Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 148


__ADS_3

Langit-langit kota ini tertutupi oleh serpihan kristal yang berbagai bentuk, menciptakan kegelapan yang menutupi matahari.


Gelap menyelimuti segalanya. Seluruh kota terancam oleh serpihan kristal yang siap meluncur dengan kecepatan luar biasa, mengancam untuk menghancurkan segala yang ada.


Calliga menatap ke atas, melihat langit-langit yang dipenuhi oleh serpihan kristal tajam. Ia merasa kesal dan bingung.


"Apakah dia sudah gila?" gumam Calliga, tatapan penuh emosi terarah pada Lithos yang berdiri di kejauhan.


Kota yang dulu pernah dipenuhi kehidupan dan cahaya, kini terbalut dalam kegelapan dan kehancuran.


Serpihan kristal mengancam untuk meruntuhkan segala yang masih bertahan, menguburkan harapan dan membangkitkan keputusasaan di hati manusia.


Calliga masih mempertahankan skill [Requip], yang mengubahnya menjadi seorang warrior dengan tubuh yang dilindungi dan ditutupi oleh armor yang kuat.


Meskipun seluruh statsnya meningkat sebesar +50, Calliga tidak dapat menggunakan skill AOE atau destruktif saat itu karena skill [Requip] masih aktif.


Calliga melihat ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


Dengan cepat, ia mematikan skill [Requip], dan dalam sekejap seluruh armor yang melindunginya menghilang.


Blink! Tiba-tiba, wujud Dragonoid Calliga terlihat jelas, dengan perpaduan antara naga dan manusia.


Dengan cepat, Calliga mengubah wujudnya kembali menjadi wujud aslinya.


Lambat laun, Calliga mulai bertransformasi menjadi wujud naga aslinya.


Tubuhnya membesar, sisik dengan berbagai corak warna yang mengerikan tumbuh di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"GROAAAARR!!!" Raungan kuat terdengar dari mulut Calliga saat tubuhnya terus membesar dengan cepat.


Dia kini berubah menjadi naga yang sangat besar dan menakutkan.


Tepat pada saat itu, dua pasang sayap naga yang besar tumbuh dengan cepat di punggung Calliga.


Kukunya semakin tajam, memancarkan ancaman yang mematikan.


Tidak hanya itu, dalam wujud aslinya, Calliga kini memiliki sepasang tanduk panjang yang berwarna keemasan, memberikan kesan yang megah dan menakjubkan.


Calliga telah berhasil menyelesaikan transformasinya menjadi wujud aslinya yang menakutkan, mengesankan dan memancarkan aura kekuatan yang menakutkan.


Dengan cepat, dia terbang, mengepakkan dua sayap besar dengan kekuatan yang luar biasa, menuju arah Lithos.


Angin berdesir di sekitarnya saat Calliga bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan, melintasi langit yang tertutupi oleh serpihan kristal.


siap melepaskan serangan mematikan dengan melepaskan seluruh kristal yang menggantung di sana.


Niatnya jelas, tanpa ampun ia akan menyerang Grandor.


Di sisi lain, Grandor terbaring di tanah yang tergenang darah, merintih kesakitan.


Sayapnya berlubang besar, tubuhnya penuh dengan luka-luka parah dan sisik-sisiknya yang kuat pun tak mampu menahan serangan proyektil kristal yang sebelumnya telah mengoyaknya, mengakibatkan darah mengalir deras dari beberapa bagian tubuhnya yang terbelah.


Grandor menatap langit yang dipenuhi oleh kristal-kristal, matanya mencerminkan ketakutan yang mendalam.


Dia sadar bahwa serangan proyektil kristal yang jumlahnya tak terhitung akan segera menyerangnya. Ia tahu bahwa kematian sedang mengintainya.

__ADS_1


Grandor, dalam kondisinya yang terlalu lemah untuk bergerak atau terbang, merasakan ketakutan dan gemetar di hadapan kematian yang menjemputnya.


Sayapnya yang berlubang dan tubuhnya yang lemah membuatnya tak mampu berbuat apa pun, kecuali merasakan rasa sakit dan ketakutan yang memenuhi pikirannya.


Dalam keadaannya yang terbaring di tanah, Grandor merenungkan kesalahannya telah menantang makhluk kristal yang begitu kuat di hadapannya.


Rasa penyesalan memenuhi hatinya saat ia menyadari betapa sia-sia usahanya untuk melawan kekuatan yang jauh melampaui batasnya.


"Groaar!" Erangan kesakitan lemah keluar dari mulut Grandor, seperti memohon ampun kepada Lithos yang ada di hadapannya.


Namun, Lithos justru mengerti erangan itu sebagai tanda kelemahan dan kesedihan Grandor.


Ia tertawa dengan keras, menertawakan Grandor yang berada dalam penderitaan.


"HAHAHAHA! KAU KADAL RENDAHAN MEMINTA AMPUNAN KEPADAKU?! KAU TELAH BERANI MENANTANG DAN MENYERANGKU BODOH! HANYA KEMATIAN YANG MENUNGGUMU!" Teriakan Lithos memenuhi udara dengan suara yang menggetarkan hati.


Ia mengejek Grandor yang lemah, menunjukkan kekuatannya yang tak terbendung dan keangkuhannya yang tak tergoyahkan.


Grandor, dalam kehancuran dan putus asa, hanya bisa merasakan getaran erangan dan tawa Lithos yang menusuk hati.


Ia menyesali pilihannya dan merasakan pahitnya kehidupan yang terancam oleh kekuatan yang tak bisa ia lawan.


Shuusshh! Saat itu juga, seluruh kristal yang melayang di langit mulai jatuh dengan kecepatan yang mengerikan, mengarah langsung ke arah Grandor yang terbaring lemas.


Grandor, dalam ketidakberdayaannya, pasrah dengan takdirnya yang tak terhindarkan. Jantungnya berdegup kencang, merasakan ketakutan yang menghantui pikirannya.


Dan di tengah keheningan saat kristal-kristal hampir menyentuh tanah, Grandor yang telah kehilangan imannya pada dewa primordial naga berdoa dalam hati dengan ketakutan yang mendalam.

__ADS_1


"Oh, Sang Ayah Agung Semua Naga. tolong bantulah aku!" doanya terdengar dalam keheningan saat kristal-kristal itu dengan cepat mendekat.


__ADS_2