
Misteri di balik bagaimana Sebas mendapatkan inti permata dungeon dan kemudian memberikannya kepadaku memang sangat membingungkan.
Setiap kali aku mencoba untuk menanyakan asal-usulnya, wajahnya terlihat ketakutan, seolah ada sesuatu yang ingin dia sembunyikan.
Aku mencoba berkali-kali untuk mendapatkan jawaban darinya, tetapi Sebas tetap bungkam.
Aku melihat bahwa ia tidak ingin membicarakan hal itu, dan setiap pertanyaan tambahan hanya membuatnya semakin cemas.
Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti bertanya karena aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman.
Mungkin suatu hari nanti, Sebas akan merasa nyaman untuk berbicara tentang asal-usul inti permata dungeon itu.
Yang pasti, misteri ini masih menjadi tanda tanya tanya besar.
Dan Perbedaan antara inti permata dungeon yang diberikan oleh Lithos dan Sebas memang sangat mencolok, dan itu membuatku semakin penasaran.
Saat aku menghancurkan inti permata dungeon Lithos, yang terjadi hanya kenaikan level biasa. Tidak ada sensasi yang aneh atau rasa sakit yang menyiksa.
Namun, ketika aku menghancurkan inti permata dungeon yang diberikan oleh Sebas, itu adalah pengalaman yang sangat berbeda.
Rasanya seolah seluruh tubuhku hancur berkeping-keping, dan aku mengeluarkan darah dalam jumlah besar.
Aku merintih kesakitan, tak bisa bergerak, dan pasti aku akan mati tanpa penyembuhan cepat dari potion darah gratisan yang telah kukumpulkan dari lama diruang penyimpanan dimensiku.
Aku masih belum memahami mengapa inti permata dungeon Sebas memiliki efek seperti itu.
Apakah ini merupakan fitur khusus dari inti tersebut atau ada sesuatu yang lain yang terkait dengannya?
Rasa sakit itu begitu nyata dalam ingatanku, terbaring lemah dan berlumuran darah di lantai kamarku.
Aku merasa tak berdaya, hampir bersiap untuk menghadapi kematian saat itu.
Namun, naluriku segera mengambil alih.
Dengan cepat, aku meraih semua botol potion penambah darah yang tersedia dalam ruang penyimpanan dimensiku.
Botol demi botol aku keluarkan, dan isinya kutebarkan di sekitarku di lantai.
Aku tahu ini mungkin tindakan desperado, namun aku tidak punya pilihan.
Selama satu jam yang mengerikan, aku meminum hampir semua botol potion penambah darah yang kumiliki.
Rasanya seperti aku menjerit kesakitan sepanjang waktu, dan aku hampir tidak tahan. Darahku mengalir, tapi juga demikianlah potion-potion itu.
__ADS_1
Lalu, ketika satu jam itu berlalu, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Tubuhku yang lemah tiba-tiba digantikan oleh suatu energi magis yang mengalir dengan cahaya terang ke dalam diriku.
Itu adalah sensasi yang luar biasa, seperti aku menerima berkah dari dunia lain.
Setelah rasa sakit itu menghilang, aku tiba-tiba merasakan diriku mengalami kenaikan level sebanyak 10 tingkat.
Rasanya luar biasa, seperti sebuah hadiah atas perjuangan dan penderitaanku.
Aku juga mendapatkan sejumlah skill baru yang keren dan bermanfaat.
Itu seperti hadiah tak terduga atas ketahananku.
Namun, yang paling membingungkan adalah saat aku menghancurkan inti permata dungeon milik Sebas.
Tiba-tiba, seluruh dungeon yang telah kubangun berguncang hebat, seolah-olah akan hancur berkeping-keping bersama dengan tubuhku.
Rasanya seperti upaya besar yang telah kulewati akan sia-sia.
Untungnya, setelah gempa itu mereda beberapa saat kemudian, dungeonku masih utuh dan kokoh.
Bahkan lebih dari itu, semuanya terasa lebih kuat. Itu adalah pengalaman yang benar-benar misterius.
Saat itulah cahaya terang tiba-tiba meliputi diriku, mengalir ke dalam diriku seperti suatu keajaiban.
Aku tiba-tiba mendapati diriku dalam suatu penglihatan yang seolah-olah melihat memori di layar TV pikiranku.
Dalam penglihatan itu, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana aku, dalam bentuk naga empat warnaku yang biasa, tergeletak tanpa daya di dalam sebuah goa yang gelap dan hancur.
Aku terpesona oleh penglihatan ini yang memainkan memori yang tak terlupakan.
Di dalamnya, aku melihat Sebas, Gameciel, Vael, dan Karina, serta ribuan golem yang berada di ruang takhtaku berada digoa tersebut, semuanya mengelilingi tubuhku yang sudah tak bernyawa.
Mereka tampak menangis dengan penuh kesedihan.
Ketika aku tersadar dari penglihatan ini, aku merasa sangat nyata bahwa aku sudah mati pada saat itu.
Rasanya seperti aku benar-benar mengalami kematian.
Ah, tetapi untungnya itu hanya igau kelelahan karena kehilangan begitu banyak darah sepertinya.
Pertanyaan tentang asal-usul inti permata dungeon yang diberikan oleh Sebas tetap menghantui pikiranku.
__ADS_1
Aku tidak bisa memahami darimana dia bisa mendapatkannya, dan misteri ini terus berputar dalam benakku.
Namun, yang lebih aneh lagi adalah perubahan dalam perilaku Sebas.
Sekarang, dia sepertinya menjadi sangat manja padaku, bahkan melebihi Luna.
Luna sendiri sekarang jarang bermain denganku. Dia lebih suka menghabiskan waktunya bersama dengan hewan peliharaan barunya yang diberi nama Griffin.
Siapa sangka, peran antara pemilik dan hewan peliharaan tampaknya telah terbalik.
Oh yah, Misi yang dijalankan oleh Sebas, Aleister, dan Hades di kota manusia telah aku hentikan sekitar seminggu yang lalu.
Ini adalah keputusan yang aku ambil karena aku ingin menjelajahi kota manusia secara langsung. Sudah begitu lama sejak aku terakhir kali melihat manusia.
Aku merasa nostalgia ketika mengingat pengalaman sebagai manusia, saat aku masih lemah dan seperti budak yang hanya bekerja di kantor bos gemukku.
Itu adalah masa lalu yang sangat berbeda sebelum aku bereinkarnasi menjadi naga yang kuat seperti sekarang ini.
"Hoammmm," gedeapku dengan suara yang menggema di kamar raksasaku.
Aku melangkah perlahan keluar dari ranjang yang besar itu dan berdiri tegak, merasa segar setelah tidur yang panjang.
Aku berdiri perlahan dari kasur, melangkah menuju meja rias yang dilengkapi dengan sebuah cermin besar yang memenuhi sebagian dinding kamarku.
Mataku tertuju pada pantulan diriku sendiri dalam cermin itu, dan betapa menakutkan pemandangan itu.
Muka naga ku yang tegas dan gagah terlihat dalam cermin, dengan tanduk tajam yang menyembul di dekat telinga runcingku dan wajah bersisik yang keras.
Tidak ada keraguan bahwa penampilanku adalah sesuatu yang menyeramkan.
Namun, yang paling mencolok adalah mataku. Pupil mataku seperti mata ular, tajam dan berwarna merah terang seperti darah.
Terlebih lagi, aku baru menyadari bahwa dalam keadaan gelap, mata naga ku memancarkan cahaya merah yang menakutkan.
Sungguh, penampilanku adalah sesuatu yang mengerikan.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang di kota manusia jika mereka melihatku.
meskipun aku tahu penampilanku mungkin akan menimbulkan ketakutan di antara mereka.
Aku melihat diriku dalam cermin, menatap penampilanku yang sekarang sangat akrab bagiku.
Tubuh naga ku yang gagah dan menakutkan, mata merah berkilat yang menyorot tajam dalam kegelapan, semuanya sudah seperti teman lama.
__ADS_1
"[ReQuip]!" ucapku dengan tegas, mengaktifkan salah satu skill baruku.