
...***Karina Pov***...
Aku melangkah dengan bergandengan tangan bersama adik kecilku, Luna.
Wajahnya berbinar-binar setelah aku memberitahunya bahwa orthros, hewan peliharaannya, bisa hidup kembali jika mengikutiku.
Kami berdua berjalan menuju tempat yang "rahasia" menurutku, walaupun sebenarnya aku hanya bercanda dan mengatakan begitu kepada Luna.
Kami berjalan di dalam dungeon yang luas ini, lantai demi lantai, hingga akhirnya sampai di lantai 10.
Inilah tempat yang sakral bagi kami, karena di sinilah ruangan ayah kami berada.
Tapi jujur saja, aku hanya sedang menjahili Luna. Aku tahu tempat ini bukanlah "rahasia", tetapi aku ingin memberikan sedikit kejutan padanya.
Siapa tahu, mungkin suatu hari aku bisa membawanya ke tempat yang benar-benar rahasia.
Tiba-tiba ekspresi wajah Luna berubah menjadi cemberut lagi, dan dia tak ragu untuk menyuarakan kekecewaannya, "Hey, sis! Kau bilang kita akan pergi ke tempat rahasia!"
Aku dengan senyum manis berusaha meredakan kekesalan adikku, "Iya, ini memang tempat 'rahasia' yang kumaksud."
Namun Luna tak menyerah begitu saja, dia menyampaikan rasa curiga dan kebingungannya, "Tapi tempat ini adalah lantai di mana Papa tinggal, sis..."
Sambil tetap tersenyum, aku memberikan penjelasan, "Betul, itulah sebabnya aku ingin melaporkan keberhasilanku dalam menghadapi penyusup dan memintanya untuk menghidupkan kembali Orthros, hewan peliharaanmu."
Namun, senyum di wajah Luna semakin memudar, dan ekspresi datarnya mengambil alih.
Dia mengeluarkan perasaannya dengan suara rendah, "Tapi, sis... Aku sebenarnya tidak ingin bertemu Papa sekarang... Aku merasa telah mengecewakannya... Aku merasa malu berada di hadapannya..."
Dengan penuh keyakinan, aku merangkul Luna dengan tegas sambil menjelaskan, "Luna, ini bukanlah kesalahanmu sepenuhnya. Seratus persen tanggung jawabnya pada serangga-serangga rendahan itu. Ini bukan salahmu, adikku. Ayah pasti tidak akan marah, bahkan dari kesalahan ini, kau bisa belajar untuk lebih mematuhi perkataan ayah dan tidak meragukannya lagi."
Luna menatapku dengan pandangan yang penuh keyakinan dan menggenggam tanganku dengan erat.
Kami melanjutkan langkah di lantai 10, tempat ayah kami berada.
Lantai 10 ini begitu luas dengan berbagai macam ruangan yang besar.
Dindingnya didominasi oleh nuansa hitam-putih-gelap yang menciptakan suasana misterius. Tampaknya ayahku memiliki selera yang condong pada warna-warna gelap.
Seluruh lantai ini mengalami renovasi besar-besaran yang dirancang oleh saudara tertuaku, Sebas.
Ini terjadi saat ayah kami beristirahat yang cukup panjang. Anehnya, ayah tampaknya tak memiliki masalah dengan perubahan drastis yang dilakukan oleh Sebas.
Kami terus berjalan, memandangi indahnya ruangan-ruangan yang begitu elegan di lantai ini.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami berdua, aku dan Luna, tiba di depan pintu besar yang memimpin ke ruang tidur ayahku.
Dengan pandangan penuh perhatian, aku menatap Luna yang berdiri di sampingku, masih ragu untuk melangkah masuk ke dalam kamar ayah.
Sepertinya kegelisahannya masih muncul, meskipun aku sudah meyakinkannya sebelumnya bahwa ayah tidak akan marah padanya.
"Apa kau sudah siap?" ucapku sambil menatap Luna dengan penuh pengertian.
Luna hanya mengangguk, memberikan isyarat bahwa dia siap untuk melangkah masuk. Dengan hati-hati, aku mengetuk pintu kamar ayah dengan cepat.
Tokk...
Tok...
Tok...
Setelah beberapa saat menunggu, pintu kamar ayah terbuka dengan perlahan. Dan di depan kami, terlihat saudara ku, Vael, yang sedang dengan ramah membuka pintu untuk kami.
Sebelum aku memasuki kamar ayah, Vael bertanya padaku dengan penuh rasa ingin tahu, "Apakah kau sudah menghabisi para penyusup manusia? Ayah tadi bertanya kepadaku."
__ADS_1
Tanggapanku pun cepat datang, "Tentu saja, aku sekarang ingin melaporkan kepadanya."
Vael tampak lega mendengar jawabanku, dan dia pun mengijinkanku untuk masuk ke dalam. Namun, rasa keingintahuannya belum terpuaskan, dan dia bertanya lebih lanjut, "Mengapa kau membawa Luna kemari?"
Aku melihat ke arah Luna, yang tengah tenang di sisiku.
"Hewan peliharannya hancur akibat penyusup, aku mengajaknya kemari untuk menghibur dia dan siapa tahu ayah bisa menghidupkannya kembali."
Vael mengangguk, memahami situasi, dan kemudian mendekati Luna dengan penuh perhatian. Dia menunjukkan sisi perhatian dan kepeduliannya yang tak terduga, saat tangannya mengusap lembut kepala Luna.
"Ah begitu," katanya sambil tersenyum, seolah merasa lega karena mengetahui alasan di balik kedatangan Luna.
Nampaknya Vael juga peka terhadap perubahan emosi adiknya yang biasanya begitu aktif dan cerewet.
Setelah beberapa saat, kami bertiga akhirnya memasuki kamar ayah kami dengan penuh rasa hormat.
Pandangan kami langsung tertuju pada ayah yang terletak di kasur raksasanya. Sesaat terasa tatapan tajamnya menyapuku, tapi entahlah, mungkin perasaanku saja.
Dalam langkah hati-hati, kami mendekati ayah dengan penuh hormat.
Begitu sampai di hadapannya, kami dengan cepat berlutut dan menundukkan kepala, menunggu perintahnya.
"Angkatlah kepala kalian," terdengar suara tegas dan penuh kebijaksanaan dari ayah.
Kami melakukannya dengan cekatan, mengangkat kepala kami satu per satu. Saat kami memandang ayah kami, suasana di ruangan ini semakin terasa tegang.
Wajahnya tampak serius, dan fokus matanya seperti tertuju padaku.
Sambil menunggu perintah ayah, pikiranku tiba-tiba melayang ke kata-kata yang pernah diucapkan oleh saudara tertuaku, Sebas.
Aku ingat bagaimana dia pernah berkata kepada ku mengenai ayah adalah dewa naga kuno primordial.
Dia adalah salah satu dewa yang berhasil bertahan melewati zaman "Ragnarok" dan masih hidup sampai sekarang.
Saat itu, ia menjelaskan bahwa era itu terjadi puluhan ribu tahun yang lalu. Seluruh dewa yang kuat dan manusia terlibat dalam pertempuran epik, di mana mereka saling berhadapan dalam pertarungan dahsyat.
Suatu waktu, manusia dan dewa bahkan terlibat dalam peperangan besar-besaran.
Mendengar cerita ini, kagum melanda hatiku terhadap ayah. Tak heran bahwa dia begitu kuat dan penuh kebijaksanaan.
Ternyata, dia adalah dewa naga kuno yang telah hidup selama ribuan tahun. Semakin jelas mengapa kekuatan dan pengetahuannya begitu dalam.
Sebas melanjutkan penjelasannya, mengungkapkan bahwa ayah sengaja memilih untuk tinggal di bawah tanah, sebagai tempat beristirahatnya yang panjang untuk memulihkan kekuatan.
Saat aku diciptakan oleh ayahku kedalam dunia ini, kebingungan merayap di benakku.
Mengapa ayahku memilih untuk tinggal di dalam dungeon ini, tempat yang penuh kotoran dan kejijikan?
Tapi penjelasan dari saudara tertuaku, Sebas, membuka mataku. Ayahku bersembunyi di dalam tanah ini untuk beristirahat tanpa gangguan dan menyamarkan identitasnya sebagai dewa naga kuno.
Meskipun penjelasan itu cukup masuk akal, aku tetap merasa bingung mengapa ayahku perlu menyembunyikan dirinya.
Namun, aku yakin bahwa ada alasan kuat di balik tindakannya. Mungkinkah dia masih memiliki musuh dewa bebuyutannya yang kuat yang membuatnya perlu bersembunyi dan mengumpulkan energi di dalam dungeon ini?
Tapi tak ada yang pasti.
Saat ini, kami hanya bisa menunggu perintah ayah. Kami bertiga berdiri di hadapannya, menatap wajah seriusnya dengan penuh harap.
Aku melihat kebijaksanaan dan kekuatan dalam aura ayahku yang memancar di sekitarnya. Meskipun usianya telah mencapai puluhan ribu tahun, bahkan lebih, dia masih tampak bugar dan tampan.
Aku tak bisa menahan rasa bangga menjadi ciptaan dan anak dari ayah seperti dia. Sungguh, menjadi pelayan dan anaknya adalah suatu kehormatan yang tak ternilai.
Dalam hatiku, aku bersyukur memiliki kesempatan untuk mengabdi dan belajar dari seorang dewa naga kuno yang begitu luar biasa.
__ADS_1
Namun, dalam diamku, aku merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal.
Apa sebenarnya yang ayah rencanakan di masa depan?
Dan siapakah musuh-musuhnya yang begitu kuat sehingga dia harus bersembunyi?
Hanya waktu yang akan menjawab semua pertanyaan ini.
"Bicaralah," perintah ayahku terdengar tegas dan kuat, mengindikasikan bahwa waktunya telah tiba untuk memberikan laporan.
Aku berniat memberitahunya tentang para penyusup serangga rendahan yang telah kuatasi sebelumnya, keyakinan membuncah dalam diriku.
Namun, sebelum aku bisa mengeluarkan sepatah kata pun, suara berat ayahku kembali bergema, kali ini dengan amarah yang memukau, "SERANGGA!" Tampaknya, ayahku telah mengetahui alasan kedatanganku.
Ucapan keras dan penuh amarah itu mengisyaratkan betapa ia membenci makhluk-makhluk manusia rendahan seperti serangga.
Aku hanya bisa menyembunyikan senyuman di balik tindakan manis yang kutunjukkan kepadanya.
Dengan cepat, aku memberikan laporan mengenai para penyusup serangga rendahan yang telah kuhabisi dengan sukses di lantai 5.
Namun, ketika aku menatap ayahku setelah memberi laporan, ia hanya memandangku dengan tatapan tajam.
Meskipun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, aura keberadaannya memberi tahu bahwa ia memiliki banyak pertimbangan dan pemikiran yang tak terucapkan.
Ah, sepertinya ayah sama seperti diriku. Kita berdua memiliki perasaan yang sama terhadap serangga rendahan.
Situasi semakin aneh saat ayah terus menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rasanya seperti ia memiliki banyak pertimbangan yang tak terucapkan, membuatku merasa tidak nyaman di bawah pandangannya yang tajam.
Namun, untung saja aku memiliki bukti atas tindakanku.
Dengan cepat aku mengambil ketiga tubuh penyusup serangga yang masih aku simpan dalam ruang dimensi penyimpananku.
Aku tidak ingin jejak-jejak mereka mengotori kamar ayahku yang megah.
Aku meminta adikku, Luna, untuk mengaktifkan sihir apung agar mayat-mayat serangga itu tidak menyentuh lantai kamar ayahku.
Ketika aku mengeluarkan tubuh-tubuh penyusup itu, mereka mengapung di udara ruangan, jauh dari area yang bersih.
Namun, respon ayahku tetaplah diam.
Tatapannya tertuju pada ketiga mayat yang mengapung, namun ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Apakah ia tidak puas dengan kinerjaku?
Ataukah ada keraguan dalam pikirannya mengenai jumlah mayat yang hanya tiga ini?
Aku memutuskan untuk mengatasi keraguannya.
Dengan percaya diri, aku berbicara kepada ayah, "Ayah, jangan khawatir. Aku tahu bahwa ayah mungkin mencari kedua sisa serangga. Tapi kedua serangga rendahan itu juga sudah kuhabisi. Tidak ada lagi jejak mereka."
Kata-kata itu keluar dari mulutku dengan kebanggaan yang terasa.
Aku mencoba memastikan ayah bahwa aku telah menyelesaikan tugas dengan baik.
Namun, ayah tetap bungkam.
Ekspresinya tetap serius, dan ia tidak memberikan petunjuk apapun tentang apa yang ia pikirkan.
Entah apa yang sedang berputar di dalam pikirannya yang kuat dan bijak.
Tatapan ayahku yang tajam terasa seperti menusuk ke dalam diriku, dan aku semakin bingung menghadapinya.
__ADS_1