
Seminggu telah berlalu sejak kejadian mengerikan yang hampir merenggut nyawa Rio.
Kini, keadaannya mulai membaik, dan pikirannya kembali jernih. Meskipun demikian, bayangan trauma masih menghantuinya seperti hantu kelaparan yang mengendus makanan enak.
Suatu hari, ketika Rio merasakan gejolak trauma merayap kembali, ia tahu ia harus bertindak. Matanya melirik sekeliling kamar yang sepi, mencari sesuatu yang bisa membantunya menghadapi ketakutannya.
Dan di sana, di samping tempat tidurnya, ada istri tercinta yang tidur dengan nyenyaknya.
Rio tersenyum dalam hati. Istirahat yang tenang di wajah sang istri selalu membawa ketenangan dalam benaknya.
Dengan perlahan, Rio menarik nafas dalam. Ia merasakan napasnya yang keluar dan masuk dengan ritme yang stabil.
Pandangannya kembali normal, dan aura ketenangan memenuhi ruangan.
Rio merasa hangat dan bersyukur memiliki seseorang yang selalu ada untuknya, bahkan ketika ia sedang berhadapan dengan ketakutan terdalamnya.
Saat itu juga pintu terbuka lebar dan terdapat
Priest bernama Rufus duduk di samping ranjang Rio, pandangan tajamnya tertuju pada pria yang baru saja melewati pengalaman mengerikan itu.
Dan evelyn dengan cepat berdiri dari posisi tiduran nya kembali berdiri.
"Jadi, apa yang kau lihat di tempat mengerikan itu?" tanya Rufus dengan nada penuh rasa ingin tahu, sambil memancing percakapan.
Rio menutup matanya sejenak, mencoba mengingat kembali gambaran yang mengerikan yang masih terpatri dalam pikirannya.
"Kep...utus...asaan... Ke..ma..tian," gumam Rio dengan suara yang terputus-putus, seperti suara yang terbawa angin malam.
Nafasnya mulai tidak beraturan, dan ketakutan mendalam memenuhi setiap jengkal tubuhnya, seperti hantu yang merayap perlahan.
"Hey, tenanglah. Ingatlah istri tercintamu," bisik Rufus dengan nada yang lembut, mencoba membawa Rio kembali ke kenyataan.
Namun, tindakan Rufus sepertinya tidak cukup untuk meredakan ketakutan yang melanda Rio.
Namun, di saat Rio hampir terjatuh ke dalam jurang ketakutan yang lebih dalam, tiba-tiba sebuah tangan lembut meraih tangannya yang gemetar.
Evelyn, sang istri tercinta, berada di sampingnya dengan senyuman lembut dan mata penuh kehangatan.
"Aku di sini, suamiku," ucapnya dengan suara lembut, memenuhi ruangan dengan aura ketenangan.
Nafas Rio mulai membaik saat tatapan matanya bertemu dengan mata lembut Evelyn. Ia merasa dijejali dengan dukungan dan kekuatan yang tak tergantikan. Bahkan dalam saat-saat paling gelap, istrinya selalu ada di sisinya.
"Evelyn..." hembuskan Rio dengan penuh rasa, tatapannya terikat pada tangan yang memegangnya.
Evelyn, dengan senyum yang sama hangatnya seperti matahari pagi, merespons tatapan Rio.
Ketakutan yang menghantui hatinya seolah menguap dengan kehadiran istrinya, digantikan oleh hangatnya cinta dan kasih sayang yang melimpah.
Tangan mereka bertaut dalam genggaman erat, seolah tak ingin melepaskan lagi. Keberanian Rio untuk menghadapi traumanya terasa lebih kuat dengan kehadiran Evelyn di sisinya.
"Terima kasih, cintaku," ucap Rio dengan penuh penghargaan, matanya bercahaya melihat istrinya yang luar biasa.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba suara priest bernama Rufus menghiasi ruangan, dengan intonasi yang khas.
"Syukurlah, kau bisa meredam trauma mendalammu. Tentu saja ini berkat istrimu dan bantuan dewa yang baik hati." Katanya dengan sedikit humor, seperti merangkul mereka dengan kata-kata hangat.
Saat itu juga, suara rangkingan priest bernama Rufus meluncur ke telinga Rio, dengan nada yang seperti biasa. "Syukurlah kau bisa meredam trauma mendalammu. Tentu saja ini berkat istrimu dan bantuan dewa yang baik hati."
Namun, begitu kata-kata itu mencapai telinga Rio, perasaan kemarahan seolah terbakar dalam dirinya. Matanya menatap Rufus dengan intens, dan dengan tiba-tiba, dia melepaskan ledakan emosi.
"Dewa kau bilang?! Apakah dia membantuku saat aku ditempat penuh dengan keputusasaan itu! Aku dapat melihat jelas dan merasakan didalam keputusasaanku ditempat mengerikan itu dan tidak ada bantuan dari entitas yang kau sebut 'dewa' itu!"
Rufus, terkejut dengan ledakan kemarahan tiba-tiba, kini berdiri dalam wajah Rio yang membara.
Dia mengangkat alisnya dengan sedikit kebingungan sebelum merespons dengan suara yang lebih keras dari yang diperkirakan.
"Apakah kau meragukan dewa?! Kau masih bisa hidup karena kebaikan dewa!" Rufus berkata dengan tegas, tangannya meraih kalung dengan ornamen bulan cantik di lehernya, yang melambangkan dewa Artemis.
Namun, kemarahan Rio masih belum surut. "Kebaikan? Apakah kebaikan yang membiarkan aku merasakan semua keputusasaan itu, seperti aku hanyalah boneka dalam tangan para makhluk kegelapan?!" Rio semakin terbakar, energi emosionalnya hampir seakan-akan bisa terasa oleh semua yang ada dalam ruangan itu.
Rufus, yang juga tidak mau kalah dalam perdebatan ini, menyadari situasinya semakin tegang.
"Kau tidak bisa memahami rencana besar dewa. Kau hanya manusia yang rentan terhadap pandangan sempit."
Namun, sebelum Rio dapat membalas dengan kata-kata lebih lanjut, tangan lembut Evelyn menyentuh tangannya, memancarkan kehangatan yang menenangkan.
Matanya yang penuh kasih tersapu lembut ke arah suaminya, seolah-olah mengirim pesan tanpa kata.
"Suamiku," ucapnya dengan suara yang lembut, "apakah kau sadar dan tahu? Bahwa kau dapat keluar dari tempat mengerikan itu dan masih hidup sekarang, itu adalah mujizat dari dewa! Beberapa orang nekat memasuki tempat kematian itu, namun tidak pernah kembali. Namun, kau berbeda."
Meskipun keraguan masih ada dalam benaknya, tetapi ada keajaiban nyata dalam dirinya yang tidak bisa diabaikan.
Dia mencoba untuk meredam kemarahan dan keraguan dalam hatinya, dan berusaha membuka diri pada kemungkinan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada entitas luar biasa yang telah mempengaruhi nasibnya.
Dalam diamnya, ia merenung tentang perjalanannya melintasi tempat mengerikan itu, pertempuran batin yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.
Melihat perubahan ekspresi Rio, Rufus menghela nafas lega.
Tampaknya, keraguan yang ada dalam hati Rio sedikit mereda, memberikan tempat bagi pemahaman baru.
"Jadi bagaimana kau dapat keluar dari tempat itu hidup-hidup?" ucap Rufus, ekspresinya penuh rasa ingin tahu.
"Dan lagipula, kenapa kau nekat memasuki tempat kematian itu? Apakah kau tahu tindakanmu sangat bodoh dan termasuk bunuh diri?"
Rio merenung sejenak, mencoba mengingat kejadian yang telah dialaminya. Sejujurnya, dia tidak ingat bagaimana dia bisa keluar dari tempat mengerikan itu dengan nyawanya yang utuh.
Ada sepotong memori yang hilang di dalam pikirannya, seperti jigsaw yang belum lengkap.
Saat itu juga, Rio mengingat peristiwa yang menghantamnya seperti petir. Kematian tragis ketiga temannya masih terpatri jelas dalam ingatannya - tewas mengenaskan oleh kekejaman tempat itu.
Namun, untuk kedua kawan lamanya yakni Alex dan Viona ia tidak tahu apakah mereka berhasil melarikan diri setelah keluar gerbang besar yang membawa mereka keluar dari tempat itu,
layaknya pintu menuju takhta dewa di tempat dungeon misterius itu.
__ADS_1
Rio mengerutkan kening, berusaha keras untuk mengingat lebih jauh. Tapi bagaimana pun juga, ingatannya tidak mau membawa lebih banyak jawaban.
Ia merasa seperti terjebak dalam teka-teki besar, dengan hanya beberapa potongan yang terlihat.
"Jujur saja, Rufus," ucap Rio dengan nada penuh keraguan, "aku masih mencoba merangkai ingatanku tentang semua itu. Aku tahu ada sesuatu yang hilang, tetapi aku belum bisa mengungkapkannya sepenuhnya."
Evelyn melepaskan pegangan tangannya dari Rio dan memberi dukungan padanya dengan senyuman lembut.
"Kau pasti akan menemukan jawaban, sayang," bisiknya, memberikan Rio ketenangan.
Rio merenung sejenak, matanya dipenuhi rasa harap. Meskipun tak ada jaminan, keyakinannya akan keselamatan Alex dan Viona terasa begitu kuat.
Namun, ingatannya begitu tajam tentang saat-saat terakhir sebelum ia kehilangan kesadarannya.
Wanita cantik yang tiba-tiba muncul dan tiba-tiba saja menendangnya begitu keras, hingga ia terhempas ke dinding.
Muntah darah dan rasa sakit tiba-tiba menghantamnya. Tak ada waktu untuk berpikir, ia lenyap dalam gelap.
Namun, tiba-tiba saja, ia bangkit dalam kuil Dewa Artemis ini, disertai dengan senyum manis dari istri tercintanya, Evelyn.
Bagaimana ini mungkin? Seakan-akan ia telah mengalami keajaiban yang ia tidak dapat mengerti.
Pertanyaan kedua Rufus membuka ingatan lain dalam pikirannya. Mengapa ia memasuki tempat kematian itu? Rio merasa senyum pahit menyelinap di bibirnya.
Tentu saja, jawabannya sebenarnya adalah karena perintah dari Raja Theovilus. Menyelidiki tempat mengerikan Elysian adalah tugas yang tak boleh diabaikan.
Namun, dalam hatinya, Rio menyembunyikan kebenaran sebagian besar dari Evelyn. Tak seorang pun tahu bahwa dirinya adalah tangan kanan Raja Theovilus, termasuk istrinya sendiri.
Hanya penghuni istana saja yang tahu termaksud para bangsawan.
Ia telah berbohong, mengatakan bahwa pekerjaannya adalah masih seorang petualang dengan peringkat tinggi.
Dalam keadaan yang rumit ini, Rio merasa bahwa berkata jujur tidak hanya akan membahayakan dirinya, tetapi juga Evelyn.
Kehidupan dalam lingkaran bangsawan penuh intrik dan kepentingan membuatnya harus menjaga rahasia dengan hati-hati, bahkan dari orang terdekatnya.
Rufus masih menatapnya dengan tatapan yang penuh harap.
Sambil membenarkan jubah ungunya, ia dengan tenang meminum air putih dari gelas di meja dekat ranjang Rio.
Kemudian, ia menunggu jawaban Rio dengan sabar, tak tergesa-gesa.
"Aku tidak tahu mengapa aku masih hidup sekarang... Dan mengenai alasan aku memasuki tempat mengerikan itu, aku hanya menjalankan misi dengan bayaran yang sangat menggiurkan. Aku terpaksa menerimanya," ucap Rio dengan suara pelan, mencoba mengulur waktu sekaligus menjaga kerahasiaan.
Saat itu, Rufus yang sedang meminum air tiba-tiba tertawa, menyebabkan seteguk air yang ia minum meluncur keluar dan membasahi kasur Rio.
Sambil menyeka tetesan air di bibirnya, Rufus menaruh kembali gelas air itu dengan perasaan yang campur aduk.
suasana cepat berubah ketika Rufus, dengan nada terkejut dan ketidakpercayaan, mengingatkan Rio tentang pilihan berisiko yang ia buat.
"Apakah kau gila?!! Kau pergi ke tempat itu untuk melakukan misi?!" ucap Rufus dengan nada yang tegas, ekspresinya mencerminkan ketidakpercayaan akan tindakan Rio.
__ADS_1