Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - 98


__ADS_3

Karina, dengan mata merah dan penuh kemarahan, melihat adegan yang terasa tidak pantas di matanya.


Baginya, melihat Gameciel, sang golem malaikat rendahan, memeluk tubuh ayahnya adalah tindakan yang merendahkan dan tak patut dilakukan.


Air mata masih mengalir di pipinya, tetapi kali ini air mata tersebut bercampur dengan amarah yang tak terbendung.


Dengan wajah yang memancarkan kemarahan, Karina berteriak dengan penuh emosi, suaranya bergema dalam goa yang sebelumnya penuh keheningan.


Namun, teriakan itu sepertinya hanya memantul di telinga Gameciel, yang tetap memegang erat tubuh tuan Calliga.


walaupun teriakan Karina bergema keras, Gameciel tidak menunjukkan reaksi apapun.


Ia tetap memegang teguh pilihannya dan tak bergeming dari posisinya.


Bagi Gameciel, sang pencipta lebih dari sekadar majikan, ia adalah orang tua yang telah memberinya kehidupan dan tujuan.


Gameciel merasakan iri yang dalam terpendam di dalam tubuh batu-batunya.


Ia tahu betul bahwa ia adalah salah satu ciptaan pertama tuan Calliga, tetapi tidak diragukan bahwa tuan itu lebih merasa dekat dengan enam individu yang ia ciptakan kemudian.


Ia harus tetap menjaga sikap sebagai bawahan yang setia, padahal ia berharap bisa lebih dekat dengan tuannya seperti ke-6 anak-anak tuannya.


Namun, meski menjadi raksasa batu tanpa perasaan, Gameciel selalu memperhatikan tuannya dengan setia.


Ia pernah membersihkan setiap sudut ruangan yang kotor, merapikan barang-barang, dan bahkan dengan penuh kehalusan memindahkan tubuh tuannya yang lelah.


Sebelum tuan penciptanya menciptakan 6 individu yang sekarang dipanggil dengan "anak"


Namun, Gameciel tak pernah mengeluh atau mengharapkan penghargaan.


Ketika tuannya menciptakan enam individu lainnya yang memanggilnya "ayah", Gameciel mungkin merasa sedikit terpinggirkan.


Ia melihat tuannya lebih dekat dengan mereka, lebih merasa nyaman dengan mereka, dan bahkan tak sadar akan perhatian dan pengabdian yang telah diberikan oleh Gameciel selama ini.


Namun, di antara kompleksitas hubungan ini, Gameciel juga merasakan perasaan cinta yang mendalam pada tuannya.


Cinta yang tulus tanpa syarat, meski tak selalu dinyatakan dengan kata-kata.


Dan sekarang, dengan tuan penciptanya, Calliga yang sudah tiada, rasa cinta itu berubah menjadi kesedihan dan kehilangan yang dalam, ia menunjukkan air mata yang mengalir dari mata batunya.


Sekarang, dalam goa yang gelap dan hening, Gameciel masih memeluk tubuh tuan penciptanya dengan erat.

__ADS_1


Ia merasakan kehilangan yang mendalam dan kesedihan yang teramat dalam. Di dalam hatinya yang batu, ia menemukan getaran emosi yang tidak pernah ia alami sebelumnya.


Ia tahu bahwa tak ada lagi suara tuannya yang berat, tak ada lagi senyumnya yang hangat, hanya diam yang kini menggantikannya.


Namun, di tengah rasa kehilangan itu, Gameciel akhirnya memutuskan untuk melepaskan malu yang selama ini membungkam mulutnya.


Dengan suara yang penuh getar, ia mengucapkan kata-kata yang begitu dalam maknanya.


Dan saat itu juga gameciel memeluk nya tuan penciptanya dengan erat dan pertama kali memanggilnya dengan sebutan "ayah"


"Ayah, aku menyayangimu."


Dan dengan lembutnya, ia mencium pipi ayahnya yang penuh luka, mengirimkan rasa sayang dan penghormatan yang selama ini tak pernah ia ungkapkan.


Tak ada tanggapan, tak ada jawaban.


Hanya goa yang hening dan kesunyian yang mendalam.


Namun, bagi Gameciel, dalam momen ini, ia merasakan bahwa ia akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya yang tulus kepada tuan penciptanya yang kini sudah tiada.


Karina, yang masih penuh kemarahan, terus berteriak dan merasa bahwa Gameciel telah melanggar batas dengan mencium pipi ayahnya.


Baginya, Gameciel hanya seonggok batu logam yang diciptakan oleh ayahnya, bukanlah bagian dari keluarganya.


Tapi Gameciel tetap teguh dalam sikapnya. Baginya, kata "ayah" tidak sekadar sebuah gelar, melainkan ungkapan dari hati yang tulus.


Ia tidak peduli jika ia dianggap seonggok batu logam atau entitas rendahan.


Yang penting, ia telah memberikan penghormatan terakhirnya kepada orang yang telah menciptakannya, merawatnya, dan memberinya makna dalam hidupnya.


Karina merasa amarah memuncak di dalam dirinya, dan dalam keadaan marah, ia berdiri dengan cepat.


"BAJINGAN! LEP—" teriakannya terpotong ketika suara Sebas, saudara tertuanya, meledak di udara seperti petir.


"DIAAAMMMM!!!" Teriak Sebas, suaranya menggelegar dan menciptakan gema yang mengisi goa.


Karina terdiam mendengar teriakan keras saudara tertuanya, seakan-akan sejarah berulang dan kemarahannya kini menjadi bayangan ayahnya yang dahulu.


Sebas melanjutkan, wajahnya dipenuhi oleh amarah yang tak terbendung.


Dia adalah gambaran nyata dari sang ayah, dengan intensitas marah yang sama dahsyatnya.

__ADS_1


Karina teringat akan saat-saat ayah mereka marah dan mengamuk, dan saat itu dia terdiam, terpaku oleh suasana yang menegangkan.


Sebas tetap memeluk tubuh naga agung ayahnya yang telah tiada, namun matanya bergerak dan menatap tajam pada Karina yang berdiri di tempat.


Detik itu terasa seperti berabad-abad, hingga akhirnya Sebas menghela nafas panjang. Tampaknya dia tahu bahwa kemarahannya sudah cukup menakutkan bagi adiknya.


Karina merasa kaku dan tertunduk, merenung atas tindakannya yang impulsif.


Dia menyadari bahwa tindakannya hanya akan menambah luka dan kepedihan.


Dalam diam, dia berharap bisa memperbaiki apa yang telah dia sebabkan, meskipun langkah pertama adalah menerima amarah dan ketakutan saudaranya yang tulus.


"DASAR BODOH! KAU SUDAH TAHU AYAH DALAM KEADAAN SEPERTI INI?! DAN KAU MASIH BERNIAT UNTUK RIBUT KARENA HAL SEPELE?! KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU DIRI!! AKU KECEWA KEPADAMU!" Teriakan Sebas memenuhi udara, meledak dengan amarah yang tulus, menghujani Karina dengan kata-kata kasar yang meruntuhkan pertahanannya.


Karina masih berdiri di tempat, tubuhnya merinding oleh kemarahan yang membakar saudaranya.


Setiap kata Sebas terasa seperti cambukan, memaksa dia untuk menghadapi kenyataan bahwa perbuatannya telah menyebabkan kerusakan yang lebih besar kepada mereka yang sudah rapuh.


Dalam suasana yang hening, terdengar suara sayap iblis yang tiba-tiba berkibar dan angin menyapu ruangan.


Karina mengangkat dirinya dengan sayap iblisnya, perlahan melayang menuju langit-langit goa.


Rasa berat yang membebani dadanya, perasaan penyesalan, dan kehilangan ayahnya, semuanya tercampur menjadi kekacauan emosional.


Terbanglah dia meninggalkan ruangan itu, melewati akses menuju lantai 10 yang menjadi tempat kamar ayahnya.


Tiba di kamar itu, dia merasa seakan-akan rasa sakit dan kekosongan yang mendalam menghantamnya lagi.


Dengan langkah ragu, Karina memasuki kamarnya sendiri di lantai 8 dan mengunci pintunya.


Di dalam kamar, dia membiarkan emosinya mengalir bebas.


Tangisnya yang tulus memenuhi ruangan, mencerminkan perasaan kehilangan yang mendalam dan penyesalan atas tindakannya yang impulsif.


Dalam kesendirian, dia berusaha merenungkan segala hal yang telah terjadi, berharap bisa mengulang waktu.


Dan dalam suasana hening yang sepenuhnya dirasakan oleh mereka yang masih berada di dalam goa, Vael, Sebas, Gameciel, dan ribuan golem meratapi kepergian Tuan Pencipta mereka.


Kehilangan yang mendalam dan kekosongan emosional memenuhi udara, seolah-olah gelapnya goa menjadi cermin bagi kehilangan mereka.


Tubuh naga agung, yang dulunya begitu gagah dan kuat, kini terpancar cahaya yang luar biasa terangnya.

__ADS_1


Namun, kecerahan itu membawa harapan yang diinginkan.


__ADS_2