Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Relax / Rileks


__ADS_3

Hades dan Luna masih santai berteduh di pohon besar, menikmati angin sepoi yang menyegarkan. Tiba-tiba, Hades melihat sesuatu yang mencurigakan di bajunya Luna.


"Hey, Pendek! Apa itu yang ada di bajumu? Itu bergerak-bergerak," ucap Hades sambil menunjuk ke arah baju Luna.


"Diamlah, bodoh! Tidak usah bercanda!" balas Luna dengan kesal.


"Lihat dulu, bodoh!" tantang Hades dengan nada kesal.


"Tidak mau! Aku tahu kau pasti sedang iseng, bocil!" bantah Luna dengan tegas.


"Kalau begitu, terserah kau saja, PENDEK! CIH!" ucap Hades sambil memalingkan wajahnya dari Luna.


Hanya tertawa kecil, Luna menutup mata dan bersandar di pohon, menikmati angin sepoi yang melintasinya. Hades mencoba untuk melakukan kejahilan, tapi nampaknya tidak berhasil kali ini.


"Hahaha, kejahilanmu yang klasik gagal, bocil," goda Luna sambil terus menikmati momen santainya.


Tiba-tiba, Luna merasakan sensasi yang aneh di tubuhnya, seakan ada yang menggeliat dan membuatnya gatal.


Dalam sekejap, dia menyadari bahwa tubuhnya dipenuhi oleh kelabang. Terkejut dan panik, Luna berteriak histeris, "KYAAAAAAAAA!" dan dengan cepat melompat dan berlarian sambil mencoba melepaskan kelabang yang menempel di tubuhnya.


"AKU BENCI SERANGGA! TOLONG AKU, KAK SEBAS! TOLONG AKU, BOCIL!" serunya panik, berteriak dan berlarian tanpa henti. Kelabang-kelabang itu tampaknya sangat suka dengan tubuh Luna yang hangat.


Hades hanya menatap Luna yang berusaha melepaskan kelabang dengan panik dan ketakutan, dan dia tidak bisa menahan tawanya yang pecah. Terbahak-bahak, dia menikmati momen ini sambil melihat Luna yang panik.


"Sudah kukatakan padamu, tapi kau tidak mau mendengarkannya, dasar pendek!" ucap Hades sambil menggelengkan kepala dengan kesal, tetapi senyum kepuasan terpancar di wajahnya.


"Oh, jadi kau takut serangga, huh?" ejek Hades dengan senangnya, tetapi Luna yang masih panik dan menangis tidak menghiraukannya.


Aleister, yang awalnya merasa kesal dengan perilaku adiknya, melihat Luna berlarian dan berteriak panik meminta tolong. Namun, dia memutuskan untuk mengabaikannya, masih membawa kekesalannya.


Sebas, dari kejauhan, melihat adiknya berlarian histeris dan merasa khawatir. Dia bergumam dalam hati, "Apa yang terjadi dengan anak ini? Mengapa dia memanggilku?" dan dengan cepat, Sebas mendekati Luna yang berlarian dengan panik.


Saat ia melihat Luna yang dikerubungi oleh kelabang, Sebas menghela nafas panjang. Dengan sigap, ia mulai menghapus satu per satu kelabang yang menempel di tubuh Luna.


Beberapa menit kemudian, seluruh kelabang telah dihapus dari tubuh Luna. Sebas dengan tegas menginjak kelabang tersebut hingga mati.


"Sudah, tidak usah menangis lagi. Tidak ada lagi kelabang di tubuhmu," kata Sebas sambil mengusap kepala adiknya, Luna.

__ADS_1


Luna pun menangis sambil memeluk Sebas. "Terima kasih, Kak. Aku takut dengan serangga," ucap Luna sambil terisak.


Sebas hanya tersenyum lembut kepada adiknya dan mengusap kepala Luna dengan lembut. Dia mengerti ketakutan adiknya dan berusaha menenangkannya.


Perlahan, suasana kembali tenang. Sebas, Luna, dan Hades berkumpul kembali di bawah pohon besar, sementara Aleister yang masih kesal memutuskan untuk menyendiri sejenak.


Sebas menatap Hades dari kejauhan dan mengajukan pertanyaan, "Hades, mengapa kau tidak membantu kakakmu tadi?"


Hades menjawab dengan rasa kesal, "Aku sudah memberitahu si pendek sebelumnya, namun dia tidak percaya padaku. Jadi, itu salah dia sendiri! , Kak!"


Sebas menghela nafas lagi, merasa sedikit kecewa dengan sikap Hades. Namun, saat itu ia merasakan sesuatu yang besar mendekat. Ia melihat sekitar namun tidak melihat apa pun secara fisik.


Dari kejauhan, Aleister mendekat kepada Sebas dengan wajah serius. "Kak, ada sesuatu yang mendekat ke arah kita," ucap Aleister.


Sebas hanya mengangguk sebagai tanda pengertian kepada adiknya, Aleister, dan berkata, "Ya, aku juga merasakannya."


Tiba-tiba, terjadi getaran di bawah tanah seperti gempa. Sebas segera menyadari bahaya dan berkata, "Awas, lompatlah dari sini!" Ia menggendong Luna dan melompat menjauh dari tanah tersebut.


Duar...


Duar...


"SSSSHHHIII!!......SSSSSHHHIIIII" terdengar suara seram dari kelabang tersebut.


Kelabang raksasa tersebut menyerang dengan ganas, dan Aleister dan Hades siap melawan dengan kekuatan sihir mereka.


Namun, Sebas menghentikan mereka dan berkata, "Jangan keluarkan sihir kalian dan jangan serang! Biar aku saja yang menghadapinya."


Dengan tegas, Sebas menggendong Luna dan meminta Hades untuk menjaganya. Aleister dan Hades menuruti perintah kakak mereka dan siap melindungi Luna.


Kelabang raksasa mendekati Sebas dengan cepat, dan terdengar suara tabrakan yang kencang saat kelabang menyerang.


Namun, Sebas masih berdiri tegar meski diserang oleh kelabang tersebut. Dia mencoba memukulnya dengan kekuatannya, namun kelabang raksasa itu tidak mati.


Sebas mengamati dengan cermat dan menyadari bahwa kelabang tersebut memiliki kulit yang tebal seperti baju besi.


Kelabang tersebut menggeliat semakin gila dan mengeluarkan suara seram, "SSSHHIII!!..... SSSSHHIIII!!!"

__ADS_1


Sebas memutuskan untuk menghindari serangan kelabang raksasa tersebut dan berlari menjauh. Ia memikirkan strategi baru untuk menghadapinya. "Aku harus mencari celah di kulitnya yang tebal itu," gumam Sebas sambil berpikir.


Sebas, yang ingin menjaga keberadaannya tetap tersembunyi dari dunia luar, memutuskan untuk menggunakan strategi yang lebih bijaksana. Ia meminta Aleister untuk menggunakan sihirnya yang dikenal sebagai [Silent Magic].


Aleister dengan cepat merapal mantra dan mengaktifkan [Silent Magic]. Area sekitar mereka menjadi hening, bebas dari suara. Dengan lingkungan yang kedap suara, Sebas merasa lebih aman untuk menggunakan kekuatannya.


Sebas mengeluarkan skill andalannya, [Iron Palm]. Tangan kirinya berubah menjadi keras seperti besi, memberikan kekuatan yang luar biasa pada pukulannya. Dengan gerakan yang presisi, ia melayangkan tinju ke arah kelabang raksasa.


DUARR!!!


Terjadi ledakan yang hebat, tetapi berkat [Silent Magic] yang digunakan oleh Aleister, ledakan itu tidak terdengar di sekitar mereka. Hanya mereka yang berada di dalam area yang diberkahi oleh sihir tersebut yang bisa mendengarnya.


Kelabang raksasa itu hancur berkeping-keping setelah terkena pukulan dahsyat dari Sebas. Tubuhnya menjadi puing-puing dan tumpahan lendir hijau menyeramkan terlihat di sekitar.


Prok.. Prok... Prokk...


Sebas segera menepuk-nepuk tangan dan mengibas-ngibaskan tangannya yang telah bersentuhan dengan kelabang itu. Ia ingin membersihkan diri dari lendir yang menjijikkan itu.


"Akh, lendir kelabang ini benar-benar menjijikkan," gumam Sebas sambil berusaha menjauhkan lendir dari tubuhnya.


Hades dan Luna terkesima melihat kehebatan kakak mereka, Sebas. Mata mereka berbinar-binar ketika melihat aksi keren kakak mereka, Sebas.


"Wow, luar biasa!" ucap mereka berdua dengan kagum.


Luna dengan sedih menambahkan, "Meskipun kami berlatih dan mencoba menjadi kuat, tetap saja kami jauh di belakang kak Sebas, dalam hal kehebatan dan kejeniusannya."


Hades mengangguk setuju dengan perkataan Luna. Mereka merasa terinspirasi oleh kemampuan Sebas, tetapi juga merasa sedikit cemas dengan perbedaan kekuatan di antara mereka.


Aleister mematikan sihir [Silent Magic]-nya setelah Sebas memberikan instruksi. Suara kembali mengisi lingkungan sekitar mereka.


Sebas menepuk tangannya, mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan. "Baiklah, sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan," ucapnya kepada ketiga adiknya.


Beberapa jam kemudian, mereka berhasil melewati Hutan Elysian dan terus berjalan tanpa bertemu siapa pun.


Namun, beberapa saat kemudian, mereka melihat sebuah kota di kejauhan.


"Sepertinya itu adalah kota yang kita cari," ucap Sebas dengan yakin.

__ADS_1


Mereka menemukan sebuah kota, tempat manusia hidup bersama.


__ADS_2