Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Despair Begins "2"


__ADS_3

"Auughh"


Lara batuk darah, tubuhnya hancur akibat pedang besar tersebut. Lubang besar terbentuk di tubuhnya, dan asap mulai keluar dari sisa-sisa tubuhnya yang mencair perlahan.


"Apa yang terjadi padaku..." ucap Lara dengan merasa begitu lemah, tetesan air mata mengalir di wajahnya karena kesakitan.


Serangannya terkuatnya tidak berhasil menghancurkan Golem malaikat, bahkan hanya menghancurkan beberapa sayapnya saja.


tiba-tiba mereka mendengar suara yang mengancam.


"Bahkan kalau kalian makhluk lemah ingin tahu, tidak ada yang bisa membantu kalian sekarang! Betapa bodohnya kalian berani menginjakkan kaki kotor kalian ke rumah tuanku! MATILAH!"


Mereka semua terkejut mendengar suara itu , dan mereka melihat ke arah sumber suara, walaupun wujudnya masih tanpa ekspresi. Namun, suara itu mengandung ancaman yang mengerikan.


Mendengar suara itu, mereka semua menatap Golem malaikat. Tiba-tiba, lara berteriak kesakitan dengan sangat keras, dan seketika itu tubuhnya mulai berubah menjadi gumpalan cairan yang mengerikan.


"Dia... dia benar-benar lenyap..." gumam Zay, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.


Viona yang takut setengah mati, menutup mulutnya dengan tangan gemetar sambil terjatuh. Ia tak bisa berkata apa-apa, hanya dapat memandang Lara yang berubah menjadi keadaan menakutkan.


Teman-teman lainnya juga terpaku melihat perubahan mengerikan yang menimpa Lara. Alex, yang sebelumnya sudah putus asa, kini makin pucat dan tak berdaya.


Pertempuran mereka yang semula bersemangat kini dipenuhi rasa takut dan kebingungan.


"Satu, tumbang," terdengar lagi suara malaikat Golem. Kali ini, mereka menyadari bahwa Golem tersebut benar-benar dapat berbicara.


Rasa ketakutan semakin menghantui mereka, karena tampaknya Golem ini jauh lebih kuat daripada yang mereka perkirakan.


Dengan marah dan kesedihan yang membara, Zay tidak ragu untuk mengeluarkan combo serangan magis es kuatnya .


Ia mengarahkan serangan kombinasi esnya dengan presisi yang mematikan, berharap dapat menghancurkan malaikat Golem tersebut.


"[Ice Prison]!" teriak Zay sambil menghasilkan penjara es yang membelenggu Golem malaikat, berusaha membuatnya tak bergerak. Namun, Golem itu tetap tak tergoyahkan.


"[Ice Lance]!" seru Zay, menciptakan tombak es yang tajam dan melemparkannya dengan kecepatan tinggi ke arah malaikat Golem.


Namun, tombak es itu hanya menghantam permukaan malaikat Golem dan tidak menyebabkan kerusakan berarti.


"[Icicle Barrage]!" serangkaian tajamannya yang penuh tekanan menghasilkan hujan es berkecepatan tinggi menyerang Golem malaikat. Namun, tampaknya Golem tersebut justru menikmati serangan-serangan itu.


Tawa Golem malaikat yang menggema memenuhi ruangan, seolah meremehkan Zay dan teman-temannya.


Ia tampak sengaja berdiam diri untuk menghadapi serangan magic Zay, seolah ingin membuktikan kelemahan dan ketidakberdayaan para manusia lemah itu.


Marah dan kesedihan Zay semakin memuncak.


Dengan kemarahan yang membara, ia terus menyerang Golem malaikat, berteriak keras sambil melepaskan sihir esnya, "Patung sialan! Musnahlah kau!"

__ADS_1


Namun, saat serangan esnya mencapai Golem malaikat, tubuh Golem tersebut seakan tak terpengaruh.


Serangan Zay hanya mengenai permukaan beku dari Golem malaikat, dan tak satu pun kerusakan yang terlihat.


Keputusasaan mulai merasuki pikiran mereka. Malaikat Golem ini terlalu kuat, bahkan untuk serangan terkuat mereka. Mereka perlu merumuskan rencana baru, atau mungkin mengakui bahwa mereka tidak bisa mengalahkannya.


Dalam momen kesunyian yang menegangkan, pertanyaan besar pun muncul di benak mereka.


Bisakah mereka mengalahkan Golem mengerikan ini? , atau akankah nasib mereka sama seperti teman mereka, Lara, yang kini telah berubah menjadi cairan yang menakutkan?


Ketegangan di ruangan semakin menyengat dengan kehadiran malaikat Golem yang mengerikan.


Suara cekikan, batuk darah, dan tangisan kesedihan memenuhi udara. Namun, Golem malaikat tidak tergoyahkan dan tampaknya menikmati momen ini.


"Ah, sudah cukup waktu bermain-nya," terdengar lagi, suara Golem malaikat yang tampaknya bosan dengan serangan sihir es dari Zay.


Dalam sekejap, Golem itu menghilang dan tiba-tiba muncul di depan Zay dengan cepat yang menakutkan.


Sebelum Zay menyadari apa yang terjadi, Golem malaikat dengan brutal menghantamnya dengan kepalan tangan raksasanya.


Semua terjadi begitu cepat, dan Zay merasa ia tidak bisa selamat atau melarikan diri dari serangan Golem itu.


Dalam keputusasaan, Zay mengucapkan nama teman yang telah tiada, "Lara..." sambil memejamkan matanya.


Hantaman Golem menghantamnya dengan keras, dan suara bergemuruh memenuhi ruangan akibat benturan dahsyat.


Seluruh teman-temannya terdiam, terpaku melihat pemandangan yang mengerikan di depan mata mereka.


Zay telah tewas, tak tertolong lagi.


Air mata Viona mengalir deras, sementara Rio menahan kesedihan dan kemarahannya. Semua merasa putus asa, merasa tak berdaya menghadapi malaikat Golem yang begitu kuat.


"Uwaaaaah!!" Tigris berteriak marah sambil berniat menyerang golem. "Tigris, jangan!" Namun, Rio mencegahnya dan menahannya.


Dalam kebingungan dan emosi yang memuncak, Tigris masih mencoba melepaskan diri dari cengkraman Rio, tetapi Rio tetap teguh menahannya.


Ekspresi wajah Rio yang penuh kemarahan dan kepedihan membuat Tigris ragu-ragu.


Jika sebelumnya Tigris hanya melihat Rio sebagai seorang kawan-lamanya yang kuat dan humoris, kini ia menyaksikan sisi rapuh dari kawan-lamanya.


"Biar aku pergi, Rio! Aku akan membunuh monster itu untuknya!" ujar Tigris dengan suara penuh amarah dan kesedihan.


Namun, Rio dengan tegas berbicara, "Berhenti!" Suaranya terdengar mengerikan, dan seakan-akan ia akan menangis kapan saja.


Saat ini, Rio bukanlah seorang Kawan lamanya humoris. Sekarang menjadi orang yang dingin dan kuat, melainkan manusia yang merasa putus asa dan penuh emosi.


"Sudah cukup, Tigris!" lanjut Rio, "Kami harus meninggalkan Zay dan Lara... Kami harus segera keluar dari tempat ini atau kita semua akan mati."

__ADS_1


Kata-kata Rio membuat Tigris terpaku. Ia merasakan keputusasaan dan penyesalan. Ia tahu Rio benar, meskipun hatinya tak ingin menerima kenyataan itu.


Bagaimanapun, tidak ada yang bisa membawa Zay dan Lara kembali.


"Bagaimana bisa Kau?!" teriak Tigris dengan emosi yang memuncak, "RIO?!"


Namun, meski berada dalam kemarahan, tak ada satu pun dari mereka yang bisa meyakinkan Rio untuk tetap bertahan dan berduka. Mereka harus mengalah dan pergi dari tempat itu.


Kehilangan Zay dan Lara adalah pukulan berat bagi mereka, tetapi mereka tahu, jika ingin tetap hidup dan menghadapi masa depan, mereka harus melanjutkan perjalanan ini.


Rio yang penuh keputusasaan berbicara dengan Tigris, suaranya semakin redup, "Lara, Ranger kita, telah meninggal... Zay, Magic caster kita juga sudah tewas... Dan hanya tersisa kami berempat.. Serangan sihir dan skill terkuat Lara dan Zay pun tidak mempan apalagi serangan fisik! Kita harus cepat mundur dan melaporkan ini ke Raja Theovilus dan Guild! Itu adalah pilihan yang kita miliki!"


Suara Rio semakin lama semakin redup. Ia menggigit bibir dan giginya dengan kuat dan tangannya berdarah karena memegang kedua belati-nya dengan keras.


Seluruh kawan-lainnya tidak bisa berdebat dengan keras kepala Rio yang sangat ingin melarikan diri.


Sementara itu, Golem malaikat setelah menewaskan Zay, tiba-tiba menghadapkan tubuh besarnya ke arah mereka dan berjalan dengan santai ke arah mereka.


Mereka merasa seperti semut kecil, lemah, yang bisa diinjak kapan saja. Rasa gentar dan kengerian memenuhi hati mereka saat Golem raksasa mendekat, siap menyerang mereka kapan saja.


Dengan cepat, Rio memberikan perintah kepada Tigris untuk segera mendorong pintu besar agar mereka bisa keluar dari dungeon mengerikan ini dengan selamat.


Emosinya sedikit tertahan, Tigris tetap berpikir logis dan mendengarkan perintah dengan baik, berlari menuju pintu raksasa untuk mendorongnya dan membuka jalan keluar.


Sementara itu, Rio tidak bisa mengabaikan rekan-rekannya yang masih terdiam ketakutan.


Dengan cepat dan tegas, dia menampar Viona dan Alex agar mereka tersadar kembali. Perlahan, kedua temannya itu kembali menyadari situasi dan bersiap membantu Tigris mendorong pintu besar.


Rio merasa keputusasaan merayap ke dalam hatinya, tapi dia tahu bahwa dia harus membuat jalan keluar bagi teman-temannya.


Dia berniat mengorbankan dirinya dengan melawan Golem malaikat untuk mengalihkan perhatiannya, memberi kesempatan pada teman-temannya untuk kabur dari tempat mengerikan ini, dan menyampaikan laporan mengenai dungeon berbahaya itu kepada guild dan Raja Theovilus.


"Dorong lebih keras, Kalian semua! Kalian harus keluar dari sini!" seru Rio dengan tekad yang bulat.


Sementara itu, Golem malaikat yang angkuh dan percaya diri, akhirnya menemukan sasaran baru dalam diri Rio. Dengan langkah mantap, Golem itu mendekati Rio, siap menghadapi perlawanan dari petualang yang berani itu.


Dalam hati, Rio tahu bahwa mungkin ini adalah pertarungan terakhirnya. Meskipun dia tahu dia lemah dan takkan bisa bertahan lama melawan monster raksasa itu, namun ia tetap bertekad untuk mengalihkan perhatian Golem agar teman-temannya bisa kabur dengan selamat.


Dalam hati, Rio merasa berat. Ia adalah orang yang membawa teman-temannya ke tempat dungeon kematian ini, dan sekarang ia merasa harus bertanggung jawab dan mengorbankan dirinya demi keselamatan mereka.


Saat itulah, wajah cantik dan senyuman istri tercinta, Evelyn, terlintas di pikiran Rio. Istrinya yang sedang hamil, menantikan kelahiran buah hati mereka setelah menantikan selama 10 tahun.


Namun, nasib berkata lain, dan Rio sadar bahwa ia mungkin tidak akan bisa melihat kelahiran anaknya itu.


Air mata berlinang dari mata Rio, dengan tubuh yang gemetar, dia mengucapkan nama istri tercintanya, sambil mengingat memori bahagia kebersamaan dengan-nya, "Maafkan aku, Evelyn."


Dengan rasa sedih yang mendalam, Rio bergegas berlari menuju Golem malaikat raksasa. .

__ADS_1


__ADS_2