Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Regret


__ADS_3

Aura suci yang sebelumnya dipenuhi kebencian dan kemarahan perlahan memudar.


Luna merenung, merenungkan mengapa ayahnya melarangnya ikut serta dalam perjalanan dengan saudara tertuanya, Sebas. Pemikirannya membawanya pada pemahaman yang mendalam.


"Apakah ini mengapa papa tidak mengizinkanku pergi? Karena papa tahu akan ada penyusup yang akan menyerang Orthrosku? Ya, itu sudah pasti karena papa bisa melihat masa depan dan tahu segalanya!" Luna berbicara dengan isak tangis, mengagumi kemampuan ayahnya.


Namun, emosi yang rumit muncul saat Luna merasa seperti ada yang tidak klop.


"Tetapi mengapa papa tidak memberitahuku tentang ancaman itu? Aku tahu! Pasti papa sengaja menyembunyikannya, supaya aku belajar untuk menuruti perkataannya. Bodohnya diriku!"


Lalu, Luna meneruskan dengan penuh kemarahan pada dirinya sendiri, menyalahkan diri atas kesalahan-kesalahannya.


"INI SEMUA SALAHKU! Harusnya aku mengikuti perkataan papa! Aku seharusnya tidak mengabaikan larangannya! AKU SEHARUSNYA TIDAK IKUT PERGI KE KOTA SERANGGA ITU! SIALAN!"


Saat tangisan penyesalan merayap dari bibir Luna, mata kecilnya memperhatikan cahaya yang memantul dari pecahan serpihan Orthros.


Kejernihan kilau itu menarik pandangannya, dan dengan gerakan hati-hati, Luna mengambilnya.


Itu adalah Permata Batu Sihir Orthros yang masih utuh, dan dengan cepat, Luna menyimpannya dalam saku dimensi penyimpanannya.


Setelah momen perenungan yang dalam, tangisan Luna akhirnya reda. Dia memutuskan untuk merelakan kepergian hewan peliharaan dan sahabatnya yang telah tiada.


Dengan perlahan, Luna bangkit berdiri, wajahnya masih tersisa bekas sembab air mata, dan langkahnya yang awalnya lesu kini berangsur-angsur tegap.

__ADS_1


Dengan hati yang masih berat, Luna mengambil telur besar yang sempat ditaruhnya di lantai. Dia memeluknya erat, seolah ingin memberikan kehangatan kepada benda tersebut.


"Papa, maafkan aku" ucap nya.


Meskipun wajahnya masih mencerminkan kesedihan yang mendalam, Dengan langkah perlahan, Luna melanjutkan perjalanannya menuju lantai bawah dungeon.


Sambil turun beberapa lantai dungeon dengan mata sembab, Luna melihat berbagai macam golem bertebaran di sekitarnya, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.


Para golem itu tampaknya tak memperhatikan Luna dari kejauhan, dan dia pun terus melangkah dengan langkah pelan. Tiba-tiba, sekelompok besar golem tiba-tiba berkumpul dan bergegas ke arah tertentu dengan cepat.


Luna tahu bahwa kumpulan golem itu semuanya berasal dari lantai 5, tempat takhta ayahnya berada. Namun, saat ini semangat Luna redup, dan dia hanya ingin kembali ke kamarnya yang berada di lantai 7, sambil memeluk erat telur besar yang berada dalam genggamannya.


Luna melanjutkan perjalanannya dengan hati penuh penyesalan, raut wajahnya yang dulu ceria, kini tergantikan dengan kesedihan.


Namun, Luna merasa kehilangan minat untuk memeriksa kejadian tersebut, karena hatinya kini ingin merenungi dirinya sendiri di kamarnya di lantai 7.


Dalam suatu peristiwa yang tak biasa, Zara keluar dari ruang takhta setelah menerima perintah dari Karina untuk melawan monster di lantai 1.


Dengan langkah perlahan, dia berjalan keluar dan tidak butuh waktu lama sampai dia berpapasan dengan Luna, anak putri dari tuannya yang sangat imut.


Zara segera memberi hormat dan memberikan salam kepada Luna, "Selamat datang kembali, nona."


Namun, kali ini Luna tidak memberikan jawaban atau reaksi apa pun. Sikapnya terhadap Zara terasa berbeda, karena biasanya Luna akan menyambut dengan ceria dan mungkin mengajaknya bermain, terutama setelah latihan bersama.

__ADS_1


Zara perlahan memerhatikan Luna dengan seksama. Ketika dia memperhatikan wajah Luna, dia melihat raut wajah yang sedih, dan tampaknya Luna sedang memegang telur besar yang hampir sebesar kepala Luna sendiri.


"Apa yang terjadi dengan Anda, Nona Luna?" gumam Zara dengan rasa khawatir, matanya terfokus pada Luna yang sedang dalam suasana hati yang berbeda dari biasanya.


Zara merasa semakin khawatir akan keadaan Luna, jadi dengan cepat ia bertanya dengan ekspresi prihatin, "Nona, apakah Anda baik-baik saja?"


Namun, Luna masih tetap diam dan tampaknya tidak memperhatikan Zara sama sekali. Zara kemudian mencoba bertanya lagi dengan nada khawatir, "Apakah ada masalah, Nona? Jika ada, saya siap membantu."


Luna menatap tajam ke arah Zara dan dengan tiba-tiba mengeluarkan kekesalannya, "DIAM! KAU MENGHALANGI JALANKU!" Suara marahnya disertai dengan pelepasan aura suci yang besar, membuat Zara merasa seakan-akan terancam oleh kekuatan itu.


Terkejut dan ketakutan, Zara dengan cepat bergeser dari jalan Luna, tidak ingin membuatnya semakin marah. Dia buru-buru meminta maaf, "Maafkan aku, Nona."


Namun, Luna tampak acuh tak acuh terhadap permintaan maafnya dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kamarnya dengan wajah yang masih penuh kesedihan.


Luna perlahan berjalan meninggalkan zara.


Zara, yang masih merasa terguncang oleh pertemuan dengan Luna, akhirnya pulih dari ketakutannya dan bergumam pada dirinya sendiri, "Sungguh, seluruh anak tuanku yang kulayani semuanya menakutkan."


Dia tidak bisa tidak merenungkan tentang para anak tuannya yang memiliki kepribadian yang kuat dan seringkali menakutkan.


Setelah mengumpulkan pikirannya, Zara mengingat perintah Karina untuk membasmi monster di lantai 1.


Dengan tangkas, ia menggunakan skill cepatnya, [Phantom Step], untuk meluncur ke lantai atas dungeon dengan cepat, menuju tempat serangan mendadak terjadi.

__ADS_1


Shushhh....


__ADS_2