
Grandor dengan hati-hati menjelaskan kepada Sebas tentang sosok Dracorius yang sekarang berdiri di dekatnya.
Dia percaya bahwa Dracorius adalah Calliga, ayah Sebas yang selama ini disembunyikan darinya.
Mata Sebas memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh Grandor dengan seksama sembari memperhatikan ayahnya, dan rasa gembira memenuhi hatinya ketika dugaannya terbukti benar.
Ayahnya adalah Dewa Primordial yang legendaris, pencipta seluruh ras naga yang ada di dunia ini.
"Jadi selama ini dugaanku benar! Ayahku adalah Dewa Primordial!" gumam Sebas dengan kegembiraan yang meluap. Dia merasa puas karena kecurigaannya selama ini ternyata benar adanya.
Namun, rasa gembira Sebas segera berubah menjadi amarah ketika ia menyadari bahwa manusia dan iblis telah membantai ras naga yang ayahnya ciptakan di dunia ini.
Kemarahannya memenuhi pikirannya saat ia merenungkan kejadian-kejadian yang telah terjadi.
"Bajingan manusia dan iblis itu telah menghancurkan ras yang ayahku ciptakan! Jika tidak tentu saja ras kami akan kembali berjaya!" desis Sebas dengan penuh kekesalan.
Rasa kekecewaan dan kemarahan memenuhi hatinya saat ia memikirkan betapa kejamnya tindakan mereka.
Dalam kegelapan yang menyelimuti hatinya, Sebas merasa semakin kuat dan tak terkalahkan.
Dia merenungkan rencananya untuk membalas dendam atas penghancuran ras naga yang ia anggap sebagai keluarganya. Api dendam membara di dalam dirinya, siap untuk memulai perjalanan gelapnya.
Dengan penuh tekad, Sebas berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menghancurkan semua yang berani melawan ayahnya.
Sebas kembali penuh perhatian mendengarkan penjelasan tentang sosok Dracorius yang diyakini sebagai Calliga yang berdiri di dekatnya.
Sehabis itu grandor selesai menjelaskan kepada sebas mengenai sosok dracorius yang mereka kira adalah calliga yang sekarang didekatnya.
"Jadi seperti itulah tuan muda, Ayah anda sosok dewa yang kami sembah yang dijuluki bapak pencipta dari seluruh ras naga" ucap grandor telah menyelesaikan penjelasannya kepada sebas.
Dalam pikirannya yang gelap, Calliga merenungkan penjelasan Grandor tentang masa lalu ketika ras naga berjaya dan sekarang hanya tersisa sedikit.
__ADS_1
Namun, keraguan tetap menghantuinya. Apakah cerita tentang Dracorius hanyalah legenda? Apakah Grandor benar-benar mempercayai bahwa Calliga adalah Dracorius, sang pencipta ras naga?
"Dalam penjelasannya, Dracorius memiliki fisik yang mirip denganku. Tapi apakah itu cukup untuk menganggapku sebagai Dracorius? Apakah kisah ini benar-benar berdasarkan fakta atau hanya mitos yang tercipta dari kitab suci draconian? Yang ia katakan" gumam Calliga dalam keraguan yang semakin mengemuka.
Namun, entah mengapa, ketika Calliga memikirkan tentang kemiripan fisiknya dengan Dracorius, keraguan itu semakin memudar. Mungkin inilah alasan mengapa Grandor mempercayainya sebagai Dracorius.
Mereka percaya bahwa fisik yang serupa menunjukkan bahwa Calliga adalah pewaris sejati dari ras naga.
Calliga terdiam sejenak, merenung dalam kebingungannya. Apakah dia harus mengungkapkan kebenaran kepada Grandor?
Dia berpikir dengan sungguh-sungguh, mempertimbangkan segala kemungkinan dan konsekuensi yang mungkin terjadi jika ia melakukannya.
Namun, sebelum ia bisa membuat keputusan, Sebas datang dan menarik perhatiannya.
Dengan tatapan penasaran dan penuh pertanyaan, Sebas mengajukan pertanyaan yang membuat Calliga terkejut.
"Ayah, maafkan aku jika aku lancang bertanya, tapi mengapa kau menyembunyikan identitasmu sebagai Dracorius, sang dewa primordial?" tanya Sebas dengan lembut namun tajam.
Dalam kebingungannya, Calliga hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata, "Sejak kapan aku berkata bahwa aku adalah Dracorius kepadanya?"
Grandor, yang selama ini berlutut di dekat mereka, mendengarkan dengan seksama. Ia mencoba mencerna informasi baru yang ia dengar.
Calliga merenung dalam hatinya, mempertimbangkan apa yang sebaiknya dia katakan. Namanya dan spesiesnya memang memiliki kesamaan dengan Dracorius, dengan kata "Draco" di dalamnya. Mungkin, dia harus mengatakan sesuatu kepada mereka berdua.
Namun, Sebas dengan penuh kelembutan bertanya kepadanya, "Apakah Ayah baik-baik saja?" Suara Sebas penuh perasaan, mencerminkan kekhawatirannya yang tulus.
Calliga berjuang dalam hatinya, ingin berteriak dan mengatakan bahwa dia bukanlah sosok Dracorius.
Namun, melihat kebahagiaan dan kebanggaan yang terpancar dari wajah Sebas, dia merasa ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Sebas mempercayainya sebagai dewa primordial yang menciptakan ras naga di seluruh dunia.
Dalam sekejap, pikiran Calliga berputar dengan cepat, berusaha menyusun jawaban yang tepat. Dia tahu bahwa dia harus menciptakan jawaban yang meyakinkan.
__ADS_1
"jangan khawatir, anakku," kata Calliga dengan suara yang tenang.
Dia mencoba untuk menenangkan Sebas, meskipun di dalam hatinya dia merasa bersalah karena tidak mengungkapkan kebenaran.
Mereka berdua saling menatap, dengan perasaan yang rumit dan sulit diungkapkan. Calliga menyadari beban yang dia pikul sebagai sosok yang mungkin tidak pernah dia inginkan.
Calliga melanjutkan dengan penjelasan logis yang diambilnya dari sebuah cerita komik yang pernah dia baca.
Dia mengakui bahwa dia memang merupakan Dracorius, yang pernah disegel di suatu tempat dan membuat kekuatannya melemah.
Namun, dia berhasil bebas dan bersembunyi di tempat terpencil untuk mendapatkan kembali kekuatannya seperti sekarang.
Grandor dan Sebas sama-sama terkejut mendengar pengakuan Calliga. Mereka tidak bisa mempercayai bahwa ayah mereka telah disegel selama ini.
"DISEGEL?!!!" seru Grandor dan Sebas dengan kejutan yang besar.
Sebas, penuh amarah, berteriak, "Bajingan! Siapa yang berani menyegel ayah?!" Rasa marah dan kebencian memenuhi hatinya.
Grandor, sambil merenung, mulai menghubungkan titik-titik dalam pikirannya. Dia akhirnya menemukan jawaban yang selama ini dia cari.
"Jadi selama ini dewaku tersegel! Pantas saja dewaku tidak menolong kami semua dalam masa-masa sulit dulu kala," gumam Grandor dalam hati dengan sedih.
Dia teringat akan pembantaian yang dilakukan oleh ras iblis dan manusia terhadap seluruh ras naga, yang sangat ia benci.
"Tenang, anakku. Tidak perlu khawatir atau marah, karena masa lalu sudah berlalu. Tapi lihatlah, aku bebas dari segel dan bahkan semakin kuat dari sebelumnya! HAHAHAHAHAHA!" ucap Calliga kepada Sebas dengan suara yang bergetar.
Tertawa itu tiba-tiba datang dari dalam dirinya, terdengar aneh dan misterius. Calliga sendiri bingung dengan perubahan ini, seolah-olah ada sisi gelap dalam dirinya yang muncul setelah mencapai evolusi tingkat kedelapan.
Sementara itu, Sebas dan Grandor hanya diam, memperhatikan Calliga yang tertawa dengan suara yang menggetarkan jiwa.
Tak ada yang berani menanyakan tentang keanehan ini, tetapi Calliga langsung menatap tajam ke arah Grandor.
__ADS_1