghabisi penyusup bajingan tersebut."


Karina pun mengingat sesuatu dan bertanya, "Kalau diingat-ingat, bukankah ada Zara yang menjaga lantai atas dungeon ayah ini? Ah, baiklah, aku paham niatmu."


Sebelum Vael ingin membalas adiknya, Karina tiba-tiba merasakan sesuatu dan dengan panik ia berkata, "Tunggu! Apakah Kau merasakannya? Para penyusup bajingan berhasil mencapai lantai 5! Sial! Apakah penyusup itu kuat?! Cep-," ucap Vael yang terpotong ucapan-nya, saat itu juga ia mendengar suara ayahnya yang sedang tidur.


Ayah mereka mengucapkan kata-kata aneh yang sedang tidur, "Mmmm.... Spaghetti...... Pizza..... M..ia .. Khali.. Fa.... Habisi... Cepat... (Zzzzz)" Ucapan ayah mereka selesai dan terlihatnya melanjutkan istirahatnya.


Tiba-tiba Vael bergumam bingung dan dengan cepat menanyakan ke adiknya yang jenius, Karina, "Hey, Karina! Aku mendengar ayah tadi berkata, Spaghetti, pizza, mia, khalifa, habisi, cepat?, dan apa maksudnya itu?!" tanya Vael kepada Karina.


Dengan proses otak yang cepat, Karina menyimpulkan perkataan tersebut dan membalas Vael, "Sepertinya dari perkataan ayah, ayah ingin menyimpan kekuatannya untuk kita dan ayah menyuruh kita untuk menghabisi penyusup bajingan dengan secepat mungkin untuknya. Dan untuk kata 'spaghetti', 'pizza', 'mia', dan 'khalifa', aku tidak tahu." balas Karina.


"Apa itu semacam rapalan mantra sihir terlarang/tabu?" balas Vael dengan bingung.


"Sudah kubilang aku tidak tahu!! Kau sendiri tahu kan betapa luasnya pengetahuan dan kebijaksanaan ayah kita yang agung! Bahkan aku yang sudah diciptakan oleh ayah yang tergolong pintar, tapi tidak dapat menyentuh maupun menyamai kepintaran ayah!" jawab Karina dengan nada kesal.


Vael pun langsung membalas, "Baik, baik, kalau begitu cepatlah ke lantai 5, tampaknya para penyusup berhasil menembus lantai 5, dan habisi mereka secara cepat seperti yang ayah perintahkan!"


"Kau benar-benar! Mengapa Kau tidak memberitahuku daritadi?! Kau ini!!!" balas Karina dengan kesal. Dan Vael pun menjawab, "Aku sejak tadi ingin memberitahumu saat penyusup itu berhasil mencapai lantai 5, namun saat aku ingin memberitahumu, tiba-tiba ayah berkata seperti yang aku katakan sebelumnya!"


Karina yang kesal dengan Vael memutuskan komunikasi [Message].


"Karina! Karina! Apakah kau mendengarkanku?!" ucap Vael kepada Karina, namun menyadari bahwa adiknya memutuskan sambungan [Message].


Dengan kesal, Vael berkata, "Bocah ini!"


Sementara itu, tanpa memedulikan keluhan Vael, Karina dengan cepat bergerak menuju lantai 5 untuk menghabisi para penyusup bajingan yang berani masuk ke dungeon ayah mereka.


Sementara Karina pergi, Vael memutuskan untuk tetap berjaga-jaga di lantai ayahnya.

__ADS_1


Ia berusaha mencari tahu apa yang ayahnya maksud dengan kata-kata aneh yang disebutnya saat tidur.


"Spaghetti, pizza, mia, khalifa, habisi, cepat... apa artinya semua itu?" gumam Vael sambil menggaruk kepalanya yang penuh pertanyaan.


__ADS_2