
Mereka berdua terus adu mulut, menciptakan kekacauan yang tak terduga di ruangan lantai 1 dungeon.
Aku hanya bisa meratapi keputusan membawa Sebas bersamaku, sementara Lithos dan Sebas tampaknya tidak akan cepat berdamai.
perdebatan antara Sebas dan Lithos berlanjut dengan semakin memanas. Sebas, dengan nada sinis, menghujat Lithos yang tampak tua.
"Orang Tua? Ah, pantas saja kuping jadi-jadian itu tidak berfungsi dengan baik saat ayahku memerintahkan kepadamu!"
Sebas melanjutkan, "Sepertinya kuping kristalmu itu sudah ditumbuhi jamur dan kristal yang sudah melapuk selama ribuan tahun, karena sepertinya KAU SUDAH SANGAT TUA!" ucap Sebas dengan nada tinggi, membuat Lithos semakin meradang.
Lithos, yang kesal setengah mati oleh kata-kata Sebas yang cerewet, dengan ekspresi marah, menyahut balik.
"APAKAH YANG KAU BILANG KEPADAKU, BOCAH?! KAU BENAR-BENAR BOCAH YANG KURANG AJAR!"
Lithos melanjutkan,"APAKAH KAU TAHU AYAHMU SAMA TUA-NYA SAMA SEPERTIKU? ITU BERARTI KAU JUGA MENGHINA AYAHMU, BOCAH BODOH!" Kedua kepala mereka berdua hampir saling beradu, menciptakan adegan lucu yang tidak terduga.
Pertarungan kata-kata antara Sebas dan Lithos semakin seru.
Sebas merespon tantangan Lithos dengan penuh semangat, "Hah? Kau menyamai dirimu dengan ayahku?! Jangan terlalu percaya diri, pak tua! Ayahku adalah dewa besar yang selamat dari era 'Ragnarok', sedangkan kau apa? Tidur pulas menunggu ribuan tahun karena kau ditipu terlena oleh gadis cantik? Dasar om tua biadab!"
Lithos, yang tidak bisa mentolerir penghinaan tersebut, meraih kuping Sebas dengan keras, membuatnya meringis kesakitan.
"ANAK MUDA SIALAN! AKU BISA SAJA MEMBUNUHMU, NAMUN KAU ADALAH PUTRA KAWANKU. JIKA TIDAK, SUDAH KUBUNUH DARI LAMA, BOCAH BIADAB!" Lithos berteriak dengan nada marah yang memenuhi ruangan.
Sementara Sebas menahan sakitnya akibat ulah Lithos yang tak tahan dengan kritik pedasnya.
Aku menghela nafas lelah atas pertarungan kata-kata yang tak berkesudahan antara Sebas dan Lithos.
Sepertinya mereka tak pernah bisa berdampingan tanpa terlibat dalam perselisihan.
Bahkan sekarang ini, sebelum kami meninggalkan dungeon ini, mereka masih sibuk bertengkar seperti biasa.
Tatapan mereka berdua penuh amarah, dan aku merasa lelah hanya dengan melihat mereka terus bertengkar tanpa henti.
Sebas dan Lithos, sepertinya mereka memiliki masalah yang tak terpecahkan, dan ini hanya memperumit perjalanan kami ke dunia manusia.
Aku hanya berharap bahwa mereka dapat menahan diri selama perjalanan ini, meskipun harapan itu terasa sangat tipis.
"Kalau kalian berdua terus berkelahi saja, lebih baik kalian tidak ikut denganku, aku bisa pergi tanpa kalian yang membuang waktu-ku" ucapku dengan nada lelah.
__ADS_1
Aku merasa seharusnya tidak membawa Sebas, lupa bahwa dia selalu terlibat dalam cekcok dengan Lithos, yang sepertinya memiliki dendam padanya.
Tanpa menunggu reaksi mereka, aku segera mengenakan helm beratku dan bentuk Dragonoidku yang megah dan kini tertutupi dengan armor tebal.
Aku berlari menuju pintu keluar dungeon yang baru direnovasi dengan kecepatan yang luar biasa.
Dengan statistik kecepatanku mencapai 300, aku seperti kilat yang meluncur dengan cepat.
Shushh...
Dengan cepat, aku meninggalkan ruangan pertengkaran mereka berdua dan memasuki lorong-lorong gelap dungeon yang mengarah ke dunia manusia.
Sementara aku berlari cepat menuju pintu keluar dungeon, Lithos dan Sebas yang sedang bertengkar sepertinya melihatku pergi dengan cepat.
Mereka berdua seketika merasa panik, takut tertinggal di belakang.
Dengan tatapan cepat satu sama lain, mereka saling mengangguk.
Mereka tahu bahwa mereka tidak akan mampu mengejarku sendirian, mengingat kecepatanku yang luar biasa.
Sebas segera berubah menjadi bentuk naganya yang besar, sementara Lithos melepaskan penyamarannya sebagai manusia dan mengubah tubuhnya menjadi gumpalan kristal yang mengelilingi Sebas.
Dengan kerja sama yang tak terduga ini, mereka berdua bersiap untuk mengejar aku yang sudah jauh meninggalkan dungeonku.
Mereka berdua bergabung dan bekerja sama untuk mengejar aku yang sudah berlari dengan cepat.
"Jangan tinggalkan aku, Ayah!" teriak Sebas sambil terbang di belakangku.
Lithos yang tampak marah juga tidak kalah keras mengatakan, "Kau benar-benar membuatku kesal, Calliga!"
Aku dapat melihat mereka berdua mengejar aku di langit, terbang dengan cepat sambil berteriak-teriak.
Kesialanku telah memicu kemarahan mereka berdua, dan sekarang aku harus menunggu mereka agar bisa bergerak lebih lanjut dalam petualangan kami.
Saat itu juga, aku sengaja memperlambat langkahku agar Sebas dan Lithos bisa mengejarku.
Sebenarnya, aku ingin melihat sejauh mana mereka dapat bekerja sama.
Ketika mereka berhasil mengejarku, aku berhenti berlari di hutan lebat kematian yang masih jauh dari pemukiman manusia.
__ADS_1
Di sini, aku tahu kabar tentang Sebas dan Lithos yang bergabung menjadi semacam naga berarmor pesawat jet tidak akan sampai ke telinga manusia.
Aku tak ingin risiko apapun terjadi, dan melihat mereka dalam bentuk naga mecha adalah sesuatu yang pasti akan menimbulkan kehebohan di kalangan manusia.
Jadi, aku memilih berhenti di tempat yang jauh dari pemukiman manusia, sebelum kami melanjutkan perjalanan kami yang panjang ke dunia manusia.
Mereka perlahan mendarat di hadapanku, dan saat itu juga tubuh Lithos yang berbentuk sayap pesawat jet di tubuh naga Sebas dengan cepat berubah menjadi serpihan kristal kecil yang mendarat di tanah.
Dengan cepat, seluruh kristal menyatu kembali dan membentuk manusia kembali.
Aku memandang mereka dengan nada sinis saat aku berkata, "Apakah kalian masih ingin melanjutkan berkelahi? Kalau begitu, lebih baik kalian tidak ikut denganku."
Kemudian, aku menoleh ke arah Lithos, "Dan kau, Lithos. Apakah kau setuju dengan perintah dan larangan yang telah kusampaikan sebelumnya? Jika kau berani melanggarnya, ingat bahwa aku dapat dengan mudah mentransportasikanmu ke lantai 12 dan meninggalkanmu di sana."
Aku memberikan ancaman kepada Lithos, menekankan pentingnya kepatuhannya pada perintah yang telah kuberikan sebelumnya.
Lithos tampaknya sangat kesal padaku, namun akhirnya ia menyerah, "Sialan, Calliga! Baiklah, aku akan mengikuti perintah laranganmu!" ucapnya dengan nada kesal, akhirnya menuruti laranganku.
Lalu aku menatap dingin sebas, dan Sebas menjawab dengan takut, menatapku dengan penuh keresahan, "Ba-baik, a-ayah...", lalu sebas perlahan merubah bentuknya menjadi manusia kembali.
Dengan suasana tegang, kami melanjutkan perjalanan menuju kota manusia dengan kecepatan sedang.
Sebas dan Lithos masih menatap satu sama lain dengan rasa benci dan dendam yang jelas terlihat selama perjalanan kami.
Atmosfir yang tegang itu terus mengiringi kami, mengingat perselisihan antara mereka yang belum terselesaikan.
Kami tiba di gerbang pintu masuk menuju kota manusia setelah perjalanan yang panjang, dipimpin oleh Sebas.
Gerbang itu penuh dengan aktivitas manusia yang nampak sibuk dari kejauhan.
Sementara itu, aku melihat ekspresi dalam Lithos dalam bentuk manusia yang mengenakan jubah. Wajahnya terlihat emosional, seolah-olah ia memiliki keinginan untuk menghancurkan manusia.
Aku memberikan peringatan tegas padanya, "Jika kau mencoba mengamuk dan menghancurkan kota manusia, jangan harap kita masih akan menjadi teman, MENGERTI?!"
Lithos terdengar bergidik saat mendengar ancamanku, dan perlahan-lahan ia berhasil meredam emosinya saat melihat kota manusia yang ramai oleh penduduknya.
Dia menghela nafas dan menjawabku dengan pelan, "Sesuai perintahmu, kawanku."
"Bagus! Kalau begitu, mari kita masuk ke kota manusia," kataku semangat kepada Lithos, berharap bahwa dia bisa mengendalikan dorongan emosinya selama kami berada di kota manusia.
__ADS_1