Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Despair Begins "?"


__ADS_3

Alex mengusap matanya beberapa kali, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi.


"Ini pasti mimpi bukan?" ucapnya, tetapi keringatnya mengalir dengan wajah pucat kembali, menunjukkan betapa nyata dan menakutkannya situasi ini.


Mereka semua, menatap patung malaikat raksasa dengan kekaguman dan ketakutan.


Patung Golem Malaikat itu memiliki tinggi 10 meter dengan 3 pasang sayap malaikat raksasa yang megah di punggungnya.


Pedang besar yang dipegangnya terlihat begitu indah, bahkan belum pernah mereka lihat senjata sehebat itu sebelumnya.


Namun, yang lebih mengejutkan adalah keberadaan batu permata sihir yang tersebar di tubuh patung itu.


Batu-batu permata sihir tersebut terlihat murni dan sempurna, digunakan sebagai mata dan dekorasi tubuh malaikat raksasa itu.


Semakin banyak batu sihir yang digunakan, semakin kuat pula Golem itu. Keajaiban batu sihir ini membuat mereka merasakan kekuatan magisnya tanpa perlu mengasah indera mereka. Sebelumnya, kehadiran magis patung Golem malaikat tersebut tak terasa oleh mereka. Terutama Rio.


"Kekuatan ini luar biasa..." gumam Viona memandang Golem Raksasa, dengan dipenuhi rasa takut.


Keheningan menyelimuti ruangan takhta saat mereka mencerna situasi yang penuh ketakutan.


"I-ini Ti-tidak mungkin!" ucap Rio dengan suara yang gemetar, pandangannya terpana pada Golem raksasa malaikat yang menghadapinya.


"Siapa yang menciptakan monster semengerikan ini? Dan untuk apa tujuannya?" gumam Rio dalam kebingungan, mencoba mencari jawaban dari kehadiran mengerikan ini. Namun, tak ada yang bisa memberikan jawaban pasti.


Kecemasan dan ketakutan semakin menggelayut di hati mereka.


"Go-golem ini begitu kuat, setara dengan naga blue enclave, ba-bahkan mungkin lebih Be-berbahaya lagi, Ti-tingkat An-ancaman ke-6, Kelas Malapetaka (Catastrophe Class)," ucap Alex dengan terbata.


Mereka semua, tampaknya tidak merespon Alex. Karena mereka semua sama takutnya.


"Apakah para kumbang mencoba melindungi tempat ini?" gumam Alex dengan rasa heran. "Tunggu, bisa jadi penciptanya ada di sini. Berarti apakah penguasa tempat ini masih hidup? Jika ya, seberapa mengerikan penguasa dungeon ini?" pikir Rio, wajahnya berkeringat dingin menghadapi misteri penguasa dungeon yang mengerikan.


Namun, sebelum mereka bisa mencari jawaban lebih lanjut, Golem malaikat tiba-tiba bergerak. Hati mereka berdebar-debar menyaksikan monster raksasa itu mulai bergerak.


Mereka tahu saat ini tidak ada jalan lain kecuali menghadapi kenyataan dan bertarung mati-matian.


Dan saat itu juga, Golem Malaikat mulai bergerak mendekati mereka dengan kecepatan menakutkan, membuat mereka semua panik.


"Berpencarlah! Jangan berkumpul di satu tempat! Hati-hati dengan pergerakan cepatnya!" perintah Rio dengan cepat, berusaha mengatur strategi untuk menghadapi musuh yang kuat ini.


Rio melirik Tigris dengan cepat, memberikan isyarat gestur tubuh untuk memberikan skill buff-nya pada seluruh party.


Kemampuan Tigris dalam memahami perintah hanya dari isyarat tubuhnya memang luar biasa dan patut diacungi jempol.


Tigris langsung mengaktifkan banyak skill buff support pada seluruh kawan-kawannya.


"[Swift Movement]! [Iron Will]! [Arcane Empowerment]!" ucap Tigris, mengaktifkan skillnya.


Cahaya berkilauan tiga kali di sekitar tubuh mereka, menandakan efek dari skill buff yang diberikan oleh Tigris.


[Swift Movement] - Meningkatkan kecepatan gerakan anggota tim untuk sementara waktu.


[Iron Will] - Memberikan tambahan pertahanan pada anggota tim untuk jangka waktu tertentu.


[Arcane Empowerment] - Meningkatkan attack dan magic attack anggota tim dalam waktu terbatas.


Golem Malaikat menerbangkan diri dan dengan kuat menghantamkan tinjunya ke arah mereka.


DUAR!


Untungnya, mereka berhasil berpencar dengan cepat ke arah yang berbeda, dan Golem Malaikat mengincar Rio. Berkat refleks yang cepat, Rio berhasil menghindar dari hantaman Golem tersebut.


"Cepat sekali!" seru Rio, terengah-engah setelah menghindari serangan mematikannya.

__ADS_1


Dengan cepat, Rio mengeluarkan kedua belatinya dan meloncat tinggi ke arah mata Golem Malaikat.


Niatnya adalah menghancurkan mata malaikat tersebut agar Golem tidak dapat melihat.


Shusshh...


Rio meloncat dengan kecepatan tinggi, menuju mata Golem yang berbentuk permata sihir. Dengan gesekan tajam, kedua belati-nya menusuk mata permata Golem.


Ting...


Ting...


Namun, Rio terkejut saat melihat bahwa mata Golem Malaikat masih tetap kokoh dan tidak hancur. Permatanya yang berharga sepertinya memiliki perlindungan magis yang hebat.


"Apa Apaan ini??!!" gumam Rio kebingungan. Pertahanan magis pada mata Golem jauh melampaui perkiraannya.


Dalam keadaan lengah, Rio terhantam dengan keras oleh tinju Golem Malaikat, membuatnya terpental lumayan jauh.


Untungnya, Tigris memberikan dukungan buff kepada seluruh tim, sehingga rasa sakit dan Damage yang ia terima berkurang.


Disaat itu juga, mereka semua mencoba menyerang bersama-sama, Golem Malaikat dengan mudah menghindari serangan mereka. Pedang, kapak, panah, sihir, semuanya tidak berdaya melawannya.


Malaikat Golem tampak memiliki insting dan kecepatan luar biasa, sehingga berhasil menghindari setiap serangan yang datang dari arah berbeda.


"Bagaimana mungkin ini?" gumam salah satu dari mereka dengan rasa takut dan kebingungan.


Golem Malaikat dengan mudah melawan enam petualang Master, dan tampaknya tidak kesulitan sedikit pun. Keberadaan monster ini jauh melampaui harapan dan perkiraan mereka.


"Mungkinkah Golem ini memiliki kesadaran? Ataukah ada pemiliknya yang mengendalikan dari kejauhan?" gumam Tigris.


Rio yang bangkit dari keadaan terpental-nya, dengan cepat memberikan perintah pada rekan-rekannya, Zay dan Lara.


"Zay, Lara, kuserahkan padamu!" serunya sambil menunjuk ke arah malaikat Golem raksasa.


Dengan sigap, Zay dan Lara menanggapi perintah Rio dengan antusias, "Ok!" jawab mereka serempak, sementara Tigris menganggukkan kepala sebagai tanda pengertiannya.


Tanpa waktu yang terbuang sia-sia, Tigris segera mengeluarkan skill Debuff-nya "[Chain Jail]!"


Empat rantai besi besar pun muncul dengan cepat dan menyambar ke arah malaikat Golem, mengikatnya dengan kuat pada masing-masing kaki dan tangannya.


Kling...


Kling...


Bunyi klinkan rantai besi terdengar, dan malaikat Golem terbelenggu dalam rantai tersebut. Ia menjadi tak berdaya dan tidak mampu bergerak.


Lara dan Zay, yang sudah bersiap dari kejauhan, menyiapkan skill dan sihir mereka untuk serangan selanjutnya.


Dengan malaikat Golem yang terikat dalam rantai, mereka memiliki kesempatan emas untuk melancarkan serangan dahsyat mereka.


"Kerja bagus, Tigris!" puji Rio sambil tersenyum puas melihat strategi timnya berhasil. "Sekarang, serang dia dengan segala kekuatanmu!" seru Rio pada rekan-rekannya.


Dengan kesempatan emas yang tercipta karena malaikat Golem terikat dalam rantai besi, Zay dan Lara dengan cepat mengeluarkan kartu truf terkuat mereka.


"[Dragonflight Arrows]! [Frost Nova]!" seru keduanya hampir bersamaan.


[Dragonflight Arrows] - meluncurkan serangan panah yang membara dengan kekuatan naga, menghancurkan musuh dengan bara api naga yang mematikan.


[Frost Nova] - Mengeluarkan ledakan energi es yang sangat kuat ke arah musuh dan, membekukan segalanya dalam area luas.


Serangan panah yang membara dengan kekuatan naga melesat dari busur Lara, menghancurkan musuh dengan bara api naga yang mematikan.


Sementara itu, Lara menarik anak panah dengan busur dan membiarkan api membakar panahnya. Anak panah tersebut semakin besar dan berubah menjadi kobaran api raksasa berbentuk naga yang meraung seperti seekor naga sebelum meluncur dengan ganas ke arah malaikat Golem yang tak berdaya.

__ADS_1


Di sisi lain, Zay merapal sihir terkuatnya dan mengangkat kedua tangannya ke langit. Sebuah bola es besar terbentuk di antara tangannya, dan dengan gesekan cepat, bola es raksasa itu dilemparkan menuju malaikat Golem dengan kecepatan tinggi.


"Kobaran api naga dan bola es raksasa, sepertinya kombinasi yang mematikan," gumam Alex yang kagum akan kecepatan berpikir kawan-nya, Rio.


Kedua serangan Api dan Es yang kuat berhasil menyatu menjadi serangan yang dahsyat dan menghantam malaikat Golem yang terikat rantai besi.


Ruangan dungeon misterius itu gemuruh oleh dua ledakan yang mengguncang Ruang Takhta.


DUAR!


DUAR!


Kobaran Api dan Es menjalar ke seluruh ruangan, menciptakan hawa panas dan dingin yang campur aduk.


Suhu yang tinggi dari serangan Api yang dahsyat bertabrakan dengan suhu yang rendah dari serangan Es, menciptakan kombinasi yang mematikan.


Mereka semua bisa merasakan getaran dan kekuatan dahsyat dari serangan terkuat mereka berdua, Lara dan Zay.


"Wow, itu pasti akan menghancurkan Monster bajingan!" seru Viona dengan penuh semangat.


Namun, dampak dari serangan mereka tidak segera terlihat. Sebuah asap besar pun muncul dan mengelilingi seluruh ruangan dungeon, menyulitkan mereka untuk melihat dengan jelas. Asap tebal tersebut menyembunyikan malaikat Golem raksasa dari pandangan mereka.


"Apa yang terjadi?! Apakah kita berhasil mengalahkannya?" gumam Lara dengan cemas.


"Sialan, asap ini membuat kita tidak bisa melihat musuh!" timpal Rio, yang juga merasa frustrasi.


Tigris mencoba menyelaraskan nafasnya dengan cepat dan berkata, "Kita harus tetap waspada! Siapa tahu, malaikat Golem masih belum terkalahkan!"


Bunyi retakan terdengar, memberikan harapan kepada mereka bahwa malaikat Golem raksasa telah retak dan hancur akibat serangan gabungan sihir es dan skill api terkuat Zay dan Lara.


Tampaknya serangan tersebut telah berhasil menciptakan retakan pada tubuh Golem tersebut.


Kretek...


Kretekk...


Kretek...


Asap yang sebelumnya menyelimuti ruangan pun mulai mereda, dan malaikat Golem terlihat jelas.


Namun, keadaan yang mereka lihat tidak sesuai dengan harapan. Meskipun sayap-sayap besar Golem itu hancur dan retak, tubuhnya masih utuh.


Tampaknya, serangan hebat dari Zay dan Lara berhasil diblokir oleh malaikat Golem menggunakan ketiga pasang sayap besarnya.


Mereka berenam dengan hati-hati memperhatikan malaikat Golem yang masih berdiri kokoh di hadapan mereka.


Hanya rantai besi raksasa yang mengikatnya yang berhasil dihancurkan oleh Golem dengan mudah. Dalam sekejap, rantai itu putus dan malaikat Golem bebas dari belenggu.


"I-INI MU-MUSTAHIL!" seru Rio dalam pikirannya, hatinya berdegup kencang dan keringat bercucuran karena ketakutan dan kepanikan yang melanda.


"HAAHH??!!" teriak Lara terkejut, matanya membesar ketika dia menyadari golem tersebut berhasil bertahan dari kombo serangan terkuatnya.


Namun, sebelum lara bisa merespons lebih lanjut, tiba-tiba terasa sesuatu menusuk dadanya.


"Auughh"


Rasa sakit menusak tubuhnya, dan dia menyadari bahwa dia telah tertusuk oleh pedang raksasa.


Golem itu melemparkan pedang besarnya dengan cepat dan tepat mengenai tubuh Lara yang lengah.


Pedang besar itu menancap dengan dalam menembusi Tubuhnya, menyebabkan Lara merasa kesakitan yang tak tertahankan.


"A-arghh...!" Lara merintih kesakitan, dan darah mulai mengalir dari tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2