Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 130


__ADS_3

Saat itu, pria yang telah kuangkat tinggi-tinggi berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman kuatku.


Dia menendang dan memukul seluruh tubuhku yang ditutupi oleh armor.


Usahanya sia-sia, dan aku merasakan getaran dan tekanan, tetapi aku tidak bergeming sama sekali oleh serangan lemahnya.


"Le-lepa-pas-kan," ucapnya tersengal-sengal, kehabisan oksigen, hampir kehilangan kesadarannya.


Akhirnya, aku memutuskan untuk melepaskannya.


Pria itu langsung terjatuh ke tanah, tergeletak dan menghirup udara dengan penuh kelegaan, tapi juga dengan rasa malu yang mendalam.


Dia menatapku dengan kebencian saat aku berdiri di hadapannya.


Perbedaan tinggi yang mencolok antara kita membuatnya terlihat sangat kecil di hadapanku. Tampaknya ia sadar betapa sia-sia usahanya untuk melawan kekuatanku yang jauh lebih besar.


Pria itu, dengan tatapan penuh kemarahan, mengambil sebuah belati dari sakunya.


Dengan gerakan cepat, ia mengacungkan belati itu ke arahku, mengancam untuk membunuhku jika aku mendekat.


Namun, aku hanya menjawab ancamannya dengan tawa terbahak-bahak.


"HAHAHAHA, Kau pikir Kau dapat membunuhku, manusia lemah?" ejekku, merendahkan ancamannya.


Ia merespons dengan mencoba menyerangku, menusukkan belatinya ke arahku dengan penuh kebencian. Namun, belati itu hanya mengenai armorku dan seketika retak dan hancur.


"Manusia menjijikkan," ucapku sambil mengepalkan tangan.


Aku tidak berniat membunuhnya, hanya ingin menakut-nakutinya. Aku mengarahkan pukulan ke arah kepalanya, seolah-olah akan menghantamnya dengan keras.


Terjadi hembusan angin yang besar, dan meskipun aku tidak benar-benar meninjunya, hanya berpura-pura, dia pingsan lemas seketika.


Ancaman telah dihentikan, dan aku tidak perlu melakukan kekerasan lebih lanjut.


Lithos, yang duduk di sampingku, menepuk tangannya dengan sinis dan tak terima dengan tindakanku, mengeluarkan cemoohan.

__ADS_1


"Bravo! Kau memerintahkanku sebelumnya untuk tidak menyerang manusia, namun mengapa Kau sendiri menyerang sesuka hatimu, sialan!"


Sebelum aku bisa merespons, Sebas yang selalu setia mendukungku langsung melompat untuk membela.


"Kau lebih baik diam! Ayahku memiliki pemikiran yang mendalam dan setiap langkah yang ia ambil memiliki arti. Makhluk bodoh seperti Kau lebih baik bungkam!"


Pertarungan kata-kata pun pecah antara Sebas dan Lithos, yang membuatku merasa lelah melihat mereka berdua bertengkar tanpa henti.


Dengan nada kesal, aku akhirnya menyela, "CUKUP KALIAN BERDUA!" Itu adalah satu-satunya kata yang mampu menghentikan pertarungan kata mereka.


Dengan hati-hati, aku memutuskan untuk teleportasikan pria tersebut ke dungeonku agar tak menimbulkan kecurigaan atau masalah lebih lanjut.


Sambil melakukannya, aku menghubungi Gameciel melalui [Message]. Sukses terhubung, aku mendengar suara bersemangat Gameciel.


"Baik ayah, aku, Gameciel, putramu, senantiasa akan menuruti segala perintah dari ayahyang agung!" ucapnya penuh semangat melalui [Message].


Tersenyum mendengar tanggapannya, aku menjawab melalui pesan tersebut, "Aku akan mentransfer manusia hidup kepadamu. Jagalah dia dengan baik, dan jika mungkin, coba peroleh informasi darinya secara paksa. Sekarang, di mana posisimu?" ucapku pada Gameciel.


Dalam waktu dekat, aku akan menyelesaikan situasi ini dengan bijak, menjaga agar rahasia dungeonku tetap terlindungi.


Gameciel dengan cepat merespons, "Siap, ayah. Aku akan melaksanakan perintah ayah tanpa mengecewakan ayah! Saat ini, aku masih berada di kamar ayah, menyelesaikan beberapa dokumen yang masih menumpuk di meja ayah."


"Kau membuatku bangga, Gameciel. Lanjutkan!" puji ku melalui [Message], lalu aku memberikan instruksi lebih lanjut, "Baiklah, aku akan mentransfer manusia ini ke dalam ruanganku. Jika mungkin, letakkan dia di lantai 11."


Dengan cepat, aku mentransfer pria penjual budak tersebut ke dalam dungeonku, di dekat Gameciel yang berada di ruang kerjaku di lantai 15.


Gameciel segera mengkonfirmasi melalui [Message] bahwa manusia yang telah kutransfer sudah berada di dekatnya.


Aku meminta Gameciel untuk memenjarakan manusia itu dan menghukum tindakan kotornya.


Sekarang, aku dapat melanjutkan perjalananku di kota manusia ini dengan sedikit lebih ringan hati, tahu bahwa masalah ini sudah terselesaikan dengan baik.


Dengan cepat, aku mematikan komunikasi [Message] dengan Gameciel, tetapi sebelum aku melakukannya, aku memberikan pesan padanya untuk menjaga kesehatannya dengan baik selama aku berada di luar.


Pria yang tadinya berada di depanku telah menghilang, sekarang berada di tangan Gameciel.

__ADS_1


Aku berdiri dari posisi berjongkokku dan mulai berjalan perlahan menuju wanita muda yang merupakan budak dan masih terkunci dalam kandang besi, ketakutan melihatku.


Melihat ada sebuah gembok yang mengunci akses keluar kandang besi itu, aku dengan cepat menghancurkannya dengan tekanan perlahan yang menghasilkan bunyi "kretak."


Setelah aku melepaskan gembok yang sudah hancur, aku membuka gerbang kandang besi tersebut dan dengan lembut berkata kepada wanita muda itu agar keluar dan mengikutiku mulai dari sekarang.


Wanita muda tersebut tampaknya enggan untuk keluar dari kandang besinya, masih ketakutan setelah menyaksikan tindakan kejamku terhadap pria penjual budak.


Aku berusaha meyakinkannya dengan lembut, dan bahkan meminta bantuan Sebas untuk membujuknya, namun percuma saja.


Wanita tersebut tetap takut dan enggan mengikuti kami.


Hanya ada satu cara untuk membuatnya mau pergi bersama kami, yaitu dengan membuatnya tidak sadarkan diri atau tertidur.


Aku bertanya kepada Lithos apakah dia memiliki skill semacam itu, tetapi ternyata dia tidak memiliki kemampuan tersebut.


Akhirnya, aku menanyakan kepada Sebas, dan dia menjawab bahwa dia memiliki skill [Sleep] yang dapat membuat target tertidur pulas.


Sebas dengan cepat menggunakan skill [Sleep]nya untuk membuat wanita muda budak tak sadarkan diri.


Setelah wanita tersebut tertidur pulas, Sebas dengan gesit memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan dimensinya.


Semua berjalan dengan lancar, dan sekarang wanita muda itu akan aman dari penderitaan sebagai budak.


Lithos mendekat dan bertanya tentang rencana selanjutnya terhadap kedua manusia yang aku simpan. Namun, aku memutuskan untuk tidak memberikan rincian lebih lanjut pada Lithos.


"Kau tidak perlu tahu, mari lanjutkan perjalanan kita," ucapku dengan tegas. Lithos menghela nafas, mungkin tidak senang dengan ketidakjelasan situasi, tetapi dia mengikuti perintahku.


Kami bertiga keluar dari tenda kios penjual budak dengan santai, dan saat kami melihat ke dalam tenda, tak ada lagi tanda-tanda manusia atau pedagang di sana.


Sepertinya kami telah berhasil menyelamatkan wanita muda budak tanpa menimbulkan terlalu banyak masalah.


Kemudian, aku meminta Sebas untuk memimpin kembali jalan menuju markas Guild Petualang Manusia, yang merupakan tujuan utama kami.


Dengan hati-hati, kami mengikuti Sebas melalui jalan-jalan kota yang ramai.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, kami akhirnya tiba di depan bangunan besar yang memiliki simbol naga dan pedang yang menggambarkan markas Guild Petualang.


Dengan ekspresi datar, aku membuka pintu markas Guild Petualang, tak sabar untuk melihat apa yang didalamnya


__ADS_2