Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - 85


__ADS_3

Pada saat sebelumnya, aku terhantam oleh boss dungeon, Lithos, sang raksasa kristal.


Saat itu, aku dengan cepat mengaktifkan skill baruku, [Reality Phasing], yang membuatku seperti hantu yang dapat menembus serangan lawan.


Dan aku berhasil menembus hentakan tangan serigala raksasa tersebut. Namun, ironisnya, aku menemukan diriku tengah menembus lantai yang tak terduga.


Aku jatuh dengan cepat dan kepanikan melanda.


Suara "shushhh..." terus menggema dalam benakku seiring dengan rasanya jatuh bebas tanpa kendali.


Saat aku terjatuh menembus lantai seperti hantu yang meluncur ke dalam kedalaman.


Kegelapan menyelimuti segalanya, tanpa secercah cahaya yang bisa kuharapkan.


Dalam kegelapan yang mencekam, aku berefleks dan dengan sigap menggerakkan sayap-sayapku dengan cepat, berusaha menghentikan laju jatuhku.


Aku masih mempertahankan [Reality Phasing], yang membuatku menembus benda di sekitarku, termasuk lantai yang kini aku tembus.


Suara "shushh..." masih terdengar, dan aku merasa seperti dalam perjalanan aneh yang lebih mirip dengan roller coaster supernatural.


Dalam upaya untuk bangkit dari tempat gelap ini, aku menggerakkan sayapku dengan lebih keras, berharap bisa terbang ke atas.


Setelah melayang dalam kegelapan yang tampak tak berujung, aku terus menerus terbang ke arah yang kupercayai sebagai atas.


Namun, dalam setiap gerakku, aku hanya menemui kegelapan yang membisu, seperti menjelajahi dunia tanpa cahaya.


Dalam keputusasaan dan panik yang merayap, kata-kata spontan keluar dari bibirku, "Sial! Bagaimana aku bisa terjebak begini?" Teriakan itu hanya terdengar bergema dalam kehampaan yang mencekam.


Aku merasa seperti pahlawan yang telah masuk ke dalam cermin, tetapi kali ini cermin itu tidak memberi jalan keluar.


Gelapnya begitu pekat sehingga aku bisa merasakan beban pikiranku semakin berat.


Seakan-akan aku tenggelam dalam laut kekosongan.


Waktu terasa melambat di tempat ini, dan aku mulai merasa seperti aku sendiri yang sedang mengendalikan aliran waktu ini.


Aku bergulat dengan pikiran dan perasaan yang mulai merayap ke dalam ketidakpastian.


Dalam dunia tanpa cahaya ini, aku terombang-ambing seperti daun kering di angin. Aku tidak lagi tahu arah atau tujuan apa yang harus kutuju.


Meskipun aku terus terbang, langit-langit kegelapan terus menghadang.


Rasanya seperti aku telah terperangkap dalam mimpi buruk yang tak berkesudahan.


Setiap kali aku berpikir aku menemukan jalan keluar, semuanya hanya menjadi lebih suram.


Dalam gelap yang mencekam, panik seakan kembali memenuhi setiap sudut tubuhku, menyergapku dengan kecemasan yang menggulung seperti gelombang.


Entah berapa lama aku telah terjebak di dalamnya, tetapi tiba-tiba, sebuah sinar terang mulai merayap dari dalam diriku.


Rasanya seperti menyelamatkan sepotong jiwaku dari keterpurukan.


Saat ketenangan mulai kembali merangkak padaku, aku menghela nafas panjang dan mencoba untuk merangkul keadaan dengan kepala dingin.


Aku memaksa diriku untuk tetap tenang, meskipun rasa frustasi merayap di dalam diriku. Aku mengingat betapa pentingnya pelatihan dan persiapan sebelum menggunakan kemampuan seperti [Reality Phasing].


Aku telah menemukan diriku terperangkap dalam situasi yang tidak dapat kubayangkan, akibat kelalaianku sendiri.


Aku terbang secepat yang aku bisa, tetapi rasanya seperti aku hanya berputar-putar tanpa arah yang pasti.


Keheningan dan kegelapan menjadi teman setia dalam perjalanan sial ini.


Aku mulai meragukan apakah aku akan pernah keluar dari situasi ini.


Dalam pertimbanganku yang terus berkecamuk, aku merasa seperti karakter dalam buku cerita yang tersesat di dalam labirin tanpa akhir.


Entah berapa lama aku terbang tanpa arah yang jelas, tetapi akhirnya aku menyadari pentingnya melibatkan akal sehatku dalam setiap tindakan.


Hmm...


Setelah beberapa saat terdiam dalam pikiran, aku mulai memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini.


Menghentikan skill [Reality Phasing] sepertinya bukan pilihan yang bijaksana; aku tak ingin berakhir sebagai dekorasi batu atau bahkan menemui akhir sebagai tanah permukaan.


Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku merasa kebingungan sambil menggerakkan sayapku dan menggoreskan kuku tajam nagaku di kepala.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba, seperti kilat, sesuatu datang ke pikiranku.


Ah, iya! Itu dia solusinya!


Aku tidak pernah merasa senang seperti ini sebelumnya.


"[Teleportation]!" seruku dengan suara lantang, sambil merasa bersemangat.


Dan tiba-tiba, tubuhku dikelilingi oleh cahaya biru terang yang menyilaukan.


Aku fokuskan pikiranku pada ruangan boss dungeon Lithos yang dulu.


Kegelapan tiba-tiba berubah menjadi siluet warna-warni dan sesaat kemudian aku merasa dunia berputar dalam kilatan cahaya.


Ketika pandanganku pulih, aku tersadar bahwa aku telah tiba di ruangan boss dungeon yang penuh dengan kristal.


Senyum kepuasan menghiasi wajahku.


Saat mataku perlahan terbuka, dunia sekitarku kembali tampak nyata. Aku memandangi tempat di mana aku mendarat setelah menggunakan teleportasi.


Kegelapan gulita telah digantikan oleh kilauan kristal yang memenuhi ruangan.


Terlihatnya, teleportasi berhasil membawaku keluar dari situasi mencekam.


Namun, saat aku merenung, aku sadar bahwa suasana di ruangan ini telah berubah. Aku langsung mencari-cari kehadiran boss dungeon, Lithos, yang sebelumnya menyerangku dengan brutal.


Kali ini, gigiku bergemerincing dalam perasaan emosi campur aduk.


"GRRRR... GRRRR..." Suara marah terdengar di tengah ruangan.


Entah mengapa, emosiku tiba-tiba meledak, membakar api yang ingin menghancurkan segalanya.


Anehnya, perasaan ini bisa aku salurkan kepada Lithos, sang boss dungeon. Mungkin inilah cara tubuhku merespons serangan sebelumnya.


Aku melirik kesegala arah, mencari-cari keberadaan Lithos yang sepertinya menghilang. Namun, perhatianku teralihkan saat aku melihat Vael dari kejauhan.


Dia berdiri di atas gundukan kristal raksasa, seolah sedang menunjukkan kemenangannya.


Tiba-tiba aku menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Vael menginjak kepala kristal boss dungeon Lithos dengan penuh kemarahan dan tekad.


Kepala kristal itu perlahan retak dan akhirnya meledak dalam ledakan yang hebat. Untung saja, Aku berada dikejauhan sehingga tidak terkena gelombang ledakan.


Tak ada keraguan lagi, Vael telah berhasil mengalahkan boss dungeon Lithos yang begitu kuat dengan kekuatannya sendirian.


Aku baru menyadari betapa luar biasa dan kuatnya dia. Sejenak, aku merasa seperti sedang berada dalam salah satu adegan epik dalam sebuah anime.


Tapi kali ini, itu adalah nyata, dan aku bersaksi atas keberhasilan Vael yang mengesankan.


Saat itu, Vael terdengar memanggil "ayah!" dengan nada panik yang jelas mengisyaratkan bahwa dia sedang mencari seseorang.


Aku menyadari bahwa dia mencari aku, meskipun jarak kita sangat jauh sehingga dia tidak bisa melihatku.


Sambil menguap bosan, aku merenung tentang bagaimana Vael tampaknya berhasil mengalahkan boss dungeon tanpa bantuanku.


Meskipun awalnya aku ingin merasakan euforia menghancurkan boss, aku merasa seolah-olah ini adalah bagian dari rencana yang lebih besar.


Namun, keraguan tetap menghantui pikiranku. Apakah benar-benar boss dungeon itu telah mati?


Aku merenung dengan skeptis sambil tetap memandangi Vael yang masih sibuk mencari keberadaanku.


Meskipun terkadang rasanya aku ingin menjadi pahlawan yang muncul tepat waktu, kadang-kadang lebih menyenangkan untuk membiarkan anak muda ini mendapatkan sebagian kehormatan.


Tiba-tiba, sensasi aneh merayapi diriku, memberiku perasaan bahwa ada gerakan kecil dari kejauhan.


Hari ini terasa berbeda dari biasanya, seperti ada perubahan yang tidak bisa kudeskripsikan dalam diriku.


Aku melirik ke arah asal gerakan tersebut, dan terkejut menemukan bahwa aku benar-benar merasakan hal tersebut, meskipun dengan kepekaan yang luar biasa.


Kupalingkan pandanganku ke gundukan kristal yang sebelumnya telah hancur, dan di sana aku melihatnya dengan jelas.


Kristal-kristal yang sebelumnya pecah perlahan-lahan menyatu kembali dengan cepat. Anehnya, aku bisa merasakan denyut energi dari kristal tersebut.


Tidak butuh waktu lama bagi kristal-kristal itu untuk menyatu dengan sempurna, membentuk makhluk humanoid berbentuk kristal.


Tangan makhluk ini menyerupai pedang tajam yang terbuat dari kristal yang tampak begitu tajam dan lancip.

__ADS_1


Dengan wajah serius, aku memperhatikan makhluk kristal itu, dan tiba-tiba gerakannya berubah, membelokkan tubuhnya untuk menghadap Vael yang tampaknya sedang dalam keadaan lengah, berdiri diam tanpa kewaspadaan.


Dengan pandangan yang serius, aku memperhatikan setiap gerakan makhluk humanoid kristal itu.


Tanpa basa-basi, makhluk itu tiba-tiba memutar tubuhnya, menghadap Vael yang masih berdiri tanpa kewaspadaan.


Pandanganku tertuju pada tangannya yang terangkat, dan dengan jelas terlihat bahwa tangan makhluk kristal itu sedang mengumpulkan energi yang mengalir menuju tangannya yang menyerupai pedang tajam.


Cahaya kristal yang terpancar dari tangannya memberi kesan bahwa ini adalah serangan yang berbahaya.


Saat itu juga, detil status makhluk itu terlihat di atas kepalanya dalam tampilan yang jelas.


...[Boss Dungeon]...


...[Lithos the Crystal Colossus] ...


Ah, ternyata dia belum mati.


Tapi setidaknya ini memberiku kesempatan untuk menguji skill baruku.


Aku mungkin bisa menemukan cara lain untuk menghadapinya.


Tiba-tiba, dalam sekejap, makhluk humanoid kristal yang baru saja menyatu kembali melompat dengan cepat dan tinggi, niat jahatnya jelas terpancar dari gerakan tersebut.


Nampaknya, targetnya adalah Vael yang tengah berdiri tanpa kewaspadaan, pedang kristalnya berada dalam genggaman tangan yang siap untuk menebas vael.


Tidak punya banyak waktu untuk berpikir, naluriku sebagai pelindung memicu reaksi.


Terbanglah aku dengan cepat menuju Vael, dan dengan tepat pada saat yang tepat, aku tiba di sampingnya, siap untuk memblokir serangannya.


Saat serangan pedang kristal Lithos hampir menyentuh leher Vael, aku segera menepisnya menggunakan tangan kananku dengan cepat sebagai perisai, menangkis serangan tersebut.


Bunyi hentakan yang keras terdengar, saat tangan pedang kristal Lithos bertemu dengan tangan kuatku.


"Ting..."


Dengan ekspresi serius, aku berbicara kepada Vael, "KAU LENGAH!"


Aku ingin menyadarkannya akan bahaya yang mengintai, meskipun dia berhasil mengalahkan boss dungeon tadi.


Saat itu, pandangan Vael terbelalak ketika ia melihatku, dan tangisannya terhenti seketika.


Teriakan "Ayah!" yang datang darinya mengandung rasa kelegaan dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan.


Namun, aku memutuskan untuk fokus pada situasi yang ada di hadapanku.


Aku berdiri di depan makhluk humanoid kristal, Lithos, yang baru saja mengalami transformasi menjadi ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya, hampir setinggi diriku.


Namun, hal yang benar-benar mengejutkan adalah kata-kata aneh yang keluar dari mulut Lithos.


Dia seolah-olah mencoba membuat lelucon sinis tentang asal usul Vael dan aku.


Aku mengangkat alis dengan dingin, meladeni ejekan yang tak berdasar tersebut.


"Hah?! Ayah?! kau kadal sialan berani menculik malaikat di domain para dewa? Dan menghamilinya? Apakah kau yakin itu anak-mu? Lihat saja malaikat bodoh tersebut, tampak berbeda darimu! Lucu sekali HAHAHAHAHA," ucap Lithos dengan nada sinis yang tak layak didengar, sambil mengejek Vael dengan tatapan tajam.


Aku hanya merespons dengan sebuah ekspresi dingin, seolah-olah mengabaikan cemoohan tidak masuk akal ini.


Hmm...


"Domain dewa? Jadi, di dunia ini terdapat dewa dan malaikat sungguhan, dan mereka tinggal di Domain atau alam para dewa. Hmm, dunia ini terlalu luas," gumamku dalam hatiku, terkejut dengan informasi baru ini.


Sementara aku masih dalam pertimbangan, Vael merespon dengan amarah mendalam terhadap ejekan Lithos.


Tanggapannya tajam dan penuh emosi, membuatnya bersiap untuk menyerang lagi. Namun, aku merasa perlu untuk mengambil alih situasi.


Aku memberikan isyarat kepada Vael dengan mataku, berusaha untuk menenangkan dia dan menghentikannya sebelum ia melakukan tindakan yang tak terkendali.


Namun, reaksi Vael sangat kuat, dia ingin bergerak maju dengan agresif.


Dengan cepat, aku menatapnya tajam, menunjukkan kepadanya bahwa aku ingin dia menurunkan senjatanya.


Namun, percakapan terhenti saat Vael berbicara, dan aku memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk berbicara.


"Tapi, ayah-," ucapnya, tetapi aku segera memotongnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Aku berusaha memahami emosinya, namun situasi ini memerlukan kontrol yang lebih tenang.


"B-baik a-ayah," kata Vael dengan suara yang gemetar, mengikuti perintahku dan menaruh senjatanya kembali ke dalam ruang penyimpanan dimensinya.


__ADS_2