
Aku mengangguk dan memberi izin kepada Sariel untuk bertanya.
Dengan kerudung panjangnya menyentuh lantai, Sariel dengan lembut menundukkan kepalanya dan bertanya.
"Tuanku, maaf jika pelayanmu satu ini lancang untuk bertanya kepada tuan, tuan, bolehkah aku bertanya kepada?" Suaranya lembut dan hormat, menambahkan aura misteri pada pertanyaannya.
Aku mengizinkannya dan ia mengangkat wajahnya dan aku melihat wajahnya memerah bagaikan tomat.
Aku tak bisa menahan keanahen kecil di hatiku, memikirkan betapa lucunya dia terlihat dengan kerudung pengantin yang panjang.
"Hmm, aku baru tahu kalau wajah dia putih pucat kemerahan bagaikan tomat," gumamku sendiri dalam hati.
Sariel kemudian dengan lembut bertanya, "Tu-Tuan, apa yang terjadi kepada tuan sebas sehingga ia bisa terluka parah, bukankah tuan sebas sangat kuat mengapa ia bisa terluka parah seperti tadi, apakah ada musuh yang sangat kuat sehingga tuan sebas bisa terluka parah seperti tadi?"
Sariel sepertinya mengira luka parah sebas sebelumnya adalah hasil dari pertarungan sengit melawan musuh yang kuat.
Namun, dia tidak tahu bahwa luka itu adalah akibat dari ulah bodohku yang telah menyakitinya, menyebabkan bahu sebas terluka parah dan retak.
Namun, saat ini, berkat dia, sebas sudah sembuh total, dan aku merasa lega.
Aku hendak menjelaskan bahwa itu adalah salahku karena telah melukai Putraku sendiri, tetapi kata-kataku terpotong oleh ucapan Sebas.
Sebas dengan bijak menjawab pertanyaan Sariel dan menutupi cerita asli.
Sariel memandangku, beralih pandangannya kepada Sebas yang terbaring di ranjang.
"Jangan khawatir, ini karena kebodohanku," ucap Sebas dengan senyum tulus, menciptakan kebohongan untuk menutupi kejadian sebenarnya.
"Aku terluka parah tadi karena berlatih keras dengan ayahku. Bodohnya, aku meminta ayahku untuk menggunakan seluruh kekuatannya tanpa menahan saat latihan bersamaku."
Sebas kemudian menoleh padaku dengan senyuman hangat.
Sementara itu, aku hanya bisa memandang Sebas, mendengar kebohongannya untuk melindungiku.
Mungkin Sebas tidak ingin yang lain tahu bahwa aku bisa menjadi penguasa yang kejam dan ganas, yang bahkan melukai anak buahnya sendiri, dia tidak ingin para bawahanku takut kepadaku.
Ah, Putra-ku yang satu ini. Meskipun aku telah melukainya dengan begitu parah hingga dia terluka parah, Sebas masih bersedia melindungiku.
__ADS_1
Aku merasa bahwa suatu saat aku harus meluangkan lebih banyak waktu dengan anak-anakku, terutama Sebas.
Sementara itu, Sariel mendengarkan penjelasan Sebas dan benar-benar percaya padanya.
Dia tahu betapa kuatnya aku, sehingga penjelasan Sebas terdengar masuk akal baginya.
"Eeh?? Tindakan yang Anda lakukan sangat nekat, tuan!" ucap Sariel dengan terkejut, heran, dan bahkan sedikit terkejut, sehingga gambar kelelawar yang tersemat pada gaun pengantinnya perlahan keluar dan beterbangan di langit-langit kamarnya.
Sebas hanya tersenyum kepada Sariel, "Ya, aku memang nekat dan bodoh, berani melawan ayahku sendiri."
Aku memecahkan percakapan antara mereka berdua, "Apakah kau sudah membaik, putraku?" ucapku kepada Sebas sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
Sebas sangat kegirangan dan tersenyum bahagia kepadaku, wajahnya memerah karena senang aku memperhatikannya.
"Jangan khawatir, Ayah! Aku sudah sembuh sepenuhnya," ujarnya dengan semangat.
Namun, ketika aku berhenti mengusap kepalanya, aku merasakan ada kesedihan dalam dirinya, seakan-akan ia ingin aku mengusap kepalanya lagi.
Sebas dengan lincah memutarkan pergelangan tangan dan memutar bahunya, sepertinya ia tidak merasakan sakit karena sudah sembuh total. Aku melihatnya dengan senang hati.
"Bagus, jika begitu, aku akan pergi untuk melanjutkan misiku di kota manusia," ucapku kepadanya.
Ia mengambil kemeja putih dan jas hitamnya yang sudah kuletakan di meja dekat ranjangnya. Dengan perlahan, ia mengenakan kemeja putihnya dan mengancingkannya, lalu memakai jas hitam kembali.
Saat Sebas telah selesai berpakaian, ia dengan cepat berjalan kepadaku dengan semangat yang menggebu.
"Baik, Ayah! Aku sudah sembuh, jadi jangan khawatir tentangku," ucapnya, seolah-olah ia sudah bersiap untuk kembali ke kota manusia bersamaku.
Aku segera memberikan tanggapanku, "Tidak, Putraku, kau tidak akan ikut bersamaku. Kau lebih baik beristirahat terlebih dahulu di rumah sampai kau benar-benar pulih," ucapku sambil menaruh satu tanganku di pundak kanan Sebas.
Saat itu, aku merasakan semangat Sebas memudar, dan matanya berkaca-kaca menahan tangisannya.
"Ta-tapi, Ayah, a-aku sudah sembuh total tanpa cedera sedikit pun. A-aku mo-mohon Ayah izinkan aku kembali ikut bersama Ayah. Aku berjanji, demi Ayah yang agung, aku tidak akan mengacaukan rencana Ayah," ucap Sebas dengan ekspresi sedih, napasnya terengah-engah.
Air mata mengalir deras dari mata Sebas, dan ia tidak bisa menahan tangisannya. Air mata ini seperti tumpahan perasaannya yang dalam.
Aku, yang melihat Sebas menangis seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainan dari ayahnya, hanya menghela nafas panjang sambil menatapnya.
__ADS_1
Dalam usaha untuk menemukan keseimbangan antara kekuasaan dan kepemimpinan sebagai ayah, aku berusaha menahan emosiku yang kadang-kadang mengambil alih diriku.
Sepertinya mulai dari sekarang, aku harus menuruti keinginan mereka, bahkan jika itu memaksa aku untuk lebih sabar dan penuh pengertian, terutama kepada Sebas yang saat ini tampak sangat manja dan sensitif.
"Sudah... Sudah..." ucapku dengan lembut, memeluk Sebas bagaikan seorang bocah kecil yang menangis.
Aku mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang, sadar bahwa peran seorang ayah memang memerlukan kesabaran dan pengertian yang lebih dalam.
Sariel menangis dengan hebat, air mata mengalir dengan lebay, dan aku hanya bingung melihat reaksi emosionalnya.
Sementara itu, aku masih memeluk Sebas, yang mendongakkan kepalanya padaku sambil terisak tangis dengan wajah yang benar-benar basah oleh air mata.
"A-ayah, bo-boleh kau a-aku i-ikut be-bersama a-ayah," kata Sebas dengan suara terbata-bata karena nafasnya tak beraturan.
Aku memandang wajahnya yang penuh dengan kesedihan, dan meskipun aku agak terkejut oleh permintaannya, aku akhirnya mengalah demi menurunkan ego.
"Baik... Baik... Baik... Jangan khawatir, kau akan kembali ikut bersamaku," ucapku dengan lembut pada Sebas.
"Su-sungguh, ayah?!" Sebas hampir tidak percaya pada kata-kataku.
"Ya, jadi berhentilah menangis," balasku, sambil masih memeluknya.
Sebas dengan cepat mengelap air matanya dengan sapu tangannya, dan aku bisa merasakan dia berhenti menangis.
Sementara itu, Sariel yang sebelumnya juga menangis, perlahan mengelap air matanya saat dia tersadar aku memandangnya.
"Sariel!"
"Ba-baik tuan!" ucap sariel dengan tegas.
"Kalau begitu, aku akan kembali melanjutkan misi di kota manusia bersama putraku. Jagalah baik-baik lantai ini saat aku tidak ada," ucapku kepada Sariel, yang masih mengelap air matanya dengan tangannya.
"Sesuai titah Anda, Supreme One!" ucapnya kepadaku, suaranya masih terisak oleh tangis.
Aku hanya mengangguk sebagai balasan. Kemudian, aku merapal skill teleportasiku sambil tetap memeluk Sebas.
"[Teleportation]!" Ucapku dengan lantang di dalam kamar Sariel.
__ADS_1
Ruangan itu seakan bergema oleh kata-kataku, dan banyak kelelawar yang tidur di langit-langit kamar Sariel terkejut dan beterbangan ke segala arah.
Tubuhku dan Sebas dipenuhi cahaya yang terang, dan saat itu juga, kami menghilang dari kamar Sariel, berteleportasi menuju kota manusia yang bernama Arbandir.