Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 169


__ADS_3

Evelyn yang sebelumnya tak sadarkan diri karena ketakutan melihat Calliga, sosok menyeramkan layaknya iblis jahat, ia tiba-tiba terbangun disuatu tempat.


Awalnya, dia merasa tubuhnya entah kenapa terasa aneh, khususnya perutnya yang semestinya sedang hamil besar.


Namun, keanehan lainnya pun mulai terasa: tubuhnya terasa ringan, dan rasa sakit yang sebelumnya membekas akibat perlakuan kasar penjaga penjara telah lenyap, meninggalkan tubuhnya dalam kondisi yang sehat.


Namun, yang paling mengejutkan adalah apa yang dilihatnya saat membuka matanya. Evelyn tersadar bahwa ia kini berada di sebuah tempat yang sangat berbeda dari sel penjara yang gelap tempat ia terperangkap sebelumnya.


"Kasur?"


Ranjang yang ia tempati terasa sangat besar dan nyaman, seperti ranjang tidur bangsawan yang hanya bisa dia impikan.


Evelyn terpesona oleh keindahan ranjang mewah tempat ia berbaring. Kasur tersebut begitu empuk, terbuat dari sutra mahal, dan tiap gerakan yang ia rasakan seakan-akan menyatakan kemewahan yang tak terbayangkan.


Meremas kasur itu, Evelyn merasa seolah-olah ia berada di dalam mimpinya sebagai seorang anak yang pernah bermimpi tidur di tempat seperti ini. Kini, impian itu menjadi kenyataan.


Namun, yang lebih mengagumkan adalah ruangan tempat ia berada. Tidak ada lagi jeruji besi kotor dan bau tak sedap.


Sebaliknya, ia berada di ruangan yang megah, di tengah hiasan dinding yang memancarkan kemewahan. Evelyn hanya bisa menatap sekelilingnya, tak percaya dengan perubahan besar ini.


Evelyn merasa seperti terbuai oleh keindahan dan kemewahan ruangan ini. Matanya tak henti-hentinya menjelajahi berbagai hiasan dan detail yang begitu mengagumkan.


Lampu kristal berkilauan, lukisan-lukisan indah, dan ornamen-ornamen artistik di setiap sudut ruangan.


Kamar ini dipenuhi kemewahan yang tak pernah ia bayangkan, dari hiasan-hiasan dinding hingga perabotan dan permadani yang mewah.


Evelyn tidak bisa menahan keheranannya, dan matanya terus mengamati sekeliling, mencoba memahami di mana dia berada dan bagaimana dia bisa sampai ke sini.


Semuanya memancarkan kemewahan yang tak terbayangkan. Evelyn merasa seperti berada dalam dongeng, di istana kaya-raya yang hanya ada dalam cerita.


Apakah ini mungkin sebuah mimpi? Tetapi semuanya terasa begitu nyata dan jelas.


Dalam kebingungannya, Evelyn merasakan perubahan ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan dengan logika biasa.


Semua ini, seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Tapi yang membuatnya paling penasaran adalah bagaimana dia bisa berada di sini.


Ada yang telah menyelamatkannya, dan itu sangat jelas. Tapi pertanyaannya adalah, siapa?


Namun, kebingungan tetap menyelimuti dirinya. Bagaimana dia bisa berada di tempat seperti ini?


Kenangan  penjara dan pria penjaga yang kejam masih segar dalam ingatannya. Ia mencoba merenung dan mengingat apa yang terakhir terjadi, tetapi ingatannya buram.

__ADS_1


"Anak-ku," ia bergumam, sambil mengelus perut yang sedang hamil. Gestur ini adalah kebiasaannya, tanda kasih sayangnya kepada buah hatinya yang belum lahir.


Namun, saat ia menyentuh perutnya, ia merasa sesuatu yang aneh. Perutnya terasa ringan dan nyaman, tidak seperti sebelumnya yang sering nyeri.


Evelyn yang telah terbangun di ranjang mewah itu tiba-tiba menjerit keras yang membuyarkan semua kebingungannya.


"KYAAA BAYIKU!!!!!!" Jeritannya penuh panik saat dia menyadari perutnya yang semula besar dan hamil, kini telah kembali langsing, membuatnya merasa sangat takut akan nasib bayinya.


Namun, suara tangisan bayi yang tajam memenuhi ruangan yang megah itu.


"Oeee... Oeeee," jerit bayi itu sekali lagi, menambah kepanikan Evelyn.


Ia berlari menghampiri sumber suara tersebut, secepat yang dia bisa.


Suara tangisan bayi semakin keras, memotivasinya untuk menemukan bayinya. Evelyn mencari dengan cepat, dan saat dia masuk ke sebuah kamar berhias indah yang begitu mewah.


Evelyn bergegas mendekati Box bayi yang mewah itu. Klik... Klok.. Klik... Klok... Langkahnya terburu-buru, diikuti oleh degupan jantung yang cepat.


Ruangan itu begitu besar, dengan sentuhan keindahan yang tak terbayangkan.


Tangisan bayi yang tajam memandu jalan Evelyn ke sumbernya. Ketika dia akhirnya tiba di Box tempat tidur bayi yang mewah, dia melihatnya. Di dalam Box yang indah, ada seorang bayi yang menangis dengan keras, terbungkus dalam selimut yang lembut.


Di sekeliling Box itu, terdapat pagar emas yang bersinar.


Evelyn segera meraih bayi itu, menyapu rambut kecil yang menempel di dahinya dengan lembut. Meskipun belum pernah menjadi ibu sebelumnya, naluri seorang ibu menyala dalam dirinya. Dengan yakin, dia yakin bahwa suara jeritan bayi ini adalah suara anaknya.


Air mata kebahagiaan mengalir dari matanya saat dia mendekap bayinya yang baru lahir. Meskipun seluruh dunianya tampak berubah, satu hal yang pasti adalah cintanya yang mendalam untuk anak kecil yang telah ditemukan di dalam ruangan mewah ini.


Evelyn melihat bayi yang ada di pelukannya dengan kebahagiaan yang memenuhi matanya. "Anakku!" serunya dengan penuh sukacita sambil mengangkat bayi yang berada dalam Box tempat tidur bayi yang mewah itu.


Bayi itu mengenakan pakaian biru yang cantik dengan gambar bintang yang menghiasi pakaiannya.


"Oeee... Oee..." jerit bayi itu masih terdengar, tetapi dengan lembutnya, dalam dekapan hangat ibunya, tangisan itu semakin mereda.


Evelyn memeluk bayi itu dengan kasih sayang dan kebahagiaan yang tak terhingga. Bayi itu tampak tenang, dan air mata kebahagiaan mengalir dari mata ibunya.


"Syukurlah... Kau baik-baik saja. Jangan pernah meninggalkan ibumu lagi, sayangku," katanya sambil mencium pipi bayi tersebut dengan penuh kasih sayang.


Mereka berdua, ibu dan anak, menghabiskan momen indah dalam pelukan satu sama lain, di dalam ruangan mewah yang dipenuhi keajaiban yang tak bisa mereka pahami.


Evelyn menatap bayi yang berada dalam dekapannya.

__ADS_1


Rambut coklat dan kulit sawo matang bayi itu mengingatkannya pada suaminya yang juga memiliki ciri-ciri serupa, dengan rambut berwarna coklat dan kulit sawo matang yang tampan.


Mereka telah menanti anak ini selama sepuluh tahun, dan sekarang impian mereka menjadi kenyataan.


"Suamiku... Aku harap kau dapat melihat buah hati kita yang menggemaskan ini," gumam Evelyn dengan tulus, mencoba menahan air mata kebahagiaan sembari mencium lembut pipi bayinya.


Namun, dalam momen indah ini, ada suara yang menarik perhatian Evelyn.


Klakk... terdengar suara pintu besar yang terbuka di dalam ruangan mewah itu. Evelyn yang sedang menggendong bayinya dengan penuh cinta berbalik dan terkejut.


Di ambang pintu, dia melihat seorang pelayan. Gadis itu memiliki rambut pirang pendek yang cantik, dan dia mengenakan seragam pelayan yang sangat rapi dan indah, bagaikan seorang bangsawan.


Pelayan wanita itu dengan senyum ramah menyapa Evelyn, "Selamat Pagi! Syukurlah kau sudah bangun dan sudah sehat kembali. Apakah kau lapar?"


Evelyn, terpesona oleh kecantikan pelayan tersebut, sejenak lupa menjawab karena terperangah dengan pesona wanita ini, membayangkan apakah dia mungkin pemilik istana ini dan apakah dialah yang telah menyelamatkannya dari para penculik.


Namun, pelayan cantik itu menarik perhatiannya dengan pertanyaan kembali, "umm... Hello?, apakah kau mendengarkanku?"


Evelyn tersadarkan dari lamunannya dan menjawab dengan hormat dan sopan, "Ma-maaf nona! Ya, aku baik-baik saja, nona! Terima kasih banyak, nona, telah menyelamatkan hidupku dan bayiku ini!" Evelyn berterima kasih dengan rendah hati, sedikit tersipu, sembari menundukkan kepalanya sebagai ungkapan terima kasih kepada pelayan yang misterius ini.


Pelayan wanita itu terlihat bingung saat Evelyn memanggilnya dengan sebutan "nona" dan berterima kasih karena telah menyelamatkannya.


Dengan hati-hati, dia merespons, "Eh?!" dalam sebuah gumaman bingung.


Kemudian, dia menjelaskan, "Um... Aku bukanlah yang menyelamatkanmu.. Kau salah paham.. Tuanku yang baik hatilah yang tentunya menyelamatkanmu, Aku hanya seorang pelayan di sini yang melayani tuanku dan menjalankan pekerjaan di tempat kediaman tuanku ini."


Dia dengan tegas memisahkan dirinya dari peran penyelamat, menjelaskan bahwa dia hanyalah seorang pelayan yang tunduk kepada tuannya.


Pelayan ini, bagaimanapun, sebenarnya tidak bersemangat untuk menyelamatkan manusia. Dia memiliki pandangan umum seperti penduduk NPC lainnya, yang menganggap makhluk yang bukan hasil ciptaan tuannya, dan berada diluar dungeon sang tuan sebagai makhluk yang rendah, dan menjijikan.


Baginya, satu-satunya fokus adalah melayani sang tuan dengan setia. Namun, di saat ini, dia hanya melaksanakan perintah tuannya dengan terpaksa untuk merawat manusia yang bernama Evelyn.


Pelayan tersebut sebenarnya merasa sangat enggan dan jijik, namun perintah tegas dari sang tuan, Calliga, memberinya kegembiraan khusus karena dia tahu dia tidak boleh mengecewakan tuannya.


Dia harus menahan rasa benci terhadap manusia, yang menurut pandangan mereka, adalah makhluk yang lemah dan rendah.


Meski ia bingung mengapa sang tuan akan menyelamatkan manusia seperti Evelyn dan memerintahkannya untuk merawatnya, dia memiliki keyakinan bahwa Calliga pasti memiliki rencana mendalam di balik keputusannya, bahkan jika rencana itu melebihi pemahamannya yang sederhana.


Dengan begitu, dia merasakan ketidaknyamanan yang mendalam dalam dirinya ketika harus melayani manusia ini yang telah diselamatkan oleh tuannya.


Evelyn, di sisi lain, mendengar bahwa pelayan tersebut hanya seorang pelayan, merasa bingung dan segera mengangkat wajahnya untuk menatapnya dengan heran.

__ADS_1


"Pelayan?!" gumam Evelyn, "Bagaimana bisa perempuan secantik dan se-elegan ini hanyalah seorang pelayan?


"Tentunya pemilik kediaman mewah ini sangat tampan dan kaya, memiliki selera tinggi dalam segala hal," gumamnya dengan kagum, membuat pelayan tersebut semakin merasa tidak nyaman dengan situasi yang harus dihadapinya.


__ADS_2