
"Jadi, Rio, apa yang ingin kau bicarakan kepada kami?" tanya Alex, Kepada Rio secara langsung.
Alex menatap Rio dengan serius, menunggu penjelasan dari teman lama mereka. Semua anggota party Phantom Nemesis diam-diam merasa penasaran dengan permintaan bantuan Rio.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Tidak, aku membutuhkan bantuan kalian semua, kawan lama-ku," ucap Rio dengan suara tegas.
Sesaat guraun dan canda tawa berhenti. Kelima anggota party berfokus pada Rio, menunggu penjelasannya. Mereka merasa aneh karena jarang sekali Rio meminta bantuan seperti ini. Biasanya, dia selalu tampil percaya diri dan mandiri.
"Bantuan apa tepatnya? Sehingga kau memohon kami semua untuk berkumpul di sini?" tanya salah satu anggota party dengan rasa ingin tahu.
Rio mengambil napas dalam-dalam sebelum memberikan penjelasan. Dia menjelaskan tentang misi yang diberikan oleh Raja Theovilus untuk menyelidiki Anomali di Hutan Elysian.
Meskipun itu bukan tugas resminya sebagai pengawal pribadi Raja, Rio merasa bahwa misi itu sangat penting dan berbahaya. Dia membutuhkan bantuan dari teman-temannya yang telah membantunya begitu banyak dalam petualangan masa lalu.
"Dulu kalian selalu ada untukku, kalian adalah teman-teman yang telah menyelamatkan hidupku berkali-kali. Sekarang, aku membutuhkan kalian lagi," ucap Rio dengan penuh rasa terima kasih.
Tiba-tiba, semua anggota Phantom Nemesis berdiri dan meninggalkan tempat duduk mereka dengan berbagai alasan. Rio merasa bingung melihat mereka segera mencari dalih untuk kabur dari pertemuan ini.
"Maafkan aku, Rio, aku teringat ada hal mendesak yang harus kukerjakan," ucap salah satu dari mereka.
"Maaf, Rio, aku sedang berlatih sihir baru setelah ini," tambah yang lain.
"Tampaknya aku harus pergi ke toko senjata, senjataku sudah siap untuk diambil," ujar yang lain lagi.
Dan ada yang berpura-pura demam dan ingin meninggalkan ruangan.
Anggota Phantom Nemesis bergerak menuju pintu keluar guild, tetapi Rio dengan cepat menghalangi mereka yang ingin kabur. Ia tahu ada sesuatu yang salah, mereka sepertinya sedang mencoba menghindarinya.
"Maaf, aku tidak bisa membiarkan kalian lari begitu saja," ucap Rio dengan tegas, sambil menahan mereka yang ingin kabur.
Namun, rekan-rekannya hanya tersenyum canggung dan berusaha melepaskan diri dari genggamannya.
"Rio, kami benar-benar punya urusan mendesak, percayalah," ujar salah satu dari mereka dengan suara cemas.
"Tolong tunggu! Dengarkan apa yang ingin kukatakan terlebih dahulu! Tidak, harap dengarkan! Tolong! Tolong!" Rio berusaha keras untuk meyakinkan mereka, tangannya menggenggam erat bahu salah satu rekan-rekannya yang hendak pergi.
Setelah beberapa saat, dia berhasil mendapatkan perhatian mereka semua. Dengan wajah serius, Rio menceritakan situasinya kepada mereka. Dia menjelaskan bahwa Raja Theovilus telah memerintahkan untuk menyelidiki banyak kumbang bertebaran yang muncul di Hutan Elysian.
"Dalam rangka menyimpulkan, kau pastinya diperintahkan oleh Raja Theovilus, bukan? Untuk menyelidiki kumbang dalam jumlah yang banyak muncul di Hutan Elysian, bukan?" tanya sang pemimpin Phantom Nemesis, Alex.
"Ya, kau benar Alex," anggukan Rio kepada sang pemimpin.
Hutan Elysian memang merupakan zona yang sangat berbahaya, bahkan disebut sebagai zona kematian karena berbatasan langsung dengan Tambang Elysian.
__ADS_1
Namun, karena tambang ini sangat berguna, negara selalu memantau area dekat perbatasannya untuk mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh banyak monster buas dekat Hutan Elysian.
"Ada tiga alasan aku membutuhkan kalian, kawan-lamaku. Pertama, mengirim tim pengawasan saja tidak cukup," ucap Rio dengan tegas, matanya tetap fokus pada anggota party-nya.
"Dalam masalah ini, kalian adalah petualang berpengalaman dan tangguh. Meskipun sarang anak kumbang itu monster kelas terendah, tetap saja kita harus bertindak cepat untuk mencegah potensi masalah lebih besar di kemudian hari," lanjut Rio dengan serius.
"Kedua, lebih cepat untuk bertanya langsung kepada kalian semua daripada melalui guild, oleh karena itu aku menyuruh kalian untuk berkumpul," sambungnya.
Dan, poin ketiga yang penting," ucap Rio dengan serius, menciptakan keheningan dalam ruangan. "Ini adalah intuisi dari Raja Theovilus. Dia sangat tertarik dengan laporan ini. Itulah sebabnya aku diminta untuk menyelidiki ini," kata Rio dengan tegas.
"Apa?!" Semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya. Mereka tidak pernah mengira bahwa misi mereka kali ini akan berkaitan dengan intuisi sang raja.
"Intuisi?" Tanya salah seorang dari mereka, masih sulit untuk dipercaya.
"Ya. Sejujurnya, ini mengganggu. Tapi kalian tahu, intuisi Raja Theovilus seringkali tepat. Bahkan, itu sudah memecahkan krisis di negara ini. Aku sudah bersama dengan dia selama 10 tahun dan hampir dari intuisinya tepat dan tidak meleset," ungkap Rio kepada kawan-kawannya dengan sedikit candaan untuk meredakan ketegangan.
Perlahan, wajah-wajah anggota Phantom Nemesis berubah dari keterkejutan menjadi keraguan dan akhirnya, menjadi rasa kepercayaan. Mereka mengenal Rio, dan ketika dia mengatakan bahwa intuisi Raja Theovilus layak untuk dipertimbangkan, mereka pun mempercayainya sepenuhnya.
Rio mematikan rokoknya yang sudah lama ada di asbak atas meja. Dia membungkuk ke semua orang dengan sangat memohon.
"Tolong, bantu aku! Aku tahu ini permintaan yang gila. Aku tahu aku tidak bisa meyakinkan kalian. Tapi kalian adalah satu-satunya orang yang bisa kuandalkan..." ucap Rio dengan permohonan yang tulus. Pandangannya melayang dari satu wajah ke wajah lainnya, mencari dukungan dari teman-teman lamanya.
Rio memang menjadi tangan kanan Raja Theovilus, tapi dia tidak memiliki kekuatan di istana kerajaan. Tidak ada yang bisa dia andalkan, terutama para bangsawan yang selalu mencuekinya dan mencemoohnya tiap saat. Bahkan hampir semua orang di istana menganggapnya sampah.
Raja Theovilus pun sebenarnya menyuruh para kesatria bangsawan yang mumpuni untuk ikut serta bersama Rio, banyak dari mereka mencari muka dengan berkata akan ikut dengan Rio untuk menginvestigasi Hutan Elysian bersama dia.
Ancaman-ancaman mereka datang begitu saja, mengancam akan melukai istri Rio, bahkan ada yang mengancam akan membunuh istri Rio yang sedang hamil jika dia memberitahu Raja Theovilus.
Dalam hati, Rio merasa marah besar dan berapi-api. Ia ingin sekali membantai para bangsawan bajingan yang berani mengancam nyawa istri tercintanya.
Namun, ia tahu bahwa jika ia marah dan melawan mereka, para bangsawan itu akan dengan senang hati melukai istri Rio. Mau tidak mau, Rio hanya bisa mengangguk dan menurut kepada para bangsawan bajingan tersebut.
Hanya ada satu hal yang bisa diandalkan oleh Rio dalam situasi ini, yaitu teman-teman lamanya yang ia kenal selama menjadi petualang. Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa dipercayainya sepenuhnya dan tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Hmmm..." ujar Alex.
"Apakah kau sudah bertanya kepada Gazel tentang ini, Rio? Dia jauh lebih kuat daripada kami," ucap Alex kepada Rio dengan pandangan serius.
"Aku tidak tahu cara menghubungi si petarung gila itu. Aku bahkan tidak tahu di mana dia berada setelah 10 tahun ini. Orang lain yang ku kenal yang kuat selain Gazel, yakni Diabelle, tapi aku juga tidak bisa menghubunginya," jawab Rio menjelaskan kepada Alex dengan wajah penuh ketidakpastian.
"Hmm, jadi itulah mengapa kau datang kepada kami, bukan?" ucap Alex dengan ekspresi cemberut. Anggota lainnya juga menunjukkan raut wajah yang serupa.
Rio merasa semakin khawatir. Sepertinya mereka akan menolak permintaannya yang tergila-gila ini. Tetapi dia tidak punya pilihan lain. Jika mereka menolak, maka Rio akan pergi menyelidiki Hutan Elysian sendirian.
__ADS_1
Situasi itu semakin tegang, tetapi Rio memutuskan untuk memberanikan diri dan memohon dengan tulus kepada teman-teman lamanya, "Tolong, aku memang tahu permintaanku terlihat gila, tetapi kalian adalah satu-satunya harapanku"
Beberapa detik yang panjang berlalu, suasana menjadi hening. Namun, kemudian anggota Phantom Nemesis mulai saling berpandangan, seakan ada pemikiran yang saling berkejaran di dalam pikiran mereka.
"...Baiklah. Kami akan menerimanya."
Setelah beberapa saat tertegun, Rio akhirnya menyadari bahwa teman-teman lama yang tercinta tersebut benar-benar menerima permintaannya untuk pergi ke Hutan Elysian. Tatapan melebar yang ditujukan kepada mereka berubah menjadi ekspresi haru dan terima kasih.
"Serius, mengapa kau terkejut dengan reaksi seperti itu? Bodoh!" ucap wanita berambut hitam tersebut dengan gaya sindiran yang khas.
"Apa masalahnya? Apakah aneh kami setuju untuk pergi ke tempat berbahaya, kawan-lamaku?" ucap Alex dengan nada santai.
Rio tersenyum, merasa beruntung memiliki teman-teman sehebat mereka. Namun, seorang anggota lainnya, yang tampak sangat benci pada Raja Theovilus, menyampaikan pandangannya, "Baiklah, aku mengerti. Tapi kami tidak akan percaya intuisi atau apa pun dari Atasanmu, VILUS."
"Ehem, sebenarnya namanya Theovilus, bukan Vilus," kata Rio dengan tersenyum mencoba untuk mengoreksi kesalahan anggota party-nya.
"Ah, terserah. Yang jelas, kita hanya menerima permintaan ini karena kau, Rio. Jangan buat kami menyesal!" ujar salah satu anggota laki-laki dengan pandangan tegas.
Setelah beberapa saat perasaan haru, Rio tanpa sadar maju ke depan dan dengan tulus menyatakan, "Setelah aku meninggalkan kalian selama 10 Tahun ini... Tapi, kalian masih percaya kepadaku, setelah meninggalkan party ini." Matanya berkaca-kaca saat dia melihat wajah-wajah akrab yang ia rindukan begitu lama.
"Hah?!" ujar wanita berambut hitam, dengan cepat berdiri dan dengan candaan seperti biasa, ia mencekik Rio. "Berapa lama menurutmu kau bersama kami sebelumnya? SUDAH 15 TAHUN KAU BERSAMA KAMI BODOH! Kami selalu percaya padamu, RIO!" lanjut Viona sembari mengulurkan tangannya ke pundak Rio dengan tulus. Senyumannya sungguh mempesona.
Anggota lainnya juga menyatakan persetujuan mereka dengan berbagai komentar yang riuh.
"Vi-Viona..." ucap Rio sambil terharu, namun juga tersenyum bahagia.
"Sudahlah, jangan menangis, bodoh!" ucap Viona sambil mencubit pipi Rio dengan lembut.
"Kami sudah terbiasa bertualang bersamamu, dan itu sudah cukup alasan bagi kami untuk menerima pekerjaan ini, Rio," ujarnya dengan tegas, tetapi di balik kata-katanya terlihat rasa persahabatan yang dalam.
Anggota lainnya mengangguk setuju, menunjukkan bahwa mereka semua telah sepenuhnya menerima Rio kembali ke dalam kelompok mereka.
HEHEHE, Sepertinya masih ada rasa cinta di dalam hatimu, Viona, kepada Rio," ujar salah satu dari mereka dengan gurauan nakal.
"BODOH?! Bisakah kau mengatakannya lagi? Apakah kuperlu menendang mukamu, bodoh!" balas Viona dengan wajah yang memerah. Dengan cepat, ia melanjutkan, "Aku hanya senang bisa bersama Rio lagi, setelah 10 Tahun berlalu."
"Lihatlah wajah sang mantan, Viona memerah, kawan-kawan. Sepertinya ingin meledak," gurau salah satu anggota temannya sambil tertawa.
Tawa riang berkumpul di meja mereka. Baik Rio dan Viona berusaha menyangkal dengan wajah yang semakin merah.
"Tidak! Bukan begitu!" ucap Rio dan Viona bersamaan secara spontan.
Namun, tidak ada satu pun dari anggota yang mendengarkan. Semuanya tetap asyik tertawa dan berbincang, menikmati momen kebersamaan mereka seperti dahulu kala.
__ADS_1
Dengan demikian, Rio pergi ke Hutan kematian Elysian dengan mantan Tim petualangnya Phantom Nemesis.
Pada saat itu, mereka belum tahu bencana yang menanti mereka.