Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 154


__ADS_3

Dalam sekejap mata, Calliga mengaktifkan skillnya yang paling mematikan, "[Death Grip]".


Tangan kirinya terulur ke arah Lithos, seolah mencengkramnya dari kejauhan. Tubuh Lithos yang beku tak dapat bergerak, seketika terseret dengan cepat seperti terkena gaya magnet yang kuat.


"LEPASKAN SIALAN! JANGAN CURANG KADAL BAJINGAN!" teriak Lithos dengan kemarahan yang membara. Namun, suaranya hanya terdengar seperti bisikan lemah, karena tubuhnya yang terbuat dari kristal tidak mampu merasakan rasa sakit akibat cengkraman Calliga.


Calliga mendengar cacian Lithos dan tersenyum dengan puas. Dia memperluas bayangannya yang semakin membesar, mengunci Lithos dalam keadaan yang tak berdaya.


Lithos hanya bisa menatap Calliga dengan pandangan panik, tak mampu bergerak atau berbicara.


Dalam keadaan terjepit seperti ini, Lithos merasakan keputusasaan yang mendalam. Pikirannya dipenuhi dengan keinginan untuk melawan dan membalas dendam, tetapi tubuhnya terikat oleh kekuatan bayangan Calliga yang tak terkalahkan.


Dalam keheningan yang mencekam, tubuh kristal Lithos mulai retak. Meskipun tidak merasakan rasa sakit, Lithos merasakan ketidakberdayaan yang menghancurkan.


Ia berusaha untuk membebaskan diri, tetapi tak ada yang bisa dilakukannya. Bayangan hitam Calliga semakin mengendalikan dirinya, membatasi setiap gerakan dan nafasnya.


Calliga dengan nada sinis menjawab, "Curang? Tidak adil? Apa kau sedang bergurau? Sudah tiga kali, aku menunjukkan kekuatan-ku yang membuktikan bahwa aku dapat mengalahkanmu dengan mudah."


Sambil berkata demikian, Calliga semakin mengencangkan cengkramannya pada Lithos, membuat tubuhnya semakin retak.


Namun, meskipun terbelah dan hancur, Lithos tetap tak bisa bergerak atau berbicara karena terikat oleh bayangan Calliga yang kuat.


Dalam keadaan yang mencekam, Sebas, putra Calliga, berdiri di samping ayahnya. Dia melihat dengan seksama betapa ayahnya sedang menikmati saat menyiksa Lithos.


Wajahnya yang tenang tak menunjukkan rasa kaget atau empati, melainkan rasa takjub dan ketakutan akan kekuatan ayahnya yang mengerikan.


Sebas tidak ingin mengganggu kesenangan ayahnya yang sedang melakukan tindakan kejam.


Dia hanya berdiri di sana, diam dan memperhatikan dengan mata yang tajam. Dia melihat setiap retakan di tubuh Lithos, menyaksikan betapa penderitaan itu tidak berujung.


"AAAARGGHHHH! SIAAAALLLLANN! AKU TIDAK DAPAT BERGERAK MAUPUN BERBICARA SAMA SEKALI! KADAL BAJINGAN! JIKA AKU LEPAS AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHNYA!" Teriak Lithos dalam hati, frustasi karena tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menatap Calliga dengan penuh kebencian.


Namun, Calliga hanya memandang Lithos dengan sikap meremehkan.


"Apakah kau sadar aku sedang bermain-main denganmu dan tidak melawanmu dengan serius? Jika aku serius, tentu saja aku sudah membinasakanmu tanpa sisa dengan sekejap!" ucap Calliga sambil masih mencengkram tubuh Lithos.


KRAK!


Suara retakan terdengar ketika tangan kristal Lithos perlahan-lahan hancur di bawah genggaman kuat Calliga.


Namun, meski terluka, Lithos tetap mempertahankan wajahnya yang dingin dan tegar.


Calliga melanjutkan dengan suara berat, "Bukankah aku terlalu baik padamu? Lagipula, aku sengaja membiarkanmu hidup. Apakah kau tidak ingin bertemu dengan Merrli, wanita yang kau cintai? Jika aku membunuhmu tanpa sisa, tentunya kau tidak akan dapat bertemu dengannya, DASAR BODOH!" serunya dengan lantang, menyiratkan kekejaman dan kejamannya.

__ADS_1


Lithos, yang mendengar perkataan Calliga, tiba-tiba merasa emosinya mereda.


Kata-kata Calliga yang masuk akal dan menusuk hati kristalnya tentang Merrli, wanita yang sangat ia cintai, membuat Lithos terhenti sejenak.


"Jadi dia sengaja tidak ingin membunuhku dengan cepat agar aku dapat bertemu dengan Merrli?! Baik sekali, kadal satu ini!" gumam Lithos dalam hatinya.


Perlahan, rasa benci yang membara di dalam dirinya berubah menjadi rasa penasaran dan kebingungan.


"Sungguh dia benar, jika aku mati, tentunya aku tidak dapat melihat Merrli! Oh, maafkan aku, Merrli. Betapa bodohnya diriku ini!" gumam Lithos kepada dirinya sendiri, yang masih dicengkram kuat oleh Calliga.


Calliga, pada saat yang sama, memperlemah sedikit skill bayangannya yang masih terhubung dengan Lithos.


Sebagai akibatnya, Lithos hanya dapat menggerakkan sedikit badannya.


Lithos melihat ekspresi marah yang memuncak di wajah Calliga. Suara teriakannya memenuhi medan pertempuran mereka, memecah keheningan yang ada.


"Apakah kau masih ingin bertarung denganku? Apakah kau ingin mencari kematian denganku? GERAKAN KEPALAMU SEBAGAI JAWABAN!" Teriak Calliga dengan emosi yang memuncak.


Lithos merasa jantungnya berdebar kencang saat melihat kemarahan yang ada di mata Calliga.


Ia tidak ingin mati oleh tangan Calliga yang kejam dan kejam seperti itu.


Ia masih ingin bertemu dengan Merrli, wanita yang telah mencuri hatinya. Kematian bukanlah pilihan yang ingin ia ambil.


Ia ingin melawan dan membalas dendam, tetapi ia juga ingin tetap hidup untuk Merrli.


Namun, Calliga tidak puas dengan itu. Ia semakin marah dan kesal.


"APAKAH KAU YAKIN DAN SUNGGUH BERNIAT UNTUK MENYERAH KEPADAKU! JIKA YA DAN SERIUS! BERSUJUDLAH KEPADAKU SEBAGAI PERMINTAAN MAAF BAJINGAN! MENGANGGUKLAH JIKA KAU MENGERTI!" Teriak Calliga dengan nada yang teriak-teriak.


Lithos merasa kebingungan dan kemarahan yang tak terbendung saat mendengar permintaan Calliga. "Hah?, Bersujud kepada kadal? SIALAN TENTU SAJA AKU OGAH! SEUMUR HIDUPKU AKU TIDAK PERNAH DIREMEHKAN SEPERTI INI SIALAN!" Teriak Lithos dalam hatinya.


Ia merasa marah dan terhina oleh permintaan Calliga yang kejam.


Namun, sebelum Lithos bisa bereaksi lebih lanjut, Calliga tiba-tiba menciptakan sebuah lubang hitam kecil di dekatnya.


Lithos merasakan dorongan tarik yang kuat, dan seketika serpihan kristal yang ada di tubuhnya mulai menghilang dan terhisap ke dalam lubang hitam.


Lithos terkejut dan panik, menyadari bahwa Calliga sedang mencoba menghisap keberadaannya.


Dalam kebingungan dan kepanikan, Lithos melihat lubang hitam kecil yang ada di depan matanya.


Ia merasa takut dan putus asa saat melihat bagaimana kristal-kristal yang merupakan bagian dari dirinya terhisap ke dalam kegelapan lubang hitam tersebut.

__ADS_1


Ia merasakan kehilangan yang mendalam, seolah-olah sebagian dari jiwanya sedang dicabut dengan kejam.


Lithos merasakan kepanikan yang tak terbendung saat hampir seluruh kristal yang berceceran maupun tubuhnya terhisap ke dalam lubang hitam.


Ketika itu terjadi, Lithos merasa terhenti. Ia tidak bisa bergerak, berbicara, atau bahkan melarikan diri dari combo serangan cengkraman dan ikatan bayangan Calliga.


Lithos merasa pasrah dan panik, karena ini adalah pertama kalinya ia merasakan ketakutan dalam hidupnya yang selalu diisi dengan dominasi dan kekuatan.


Kekuatan yang selalu membuatnya merasa tak terkalahkan sekarang tidak berdaya di hadapan makhluk yang dianggapnya sebagai "kadal" ini.


Lithos merasa seperti menjadi boneka dalam genggaman Calliga, sementara mata merahnya yang penuh otoritas mengancam keberadaannya.


Dalam keadaan yang memilukan ini, Lithos merasakan keringat berbentuk kristal mengalir di dahinya.


Setiap tetes keringat itu terasa seperti sebagian dari dirinya yang hilang, terserap kembali oleh tubuhnya yang lemah.


Ia terus menatap mata merah membara Calliga, menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan musuh yang penuh kekuatan dan kekejaman.


"Makhluk satu ini benar-benar mengerikan!" gumam Lithos dengan suara gemetar, matanya terpaku pada mata Calliga yang menyala dengan pupil merah yang seolah-olah inkarnasi dari kematian.


Rasa takut yang menggelisahkan memenuhi pikirannya, namun Lithos tahu bahwa ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus mencari cara untuk bertahan hidup.


Dalam upaya putus asa untuk melindungi nyawanya, Lithos dengan cepat menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia akan bersujud meminta ampun kepada Calliga.


Ia merasa harga dirinya terinjak-injak, tetapi ia lebih memilih itu daripada mati di tangan makhluk kejam ini.


Namun, seketika itu lubang hitam yang diciptakan oleh Calliga tiba-tiba menghilang.


Lithos merasa lega, meskipun tubuh kristalnya telah banyak hancur dan terhisap ke dalam lubang hitam, membuat proses regenerasi menjadi sulit baginya.


Ia melihat bayangan yang sebelumnya mengikatnya dengan cepat memudar dan kembali ke Calliga.


Saat itu juga, Lithos merasa kembali memiliki kebebasan untuk bergerak dan berbicara.


Calliga hanya menatap lithos tanpa ekspresi ketika Lithos terlepas dari cengkeramannya dan jatuh tersungkur ke tanah yang penuh dengan darah.


Tubuh Lithos terlihat rapuh dan lemah, nafasnya tidak beraturan saat ia berjuang untuk tetap hidup.


Meskipun berhasil melarikan diri dari kematian, Lithos merasakan ketakutan yang mendalam.


Dengan suara yang gemetar, Lithos mengeluarkan gumam, "Menyeramkan sekali."


Ia menyadari bahwa perjuangannya belum berakhir, karena Calliga masih berdiri di hadapannya dengan pandangan tajam dan ancaman yang terpancar dari matanya.

__ADS_1


__ADS_2