
Tengah berada di dalam goa yang luas ini, pandanganku tertuju pada keindahan danau besar yang memecah kegelapan.
Airnya tampak mengalir dengan tenang, dan dari kejauhan, aku melihat dungeon kuno yang pernah kujelajahi sebelumnya, terbenam di kedalaman air.
Aku dengan langkah mantap, berlari menuju tepi danau. Tanpa ragu, aku melompat ke dalam air dan mulai berenang menuju bangunan dungeon yang terlihat jelas di bawah permukaan air.
Ternyata, aku masih bisa bernafas di dalam air, entah bagaimana hal itu terjadi. Anehnya, semakin dalam aku tenggelam, semakin jelas pandanganku.
Dengan gerakan lincah, aku menembus air dan sampai di depan pintu dungeon kuno yang ada di dasar danau.
Aku mengamatinya sejenak, mengingat petualangan sebelumnya. Vael akhirnya mengejar dan bergabung dibelakangku dalam renang ke dungeon.
Kami berenang dengan tenang, langkah-langkah beriringan menuju bangunan kuno itu.
Tiba di dekat bangunan kuno, aku mengamati gerbang besar yang ada di dasar danau.
Meskipun aku tidak pernah memasukinya lewat sini, tetapi pemandangan itu tetap memberikan perasaan aneh bagiku.
Mengapa ada dungeon ditempat tersembunyi ini?
Aku segera mencari celah yang pernah kumasuki sebelumnya.
Begitu menemukannya, aku langsung masuk melalui celah retakan besar tersebut dan memasuki bagian dalam dungeon.
Pemandangan di dalam dungeon kuno ini masih sama seperti sebelumnya .
Terdapat Celah retakan besar yang kami masuki masih membatasi air laut untuk masuk, seolah-olah tempat ini memiliki perlindungan sihir yang menghalangi air.
Ini pasti adalah hasil dari rancangan yang cerdas.
Kemudian, mataku tertuju pada reruntuhan kuil kuno di sekitar kami.
Gambar-gambar sakral yang masih terdapat menggambarkan dewa-dewa dan kisah-kisah mistis tampak begitu membosankan sekaligus menyeramkan.
Sayangnya, prasasti-prasasti yang ada sebelumnya telah menjadi santapan lezat bagiku, sehingga seluruh tempat ini sekarang hampir terlihat kosong.
Aku tidak bisa menahan senyum kecil saat memikirkan hal itu.
Hehehe...
Aku mendekati bolongan besar yang kuciptakan sebelumnya di tengah lantai dungeon. Seiring langkahku mendekat, aku merasa bagaimana kebodohanku terasa begitu menggelikan.
Bolongan ini menganga begitu dalam, sebagai akibat dari ulahku yang ceroboh.
Aku menyadari bahwa dungeon ini memiliki total 50 lantai, sebuah tantangan yang harus kutaklukkan.
Tetapi, sebuah memori konyol muncul dalam pikiranku.
Aku tersenyum masam saat mengingat bagaimana aku, dengan segala kesialanku, terjatuh ke lantai terbawah karena sebuah insiden dengan bola oppai.
Itu benar-benar terjadi!
Aku hampir tidak percaya bahwa aku berhasil mencapai lantai terbawah dengan cara yang konyol.
Bahkan, berat badanku terbukti sangat efektif hingga membuat lantai-lantai atas amblas.
Aku perlahan ingin melompat kembali kebolongan besar tersebut yang mencapai kelantai dasar dungeon, dan aku menoleh kebelakang kembali dan tidak melihat adanya Vael.
Aku merasa geram melihat Vael yang masih tertinggal di belakang. Aku tidak punya banyak kesabaran untuk orang yang lambat, dan kali ini emosiku memuncak dengan cepat.
__ADS_1
Teriakanku memenuhi seluruh dungeon saat aku dengan marah berteriak memanggil Vael dengan suara yang menggetarkan.
"VAAAEEEEELLL CEPAAAAATTT!!!" Teriak-ku dengan sangat kencang yang bergema hebat, membuat seluruh dungeon seketika itu juga terjadi gempa dalam respons terhadap teriakan amarahku.
Gigi-gigiku gemerincing dalam gelombang emosi yang berkobar.
"GRRRR.... GRRRRR..." Dengan wajah penuh emosi, aku merasa ingin menghancurkan segalanya di sekitarku.
Keinginan untuk merusak dan melampiaskan amarahku merayap dalam diriku seperti api yang membara.
Namun, sesaat setelah amarahku mencapai puncaknya, terjadi sesuatu.
Cahaya tiba-tiba menyelubungi tubuhku, menyebabkan segala kegelapan dalam diriku menghilang.
Emosiku yang memuncak tiba-tiba mereda seperti terhembus oleh angin lembut. Ketenangan seakan kembali memeluk hatiku.
Ya, ini efek dari skill pasif ku [Emotion Supress], sehingga aku mendapatkan ketenangan kembali.
Sekali lagi, aku merasa perubahan emosiku yang drastis. Kali ini, aku menyadari bahwa kepribadianku telah berubah menjadi lebih tempramental.
Aku merenung dalam hati, berusaha mencari tahu penyebab perubahan ini yang begitu tiba-tiba.
"Apa yang terjadi denganku?" gumamku sendiri, suara penuh kebingungan.
Aku benar-benar tidak mengerti mengapa aku tiba-tiba menjadi begitu tempramental dan mudah marah.
Mungkin aku kurang tidur? Tapi sepertinya bukan hanya masalah itu.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang menyebabkan perubahan drastis ini.
Mungkin terlalu banyak tekanan atau perasaan tertekan yang mengganggu pikiranku.
Namun, terlepas dari semua perasaan ini, aku merasakan kehadiran Vael mendekatiku.
Aku melihatnya memasuki celah retakan besar yang sebelumnya aku masuki.
Dia terbang dengan cepat menuju arahku, seolah-olah ingin mengejar ketinggalan.
Aku menatapnya, perasaan sedikit emosi masih membuncah di dalam diriku.
Kini dia berada di sampingku dengan sayap-sayapnya yang megah terentang.
Aku memandangnya dengan ekspresi agak kesal, tetapi juga lega karena dia akhirnya mengikuti perintahku.
"Bisakah kau lebih cepat?!" celetukku dengan nada dingin, mencoba untuk menjaga wibawa di depannya.
Meskipun aku mencoba untuk meredakan perasaan tersebut, namun rasa kesal terhadap kelambatan Vael masih terasa di hati.
Tapi, dengan nafas dalam-dalam, aku mencoba untuk mempertahankan ketenangan diri.
Memang, aku benci orang yang terlalu lambat, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memunculkan amarahku.
Namun saat itu, perlahan aku memalingkan tatapanku dari Vael dan memusatkan perhatian kembali pada lobang besar yang menganga di lantai.
Tanpa ragu, aku melompat dan meluncur lagi menuju lantai dasar dungeon, diikuti oleh Vael yang mengikuti dengan cepat.
Shushh...
Tapi, tiba-tiba aku lupa untuk menggerakkan sayapku. Akibatnya, aku terjatuh dengan keras saat mencapai lantai dasar dungeon.
__ADS_1
DUAR!
Debu pun beterbangan di sekitar, menciptakan suasana dramatis.
Untungnya, aku berhasil mendarat dengan kokoh sehingga tidak terlihat sangat canggung dihadapan Vael yang masih belom sampai.
Aku menggelengkan kepala dalam hati, merasa sial dengan kejadian ini.
Tapi, sekarang aku merasakan rasa sakit seperti digigit semut akibat jatuh dari ketinggian.
Berkat peningkatan statistik pertahananku, rasa sakit ini terasa seperti sesuatu yang bisa kulalui dengan mudah.
Haha, setidaknya aku tidak menyesal telah meningkatkan pertahananku.
Saat debu mereda dan suasana kembali tenang, aku melihat sekeliling dengan jelas. Kini aku berada di ruangan besar yang sudah pernah aku masuki sebelumnya.
Aku melihat Vael yang baru saja mendarat di belakangku, menghentikan langkahku sejenak untuk memastikan dia mengikutiku.
Hmm...
Kaki ini melangkah lagi, membawaku menuju gerbang besar yang menjulang di kejauhan. Ini pasti adalah ruangan boss dungeon yang aku cari selama ini.
Perasaan berdebar-debar dan semangat menggebu-gebu melanda diriku saat ini.
Kali ini, aku merasa sangat antusias untuk mengeluarkan semua skill sepenuhnya yang baru, siap untuk menghadapi tantangan yang ada di balik gerbang raksasa ini.
Terdengar tawa bergema di seluruh lantai dasar dungeon yang kosong ini saat aku tak sengaja meneriakkan tawa berat.
"HAHAHAHAHAHA!"
Tawa itu terdengar begitu keras dan berat, seolah-olah mengguncang seluruh dungeon.
Aku merasa aneh, tawa macam apa ini?
Mengapa aku terdengar seperti ini?
Mengapa aku tiba-tiba tertawa tanpa kusadari?
Apa yang sedang terjadi dengan diriku?
Dengan gatal yang tak tertahankan dalam diriku, aku mengambil nafas dalam-dalam dan merentangkan kedua tanganku ke gerbang besar di hadapanku.
Perasaan ini begitu menggembirakan, seperti seorang anak yang baru menerima hadiah yang sangat ditunggunya.
Dengan suara logam yang berat, gerbang besar itu perlahan-lahan terbuka. Kedua sayapku dengan refleks melambaikan udara di sekitarku, memberikan kesan dramatis yang tak terelakkan.
Tunggu, sebentar... Aku merasa seperti sedang memainkan peran pahlawan dalam film epik.
Kling...
Kling...
Dari balik gerbang yang terbuka, semburat cahaya memancar, menerangi wajahku.
Tersenyum menyeringai lebar, aku seperti anak kecil yang baru menemukan harta karun, karena tidak sabar apa yang menanti di gerbang besar yang kubuka perlahan ini.
Kling..
Kling..
__ADS_1
Sungguh, entah kenapa saat-saat seperti ini membuatku merasa hidup.