Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 143


__ADS_3

Calliga melihat sekelilingnya dengan tatapan yang penuh kebingungan.


Ia seharusnya tiba di kota Arbandir, tetapi apa yang ada di hadapannya tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Pemandangan di sekitarnya tidak seperti kota manusia yang biasa ia lihat dan yang ia reuni sebelumnya.


"Hah?! Apakah aku salah teleportasi? Tapi ini seharusnya tidak mungkin," gumam Calliga, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.


Dengan cermat, ia memeriksa sekelilingnya sekali lagi, berusaha mencari tanda-tanda bahwa dia mungkin telah membuat kesalahan saat menggunakan kekuatan teleportasinya.


Namun, ia yakin bahwa ini bukan kesalahan biasa, karena dalam 99% penggunaan sebelumnya, teleportasinya selalu akurat. Sesuatu yang aneh sedang terjadi.


Calliga saat ini berdiri di tengah reruntuhan kota manusia yang seharusnya adalah Arbandir.


Dia melihat bangunan-bangunan yang sebelumnya indah dan kokoh kini hancur berantakan seperti puing-puing besar.


Jalanan yang dulu luas dan ramai kini dipenuhi retakan besar yang membuatnya hancur berkeping-keping.


Dalam keheranannya, Calliga melangkah maju dan berjalan di antara puing-puing. Dengan mata naga tajamnya, dia memerhatikan dengan seksama setiap detail yang tersisa di sekitarnya.


Ketika dia mendekati sebuah bangunan yang hancur, dia melihat tumpukan puing yang berceceran.


Ini adalah sisa-sisa dari apa yang dulu adalah rumah-rumah penduduk kota.


Calliga merasa sesuatu yang sangat aneh. Dia tidak dapat memahami bagaimana Arbandir bisa berubah menjadi reruntuhan seperti ini.


Apa yang telah terjadi selama dia tidak berada di sini?


Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya saat dia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Saat dia melihat tumpukan puing dengan teliti ia melihat sesuatu yang tampak familiar baginya. Yakni sebuah serpihan kristal.


Calliga merasa sesuatu yang tidak beres saat dia mengamati serpihan kristal yang terang itu. Refleksi cahaya dari kristal itu membuatnya teringat akan sesuatu yang sangat penting.


Lalu, dengan gerakan tangan cepat, dia menghancurkan kristal tersebut.


Krak, teredengar suara hancur kristal yang renyah.


Dan ketika pecahan kristal itu pecah di tangannya, dia menyadari kesalahan besar yang telah dia lakukan.


Dengan nada penuh penyesalan, dia bergumam sendiri, "Betapa bodohnya aku telah mempercayai Lithos dan menyuruhnya untuk menetap di kota manusia ini."


Ia merenung sejenak di tengah reruntuhan kota Arbandir yang dulu pernah ramai.

__ADS_1


Calliga berdiri dari posisi berjongkoknya, penuh dengan penyesalan dan kemarahan.


Dia hanya tinggal sebentar di kota manusia ini, dan kini, kawannya telah menghancurkan kota itu.


Kesalahannya menyuruh kawannya yang sangat membenci manusia untuk tinggal di sini begitu terasa.


Teriakan Calliga memecah keheningan yang menyelimuti reruntuhan kota.


"LITHOS!!!" teriaknya dengan suara yang penuh kemarahan, sembari menendang reruntuhan bangunan dengan emosi yang membara.


Tendangan keras Calliga menghasilkan ledakan yang menggetarkan tanah di sekitarnya.


Seakan-akan gempa besar terjadi akibat kekuatan tendangan sang dewa naga primordial.


DUAR!


DUAR!


Kota yang dahulu ramai dan indah kini hanya sisa-sisa puing yang hancur berantakan.


Calliga harus menemui Lithos, dan dia harus meminta penjelasan tentang apa yang telah terjadi.


Tapi satu hal pasti, perasaan penyesalan dan kemarahan masih membara di dalam hatinya.


Sebas, putranya, sebelumnya sudah menciptakan keributan di guild petualang di kota ini, tapi Calliga telah tenang dan memaafkan tindakannya.


Namun, sekarang temannya, Lithos, tampaknya telah melakukan sesuatu yang lebih ekstrem daripada Sebas.


Ia telah menghancurkan seluruh kota manusia ini. Padahal, Calliga ingin melarikan diri ke dunia fantasi, menjalani petualangan, dan bersantai untuk menghilangkan semua beban pikirannya yang menumpuk di ruang kerjanya.


Dia merasa marah dan frustasi.


Semuanya telah berantakan, dan rencananya untuk menikmati liburan sejenak telah hancur berantakan bersama dengan kota ini.


Dalam kemarahannya yang meluap-luap, Calliga kembali menendang bangunan-bangunan dengan kekuatan dahsyat.


Bangunan-bangunan itu hancur berkeping-keping akibat tendangan-tendangan kerasnya, dan reruntuhan terlempar jauh dengan ledakan-ledakan besar.


"BAJINGAN!" Teriak Calliga dengan penuh emosi, menggambarkan betapa marah dan frustrasinya dia saat ini.


Sebas, yang berdiri di dekat ayahnya, hanya bisa menyaksikan dengan ketakutan.


Ia melihat ayahnya menghancurkan segalanya dengan kekuatan yang dahsyat, dan ini membuatnya merasa takut akan kemarahan yang sedang dialami oleh ayahnya.

__ADS_1


Semua rencana dan harapan Calliga telah hancur berantakan, dan saat ini, kekuatan penghancurnya memuncak dalam kemarahannya.


Sebas, meskipun ketakutan, berani mendekati ayahnya yang masih mengamuk.


Ia berbicara dengan penuh kehati-hatian, mencoba menenangkan Calliga yang tengah marah dan mengamuk.


"A-ayah, a-aku mo-mohon a-ayah ke-kembali te-tenang," ucap Sebas dengan suara yang gemetar, sambil mencoba merangkul bahu ayahnya.


"Ma-manusia pasti akan melihat ayah dan curiga akan penyamaran ayah, dan penyamaran ayah akan terbongkar."


Setelah mendengar kata-kata bijak dari putranya, Sebas, dan melihat ekspresi ketakutan dalam matanya, Calliga tiba-tiba merasa sepertinya ada yang salah dengan apa yang sedang ia lakukan.


Tendangan-tendangannya yang marah menghancurkan sekeliling, dan kini dia melihat reruntuhan yang menyelimuti kota manusia yang tadinya ingin ia nikmati dengan tenang.


Cahaya menyelimuti tubuh besar Calliga, seperti sedang mengalirkan ketenangan ke dalam dirinya.


Perlahan, amarah yang melanda hatinya mereda, dan ekspresi wajahnya yang awalnya marah berubah menjadi lebih tenang.


Dia menyadari bahwa tindakannya yang marah hanya akan menarik perhatian manusia dan memunculkan kecurigaan. Dan


Kini, Calliga sudah kembali kepada pikirannya yang tenang dan bijak.


Ketika Calliga melihat kehancuran di sekelilingnya, rasa menyesal mulai merayap ke dalamnya.


Ia menghela nafas dalam-dalam, merasa lega bahwa amarahnya telah mereda berkat bantuan putranya yang bijak.


Dalam gestur penuh kasih sayang, ia mengusap kepala Sebas, mengucapkan terima kasih kepada anaknya yang telah memberinya nasihat yang bijak sehingga ia tidak menghancurkan lebih parah.


"Terima kasih, putraku," ucap Calliga dengan suara lembut sembari tersenyum pada Sebas.


Dia merasa beruntung, untung saja sebas ikut, jika tidak mungkin ia akan menghancurkan kota manusia yang sudah hancur ini semakin lebih hancur jika dirinya tidak tenang.


Sebas, yang awalnya ketakutan, kini tersenyum bahagia karena mendapat pengakuan dan kasih sayang dari ayahnya.


Kepalanya yang diusap lembut oleh ayahnya membuat ketakutan nya sirna.


Namun, saat sebas sedang menikmati momen usapan kelembutan oleh calliga, suara banyak jeritan yang meminta tolong mulai memenuhi udara di kota yang hancur, sehingga usapan lembut tersebut berhenti dan membuat sebas sedih.


"TOLONG!"


"TO-TOLONG KAMI!"


"BA-BANTU KA-KAMI!"

__ADS_1


Jeritan tersebut datang dari penduduk yang masih bertahan, yang berusaha mencari pertolongan di tengah kehancuran yang pastinya tertimpa puing-puing.


__ADS_2