Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 165


__ADS_3

Naga muda tersebut sebenarnya ingin menjalani kehidupannya sendiri sebagai naga dewasa yang mengembara, meninggalkan kelompok kawanan ayahnya.


Namun, Grandor tidak setuju dengan keinginannya, takut kehilangan anaknya.


Meskipun anak tersebut sering menantang otoritas Grandor, ayahnya tetap merasa cemas akan keselamatan putranya, terutama dalam dunia yang semakin sulit bagi ras naga yang hampir punah.


Ketika naga muda tersebut mendarat dengan kasar, dia membuang ludahnya hampir mengenai Calliga, lalu dengan nada kasar dan kesal, dia mempertanyakan keberadaan Calliga dan menghina Grandor, ayahnya, yang tampaknya berlutut di hadapan Calliga dan memanggil mereka semua.


"Oi! Pria tua! Siapa lizardman kecil ini? Dan mengapa kalian semua berlutut dengan bodohnya? Mengapa kalian mengganggu tidur nyenyakku, sialan!" teriak si anak naga kepada Grandor dan Calliga dengan nada arogan.


Atmosfer saat itu menjadi sangat tegang, karena semua yang hadir tidak tahu bagaimana Calliga dan Grandor akan merespons sikap kurang ajar anak naga ini.


"DASAR ANAK BODOH! BERTINGKAHLAH YANG SOPAN! KAU SEKARANG BERADA DIHADAPAN SANG AGUNG!" Teriak Grandor dengan marah kepada putranya yang sangat kurang ajar, sambil menunjuk ke arah Calliga yang berbentuk dragonoid seperti lizardman.


Namun, naga muda tersebut hanya membalas dengan sikap sinis, menunjuk Calliga, "Apakah kau buta dan bercanda, pria tua? Kau menyebut lizardman kecil ini sebagai sang agung, seperti seorang dewa? Benar-benar lelucon!"


Tidak berhenti di situ, putra Grandor ini bahkan melemparkan air ludahnya ke arah Calliga, membuat dewa mereka, Calliga, terkena percikan air ludah yang jijik.


Grandor dan Rodnar, yang berada di sampingnya, hanya bisa terdiam dan merasa tidak berdaya.


Sikap kurang ajar putranya terhadap dewanya membuat mereka tercengang, dan saat itu atmosfer yang tegang semakin intens.


Seolah-olah mahluk-mahluk ini melupakan betapa berbahayanya sikap semena-mena tersebut terhadap sosok yang mereka anggap sebagai dewa, Sang Pencipta mereka, Calliga.


Grandor cepat berlutut dan bersujud di hadapan Calliga sebagai permohonan maaf atas perilaku buruk putranya, "Dewaku! Mohon ampunilah dosa putra hambamu ini!" ucap Grandor penuh dengan ketakutan, tubuhnya gemetar.


Sementara itu, Calliga yang tengah merenung terbangun dari lamunannya ketika merasakan air yang membasahi tubuhnya.


Dia tersadar dengan bau yang sangat tidak enak, "Hah?! Air apa ini!! ini bau sekali! Menjijikan!" gumam Calliga yang merasa tubuhnya basah kuyup dan tercemar dengan air ludah putra kurang ajar Grandor.

__ADS_1


Ia menoleh ke arah Grandor, melihat sekarang seorang naga besar yang baru dia kenal.


Dengan bantuan indranya yang tajam, Calliga tahu bahwa air ludah menjijikan ini berasal dari naga yang ia lihat sekarang.


"Apakah dia ingin mati?" ucap Calliga dengan penuh kekesalan.


Tindakan putra Grandor yang sangat kurang ajar tidak hanya mencemari Dewa mereka, tetapi juga mengganggu keselamatan dirinya sendiri.


Sebas, yang melihat tingkah laku naga tersebut, dipenuhi kemarahan.


Nafasnya tak beraturan, dan matanya berkilat penuh kebencian. Dia siap membunuh naga tersebut dengan tatapan tajamnya yang menggertak.


Naga yang telah berperilaku sangat tidak sopan dengan melemparkan air ludah menjijikan yang mengenai ayahnya yang saat ini berwujud Dragonoid, Calliga.


"AKAN KUBUNUH DIA!" gumam Sebas dengan penuh nafsu membunuh. Dia bersiap untuk bergerak.


Namun, tangan kanan Calliga memberi isyarat kepada Sebas untuk berhenti dan tidak menyerang putra kurang ajar Grandor.


"Tapi ayah, makhluk rendahan ini telah melakukan dosa besar kepada ayah! Aku harus membunuhnya, ayah! Tidak! Kematian terlalu cepat baginya!" Sebas membela ayahnya, Calliga, dengan penuh gairah.


Sebas bersikeras membela tindakannya untuk membunuh naga yang telah berbuat kurang ajar kepada ayahnya.


Namun, di sisi lain, Ragnar, sang putra grandor yang kurang ajar, merespons dengan nada merendahkan, "Makhluk rendahan, yang kau katakan? Apakah kau ingin mati, bocah kecil?" Kata-kata kasar itu dilemparkan pada Sebas, yang dalam wujud naga memiliki ukuran jauh lebih kecil daripada Ragnar yang hampir seukuran ayahnya.


Ragnar terus merendahkan Sebas dengan perkataan pahit.


"Kau menyebutnya ayah? Sosok lizardmen aneh itu? Kau benar-benar aneh! Sebagai seorang naga, seharusnya kau merasa malu memiliki seekor kadal rendahan seperti itu sebagai orangtuamu! Sayang sekali kau dilahirkan dari perkawinan silang yang memalukan antara kadal rendahan, lizardmen, dengan ras superior kami! Kehadiranmu hanyalah aib bagi ras kami!"


Dalam suasana yang penuh ketegangan, Sebas merasa semakin marah dan terhina oleh kata-kata kasar Ragnar yang meremehkan Calliga.

__ADS_1


Sebas, tak sanggup lagi menahan kemarahannya, gemetar dan penuh dengan kebencian melihat ejekan Ragnar yang meremehkan ayahnya yang disebut sebagai lizardmen najis.


Matanya melotot tajam, berapi-api ingin membunuh Ragnar yang berani menghina orang yang telah menjadi sosok ayahnya.


Namun, kendali Sebas tertahan oleh perintah yang kuat dari ayahnya, Calliga, yang melarangnya berbuat apa pun. Kendati hatinya berapi-api, Sebas tunduk pada permintaan ayahnya.


Sementara itu, Calliga dengan tenangnya merespons ejekan Ragnar.


"Apakah kau ingin menyicipi kematian, anak muda kurang ajar?" tanyanya dengan tawa sinis dan santainya, mengabaikan ejekan ragnar serta air ludah yang dilemparkan kepadanya.


Ragnar, saat hendak melanjutkan ejekannya, terhenti mendadak saat Calliga mengaktifkan skill mautnya, "[Death]".


Dalam sekejap, jantung Ragnar hancur dan tubuh raksasanya jatuh ke tanah, tak bernyawa.


Plakk!


Duar!


Tindakan tegas Calliga membuat Ragnar mati dengan cepat, menunjukkan kekuatannya yang mengerikan dan sang penguasa.


"TIDAK! ANAK-KU! APA YANG TERJADI DENGANNYA! APA YANG KAU LAKUKAN KEPADANYA, LIZARDMEN RENDAHAN!" teriak naga perempuan, istri Grandor, yang tiba-tiba bangkit dari posisi bersujudnya kepada Calliga, mereka yang sebelumnya diperintahkan oleh suaminya untuk bersujud.


"Kematian, tentunya. Dan apakah kau tidak pernah mengajarkan sopan santun kepada anakmu ini?" kata Calliga dengan ekspresi datarnya, menunjuk tubuh dingin Ragnar.


Istri Grandor hanya bisa memandang Calliga dengan mata penuh ketidakpercayaan.


Di matanya, Calliga sama sekali tak bergerak dan tidak menyerang. Bagaimana bisa putranya tewas dalam sekejap di tangan lizardmen aneh?


Dengan hati berdebar, istri Grandor bergerak mendekati tubuh putranya yang tergeletak.

__ADS_1


Dia memeriksa detak jantung dan pernapasan, tetapi dengan sedih, dia menyadari bahwa putranya sudah tiada. Tidak ada detak jantung, tidak ada napas. Putranya benar-benar tewas.


__ADS_2