
"GROOOOAAAARRRRRR!!!!" Erangan naga besar mengguncang langit dan tanah kota yang hancur, menciptakan getaran yang bahkan membuat reruntuhan bangunan-bangunan tersisa bergoyang.
Namun, Lithos, dalam wujud aslinya sebagai serigala kristal, tidak gentar.
Dia menjawab erangan naga besar tersebut dengan suara yang lebih dahsyat lagi, menciptakan gelombang suara yang melanda naga dan membuatnya terguncang.
"ROOOAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!!!" Erangan Lithos yang luar biasa dahsyat menciptakan gempa yang menggetarkan seluruh kota.
Dibandingkan dengan erangan naga besar bernama Grandor, erangan Lithos seperti sebuah ledakan supernova di hadapan bintang yang redup.
Gempa yang tercipta akibat adu erangan mereka berdua mengguncang seluruh kota yang sudah hancur, menimbulkan gemuruh dan debu yang menutupi langit.
Orang-orang yang masih bertahan di kota ini merasakan getaran dahsyat ini, dan banyak dari mereka yang merasa kecil dan lemah di hadapan pertarungan antara dua makhluk yang sangat kuat.
Namun, di tengah kehancuran dan kekuatan yang menakutkan, Lithos tetap menjadi fokus utama.
Para manusia yang masih bertahan di kota yang hancur itu merasakan ketakutan yang tak terkendali saat mereka menjadi saksi pertempuran antara dua makhluk raksasa yang menyeramkan.
Teriakan dan jeritan kepanikan memenuhi udara, mencerminkan kebingungan dan ketakutan yang melanda mereka.
Bahkan para prajurit yang telah bersumpah untuk melindungi kota mereka tidak bisa menyembunyikan getaran ketakutan dalam hati mereka.
Meskipun hati mereka berdetak kencang dan pikiran mereka penuh kebingungan, mereka tetap bertahan di tempat, menyadari bahwa tugas dan kewajiban mereka sebagai prajurit kerajaan adalah untuk melindungi kota, bahkan dalam saat-saat yang paling mengerikan.
Dalam kegelapan dan kekacauan, seorang wanita elf dengan gemetar membidik dua makhluk raksasa yang tengah berduel.
Anak panah-panah tajam melesat dengan cepat, mengiris udara sebelum melesat ke arah Lithos, serigala kristal raksasa, dan Grandor, naga kegelapan raksasa.
"Shoot..."
"Shoottt..."
Anak panah-panah itu tiba-tiba muncul di antara dua makhluk raksasa, mengejar target mereka dengan ketepatan yang memukau.
Wanita elf itu, meskipun dalam ketakutan, menghadapi bahaya dengan keberanian yang luar biasa.
Ia tahu bahwa inilah saatnya untuk bertindak, bahkan jika itu berarti menghadapi monster-monster menakutkan tersebut.
Anak-anak panah itu menghantam sasaran mereka dengan erat, menciptakan kilatan cahaya ketika mereka mengenai tubuh Lithos dan Grandor.
Dalam kebingungan dan kekacauan pertempuran, serangan wanita elf ini menjadi cahaya harapan bagi para manusia dan petualang yang menyaksikan pertarungan tersebut.
Dalam keadaan yang hancur dan tak terduga, wanita elf itu dengan suara lantang memerintahkan para petualang yang berkumpul di sana.
Matanya berkilat penuh semangat, meskipun dalam ketakutan, dia berteriak memanggil para petualang.
"SERANG!"
Gemetaran masih terasa di tubuh banyak petualang, tetapi teriakan wanita elf itu membangunkan keberanian di dalam diri mereka.
Mereka menyadari bahwa mereka adalah satu-satunya harapan yang tersisa untuk melawan dua monster raksasa yang ganas ini.
Wanita elf itu tidak hanya berteriak sekali, dia terus mengulang panggilan tersebut, menggugah semangat para petualang.
Terlepas dari ketakutan mereka, para petualang berani maju dan menyerbu, menyerang dengan berbagai senjata yang mereka miliki.
Mereka berjuang bersama dalam upaya putus asa untuk melawan Lithos dan Grandor, dua monster raksasa yang mengancam kota mereka.
Dalam kekacauan pertempuran, para magic caster bersatu untuk merapal sihir andalan mereka dari jarak jauh, mengumpulkan energi mereka untuk serangan mematikan.
__ADS_1
Mereka membentuk formasi sihir yang kuat dan menembakkannya ke arah Lithos dan Grandor.
BAM!
DUAR!
Ledakan sihir mengguncang pertempuran, menghantam kedua raksasa dengan kekuatan yang dahsyat.
Serangan dari jarak jauh ini membuat serangan pertama yang efektif terhadap monster raksasa tersebut.
Di samping itu, para ranger berada di garis depan, membidik dengan teliti, dan memasang anak panah mereka ke busur.
Dengan keteguhan hati, mereka melepaskan serentetan anak panah menuju kedua raksasa yang menghancurkan kota mereka.
SHOOT!
Anak panah-panah itu berjatuhan seperti hujan, menembus pelindung alami raksasa-raksasa.
Serangan gabungan dari magic caster dan ranger ini memberikan harapan kepada para petualang di bawah.
Sementara itu, para petualang dengan kelas unik seperti bard, ninja, tank, dan support, menunjukkan keahlian mereka.
Bard memainkan musik yang mensupport dan membantu para petualang, meningkatkan statistik mereka dalam pertempuran.
Ninja menggunakan kecepatan dan kelincahan mereka untuk menyerang dengan presisi mematikan.
Tank berdiri di garis depan, menghadapi serangan monster raksasa dengan kekuatan dan pertahanan mereka yang luar biasa.
Support dengan bijaksana memberikan buff dan dukungan yang sangat dibutuhkan kepada rekan-rekan petualangnya.
Di tengah kekacauan dan kehancuran, para petualang ini berjuang bersama sebagai satu tim, berusaha melawan Lithos dan Grandor yang menakutkan.
Bagi Lithos, serangan dari para petualang itu tidak lebih dari gigitan semut.
"KALIAN PIKIR SERANGAN MAKHLUK RENDAHAN SEPERTI INI DAPAT MELUKAIKU? OH, TENTU SAJA TIDAK! MATILAH!" teriak Lithos dengan suara yang menggetarkan hati, tapi bukan karena rasa sakit.
Baginya, ini hanyalah risih yang membuatnya semakin marah.
Lithos menginjak-injak banyak para petualang seperti semut yang tak berdaya.
Dia merasa dominannya sebagai makhluk raksasa dan tampaknya tak terkalahkan.
Lithos menginjak-injak banyak para petualang dengan mengaung yang menggetarkan bumi. Gempa besar mengguncang tanah, menciptakan ketakutan lebih lanjut di antara manusia dan petualang yang menyaksikannya.
Para manusia dan petualang yang awalnya terkejut karena monster raksasa kristal dapat berbicara sekarang mendapati diri mereka dalam bahaya yang lebih besar.
Lithos dengan kejam menyerang para yang berani menantangnya dengan serangan rendahannya.
STOMP!
STOMP!
STOMP!
SPLAT!
SPLAT!
SPLAT!
__ADS_1
SPLAT!
SPLAT!
Genangan darah terbentuk di tanah akibat tumpukan kaki Lithos yang menginjak banyak makhluk hidup.
Kengerian dan keputusasaan merayap di hati para manusia dan petualang, mereka menyadari bahwa menghadapi monster ini adalah sebuah kesalahan besar.
Kota itu, kini hanya sebuah reruntuhan yang dipenuhi dengan mayat-mayat yang tak terbentuk.
Darah mengalir seperti sungai, menciptakan pemandangan yang mengerikan. Suasana kota terasa begitu mencekam, seolah-olah kegelapan itu sendiri merayap di setiap sudutnya.
Salah satu petualang, dengan gemetar dan penuh ketakutan, berdiri di antara puing-puing kota yang hancur.
Ia melihat dengan mata terbelalak keganasan yang menimpa rekan-rekannya, mereka yang kini hanya menjadi gumpalan daging tak berbentuk yang tersisa di tanah.
Suara langkah kaki keras menghampiri, dan petualang itu pun menoleh.
"A-apakah i-ini mi-mimpi?" ujarnya dengan suara gemetar.
Tetapi, jawaban tak kunjung datang. Ia terpaku dan tak mampu bergerak, ketakutan melumpuhkan keberaniannya.
Dan tiba-tiba, dengan suara besar dan getaran yang mengerikan, sepatu raksasa melangkah menginjaknya.
STOMP! Kehidupan petualang itu pun berakhir dalam sekejap, ia pun menjadi sekumpulan daging tak berbentuk yang terlontar di sekelilingnya.
Kengerian dan penderitaan menjadi bagian dari kisah kelam ini.
Kota itu memancarkan aura kegelapan yang membelenggu jiwa siapapun yang melihatnya. Setiap langkah yang diambil, setiap helaan napas yang terdengar, semuanya terasa begitu berat.
Tidak ada harapan, hanya kehancuran dan kegelapan yang melingkupi.
Di kejauhan, Lithos, makhluk kejam yang bertanggung jawab atas kehancuran ini, tertawa dengan gembira.
Ia menikmati melihat penderitaan dan keputusasaan yang ia ciptakan.
Tidak peduli dengan derita yang ia sebarkan, ia hanya menginginkan kehancuran dan kegelapan.
Jeritan teriakan memenuhi udara, memecah kesunyian yang mencekam. Mata para petualang dan prajurit terbelalak saat mereka menyaksikan keganasan yang dilakukan oleh Lithos.
Rasa ketakutan yang melanda mereka menggelitik hati nurani, memaksa mereka untuk melarikan diri secepat mungkin.
"LARIII!!!!" teriakan mereka bergema memenuhi kota yang hancur.
Dengan langkah tergesa-gesa, mereka berlarian menjauh dari Lithos yang tak terkendali. Namun, ketakutan yang melanda mereka begitu hebat, membuat kaki mereka gemetar dan nafas tersengal-sengal.
Di tengah kepanikan itu, seorang petualang terisak dengan hebat.
"A-aku ti-tidak i-ingin ma-mati!" gumamnya dengan suara terputus-putus, air mata mengalir deras dari matanya yang penuh ketakutan.
Ia berlari dengan sekuat tenaga, meninggalkan kota yang telah menjadi kuburan bagi manusia.
Namun, semakin jauh ia berlari, semakin dekat keputusasaan menyergapnya. Angan-angan akan kematian menghantuinya, memenuhi pikirannya dengan ketakutan dan kegelisahan.
Ia merasa sendirian, terjebak dalam kegelapan yang tak berujung.
Kota yang kini hanya sebuah reruntuhan menjadi saksi bisu atas tragedi ini. Suara langkah kaki Lithos semakin dekat, suara gemuruh yang menakutkan.
Petualang-petualang lainnya juga berlarian dengan keputusasaan yang sama, air mata mereka mencampur dengan keringat yang mengalir di wajah mereka.
__ADS_1