
Di perbatasan antara Hutan Elysian dan Tambang Elysian, terdapat wilayah yang dikenal luas sebagai Batas Kematian. Perbatasan ini memisahkan antara Hutan Elysian yang dipenuhi monster buas dan tambang tempat manusia menambang batu sihir dengan mudah terlihat.
"Ah, aku bisa melihat benteng pengawasan itu," ucap Viona sambil menunjuk ke sebuah benteng yang terlihat di depan mereka.
Benteng itu dibangun semata-mata untuk mengawasi para monster buas di sekitar Hutan Elysian. Tempat yang sama juga yang melaporkan penampakan peningkatan banyak kumbang kecil bertebaran di wilayah tersebut.
"Baiklah, waktunya kita lewati benteng tersebut. Apakah kalian sudah siap?" ucap Rio kepada kelima kawannya dengan semangat.
"Apakah kau yakin, Rio? Kita diperbolehkan melewati benteng ini?" tanya Alex kepada Rio dengan sedikit keraguan.
"Tentu saja, salah satu prajurit di sana bahkan adalah bawahanku yang sering berlatih denganku, mereka sudah mengetahui kedatangan kita. Aku sudah memberitahunya beberapa hari yang lalu, jadi santai saja," jawab Rio dengan percaya diri kepada Alex.
"Baiklah, aku percaya padamu, kawan," gumam Alex dengan keyakinan.
Mereka berenam melangkah melewati benteng dengan mantap. Saat berada di dalam benteng, sebelum melanjutkan perjalanan ke Hutan Elysian, salah satu prajurit dengan hormat memberi salam kepada Rio.
"Selamat pagi, Kapten! Semoga perjalananmu sukses dan selamat!" ucap prajurit tersebut dengan penuh semangat. Namun, reaksi prajurit lainnya tampak acuh tak acuh, tidak terlalu mempedulikan keberangkatan Rio.
Dengan cepat, Rio membalas dengan senyuman hangat, "HAHAHA, tentu saja, bocah! Lain kali kita berlatih lebih keras lagi!"
Prajurit yang memberi salam pun terdiam sejenak dan menelan ludah mendengar perkataan kapten mereka, Rio. Dia tahu betul bahwa latihan yang dilakukan Rio sangatlah gila dan brutal. Namun, tanpa ragu, ia menjawab dengan semangat, "Baik, Kapten!"
Setelah menyeberangi benteng pertahanan, Rio dan kelima anggota party-nya melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan kepada salah satu prajurit yang menghormatinya.
Perjalanan mereka menuju Hutan Elysian berjalan lancar, dan setelah berjalan selama 5 menit, mereka berhasil mencapai wilayah tersebut tanpa mengalami masalah.
Tidak ada yang istimewa yang terjadi saat mereka menginjakkan kaki di Hutan Elysian, kecuali udara yang tampak lebih pekat dan suasana yang gelap.
__ADS_1
"Syukurlah, kita masih aman," ucap Alex sambil memandang kelima anggota timnya dengan lega.
"Hahaha, tentu saja kita aman, Alex. Apakah kau merasa ketakutan?" goda wanita berambut hitam itu, Viona, sambil tersenyum licik.
"Tidak! Aku tidak takut!" balas Alex dengan cepat, mencoba menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Eh, tapi rasanya ada sesuatu yang aneh di tempat ini," ujar wanita Elf dengan tatapan curiga. "Aku bisa merasakan aura gelap dan misterius di sekitar kita."
"Jangan terlalu khawatir. Kita sudah tahu bahwa Hutan Elysian adalah tempat yang berbahaya," ucap salah satu anggota lainnya, mencoba menenangkan situasi.
"Hmm, Misi Dihutan ini akan lebih mudah, karena Tim kita lengkap seperti dulu, benar bukan?" ujar salah satu anggota party.
"Jangan terlalu senang dulu, kawan lama-ku," kata Rio dengan serius, sambil memberikan sebuah gelang yang memiliki semacam berlian di tengahnya kepada kelima anggota partynya. Berlian itu terlihat mahal dan mewah.
"Eh, mengapa kau memberikan kami gelang mahal ini?" tanya Viona dengan penasaran, sambil memandangi gelang tersebut dengan penuh perhatian.
"Dengan gelang ini, kita bisa saling melacak posisi satu sama lain. Jadi, jika ada yang terpisah atau dalam situasi bahaya, kita bisa dengan cepat mengetahui keberadaannya dan memberikan bantuan," jelaskan Rio dengan senyum lebar.
Setelah mendengar penjelasan dari Rio tentang gelang "Silence Step" yang dilengkapi dengan batu sihir mahal.
"Oh, sungguh nyaman. Aku tidak tahu ada hal seperti ini," ucap Alex yang terkejut, sambil mengenakan gelang tersebut dengan cermat. Semua anggota lainnya juga tak kalah terkejut dan menyaksikan dengan penuh antusias.
"Jadi, kita bisa menghindari monster buas dan juga meningkatkan HP dan pertahanan kita dengan gelang ini?" tanya Viona dengan penuh penasaran.
"Ya, itulah yang kukatakan tadi," jawab Rio dengan senyum puas melihat reaksi teman-temannya.
"Gelang ini benar-benar luar biasa! Pasti sangat berharga," ucap salah satu anggota lainnya dengan antusias.
__ADS_1
Wanita Elf bernama tampak tidak percaya ketika Rio memperbolehkan mereka semua mengenakan gelang tersebut. Dengan tatapan terkejut, dia memegang gelang itu di tangannya dan memeriksa dari dekat.
"Tidak usah khawatir, Lara. Kalian semua berhak menggunakannya. Aku berniat memberikannya sebagai hadiah sebagai ucapan terima kasihku karena kalian telah mengikuti permintaan egois ini," ucap Rio dengan tulus, sambil menunduk hormat kepada kelima anggota partynya.
"EEEEHHHH ??!!!!" Ucap kelima anggota party dengan terkejut. Mereka benar-benar tak percaya ketika Rio memberi gelang mahal tersebut kepada mereka sebagai hadiah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyimpannya dengan baik," ujar wanita Elf bernama, Lara, sambil tersenyum senang.
"Setidaknya aku mendapatkan sesuatu yang menarik dari misi berbahaya ini, haha," ujar salah satu anggota lainnya dengan senyum bahagia.
Alex hanya menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih kepada Rio, teman lama mereka, sambil bersalaman dengan hangat.
Viona, dengan wajah penuh rasa ingin tahu, bertanya dengan nada skeptis kepada Rio, "Ngomong-ngomong, mengapa kau memiliki begitu banyak gelang mahal ini? Apakah kau mencuri gelang mewah ini di istana kerajaan secara diam-diam? Hmm, atau mungkin kau punya hubungan gelap dengan Raja Theovilus? Dan, apakah kau tahu betapa mahalnya gelang ini?" sambil memandangi Rio dengan tatapan bombastic side eye.
Rio terkejut mendengar pertanyaan tersebut, dan dengan panik dia menjawab, "Eeh? Tidak, bukan seperti itu, Viona! Jangan salah paham, Raja Theovilus memberikan banyak gelang ini karena ia mengira banyak kesatria bangsawan bajingan yang akan ikut bersamaku!" Rio berusaha menjelaskan dengan serius.
"Hmmm, baiklah, aku percaya padamu, RIO!" ucap Viona sambil tertawa mengejek Rio.
Kelima anggota party lainnya bergabung dalam tawa, menikmati momen kekonyolan itu.
"Baiklah kalau begitu sudah cukup, aku akan mengajarkan kalian cara mengaktifkan gelang ini," ucap Rio kepada teman-nya.
Tiba-tiba, Viona berkata dengan nada manja, "Baiklah kalau begitu, kemari dan ajari aku, Rio," ujarnya sambil menggoda.
"Hmmm, kalau begitu, apakah kau ingin kubantu membuat dadamu lebih besar?" balas Rio dengan canda, menggoda Viona.
Mendengar hal tersebut, wajah Viona memerah dan dengan cepat ia memberikan tendangan yang tak ada ampun kepada Wajah, Rio.
__ADS_1