Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - La Veda "1"


__ADS_3

Sebas, dengan raut wajah serius, telah mengakhiri percakapan melalui [Message] dengan adiknya, Vael.


Saat ini, ia berada di salah satu penginapan di kota manusia di Kerajaan Arvandor, kota yang berdekatan dengan tambang Elysian, dikenal sebagai Arbandir.


Dalam kamar penginapan yang luas, Sebas ditemani oleh kedua adiknya, Aleister dan Hades.


Kedua adiknya tampak tengah berdiskusi tentang misi yang sedang mereka jalani untuk meningkatkan peringkat mereka sebagai petualang.


Sebas merenung sejenak, menyadari bahwa mereka bertiga memiliki tujuan yang sama: naik ke peringkat silver, dan akhirnya, mencapai peringkat master.


Merampungkan tugas-tugas yang diberikan oleh ayah mereka tidak hanya memberikan kepuasan, tetapi juga mendapatkan pengakuan serta kebanggaan dari ayah mereka.


Sebas sebenarnya ikut dalam berdiskusi sebelumnya dengan kedua adiknya, Aleister dan Hades, ketika tiba-tiba pesan dari adiknya Vael masuk melalui [Message].


Ia dengan cepat meninggalkan meja diskusi dan beranjak ke depan jendela kamar penginapannya, tenggelam dalam keraguan. Ia memandang keluar dengan pikiran yang kacau, berusaha merumuskan langkah selanjutnya.


Dalam benak Sebas, pertanyaan tentang apa yang terjadi pada ayah mereka terus berputar. Kecemasan mengisi hatinya, dan detak jantungnya terasa semakin cepat.


Ia merasa seakan-akan kejadian yang tak terduga telah terjadi, dan ia ingin segera tahu apa yang sedang terjadi dengan ayahnya.


"Tidak mungkin aku bisa tinggalkan mereka tanpa penjelasan," gumam Sebas dalam hati, berusaha mencari jalan terbaik dalam situasi ini.


Ia ingin segera pergi ke rumah dungeon ayah mereka untuk memastikan keadaannya, tapi juga tidak ingin membuat Aleister dan Hades merasa cemas atau khawatir.


Sebas, ingin memastikan bahwa adik-adiknya tidak ikut khawatir, memulai pembicaraan dengan batuk yang mengikuti gaya bicara ayah mereka.


"Ahekk... Ahemm," batuk Sebas, memberi tanda bahwa dia ingin berbicara.


Mendengar itu, kedua adiknya, Aleister dan Hades, dengan cepat menghentikan diskusi mereka dan menoleh ke arah saudara tertua mereka yang berada didekat jendela.


Sebas dengan tenang mengungkapkan rencananya, "Kalian berdua bisa melanjutkan misi kalian terlebih dahulu. Aku harus pulang sekarang karena ada urusan mendadak yang memanggilku."


Hades, dengan ekspresi yang penuh kebingungan, mulut terbuka lebar seakan-akan seperti orang bodoh, dengan cepat merespons, "Haah? Urusan mendadak apa, Kak? Kalau begitu, biar kami berdua ikut pulang juga dan membantumu agar bisa cepat diselesaikan."


Sebas dengan mantap menjawab, "Tidak, aku tidak mengizinkan kalian ikut. Kalian berdua lanjutkan misi tanpaku. Ini adalah misi terakhir peringkat Bronze yang akan membawa kalian naik peringkat menjadi Silver."

__ADS_1


Aleister, penuh kekhawatiran, langsung merespons, "Tapi Kak, jika Kakak tidak ikut menyelesaikan misi bersama kami, kau tidak akan naik peringkat menjadi Silver."


Sebas tersenyum, mencoba meredakan kekhawatiran adiknya.


"Jangan khawatir, sudah kulakukan registrasi party kita secara resmi di Guild Petualang. Jadi, jika kalian menyelesaikan misi ini dan naik peringkat menjadi Silver, aku juga akan naik peringkat."


Dengan penjelasan tersebut, Aleister dan Hades merasa lega, mengetahui bahwa kakak mereka telah merencanakan semuanya dengan baik.


"Baiklah, jika begitu," kata Aleister, "Kakak, cepat selesaikan urusanmu dan bergabunglah dengan kami sesegera mungkin."


Sebas mengangguk, "Aku akan melakukannya. Kalian berdua tetap fokus pada misi kalian, dan jangan lupa tingkatkan kemampuan kalian."


"Tunggu!" seru Hades tiba-tiba saat Sebas hendak membuka pintu.


Sebas segera menoleh ke belakang, wajahnya mengerutkan kening mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh adiknya.


"Dapatkah aku ikut pergi bersamamu, Kak?" kata Hades dengan suara penuh harap.


Sebas merasa dilema. Dia ingin melindungi adiknya dari berita buruk mengenai ayah mereka, tapi pada saat yang sama, dia juga ingin menjaga agar Hades tidak khawatir.


Hades menghela nafas berat, tampaknya mengerti alasannya. "Baiklah, Kak," katanya pasrah.


Dalam hati, Sebas merasa sedih melihat ekspresi adiknya itu, tapi dia yakin bahwa ini adalah langkah yang terbaik untuk melindungi Hades.


Dengan perasaan campur aduk, Sebas melanjutkan langkahnya menuju pintu, tetapi dalam benaknya, kekhawatiran untuk ayah dan keinginan untuk melindungi adiknya saling berbenturan, menciptakan ketegangan dalam dirinya.


Dalam keadaan bimbang, Aleister pun bertanya kepada saudara tertuanya, Sebas, sebelum Sebas melangkah keluar dari pintu.


"Kak, apakah kamu butuh aku memanggil Raidjin, supaya kamu bisa pulang dengan cepat?" tanya Aleister dengan nada khawatir.


Sebas, sambil memainkan jenggotnya dengan pikiran yang tengah melayang-layang, merenungkan ucapan adiknya.


"Hmmm," gumamnya dengan ekspresi serius.


Raut wajah Sebas mencerminkan keraguannya, terkait dengan tawaran bantuan Aleister untuk memanggil Raidjin, makhluk Summon yang kerap menaati perintahnya.

__ADS_1


Meskipun hatinya ingin menerima tawaran itu, ia tahu Aleister baru saja mengantar Luna pulang atas perintah ayah mereka.


Ia tak ingin adiknya merepotkan diri lagi, apalagi setelah perjalanan jauh tersebut.


"Tidak perlu, Aleister. Aku bisa berjalan sendiri," jawab Sebas sambil tersenyum hangat pada kedua adiknya.


Senyum itu penuh dengan perasaan kehangatan dan kasih sayang yang ia miliki terhadap adik-adiknya.


Sebas, setelah memberikan pesan pada kedua adiknya, dengan hati-hati membuka pintu kamar penginapannya, membiarkan pintu itu terbuka lebar sebelum langkahnya meninggalkan ruangan.


Sebelum Sebas benar-benar meninggalkan kamar, dia berbalik dan memberikan pesan akhir pada Aleister dan Hades, "Jagalah diri kalian baik-baik dan jangan gunakan kekuatan kalian secara terlalu mencolok di lingkungan manusia."


Kedua adiknya, Aleister dan Hades, mengangguk dengan antusias, "Ok!"


Langkah Sebas terdengar jelas saat ia melangkah keluar dari kamar penginapannya, dan dengan hati-hati menutup pintunya di belakangnya.


Dalam sekejap, ia telah keluar dari tempat penginapannya dan berjalan cepat menuju keluar dari kota manusia, melintasi jalan-jalan yang ramai oleh penghuni dan pedagang.


Namun, kepekaan Sebas bukanlah main-main. Ia segera menyadari bahwa ada beberapa orang yang mengikuti jejaknya dari belakang.


Dengan sikap waspada dan berpikir cepat, ia memutuskan untuk memutar arah secara tiba-tiba, membuat para penguntitnya bingung.


Setelah berjalan beberapa lama, Sebas akhirnya tiba di pintu keluar kota manusia yang dijaga oleh prajurit pengawas.


Dengan hati-hati, dia melangkah keluar dari kota, berusaha untuk tidak menarik perhatian. Dia merasakan bahwa ada yang mengikutinya dari kejauhan, dan dia tidak ingin menghadapi masalah yang tak terduga.


Sebas memutuskan untuk tidak langsung menuju ke Hutan Elysian, tempat yang mungkin akan membuatnya lebih mencolok.


Sebaliknya, dia mengambil jalan setapak biasa menuju hutan lain yang lebih jauh dari pandangan umum, yaitu Hutan La Veda.


Meskipun hutan ini lebat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi, itu adalah tempat yang relatif aman, tidak seperti Hutan Kematian Elysian yang penuh bahaya.


Saat melangkah lebih dalam ke dalam hutan La Veda, Sebas merasa suasana yang jauh lebih tenang.


Cahaya matahari tembus masuk melalui celah-celah pepohonan, menciptakan bayangan-bayangan menari di tanah.

__ADS_1


__ADS_2