
Seketika itu juga, vio menjawab.
"Tuan Sebas," ucap Vio dengan lembut, memperoleh perhatian penuh Sebas.
Sebas menatap Vio dengan harapan dalam pandangannya. Apa yang akan dikatakannya tentang ayahnya?
Lalu, Vio melanjutkan, "Mohon maaf tuanku, jika tidak salah, Seingatku, 7 jam yang lalu, ada saudariku yang memberitahuku ketika dia kembali ke lantai 15. Dia berkata bahwa Tuan Calliga bersama dengan Tuan Lithos, yang berada di lantai 11."
Sebas merenung sejenak, memproses informasi yang baru saja dia terima. Hatinya berdebar lebih cepat dengan kobaran emosi.
"Makhluk Kristal jadi-jadian itu!" gumam sebas dengan kesal.
Dia tahu Lithos adalah ancaman yang serius, terutama setelah insiden ayahnya yang mengakibatkan ayahnya kehilangan tangan kanannya.
Sebas masih merasakan ketegangan dalam hatinya terhadap Lithos.
Bagaimana mungkin ayahnya bisa terlalu baik kepada makhluk yang telah menyakiti dia dengan begitu kejam?
Tapi entah kenapa sekarang, Lithos menjadi sangat dekat dengan ayahnya, hampir seperti sahabat sejati.
Mereka terkadang bertemu secara teratur, bahkan Lithos sekarang tinggal di dungeon ayahnya.
Ayahnya sepertinya sudah memaafkan tindakan Lithos dan mereka sering berbincang, seolah-olah sudah menjadi teman yang lama.
Sebas merenung sejenak, berusaha memahami perubahan ini.
"sungguh... Ayah... terlalu... baik...pada makhluk jadi-jadian itu." gumamnya, masih bingung dengan semua ini.
Kendati hatinya masih ragu, dia juga merasa sedikit lega melihat ayahnya tampaknya menemukan teman untuk berbicara di samping Lithos.
Dan Ayahnya memberikan satu lantai penuh untuk Lithos, menjadikannya penguasa di lantai ke-12.
Lithos sangat menikmati perannya ini, terutama setelah ayahnya merombak besar-besaran lantai tersebut.
Sebas dan Lithos kala itu masih kagum pada ayahnya. Dalam sekejap mata, ayahnya bisa mengubah lantai dungeon sesuai dengan keinginannya.
Sekarang, lantai 12 adalah sebuah kuil besar megah nan indah yang dipenuhi oleh patung-patung kristal berbagai bentuk dan ukuran.
Hal itu membuat Sebas merenung. Bagaimana ayahnya bisa memiliki kemampuan luar biasa seperti ini?
Dan bagaimana Lithos bisa mendapatkan begitu banyak kebaikan dari ayahnya, meskipun masa lalu mereka pernah penuh dengan konflik dan pertumpahan darah?
"Memikirkannya saja membuatku kesal kepada kristal bajingan itu!" gumam Sebas dengan kesal, dan ia mengepalkan tangan, menghentakkan meja yang dipenuhi makanan.
*Bam!*
__ADS_1
Untungnya, meja megah itu cukup kuat dan kokoh, sehingga tidak hancur.
Saat Sebas menghentakkan meja, semua makanan yang ada di atasnya meloncat, lalu kembali sempurna ke piring-piringnya.
*Shoossh... Shooshhh... Plok...*
Makanan-makanan itu seperti tarian makanan yang tidak terencana, berputar-putar sejenak sebelum akhirnya kembali beristirahat dengan rapi di atas piring mereka masing-masing.
Vio, yang melihat ekspresi marah Sebas, yang merupakan anak Putra Tuan Penciptanya, berkeringat dingin takut akan kemarahannya.
Keheningan terjadi, dan saat itu juga ada yang memecahkan keheningan.
*Slurpp... Gulp...*
Dihadapan Sebas terdapat seorang malaikat yang sedang menikmati secangkir kopi hangat dan menelannya.
Malaikat ini lebih besar, lebih tinggi, dan lebih tampan daripada Vael, dengan ekspresi khawatir yang terpancar di wajahnya.
"Kak, apakah kau baik-baik saja?" ucap malaikat itu dengan penuh perhatian kepada Sebas.
Malaikat itu duduk berhadapan dengan Sebas di sekitar meja bundar yang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan.
Bentangan sayapnya yang besar sekarang terlihat lebih kecil saat ia tidak menggunakannya, mencapai tinggi sekitar 2,5 meter.
Namun, yang membedakan pakaian malaikat ini adalah corak seperti bola kemerahan yang terletak di tengah dadanya.
mereka duduk berhadapan, dan mata pelayan wanita bernama vio, terfokus pada pertemuan antara Sebas dan malaikat tersebut.
Malaikat tersebut melihat Vio yang tampak ketakutan dan memberinya izin untuk keluar.
"Kau boleh keluar kalau begitu," ucapnya.
Dalam ketakutan yang mendalam, Vio dengan cepat meninggalkan kamar Sebas itu.
Dia mendorong trolley makanan kosongnya ke luar dan segera melihat pintu kamar Sebas terbuka dengan sendirinya.
Malaikat tadi memberinya izin untuk pergi, dan dia tidak ingin berlama-lama di sana.
Namun, ketakutannya masih jelas terpancar di wajahnya ketika dia keluar dari kamar Sebas. Dia merasa lega bisa keluar dari situ.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Sebas dengan tiba-tiba tertutup dengan suara yang menggelegar, seakan-akan mengunci semua yang ada di dalamnya.
Malaikat itu melihat Sebas yang tengah melamun, jelas ada beban di hatinya.
Dengan penuh perhatian, ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sebas yang tampaknya sedang dalam keadaan murung.
__ADS_1
"Kak, apakah ada sesuatu yang membebani hati kakak?" kata malaikat tersebut dengan lembut, sambil meletakkan tangannya di atas bahu kanan Sebas.
Saat itu, Sebas mendongak dan menatap malaikatnya dengan pandangan yang dalam. Mungkin, pertanyaan malaikat ini adalah hal yang Sebas butuhkan saat ini.
Dalam keheningan yang tercipta, keduanya saling bertatap, dan terdengar angin berbisik di antara mereka.
Sebas merasa bahwa malaikat yang berdiri di hadapannya jauh lebih peduli dan memperhatikannya dibandingkan dengan kelima adik kecilnya.
Perasaannya yang gelisah tadi mulai mereda, dan pikirannya kembali menjadi tenang.
Dengan lembut, Sebas mulai berbicara kepada malaikat yang telah menjadi saudaranya dan ia sekarang merupakan saudara ke-7.
"Ah, jangan khawatir, Gameciel. Aku hanya sedang merenungkan sesuatu," ucap Sebas kepada malaikat rupawan tersebut.
Malaikat yang bernama Gameciel itu menatap Sebas dengan penuh perhatian, tampak memahami bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Dia merespon dengan suara lembut, "Kak, apakah kau masih kesal dengan Lithos? Tapi Tuan Calliga sepertinya telah memaafkannya."
Sebas menghela nafas panjang sambil memandang Gameciel.
"hmm... Apakah kau lupa bahwa kau sekarang seharusnya memanggilnya 'ayah'? Bukankah itu keinginanmu sendiri?" tanyanya kepada malaikat muda itu.
Gameciel menggaruk kepalanya dengan ekspresi cengengesan yang canggung.
"ah.. Maafkan aku, Tuan... maksudku, Kak. Aku belum terlalu terbiasa memanggilmu 'kak' dan Tuan Calliga dengan sebutan 'ayah'," katanya dengan nada yang penuh keragu-raguan.
Sebas hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
...***Flashback*** ...
Perubahan dalam hierarki dan dinamika hubungan di dalam dungeon calliga setelah peristiwa dari dungeon kuno merubah segalanya.
Setelah ia menghancurkan 2 inti permata dungeon.
Gameciel masih memikirkan momen ketika ia pertama kali keluar dari dungeon kuno bersama Lithos, Sebas, Vael, dan penciptanya yang sekarang diizinkannya memanggilnya "ayah".
Ayahnya, tuan calliga pada kala itu memanggil seluruh makhluk yang tinggal dalam dungeon menuju lantai lima, ruang takhta yang megah, dan saat itu, sang pencipta memperkenalkan Lithos sebagai makhluk kristal humanoid yang akan tinggal dalam dungeon tersebut.
Yang paling membingungkan bagi Gameciel adalah kemampuan ayahnya untuk berubah wujud menjadi manusia naga berukuran kecil yang disebut Dragonoid.
Ini adalah pertama kalinya Gameciel melihatnya, dan ia bisa merasakan bahwa ayahnya semakin kuat.
Kala itu saat dia berada diruang takhta Gameciel merasa gemetar ketika ia memberanikan diri untuk meminta satu hal penting kepada penciptanya, Tuan Calliga.
Pria tua itu duduk di takhtanya yang megah, ditemani oleh Lithos yang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1