Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Lelah...


__ADS_3

...***MC POV*** ...


Aku merasa bingung dan sedikit terganggu oleh semua yang terjadi sebelumnya.


Tadi aku melihat Karina yang dengan begitu dramatisnya menangis dan bersujud padaku, benar-benar menciptakan kebingungan di pikiranku.


Tidak, sebenarnya bukan itu saja. Baru saja aku bangun dari tidurku, dan tiba-tiba ada drama-drama aneh seperti ini yang harus kuhadapi.


Aku tidak bisa menyangkal bahwa situasi dengan Karina memang agak rumit. Terutama saat aku baru saja mengetahui bahwa dia sebenarnya telah berbohong padaku mengenai penyusup yang berhasil melarikan diri.


Aku bukan orang yang terlalu memusingkan hal seperti itu, tapi reaksinya yang terlalu berlebihan membuatku sedikit bingung.


Saat ini, Karina keluar dari kamarku dengan Vael menemaninya. Sementara aku masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.


Saat tadi aku masih terbaring di kasur raksasaku, aku memutuskan untuk memanggil Karina, berharap bisa menenangkan hatinya yang terlihat sedang tergoncang.


"keMari Kau" ucapku kepadanya.


Namun, sepertinya dia tidak merespons panggilanku. Aku ingin memberi dukungan padanya dan memberi tahu bahwa aku tidak marah, tapi tampaknya usahaku sia-sia.


Begitu aku bangkit dari kasur, langkahku terhenti mendadak oleh tindakan tak terduga dari Vael dan Luna.


Mereka seolah-olah menjaga Karina seperti penjaga gerbang istana, menghalangiku dengan berdiri di jalanku.


Anehnya, mereka berdua mengucapkan permohonan maaf secara bersamaan kepada Karina. Aku hampir saja terperanjat oleh kejadian ini.


"Hah? Apa yang terjadi?" batinanku bingung.


Aku sebenarnya tidak merasa marah kepada Karina, jadi mengapa mereka berdua seolah-olah melindunginya dengan tegas?


Mereka berdiri di sana, tampak tegar dan tidak bergeming, seperti prajurit yang melindungi seorang ratu.


Sementara aku hanya berdiri dengan ekspresi bingung di wajah. Tiba-tiba, aku merasakan sedikit tekanan di dada, seperti cengengesan yang ingin muncul.


Vael dan Luna masih saja berlutut dengan memohon ampunan saudaranya dan memblokir jalanku, seolah-olah aku ingin menyakiti karina.


Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka berdua, tapi sepertinya mereka sangat serius dengan permohonan maaf ini.


Akhirnya, dengan sedikit helaan nafas, aku mengangguk sambil melontarkan kalimat yang mereka ingin dengar.


"aku me..maa..fkanmu karina" ucapku dengan sedikit dramatis, menatap kepadanya sebagai tanda penyelesaian "masalah" ini.


Saat kata-kata maaf keluar dari mulutku, rasanya seperti itu adalah tarian canggung di lidahku.


Aku mengucapkannya dengan terbata-bata, seperti orang yang baru belajar berbicara. Tidak ada yang bisa meramalkan bahwa memaafkan bisa begitu rumit dan tak terduga.


Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar membuatku merasa terkejut.


Karina mengangkat kepala dengan mata sembab karena tangis. Entah apa yang menyebabkan tangisannya yang mendalam, tetapi dia berterima kasih padaku.


Aku memang ingin memberi dukungan, tapi berterima kasih? Untuk apa?


Ah, semua ini begitu abstrak dan rumit, pikirku dalam hati. Dan mereka bertiga masih menatapku dengan tatapan yang seolah ingin membaca pikiranku.


Terutama tatapan iblis dari Karina dengan air mata yang mengalir diwajahnya, membuatku merasa seperti aku harus mengurai alur pikiranku agar tidak terbaca begitu saja.


Ketika aku mengatakan kepada mereka bahwa aku akan keluar dari kamarku, rencanaku tampaknya tertunda oleh tindakan mereka berdua.


Terlebih lagi, saat Karina secara perlahan berdiri dari posisi bersujudnya dan meninggalkan kamarku, diikuti oleh Vael yang meminta izin kepadaku untuk menemaninya.


Aku hanya bisa mengangguk bingung kepada Vael, tak tahu apa yang mereka rencanakan.


Padahal aku yang ingin keluar dari kamarku, mengapa mereka sekarang yang keluar?


Dan kini dalam kamarku hanya tersisa aku dan Luna.


Tapi suasana terasa jauh dari biasanya. Luna, yang biasanya selalu cerewet dan hangat, sekarang duduk berlutut dengan tatapan yang hening ke arahku.


Perubahan drastis dalam perilaku mereka membuatku bertanya-tanya.

__ADS_1


Apakah mereka mengetahui betapa bodohnya aku?


Oh, tidak... harapanku adalah agar mereka tidak tahu tentang ketidaktahuanku.


Tapi aku merasa semakin terjepit oleh situasi ini. Sepertinya aku harus menunjukkan sikap yang dingin dan menghindari paparan akan ketololan ini.


Aku tidak ingin kesan bodohku semakin melekat pada diriku. Namun, mengambil sikap seperti ini pasti akan melelahkan.


Aku memutuskan bahwa mulai sekarang, aku akan memberi perintah kepada mereka untuk tidak lagi menemaniku atau bergantian menjaga di kamarku.


Aku membutuhkan privasi dan waktu untuk merenung serta mengistirahatkan pikiranku. Menjadi boneka yang hebat dalam sandiwaraku untuk mereka tentu telah memakan energiku.


Aku mendekati Luna yang masih berlutut di hadapanku.


Tatapannya datar, tanpa ekspresi, sepertinya menyimpan banyak misteri. Aku merasa penasaran dengan perubahan drastis ini. Dulu, dia selalu ceria dan penuh semangat.


Apa yang terjadi padanya? Apakah ada sesuatu yang membuatnya marah atau kecewa padaku?


Namun, terlepas dari pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku, aku merasa ada canggung di udara saat kami saling bertatapan.


Biasanya, Luna adalah yang pertama kali membawa suasana riang dan ceria, dan dia selalu berbincang tanpa henti.


Namun, kali ini, ia hanya diam dan tatapan kami saling berpapasan.


Ah canggung sekali...


"Luna, kemarilah," ucapku dengan lembut, memutus keheningan yang mencekam kamarku.


Tanpa ragu, Luna melompat ke tubuh naga besarku dan memelukku dengan erat. Rasanya lega melihat bahwa dia masih seperti dulu, meskipun segalanya tampak berubah.


"Papa..." bisiknya di antara tangisan, dan aku merasa hangat saat ia memelukku.


Dalam sekejap, aku merasakan sentuhan lembutnya. Setelah beberapa saat, aku membalas pelukannya dengan erat, membiarkannya tumpah segala emosi.


Namun, tangisannya tiba-tiba menggema di ruangan, memecah keheningan yang mencekam.


Aku mengelus pundak dan kepalanya dengan lembut, mencoba memberinya sedikit kenyamanan dalam saat-saat sulit seperti ini.


Luna menjelaskan bahwa hewan peliharaannya yang bernama Orthros telah mati akibat serangan penyusup.


Wajahnya mencerminkan rasa kesedihan dan penyesalan yang dalam. Dia menceritakan bagaimana marahnya ia pada awalnya, namun kemudian menyadari bahwa ia sendiri yang bersalah karena tidak menaati peringatanku.


Dia menuturkan bahwa aku telah memprediksi kemungkinan serangan pada dungeon ini dan hewan peliharaannya, namun ia mengaku tidak mengindahkannya.


Ia menyesal dan berkata bahwa jika dia hanya mendengarkan dan mengikuti perkataanku, mungkin Orthros tidak akan mati.


Aku mendengarkan kata-katanya dengan serius, melihat wajah Luna yang tampak penuh pertimbangan.


Dalam hati, aku bingung dengan ucapan luna. Memprediksi masa depan? Aku saja tidak bisa memprediksi kapan aku akan kentut, apalagi meramal masa depan.


Namun, kebingungan terhenti saat Luna mengeluarkan sebuah permata batu sihir berwarna merah dari ruang penyimpanan dimensinya.


Dia juga mengambil sebuah telur besar yang tergeletak di lantai kamarku, lalu dengan cepat memberikannya padaku.


Aku memerhatikan kedua benda itu dengan rasa heran. Luna menjelaskan bahwa telur besar tersebut adalah hadiah untukku. Sedangkan permata batu sihir merah adalah sisa dari permata batu sihir yang dulu digunakan pada hewan peliharannya.


Dia berbicara dengan serius, memohon padaku untuk menggunakan sihir kebangkitan dewaku untuk menghidupkan kembali hewan peliharaannya.


Aku merasa seperti terjebak dalam sebuah cerita fantasi aneh.


Luna dengan yakin mengatakan bahwa aku bisa menghidupkan kembali golem hewan peliharaannya menggunakan sihir kebangkitan dewaku.


Siapa sangka, aku tiba-tiba dihadapkan dengan tanggung jawab seperti ini. Aku, yang baru saja merasa aneh karena dicap memiliki kemampuan meramal masa depan oleh luna, sekarang harus menjadi "dewa" dengan sihir kebangkitan.


Keseriusan situasi itu terganggu saat aku menyentuh telur besar yang Luna berikan.


Tiba-tiba, retakan terdengar dari dalam telur, dan sebelum aku menyadarinya, makhluk misterius sudah muncul dari dalamnya.


Ini bukanlah burung seperti yang kuduga, tapi lebih seperti... Gri.. ?

__ADS_1


Tubuh makhluk itu keluar dari pecahan telur dengan gemerlap cahaya. Aku melihat dengan teliti.


Makhluk seperti burung berukuran sekitar 30cm dengan tubuh coklat terang yang mirip singa dan kepala seperti burung.


Namun, pandanganku segera tergantikan oleh kepanikan ketika makhluk itu mulai memakan batu permata sihir yang tadi aku pegang.


Aku bahkan tak bisa menahan diri untuk mengucapkan kata "Griffin" tanpa sadar.


"Hentikan! Itu bukan camilan!" gumam dihatiku, tapi tentu saja makhluk tersebut tidak mendengarku.


Kemudian, tiba-tiba, seluruh tubuh makhluk itu menyilaukan kamarku dengan cahaya yang memblinding.


Aku menutup mataku untuk melindungi penglihatanku. Ketika cahaya reda, aku melihat makhluk tersebut dengan perubahan yang mencolok.


Cahaya menyilaukan dan perubahan ajaib terjadi di depan mataku. Makhluk yang sebelumnya tampak seperti griffin, kini berubah menjadi sosok yang jauh lebih aneh dan menarik.


Tiga kepala yang aneh dan unik muncul dari tubuhnya, dengan wajah campuran antara serigala dan burung.


Tidak hanya itu, tubuhnya pun membesar menjadi sekitar 50cm, berwarna merah-kehitaman, dengan ekor yang menyala api kecil di ujungnya.


Sementara aku masih terpana oleh perubahan ini, Luna juga melihatnya dengan mata terbuka lebar. Dan tiba-tiba, dia berteriak dengan kegembiraan yang luar biasa.


"Orthros???!!!!" ucapnya, suaranya penuh dengan antusiasme dan kegembiraan.


Aku sendiri tercengang mendengarnya. Orthros? Apa itu nama makhluk ini? Aku mencoba mengingat-ingat, mencari tahu di mana aku pernah mendengar nama itu sebelumnya.


Tapi sebelum aku bisa memahaminya, makhluk tersebut dengan cepat mendekati Luna dengan suara langkah kaki yang lincah.


Tanpa ragu, dia melompat ke depannya dan dengan penuh kegembiraan menjilat wajah Luna, layaknya hewan peliharaan yang merasa senang melihat sang pemilik.


Luna jelas sangat senang dengan reaksi makhluk tersebut . Dia tampak begitu bahagia dan tersenyum lebar sambil bermain-main dengan makhluk itu.


Seketika itu, Luna dengan bersemangat menghampiriku dan memelukku dengan erat. Dengan mata berbinar-binar, dia berkata, "Terima kasih Papa telah menghidupkan kembali Orthros, ah tidak sekarang namanya griffin, benar bukan ayah?"


Namun, sekarang saatnya untuk bermain peran.


Aku menjawab Luna dengan anggukan sederhana, mencoba menjaga ketenangan meskipun dalam hati aku masih merasa bingung.


Griffin?


Memangnya sejak kapan aku memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali makhluk mati? Ini sungguh berita yang mengejutkan bagiku.


Aku masih mencerna informasi itu ketika aku sadar bahwa permata batu sihir merah yang sebelumnya kugenggam telah menghilang yang telah dimakan oleh makhluk aneh tersebut.


Namun, tampaknya tidak perlu khawatir, karena di depanku berdiri makhluk yang dulu bernama Orthros, namun kini berubah menjadi bentuk yang lebih mengesankan dan menakutkan, griffin.


Aku mengamati makhluk tersebut yang sedang bermain dengan luna. Luna memandangku dengan tatapan penuh kebanggaan, sepertinya dia benar-benar percaya bahwa aku yang telah menghidupkan kembali hewan peliharannya.


Dalam hatiku, aku merasa campuran antara keterkejutan dan kewajiban. Bagaimana ini semua bisa terjadi? Apakah aku benar-benar membangkitkannya?


Saat itu juga, griffin tiba-tiba berlari keluar dari kamarku dengan cepat.


Luna yang masih memandangiku dengan tatapan penuh kagum, perlahan teralihkan oleh kegembiraan hewan peliharaannya yang baru. Luna dengan cepat menyusulnya, meninggalkan kamarku.


Sebelum pergi, Luna berlutut di hadapanku dengan hormat dan berkata, "Terima kasih papa."


Kemudian dia berdiri dan segera mengejar hewan peliharaanya yang baru.


"tunggu aku, griffin!" teriak Luna sambil berlari keluar dari kamarku.


Sekarang, akhirnya aku sendirian di kamarku. Ternyata merasa sendirian juga bisa menjadi sesuatu yang dinantikan.


Setiap hari dalam hidupku penuh dengan kejadian aneh, terutama karena aku berpura-pura menjadi pemimpin hebat bagi anak-anakku.


Namun, dalam momen keheningan ini, aku menyadari bahwa sudah lama aku tidak memeriksa statusku.


Aku bertanya-tanya apakah aku sudah naik level lagi.


Mengapa tidak aku periksa saja?

__ADS_1


"STATUS," ucapku dengan agak bersemangat.


Perlahan, sebuah panel hologram muncul di hadapanku, menampilkan data-data penting tentang diriku.


__ADS_2