
Sebas terkejut melihat kondisi pintu masuk dungeon ayahnya yang hancur berantakan.
"Apa-apaan ini?" gumamnya sambil memandangi lobang dungeon yang kini hancur.
Tapi pandangannya segera beralih saat ia melihat Zara yang terluka di dekat pintu masuk dungeon.
Tak jauh dari Zara, Sebas melihat burung griffin besar yang terlihat sedang bertarung dengan serius.
"Sepertinya mereka bertarung sebelumnya," pikir Sebas.
Sebas tiba-tiba menyadari bahwa burung griffin besar itulah yang menghancurkan pintu masuk dungeon ayahnya.
Tanpa ragu, Sebas berlari menuju burung griffin dengan niatan untuk menghantamnya.
Dia merasa marah dan ingin membalas dendam atas kerusakan yang telah terjadi.
Namun, sebelum Sebas sempat menghantam burung griffin, tiba-tiba ada yang menghalanginya.
"Tunggu sebentar, Tuan!" ucap Zara dengan napas tersengal-sengal saat dia memblokir burung griffin dengan tubuhnya, seolah ingin melindunginya.
Tinju Sebas hampir saja mengenai wajah Zara yang berjarak sangat dekat.
"Mengapa kau menghentikanku?" ucap Sebas sambil perlahan menurunkan tinjunya, mendekatkan wajahnya ke arah Zara.
Ada kebingungan dan kelegaan tercampur aduk dalam ekspresi Sebas.
Zara menghela nafas lega karena hampir saja dia menjadi korban pukulan dari anak Putra tuannya sendiri.
Dengan penuh ketenangan, dia menjelaskan kepada Sebas tentang apa yang terjadi.
"Tuan kami telah selesai bertarung dan kami berakhir dengan hasil seri. Kami telah membuat perjanjian untuk saling melindungi teritori satu sama lain jika menghadapi masalah."
Sebas mendengarkan dengan heran ketika burung griffin besar itu tiba-tiba berbicara padanya.
"Oh? Jadi kau tuan dari dungeon ini?" kata burung griffin dengan nada penasaran.
"Manusia menjadi penguasa dungeon?! Ini sungguh unik, baru pertama kali aku mendengar tentang hal ini."
Meskipun aneh, Sebas menyadari bahwa di dunia hutan kematian ini, segala sesuatu mungkin terjadi.
Monster dapat berkomunikasi dan berbicara seperti manusia, Sebas merenung dalam hati bahwa ayahnya sedang menyembunyikan identitasnya sebagai penguasa dungeon dan dewa primordial.
Ayahnya memilih untuk bersembunyi dan memulihkan kekuatannya di dalam tanah yang dikenal sebagai dungeon, rumah mereka.
Sebas menjaga rahasia ini, Sebas merasa terpaksa untuk mengakui bahwa ia adalah penguasa dungeon kepada burung griffin yang dapat berbicara.
Dengan tenang, ia menjawab, "Ya, benar. Aku adalah tuan dari dungeon ini. Apa yang kau inginkan dariku, makhluk buas?"
Burung griffin itu terkekeh dengan suara yang menggema di antara pepohonan.
"Aku hanya penasaran, manusia. Aku belum pernah melihat seorang manusia menjadi penguasa dungeon sebelumnya. Tampaknya dunia ini selalu menyimpan kejutan-kejutan yang menarik."
Zara, yang mendengar percakapan antara Sebas dan burung griffin, merasa bingung.
__ADS_1
Dia bisa merasakan bahwa anak Putra tuannya sedang merencanakan sesuatu, tetapi dia memilih untuk tetap diam dan hanya mendengarkan.
"Ah, kalau begitu, buatlah pakta perjanjian denganku agar kita tidak saling merebut atau menyerang wilayah satu sama lain, dan jika ada masalah, kita dapat bekerja sama," ucap burung griffin dengan serius.
Sebas langsung memberikan jawaban yang tajam, "Apakah kau pikir bantuanmu akan membantu atau meringankan masalahku? Menurut standarku, kau terlalu lemah bagiku."
Burung griffin itu terkejut dengan kejujuran Sebas. "Jadi, kau menganggapku lemah, manusia sombong?" tanya burung griffin dengan tatapan tajam.
"Kurasa ya dan tidak. Bagi manusia, kau mungkin kuat, tetapi bagi diriku, kau lemah," jawab Sebas dengan tegas.
Burung griffin terlihat bingung.
"Bukankah kau juga manusia? Mengapa kau berkata seperti itu?" tanyanya.
Sebas hampir saja mengungkapkan bahwa dirinya bukan manusia dan bahwa dia diciptakan oleh ayahnya, tetapi dia cepat-cepat mengalihkan topik.
"Ahek... Ahem, ya, aku bukan manusia. Ngomong-ngomong, mengapa kau menghancurkan kediamanku? Apakah kau tidak tahu sopan santun?, perlukah kuhajar kau sebagai pelajaran makhluk buas?"
Lalu, burung griffin tersebut tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sebas yang mengancam akan memberikannya pelajaran.
Namun, tawa burung griffin segera berubah menjadi kekhawatiran saat ia menjelaskan bahwa telur anak nya telah hilang dan ia merasakan energi sihir telur yang belum menetas berada di dalam dungeon ayahnya, sebas.
Burung griffin itu merasa marah dan memutuskan untuk mengambil kembali telur anaknya, sehingga ia menghancurkan pintu masuk dengan ganas.
Namun, tiba-tiba ia dicegat oleh Zara yang siap bertarung melawannya.
Pertarungan pun dimulai antara Zara dan burung griffin. Mereka saling beradu serangan dan bertahan dengan gigih.
Ini bukanlah kematian, tetapi hilang dengan total tanpa jejak.
Burung griffin mulai menyadari bahwa ia telah salah mengira, mungkin anaknya tidak pernah masuk ke dalam dungeon ayahnya.
Pertarungan mereka terhenti ketika tiba-tiba terjadi gempa dahsyat yang mengguncang seluruh area.
Zara dan burung griffin merasakan raungan yang menyakitkan di telinga mereka, membuat mereka ketakutan. Tanpa sadar, pertarungan mereka berhenti.
Burung griffin yang telah merasa cukup melawan Zara dan menganggapnya setara, memutuskan untuk mengajukan pakta perjanjian.
Namun, Zara tidak bisa menjawab karena ia hanya seorang pelayan tuannya dan bukan penguasa dungeon.
Tepat pada waktunya, Sebas muncul dan dianggap oleh burung griffin sebagai penguasa dungeon.
"Itulah mengapa aku menghancurkan kediamanmu, tapi sepertinya instingku yang salah jadi maafkan aku yang telah menghancurkan kediamanmu," ucap burung griffin dengan nada menyesal kepada Sebas.
Sebas, yang mendengarkan penjelasan itu, mulai mengingat perkataan adiknya, Aleister, yang mengatakan bahwa Luna telah mengambil sebuah telur besar di tengah hutan.
Saat itu juga, Sebas menyadari bahwa apa yang dimaksud oleh burung griffin adalah bahwa Luna telah mengambil telur anaknya.
ia memahami mengapa burung griffin tersebut begitu berkeinginan untuk mendapatkan kembali telur tersebut.
Namun, meskipun ia masih merasa kesal, Sebas memilih untuk mengendalikan emosinya.
Dia menatap burung griffin dengan tajam, lalu dengan suara tegas, ia berkata, "Kalau begitu, aku memaafkanmu. Namun, ingatlah baik-baik, jika kau sekali lagi melakukan tindakan yang merugikan, jangan harap kau bisa bernafas lagi."
__ADS_1
Burung griffin terkekeh dengan nada yang mengejek.
"Wah, wah, wah, seram sekali hahaha," kata burung griffin sambil terkekeh.
"Kalau begitu, apakah kau setuju dengan pakta perjanjian yang kutawarkan kepadamu?"
Sebas berpikir sejenak, menimbang-nimbang. Dia tahu bahwa dengan mengikat perjanjian ini.
"Hmm," gumam Sebas dengan kebingungan. Dia menyadari bahwa sebenarnya ia perlu izin dari ayahnya untuk mengambil keputusan ini.
Jika ayahnya berada di sampingnya, pasti mereka telah merencanakan dengan lebih matang dan mengambil keputusan dengan cepat, mengingat otak jeniusnya yang merupakan dewa kebijaksanaan.
Sebas lalu mengucapkan, "Aku belum bisa memberikan jawaban sekarang, mungkin nanti aku bisa memberitahumu."
Ia merasa perlu berkonsultasi dengan ayahnya sebelum membuat keputusan yang besar ini.
Burung griffin besar tersebut mengangguk memahami.
"Aku mengerti. Kalau begitu, suatu saat aku akan datang lagi. Dan jika kau mengizinkannya, bolehkah aku masuk dan bermain di dalam kediamanmu?" ucap burung griffin dengan antusias.
Tatapan Sebas memandang ke arah burung griffin dengan ekspresi ragu.
"TIDAK!, kalau begitu pergilah sekarang," ucapnya dengan sedikit cemas.
Burung griffin tersenyum dan menjawab, "Wah, kau galak sekali hingga mengusirku. Ah, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku adalah Griphon."
Sebas meneruskan perkenalan, "Sebas," ucapnya sambil memberitahukan namanya kepada Griphon.
"Baiklah, sampai berjumpa lagi, penguasa dungeon, Sebas," ucap Griphon dengan ramah sebelum dengan cepat menggepakkan sayapnya dan terbang menjauh ke kawasan kediamannya yang berada di dalam hutan kematian.
Mungkin Griphon bukanlah musuh yang seburuk yang ia bayangkan.
Mungkin ada kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik di masa depan.
Saat itu juga, Sebas melirik ke arah Zara yang berdiri di dekatnya.
Wajah Zara memerah, dan Sebas merasa ada yang aneh. Dia menoleh cepat dan tersenyum manis kepada Zara. Namun, saat itulah kejadian tak terduga terjadi.
Mimisan tiba-tiba menghampiri Zara, dan tubuhnya melemas, dan tak sadarkan diri.
Sebas panik dan langsung membangunkan Zara yang tak sadarkan diri. Dia menggendong Zara dengan penuh kekhawatiran.
"Apa yang terjadi padanya?" gumam Sebas khawatir, melihat wajah Zara yang berada begitu dekat di dalam pelukannya.
Tiba-tiba, seperti mendapat sengatan listrik, Sebas teringat akan ayahnya.
Tanpa berpikir panjang, dia segera menuju lantai 10 dengan Zara yang masih tak sadarkan diri di pangkuannya.
Setelah meletakkan Zara di kamarnya di lantai 4, Sebas dengan hati-hati melepaskan gendongannya dan bergegas menuju kamar tidurnya. Dalam hatinya, ia berharap semoga Zara segera pulih.
Tapi pikirannya langsung beralih pada ayahnya. "Semoga tidak ada yang buruk terjadi pada ayah," ucap Sebas dengan optimisme, mencoba menjaga semangatnya.
Dengan langkah cepat, Sebas melangkah menuju lantai 10.
__ADS_1