Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 101


__ADS_3

Sebelum Sebas, dalam bentuk naga, dapat menyerang Gameciel, seluruh ruangan tiba-tiba dipenuhi dengan cahaya yang sangat terang, menerangi setiap sudut goa yang sebelumnya gelap gulita.


"Terang sekali," gumam Gameciel, merasa kagum dengan cahaya yang tiba-tiba menyelimuti segalanya.


Namun, kejadian yang lebih misterius sedang berlangsung.


Suara misterius bergema di dalam goa, membuat atmosfer semakin menegangkan.


^^^"[PERMINTAAN DITERIMA!]" suara itu menggema, mengisi ruangan dengan kehadirannya yang magis.^^^


Saat itulah, seketika cahaya terang itu mulai mengelilingi tubuh Gameciel dan Sebas.


Seolah-olah kekuatan tak terlihat sedang mengatur nasib mereka.


Tanpa peringatan, mereka berdua tiba-tiba terhisap oleh cahaya dan menghilang dari dalam goa yang gelap.


Ketika kesadaran kembali, Gameciel terkejut menemukan dirinya berada dalam cahaya yang bercahaya.


Ia juga melihat tubuh naga Sebas yang hendak menyerangnya juga bercahaya.


Gameciel terpaku dalam kejutan dan kebingungan, bertanya-tanya apa yang telah terjadi.


Saat itu juga, tubuh Gameciel dan Sebas yang dikelilingi oleh cahaya terang perlahan memudar, meninggalkan gameciel dalam kebingungan yang makin mendalam.


Ketika cahaya redup dan hilang, Gameciel segera meneliti sekitarnya.


Terlepas dari cahaya terang tadi, mereka berdua telah berpindah tempat.


Goa yang tadi gelap dan suram telah berganti menjadi lingkungan yang tak dikenalinya.


"Di mana ini?" gumam Gameciel, sambil memegang erat pedang Excalibur di tangannya.


Keterkejutannya semakin mendalam ketika ia menyadari bahwa mereka berdua telah mengalami teleportasi ke suatu tempat yang sama sekali baru.


Namun, meskipun kebingungannya begitu besar, ia merasa adanya semacam aura misterius di tempat ini.


Sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan mengelilingi udara.


Gameciel memandangi sekelilingnya dengan hati-hati, mencoba mengidentifikasi tanda-tanda atau petunjuk apa pun yang dapat memberikan petunjuk tentang tempat ini.


Tapi untuk saat ini, satu-satunya hal yang pasti adalah bahwa mereka berdua telah tiba di tempat yang benar-benar asing bagi mereka.


Namun, Sebas yang masih dalam bentuk naga dengan emosi yang membara tak terkendali, ingin menyerang Gameciel.


Sebelum dia bisa melepaskan serangan, tiba-tiba terjadi ledakan hebat di sekitar mereka.


BAM!


DUAR!


Ledakan itu mengguncang ruangan mereka yang baru saja mereka telepor.

__ADS_1


Serpihan-serpihan debu berputar-putar, dan suasana menjadi kacau.


Setelah sejenak berlalu, di tengah kekacauan, suara berat bergema di udara.


"Vael, kau pergilah dari tempat ini dan tunggulah aku di danau goa di luar dungeon ini! Pergilah sekarang!"


Suara itu terdengar kuat dan tegas, datang dari arah yang sulit untuk dipastikan.


Namun, itu jelas membawa perintah yang tidak bisa diabaikan.


Gameciel dan Sebas yang masih dalam bentuk naga saling bertatapan, lalu dengan cepat


memahami situasi yang tengah berkembang.


Tiba-tiba, ada kejutan dalam keheningan yang penuh ketegangan.


"Tunggu! Sepertinya aku kenal dengan suara ini!" ucap Gameciel, suaranya terdengar penuh kejutan dan kebingungan.


Dengan cepat, ia menoleh ke arah asal sumber suara yang menggema di dalam ruangan ini.


"TUANKU?!!" ucap Gameciel, matanya melotot tak percaya ketika melihat sosok dikejauhan.


Sama seperti Gameciel, Sebas yang sebelumnya hendak menyerang Gameciel juga membalikkan pandangannya, tertegun saat melihat sosok yang sama.


Kedua mereka terdiam, tak mampu berkata-kata. Dalam sekejap, dunia mereka berguncang, keberadaan yang mereka kira telah pergi ternyata hadir di hadapan mereka.


Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan kejutan ini. Mereka seperti melihat mimpi yang tak terduga.


Matanya yang tadinya merah bercahaya, perlahan kembali normal, dan wajahnya yang sebelumnya membara oleh emosi kehancuran kini menjadi tenang.


Namun, meskipun kembali pada akal sehatnya, Sebas masih berada dalam bentuk naga.


Mata mereka berdua, Gameciel dan Sebas, tertuju pada sumber suara yang tak pernah mereka sangka akan mereka lihat.


Di kejauhan, berdiri sosok yang telah mereka anggap sebagai pencipta, tuan dan ayah mereka, yang seharusnya telah pergi untuk selama-lamanya.


Namun, yang terjadi sekarang sangat bertolak belakang dengan harapan mereka.


Pencipta mereka, yang seharusnya sudah tiada, kini berdiri dengan kondisi yang terluka parah.


Tangan kanannya telah hilang, dan darah mengalir deras, menciptakan jejak merah di udara.


Wajahnya mencerminkan kesakitan, namun matanya masih penuh dengan kekuatan.


Ketika Sebas melihat sosok ayahnya yang masih hidup, hatinya dipenuhi dengan perasaan campur aduk.


Kebahagiaan, kejutan, dan kerinduan bercampur menjadi satu.


"AYAH?!!" ucap Sebas dengan suara gemetar, matanya terpaku pada sosok ayah yang di hadapannya.


Memori tentang ayahnya yang telah tiada datang membanjiri pikiran Sebas.

__ADS_1


Ia ingat dengan jelas bagaimana ayahnya tewas dengan luka yang serupa, tangan kanan yang hilang, luka-luka pada sisik tubuhnya.


Namun kini, ayahnya yang dianggap telah lenyap dari dunia, hadir di hadapannya dalam kondisi yang nyata.


Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan kebingungan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh Gameciel dan Sebas dalam momen ini.


Kehadiran sang pencipta yang hidup kembali mengubah segalanya, membalikkan takdir yang mereka yakini sebelumnya.


Dalam keadaan yang masih penuh keheranan, mata Sebas terperangah melihat makhluk kristal raksasa yang berada di samping ayahnya.


Namun, hal yang paling menarik perhatiannya adalah bahwa patung-patung tersebut seolah hidup, mengandung keberanian untuk melukai sang ayah.


Amukan amarah dalam diri Sebas kembali terbakar, menggelora dengan kuat.


Tak ada yang bisa menolerir penghinaan terhadap orang yang dikasihinya, terlebih lagi ayahnya.


Dia merasakan dorongan yang tak terbendung untuk menghancurkan makhluk rendahan itu.


Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, perhatiannya beralih ke Vael yang tiba-tiba terbang dengan cepat, berusaha meninggalkan ayah mereka yang terluka.


Sebas memiliki rencana tersendiri. Dalam sekejap, nafasnya yang berapi-api menggerakan tubuhnya yang besar menuju Vael yang melaju cepat.


Dengan suara sayap yang bergegas, Sebas mengejar adiknya, tak ingin meninggalkan ayah dalam keadaan berbahaya.


Namun, dalam keadaan ini, seberapa jauh Vael akan melarikan diri, dan apa rencana yang dimilikinya, masih menjadi misteri.


Sebas harus bertindak cepat untuk mengungkap maksud Vael dan melindungi ayahnya dari ancaman makhluk kristal yang jahat itu.


Dalam kilatan emosi yang mendalam, Sebas berhasil mencegah Vael untuk mencapai jalan keluar yang ingin ia tempuh.


Namun, reaksi Vael terhadap kehadirannya membuat situasi semakin rumit.


"SIAPA KAU?! Enyahlah dari hadapanku jika tidak akan kubunuh kau!" teriak Vael, wajahnya mencerminkan kemarahan.


Namun, Sebas, yang kini berada dalam bentuk aslinya sebagai naga Juggernaut, tidak akan terintimidasi begitu saja.


"kau ingin membunuhku?" tanya Sebas dengan nada yang tenang, mencoba mencari jawaban atas reaksi aneh Vael.


Namun, Vael tampak bingung dan memandang Sebas dengan mata yang mencari pengenalan.


Sesuatu dalam suara naga itu terdengar begitu familier, namun sulit baginya untuk mengenali identitasnya.


Saat Vael menggaruk-garuk kepalanya yang penuh tanda tanya, sebuah kilatan kesadaran menyambar pikirannya.


Dia mengenali suara itu. Tidak mungkin... Tetapi, bagaimana mungkin? Wajah Vael tampak tercengang, tak percaya dengan temuannya.


"Hah! Apakah itu kau, kak Sebas?!" teriak Vael dengan keheranan saat mengenali saudaranya dalam bentuk naga.


Sebas hanya mengangguk, lalu dengan cepat meraih tubuh Vael untuk membawanya pergi.


Namun, Vael yang penuh tanya tidak sempat mengeluarkan banyak kata.

__ADS_1


Dalam sekejap, Sebas memaksa Vael untuk terbang bersamanya, meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.


__ADS_2