
Seorang pria membuka matanya perlahan, mata yang penuh dengan noda kelelahan dan kesedihan.
Nafasnya tidak beraturan, bergetar seakan-akan mencoba untuk mengatasi beban yang sangat berat.
Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya, menunjukkan bahwa ia telah melalui suatu pengalaman yang luar biasa.
Namun, yang lebih menghantamnya adalah gelombang kenangan yang datang membanjiri pikirannya seperti tsunami.
Memori tragis itu terukir dalam ingatannya dengan begitu kuat, dan terasa seperti sebuah luka yang masih segar di hatinya.
Air mata mengalir deras dari matanya, menciptakan sungai pahit yang meluncur turun dari pipi.
Trauma yang mendalam merayapi jiwa pria tersebut, menghantamnya dengan kehilangan yang begitu tragis.
Ia merasakan kembali momen-momen mengerikan saat teman-teman berharganya tewas di depan matanya.
Kematian yang mengenaskan dan menghancurkan, mengisahkan kisah kepergian mereka dengan detail yang tak terlupakan.
Sejenak, kesedihan itu membuatnya hancur, mengguncangnya dengan keras.
Dalam kegelapan yang mencekam, ketakutan merayap ke seluruh hati pria tersebut.
Bayangan akan pengalaman mengerikan yang baru saja dialaminya terus berputar di benaknya, dan seakan-akan dirinya terjebak dalam mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.
Hingga akhirnya, tanpa dapat menahannya, dia melepaskan jeritan teriakannya yang penuh dengan ketakutan dan keputusasaan.
Namun, sebelum jeritan itu mencapai puncaknya, tiba-tiba ada sesuatu yang memeluk pria tersebut dengan erat.
Tubuhnya terasa hangat dan diliputi oleh kelembutan yang tak terduga. Suara lembut menerpa telinganya, "Suamiku...".
Pria itu memandang ke arah suara tersebut dan melihat seorang wanita dengan rambut coklat dengan paras cantik yang memeluknya dengan kasih sayang.
Air mata pun mengalir dari matanya, meskipun kali ini adalah air mata yang berbeda.
Ia merasa terlindungi, hampir seperti menemukan tempat perlindungan dari badai dalam pelukan wanita itu.
Wanita tersebut tak berhenti menangis di pelukannya, dan itu adalah seperti kelegaan bagi pria itu.
Kehadiran wanita ini, yang ia kenal dengan nama Evelyn, membawa kedamaian dan penghiburan yang ia butuhkan dalam saat-saat mencekam ini.
Begitu wanita itu melepaskan pelukannya, pria tersebut memandangnya dengan tatapan campuran antara kejutan dan rasa sakit yang mendalam.
"Evelyn..." gumamnya di antara helaan nafasnya yang tak menentu, sedangkan matanya masih berkaca-kaca karena tangisannya yang baru saja mereda.
Dalam keheningan yang terasa tegang, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan suara klak yang memecah kesunyian.
__ADS_1
Seorang pria berpenampilan mengenakan jubah berwarna hitam dengan aura suci melangkah masuk, dan langkahnya menghampiri tempat tidur tempat pria yang bernama Rio terbaring.
Dengan tatapan lembut, pria tersebut menyapa, "Sepertinya kau sudah bangun."
Namun, Rio masih terlihat sedikit tercengang oleh situasi dan peristiwa yang baru saja terjadi.
Pikirannya seperti dalam keadaan kosong, mencoba merangkai kembali ingatan dan realitas.
Mata pria itu masih memandang kosong, fokusnya tertuju pada sosok wanita yang bernama Evelyn yang berdiri di dekatnya.
Pertanyaan pria tersebut tak mendapat jawaban, seakan-akan pikiran Rio masih melayang-layang dalam kebingungannya.
Pria yang duduk di dekat tempat tidur tampak memahami keadaan Rio.
Ia memandang pria itu dengan pengertian, seperti mengenali bahwa Rio tengah berjuang untuk merangkai kembali ingatannya yang hancur.
Wajahnya penuh dengan ekspresi simpati, sebagai tanda bahwa ia mengerti betapa sulitnya situasi yang Rio hadapi.
Tanpa mendesak atau mengganggu, pria itu terus duduk dengan sikap santai di samping tempat tidur.
Meskipun keheningan masih menguasai ruangan, tetapi suasana tak lagi tegang.
Dalam diam, pria tersebut menunggu momen ketika Rio siap untuk berbicara atau berbagi tentang apa yang telah dialaminya.
Pandangan pria yang ternyata seorang priest langsung tertuju pada wanita di samping Rio yang bernama Evelyn.
Wanita itu, seakan telah mendapatkan pesan yang tak terucap, menjawab dengan tenang, "Ya, tuan."
Wanita itu bernama Evelyn, istri dari pria yang tengah berjuang merangkai kembali ingatannya, Rio.
Pria priest merespons dengan ekspresi serius, "Hmm... Dan apa hubunganmu dengan pria ini?"
Evelyn tidak ragu untuk menjawab, menyatakan bahwa dia adalah istri dari Rio.
Namun, jawaban itu diikuti oleh saran priest yang menyarankan Evelyn untuk beristirahat di rumah.
Menyadari kehamilannya yang sudah besar, pria priest menawarkan bantuan dalam merawat suaminya.
Namun, Evelyn tampak enggan untuk meninggalkan suaminya. Dia paham bahwa Rio tidak memiliki keluarga dan kerabat lain, dan dalam hatinya, dia tahu bahwa saat seperti ini adalah saat di mana suaminya membutuhkannya.
Evelyn ingin tetap berada di samping Rio yang ia cintai, menjaganya dan memberikan dukungan dalam situasi yang penuh kebingungan ini.
Evelyn dengan tegas menolak tawaran priest untuk merawat suaminya, mengungkapkan bahwa dia tidak ingin meninggalkannya dalam situasi seperti ini.
Meskipun pria priest tampak khawatir akan kondisi Evelyn, dia mengerti bahwa ada keinginan kuat di hati wanita ini untuk tetap berada di sisi suaminya.
__ADS_1
Namun, suasana tiba-tiba berubah drastis saat Rio tiba-tiba berteriak dengan keras yang mengguncangkan ruangan.
Teriakan itu seperti ledakan emosi yang mendalam, memotong ketenangan yang sebelumnya ada.
Evelyn panik dan tanpa ragu memeluk Rio, berusaha meredakan ketakutan dan rasa sakit yang mungkin dirasakannya.
Namun, kali ini upaya pelukan dan kata-kata lembutnya tampaknya tak cukup.
Rio tetap berjerit, suaranya memenuhi ruangan seperti orang yang kehilangan kendali diri, dengan napas yang tersengal dan tak teratur.
Situasi ini mengejutkan dan membingungkan.
Pria priest terlihat prihatin, dan ia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dialami oleh Rio.
Evelyn sendiri merasa putus asa, tidak tahu bagaimana harus membantu suaminya yang tampak begitu hancur.
Di tengah kekacauan dan kebingungan ini, perasaan mencekam semakin terasa, menciptakan suasana yang semakin mencekam dan gelap.
Dengan kepanikan yang semakin meluap, Evelyn segera meminta penjelasan kepada pria priest yang berdiri di dekatnya.
Matanya penuh kekhawatiran ketika dia berbicara, "Apa yang terjadi dengan suamiku, Tuan priest?!"
Pria priest berusaha tenang dan menjelaskan, namun tiba-tiba Rio yang sepertinya kehilangan kendali diri meronta dan memukul priest dengan kekuatan yang tak terduga.
Priest terpental dari bangku tempat dia duduk dengan suara yang cukup keras.
KEDUBRAK.
KEDUBRAK.
Kejadian ini menyebabkan keterkejutan dan kebingungan semakin meluas.
Priest yang seharusnya memiliki kekuatan dan pengendalian diri yang kuat, kini terpental oleh kekuatan yang datang dari dalam Rio.
Situasi semakin rumit dan membingungkan, seperti di dalam kegelapan misteri yang semakin dalam.
Evelyn berusaha meredakan suaminya yang masih bergerak dengan ganas, berusaha memahami apa yang sedang terjadi dengan Rio.
Dengan cepat, pria priest bangkit kembali dan memfokuskan diri pada upaya penyembuhan Rio.
Ia merapalkan mantra dan melepaskan sihir penenangnya, "[Lions Heart]!"
Cahaya suci menerangi ruangan, menyelimuti tubuh Rio, dan seakan-akan memulihkan ketenangan dalam dirinya.
Nafasnya pun kembali teratur, mengembalikan keadaannya yang tenang.
__ADS_1
Saat Evelyn dan pria priest merasa lega melihat Rio yang tampaknya sudah pulih, keadaan tiba-tiba berubah.