
Di kolam lavanya yang mendidih dan mematikan ini, suhu ekstrem memang sangat berbahaya.
Bahkan makhluk hidup pun akan musnah begitu saja jika terjatuh ke dalamnya, tidak meninggalkan apa pun selain abu dan tulang yang terbakar.
Namun, bagi Sebas dan ayahnya Calliga, ini adalah momen yang mereka nikmati, layaknya berendam di dalam jacuzzi yang hangat.
Sementara itu, Lithos masih merasa kesal terhadap tingkah laku nakal Sebas.
Ia memandang Sebas dengan ekspresi marah, menahan diri dari memberikan balasan atas ejekan tadi.
Kejadian ini semakin mengukuhkan pemikiran Lithos bahwa putra, Calliga ini memang satu paket dengan sikap kurang ajar.
Sebas, dengan sikap sopan yang ia tampilkan di hadapan ayahnya, bertanya dengan lemah lembut, "Ada hal apa, ayah?"
Calliga, yang telah mempersiapkan dirinya untuk pertanyaan ini, perlahan batuk sebagai tanda permulaan bicara.
Dengan wajah serius yang tak pernah lepas dari peran dramatisnya, ia mulai berbicara, "Hmm... Sebentar lagi, aku akan pergi ke kota manusia yang pernah kau kunjungi sebelumnya, dan kau akan ikut bersamaku, Sebas."
Sebas langsung tertegun. Pergi ke kota manusia bersama ayahnya?
Ketika Sebas mendengar bahwa dia akan pergi ke kota manusia bersama ayahnya, kebahagiaannya terpancar jelas dari wajah naga besar itu.
"Sesuai perintah anda, Ayah!" ucap Sebas dengan semangat membara.
Tapi di balik semangat itu, ia juga merasa bingung.
Mengapa ayahnya ingin pergi ke kota manusia yang tampaknya tidak begitu penting?
Ini adalah pertanyaan yang berputar di benaknya, meskipun ia tidak berani mengutarakan keraguan ini secara langsung kepada ayahnya.
Sebas, dengan keberanian yang ia kumpulkan, bertanya langsung kepada ayahnya.
Wajah naga besar itu terlihat bingung dan ingin tahu.
"Ayah, maafkan aku jika aku terlalu berani bertanya tentang rencana ayah yang pastinya sangat jenius ini. Tapi aku penasaran, mengapa ayah ingin pergi ke kota manusia? Bukankah itu tempat yang dipenuhi oleh sampah yang tidak berguna?" ucap Sebas dengan ekspresi bingung di wajahnya, memandang ayahnya, Calliga, dengan mata tajamnya.
Calliga, yang masih berendam dalam lava yang panas, merasakan keringat mengalir di wajahnya saat Sebas mengajukan pertanyaan tersebut.
Ia merenung sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan putranya.
"Apa yang harus aku jawab?" gumam Calliga di dalam hati, sembari memandang wajah bingung Sebas.
"Aku pun ingin pergi ke kota manusia karena aku merasa bosan di dalam dungeon ini. Rasanya, ada dunia luar yang lebih besar dan menarik yang perlu aku jelajahi," gumamnya lebih lanjut, lebih kepada dirinya sendiri daripada menjawab pertanyaan Sebas.
Beberapa menit berlalu, namun Calliga tidak menjawab pertanyaan Sebas.
Ia berpura-pura sibuk membersihkan dirinya dalam genangan lava yang panas, seakan-akan tak peduli dengan pertanyaan putranya.
Sebas merasa sedih. Hatinya hancur karena ayahnya tampaknya tidak peduli dengan pertanyaannya.
__ADS_1
Namun, Sebas juga tahu bahwa ayahnya selalu memiliki alasan mendalam di balik setiap tindakannya.
Mungkin ayahnya menganggap Sebas belum siap atau belum bisa memahami pemikiran kompleksnya yang sangat bijaksana.
Dalam kebingungannya, Sebas memilih untuk tidak meneruskan pertanyaannya. Ia mengerti bahwa kadang-kadang ayahnya memiliki rencana yang terlalu besar untuk dimengerti olehnya.
Dalam diam, Sebas bersumpah untuk tetap setia mengikuti ayahnya, meskipun beberapa pertanyaan tetap tak terjawab.
Sebas melihat dengan tajam ke arah Lithos, yang saat itu sedang merendamkan tubuh kristalnya dengan tenang.
Dengan penuh keyakinan, ia bertanya kepada ayahnya mengenai Lithos.
"Ayah, apakah makhluk jadi-jadian yang rendahan itu akan ikut bersama kita?" tanya Sebas sambil menunjuk ke arah Lithos.
Sebelum Calliga bisa menjawab, Lithos, yang tadinya tengah menikmati keadaannya dengan nyaman, mendengar ucapan putra sahabatnya. Kata-kata Sebas yang menyebutnya "makhluk jadi-jadian" dengan nada merendahkan membuatnya tersentak.
Lithos yang tadinya santai, dengan cepat bangkit dari genangan lava panas dan menghadapkan dirinya ke arah Sebas.
Lithos, dengan wajah merah marah yang terbuat dari kristal, semakin mendekati Sebas dengan gerakan langkah yang mantap.
Marahnya semakin melonjak ketika Sebas tampak begitu santai dan cuek menghadapinya.
"KAU BILANG APA, BOCAH TENGIL?!!" bentak Lithos dari kejauhan, suaranya menggema di sekitar lantai berapi.
Sebas yang tahu betul bahwa Lithos memiliki kekuatan yang jauh di atasnya namun ia tidak takut.
Namun, di balik penampilannya yang berani, Sebas sadar akan batasan kekuatannya.
Ia perlahan-lahan berenang ke belakang ayahnya, Calliga, untuk bersembunyi di balik perlindungannya.
Ia tahu bahwa Lithos tidak akan berani menyerangnya, mengingat Calliga yang berdiri di sampingnya dengan kekuatan yang sangat besar.
Sebas memutuskan untuk mengambil keuntungan dari situasi ini dan terus menjulurkan lidahnya mengejek Lithos dengan ekspresi muka yang penuh dengan keberanian.
Konfrontasi antara Sebas dan Lithos semakin memanas, dan situasi di lantai berapi ini menjadi semakin menegangkan.
Sementara itu, Calliga hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas.
Lithos semakin kesal, langkahnya yang cepat menciptakan cipratan Lava panas yang tersebar ke segala arah.
Sebas dan Lithos terlibat dalam konfrontasi tanpa akhir, terus bertukar ejekan dan tatapan tajam.
Calliga, yang sebelumnya sedang menikmati berendam dalam Lava yang hangat, akhirnya merasa terganggu oleh pertengkaran mereka.
Dengan suara yang tegas dan otoritatif, Calliga akhirnya berdiri dari kolam Lava yang berbentuk sungai. " CUKUP!" teriaknya, memutuskan konfrontasi mereka berdua.
Dengan cepat, Sebas dan Lithos menghentikan pertengkaran mereka.
Mata Sebas dan Lithos terbuka lebar saat mereka melihat Calliga yang marah.
__ADS_1
Aura kekuasaan yang dahsyat mulai memancar dari tubuhnya. Mereka berdua segera mengerti bahwa mereka telah melampaui batas, dan situasinya menjadi semakin serius.
Dengan gerakan yang anggun bak seorang raja, Calliga berkata, "Kau bersiap-siaplah, sebentar lagi kita akan berangkat," kepada Sebas dengan sikap keren yang sering ia latih diam-diam di kamarnya.
Tapi di dalam hatinya, dia rengek, "Kyaaaa, ini memalukan sekali."
Calliga kemudian berniat untuk berteleportasi ke kamarnya.
"[Teleportation]!" ucapnya, dan tubuh besar Calliga bercahaya terang sebelum menghilang, meninggalkan Sebas dan Lithos yang memandang kagum.
Sebas merasa kesal kepada Lithos, merasa bahwa tindakan bodoh makhluk kristal itu telah membuat ayahnya pergi dengan marah, yang berarti Sebas kehilangan kesempatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama ayahnya, orang yang sangat ia cintai.
"karena ulah bodohmu, sekarang ayahku marah dan pergi!" umpat Sebas dengan penuh kemarahan, matanya berkilat melihat Lithos yang ia anggap sebagai biang kerok dari masalah ini.
Lithos tampaknya menikmati kemarahan Sebas, dan dengan nada bergurau, ia berkata sembari tertawa, "Mampus kau! bocah manja yang tak punya sopan santun!"
Sikap Lithos yang cuek dan senang membuat Sebas semakin marah.
Namun, ia tahu ayahnya pasti punya alasan untuk pergi, dan ia harus menahan emosinya.
Tetapi, itu tidak menghentikannya untuk merasa kesal terhadap Lithos, yang dengan santainya telah mengacaukan momen penting ini.
Dan Lithos pun sekarang bergantian yang mengejek sebas dan menepuk pantat kristal nya kepada sebas dengan nada mengejek.
Sebas tidak tahan lagi dengan ejekan dan kehadiran Lithos.
Dengan cepat, ia menggepakkan sayapnya dan meninggalkan kolam Lava panas, menuju portal teleportasi yang berada di lantai 11.
Niatnya adalah pergi ke kamarnya dan bersiap-siap, seperti yang telah diperintahkan oleh ayahnya.
Lithos hanya bisa memandang Sebas yang menjauh dengan rasa kesal.
Namun, alih-alih merasa kesal, ia sebenarnya merasa senang karena bocah manja seperti Sebas akhirnya pergi dan meninggalkannya sendirian.
Hatinya merasa lega karena akhirnya ia bisa merendamkan dirinya dalam Lava yang hangat dan membara tanpa gangguan.
Tubuh kristalnya tenggelam dalam aliran Lava, dan ia menikmati sensasi hangat yang memenuhi setiap serat kristalnya.
"Fiuu... Hangat sekali," ucap Lithos sambil menyelamkan dirinya lebih dalam ke dalam Lava, seolah-olah ia tengah menikmati spa alam yang tak ternilai harganya.
Saat itu juga, Lithos kembali merendamkan dirinya dalam Lava panas yang hangat, menikmati ketenangan yang ia rindukan.
"PERGILAH DAN MENANGISLAH JAUH-JAUH, BOCAH MANJA!" teriak Lithos dengan nada tinggi sembari memandang Sebas yang menjauh dengan ekspresi penuh kemarahan.
Lithos kemudian merasa lega karena akhirnya dapat merendamkan dirinya dengan tenang.
Ia juga merencanakan untuk segera bergabung dengan kawannya, Calliga, untuk pergi menuju kota manusia.
Sebuah petualangan baru yang menarik menunggu mereka di sana.
__ADS_1