Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - La Veda "3"


__ADS_3

Keempat bandit itu merasa kepanikan yang luar biasa, kaki mereka gemetaran dan keringat deras mengalir.


Mereka ingin bergerak, tetapi sepertinya tubuh mereka membeku, tak mampu bergerak sedikit pun. Bahkan, salah satu bandit sampai tak bisa menahan kencingnya dan mengompol ditempat.


Situasi menjadi semakin menegangkan ketika Sebas, dengan pandangan yang masih merah menyala, tiba-tiba menghantam kepala para bandit satu per satu.


Suara hantaman itu menggema di antara pepohonan hutan, menciptakan dentuman mengerikan.


BAM!


DUAR!


Tersirat kebrutalan dalam setiap hantaman, dan darah bercucuran membasahi rumput, menciptakan gambaran yang menakutkan bagi yang melihat.


Kini, dari kelima bandit, hanya tersisa dua orang, termasuk pria berotot yang dulunya angkuh.


Mereka berdua tidak bisa bergerak sedikit pun, terperangkap dalam ketakutan mendalam. Kedua mata mereka terbelalak saat mereka menyaksikan pemandangan mengerikan di depan mereka: Sebas, sang kakek tua, seperti iblis mengerikan yang telah keluar dari mimpi buruk.


Mereka juga tak bisa mengabaikan teman-teman mereka yang tergeletak tak bernyawa dengan kepala hancur akibat pukulan mematikan Sebas.


Pria berotot itu tak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya.


Dengan suara bergetar dan tangis tersedu-sedu, ia mencoba merayu Sebas untuk mengampuninya.


"Ma-maafkan ka-kami, maksudku a-aku, aku berjanji tidak mengulanginya lagi, aku mohon ampuni aku, aku akan bersumpah akan melakukan apa yang tuan mau! Jadi akan mohon ampuni ku, tuanku!" ujarnya dengan nada yang penuh penyesalan.


Tidak ingin tinggal diam, ia mencoba menyingkirkan dosanya dengan menunjuk kepada salah satu anak buahnya yang masih hidup, mencoba untuk memindahkan beban kesalahan.


Namun, situasi semakin kacau ketika bandit yang tersisa itu menentang tuduhannya.


"Boss! Kau bohong! Itu bukan ideku tapi ide-mu," teriak bandit yang ketakutan itu sambil berusaha membela diri dari tuduhan pemimpinnya.


Tapi pria berotot itu tidak ingin menyerah begitu saja. Dalam upaya terakhir untuk menyelamatkan dirinya, ia berteriak dengan suara lantang, mencoba menyalahkan orang lain.


"DIAM! AKU TIDAK KENAL KAU! INI SEMUA ULAHMU! KAU YANG MENYURUH UNTUK MERAMPOK TUANKU!" Teriaknya dengan penuh amarah, berusaha meyakinkan Sebas bahwa semua ini adalah ulah anak buahnya.


"Bo-" ucapan anak buah bandit terpotong dengan tiba-tiba oleh suara ledakan.


BAM!


Tanpa ampun, kepala anak buah bandit tersebut meledak, sebas telah menghantamnya lagi dengan kemarahannya yang berkobar.


Sebas tak ragu-ragu dalam menghukum mereka yang menghina ayahnya dengan cara yang begitu sadis.


"Aiiihhh!" teriak pria berotot tersebut, terkejut melihat temannya yang tiba-tiba mati dengan cara yang mengerikan.

__ADS_1


Kini hanya ia yang tersisa, dan rasa ketakutan yang melandanya membuatnya gemetaran. Mata Sebas yang merah menyala, penuh dengan amarah yang menakutkan, menatap pria berotot ini.


Dalam keadaan penuh keringat dan gemetar, ia merasa begitu malang.


ia telah salah merampok orang kali ini, malahan sepertinya dia bukan merampok "orang" melainkan iblis yang menggunakan kulit "orang", dia dengan cepat berlutut dihadapan sebas yang menatapnya.


Sebas masih menatapnya dengan tatapan tajam.


"Am-ampuni a-aku T-tuanku!" ucap pria berotot tersebut, sambil berlutut di hadapan Sebas yang menatapnya dengan penuh kebencian.


Sebas tidak dapat mengendalikan amarahnya. Kata-kata kasar dari bandit ini, menghina ayahnya yang ia cintai dan hormati, memicu kemarahan mendalam di dalam dirinya.


"KAU MAKHLUK RENDAHAN, BAGAIMANA KAU BERANI MENGHINA AYAHKU?! APAKAH KAU TAHU SIAPA DIA? DIA ADALAH DEWA BESAR YANG KAU HINA! DASAR MANUSIA TOLOL! KAU MENGHINA AYAHKU DAN BAHKAN BERKATA AYAHKU BAU TANAH DAN SUDAH MAU TEWAS?! TIDAK AKAN KUMAAFKAN!" ujar Sebas dengan suara gemetar, penuh emosi yang memuncak.


Ia melangkah perlahan menuju pria berotot yang berlutut di hadapannya.


Pria bandit berotot itu sangat ketakutan dalam posisinya yang merendahkan diri, memohon ampun pada Sebas.


Situasinya telah berubah drastis, dari mencoba merampok Sebas menjadi berharap mendapatkan belas kasihan darinya.


DUAR!


Pria bandit berotot tersebut meraung kesakitan, teriakan tajamnya memenuhi udara hutan.


"AAAAAARRRRGHHHH!! SAKIT SEKALI!"


"Ma-.maaf-kan.... a-aku..... " ucap pria bandit dengan raut wajah yang tertekan, matanya berkaca-kaca karena rasa sakit dan rasa takut yang mendalam.


Namun, kebencian dan amarah Sebas masih belum mereda. Dengan gerakan cepat, ia kembali menghentakkan kakinya ke tangan pria bandit tersebut.


DUAR!!


Teriakan yang lebih kuat lagi terdengar, sementara tangan pria bandit semakin hancur dan tidak berbentuk.


Namun, dalam luka dan penderitaannya, bandit tersebut masih berusaha merayu dengan suara tertekan, "A-ampuni aku, tuanku... Itu bukan aku yang menghina ayah tuan... Hiks... Maafkan aku... Hiks..."


Namun, Sebas tidak ingin mendengar alasan atau rayuan lebih lanjut. Kebencian dalam dirinya masih membara.


**DUAR!!**


Tangan pria bandit hampir tidak berbentuk sama sekali setelah hentakan ketiga dari Sebas. Tangisannya semakin terluka, dan rasa sakit dan ketakutannya mengguncang tubuhnya.


Begitulah adegan mengerikan di tengah hutan La veda ini, di mana Sebas menunjukkan sisi gelapnya yang penuh kebencian dan dendam.


"KAU BILANG KAU TIDAK MENGHINA AYAHKU?! TETAPI KAU TERTAWA DENGAN KERAS SEBELUMNYA, KETIKA TEMANMU MENGHINA AYAHKU! MANUSIA BODOH!" Teriakan Sebas memenuhi udara hutan, mengguncang daun-daun dan merambat ke telinga siang yang sedang menangis dan menderita.

__ADS_1


Tidak terelakkan, bandit tersebut menangis dengan isak yang tiada henti, tubuhnya yang besar dan berotot terlihat hancur dan lemah di bawah rasa sakit yang maha kuat.


Sebas merasa perubahan di dalam dirinya, suara gaduh di sekitar mulai mereda dan cahaya merah dalam matanya berangsur memudar.


Dia memegang dadanya dengan keras, mengingat Ayahnya, dan ada hal yang lebih penting daripada melampiaskan amarahnya pada makhluk rendahan ini.


Dengan napas yang terengah-engah, Sebas berbicara lagi, kali ini suaranya lebih tenang dan rendah.


"Kematian terlalu cepat bagi makhluk rendahan sepertimu yang telah menghina ayahku."


Pria bandit yang tak henti-hentinya menjerit dan menangis, bahkan tidak mampu merasakan kata-kata yang diucapkan oleh Sebas.


Kedua tangannya yang hancur dan penuh dengan darah menggambarkan keputusasaan dan penyesalan yang tak terkatakan.


Sementara tubuhnya masih berlutut di tanah, tubuhnya hancur oleh rasa sakit dan ketakutan yang tak terperi.


Saat itu juga, Sebas dengan tegas dan tak ragu memegang kaki pria bandit yang meronta. Dalam sekejap, pria berotot tersebut diangkat dari tanah dan melesat ke dalam ruang dimensi penyimpanan milik Sebas.


"TOLONG AKU! SIAPAPUN TOLONG AKU! TOLOOONG!" Teriakan pria bandit tersebut merambat di udara, menggema di antara pepohonan hutan La Veda yang sunyi.


Namun, suara minta tolong itu seperti angin, tidak ada yang merespon.


Dengan matanya yang masih merah dan penuh dengan intensitas, Sebas menatap ke arah pria bandit yang kini berada dalam ruang penyimpanan dimensinya.


Suara teriakan memohon ampun masih bergema di telinganya, namun Sebas hanya mengangkat bahu dan berkata, "Tidak ada yang bisa mendengarkanmu dan menolongmu, hanya ada keputusasaan yang menantimu."


Sebas mengamati dengan dingin ketakutan yang masih terpancar dari wajah pria bandit itu.


"LEPAS-" Teriak pria tersebut terpotong begitu saja saat ruang dimensi itu menutup rapat, menghilangkan dia dari pandangan dunia.


Tubuhnya yang meronta dan teriakan minta tolongnya pun sirna, seperti abu yang tertiup angin.


Sebas menghela nafas panjang, matanya yang menyala merah kembali memudar.


Dia menatap sejenak ke arah dimana pria bandit tadi berada, hutan yang kembali hening dan sunyi.


Pada akhirnya, kegelapan La Veda mengembalikan ketenangan, meskipun jejak kejadian mengerikan itu tetap tertinggal di dalam ingatan hutan yang tak berdosa.


Lalu, saat pandangan Sebas melintasi pemandangan yang penuh dengan noda darah, ekspresi wajahnya berubah menjadi jijik.


"Menjijikan," gumamnya sambil memandang sarung tangan putihnya yang terkena noda darah makhluk kotor yang menghina ayahnya.


Tanpa ragu, ia mengusap tangan itu ke tanah dan seketika noda darahnya menghilang seperti asap yang diserap oleh angin.


Ketika semuanya kembali bersih, Sebas putar arah dan dengan langkah mantap meninggalkan hutan La veda menuju arah yang berlawanan, mengarah ke hutan kematian elysian tempat rumahnya berada.

__ADS_1


Langkahnya semakin cepat dan kemarahan di matanya masih terlihat jelas.


Berlari dengan hati yang berat, ia berharap mencapai rumahnya dengan cepat untuk mengetahui kabar ayahnya.


__ADS_2