Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 150


__ADS_3

Sekarang Di hutan La Veda penuh dengan beberapa puluh orang yang berhasil dievakuasi oleh Sebas.


Sebas berhasil menyelamatkan mereka yang masih hidup dari ambang kematian. Beberapa petualang yang juga berhasil diselamatkan oleh Sebas diangkut dan ditempatkan di hutan La Veda yang aman.


Shushh..


Dalam keheningan hutan, hembusan angin kencang menerpa para manusia dan petualang yang berada di sana.


Kepakan sayap Sebas yang terbang diudara terdengar bagi mereka yang kini aman di hutan La Veda, menghasilkan suara yang berdengung di telinga mereka.


Sebelum Sebas lenyap dari pandangan mereka, semua manusia dan petualang yang telah diselamatkan olehnya menuju hutan La Veda.


Mereka semua menundukkan kepala mereka sebagai tanda terima kasih kepada sosok naga yang telah menyelamatkan mereka, Sebas.


"Terima kasih, Tuan Naga, telah menyelamatkan kami semua," ujar salah satu orang yang berani memberikan ungkapan terima kasih kepada Sebas, sambil menundukkan kepalanya.


Saat itu, banyak dari mereka ikut menundukkan kepala sebagai tanda rasa terima kasih mereka kepada Sebas.


Sebas, dalam posisi terbangnya, mendengar mereka semua dan menoleh ke belakang, hanya mengangguk sebagai respons.


Namun, saat Sebas hendak terbang dengan cepat menuju kota Arbandir yang telah hancur, tiba-tiba terdengar suara erangan dahsyat yang membuat Sebas merasa takut.


Tanpa ampun, Sebas terjatuh dari posisi terbangnya.


Duar!


Sebas terjatuh dengan keras, tubuhnya gemetar ketakutan.


Ia buru-buru menutup kupingnya dengan erat, berusaha melindungi diri dari erangan dahsyat yang semakin membesar.


Suara itu, "GRROOOAAAAAAAAAAAARRRRRRRR!!!!!!", seperti gempa yang menggetarkan seluruh hutan La Veda.


Manusia dan petualang yang berada di sekitarnya seketika menjadi panik, merasakan getaran yang tak terduga.


"GRRRROOOOOAAAAAAARRRRR!!!!" Erangan tersebut semakin lama semakin dahsyat, mengguncang hati dan jiwa semua yang mendengarnya.


Sebas berusaha sekuat tenaga untuk menahan ketakutannya, sambil terus menutup kupingnya dengan erat.


Ia tahu betul bahwa erangan yang mengerikan ini berasal dari ayahnya.


"A-ayah!" ucap Sebas dengan suara terputus-putus, sambil menutup erat kupingnya dengan tangannya.


Ia berguling di tanah, menjerit kesakitan dan ketakutan yang tak terkatakan. Suara erangan ayahnya terus menusuk kupingnya, meskipun ia sudah berusaha menutupinya.

__ADS_1


Air mata Sebas mengalir deras, mencampur aduk rasa sakit dan ketakutan yang melanda dirinya.


Namun, Sebas bukan satu-satunya yang menderita. Di hutan La Veda, semua manusia dan petualang yang berada di sana juga terjatuh ke tanah, seakan tak sanggup lagi menahan erangan dahsyat yang semakin membesar.


Mereka berusaha sekuat tenaga menutupi kuping mereka, berharap agar suara itu berhenti.


Namun, erangan itu terus menghantam mereka seperti ribuan jarum tajam yang menusuk kuping mereka, menyebabkan rasa sakit yang tak terbayangkan.


Semua orang merasakan ketakutan yang melumpuhkan. Hati mereka berdebar kencang, tubuh mereka gemetar, dan jiwa mereka hampir hancur oleh erangan dahsyat itu.


Mereka berharap, berdoa, agar erangan itu berhenti. Namun, semakin lama waktu berlalu, semakin kuat erangan itu terdengar, semakin dalam rasa sakit yang dirasakan.


Sebas merasa putus asa. Ia merasa seakan-akan tak ada harapan lagi. Hidupnya terasa hampa, dihantui oleh erangan ayahnya yang tak berkesudahan.


Begitu erangan dahsyat calliga terdengar, suasana hutan La Veda berubah menjadi mencekam.


Banyak burung beterbangan saat itu juga berhenti mengepakan sayapnya dan terjatuh dengan cepat terkapar ditanah.


Manusia dan petualang yang sebelumnya berada di sana, yang telah diselamatkan oleh Sebas, tiba-tiba merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Mereka berteriak dan menjerit, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk telinga mereka.


Air mata dan keringat bercucuran dari wajah mereka, menggambarkan betapa dahsyatnya erangan itu.


"BERHENTII!!!! AAAAARRGHHH!" teriak salah satu manusia dengan suara penuh keputusasaan.


Namun, erangan itu terus menghantamnya seperti ribuan jarum tajam yang menusuk kupingnya.


Rintihan kesakitan terdengar dari mulutnya, menggambarkan betapa menderita mereka.


Seorang wanita elf tergeletak di tanah, merengek dan menangis kesakitan.


Tangannya mencengkeram erat daun rumput di sekitarnya, mencoba mencari dukungan dalam keputusasaannya.


Air mata yang jatuh dari matanya mencampur dengan darah yang keluar dari mulutnya, menggambarkan betapa parahnya rasa sakit yang dia alami.


Namun, rasa sakit itu tidak hanya menyebabkan penderitaan semata. Banyak manusia dan petualang yang tidak bisa menahan erangan dahsyat itu, akhirnya mati dengan tragis.


Tubuh mereka tergeletak di rerumputan hutan, mata dan mulut mereka mengeluarkan darah yang mengalir deras.


Mereka tidak sadarkan diri, tak bergerak, menunjukkan betapa mematikannya erangan dahsyat itu.


Kehidupan mereka yang penuh harapan dan impian telah direnggut oleh erangan calliga. Saat itu, hutan La Veda menjadi medan kematian yang mencekam.

__ADS_1


Erangan dahsyat calliga semakin lama semakin redup, menghilang secara perlahan.


Hutan La Veda yang sebelumnya mencekam, kini ditutupi oleh serbuk kristal yang berkilauan seperti salju.


Sebas, yang sebelumnya begitu ketakutan, kini bernafas dengan terengah-engah. Dia berani berdiri, meskipun keringat masih mengalir di seluruh sisiknya.


Dengan gemetar, Sebas meraih serpihan kristal halus yang menempel di tangannya yang berkeringat.


Dia tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya kekuatan ayahnya. Sebas menatap ke langit, di kejauhan, di mana ia melihat ayahnya yang kini tidak lagi menyamar menjadi manusia berarmor, tetapi sebagai seorang naga yang menjulang megah.


"Sungguh, kekuatan ayah sangat mengerikan dan menyeramkan!" gumam Sebas, terheran-heran.


Dia merasa campuran kagum dan takut akan ayahnya yang memiliki kekuatan sedemikian besar.


Sebas tersadar akan suatu hal dan ia menoleh ke belakang dan melihat seluruh manusia dan petualang yang ia berhasil menyelamatkan terkapar di tanah, gemetar ketakutan.


Beberapa di antara mereka bahkan sudah tidak bernyawa, sementara yang lain menutup kuping mereka dengan erat.


Sebas tahu betul bahwa penyebab kematian mengerikan ini adalah erangan dahsyat yang dikeluarkan oleh ayahnya sendiri.


Ia juga menyadari bahwa manusia yang lemah seperti mereka akan mati jika terkena erangan tersebut.


Namun, tidak hanya manusia yang menjadi korban, Sebas juga menyadari bahwa dirinya sendiri sangat lemah dibandingkan dengan ayahnya yang hebat.


Erangan dahsyat ayahnya tadi membuatnya merasa tak berdaya dan penuh ketakutan.


Sebas bergumam dalam hati dengan penuh kebingungan dan pertanyaan, karena banyak dari manusia dan petualang yang telah ia selamatkan sekarang tewas karena tangan ayahnya.


"Bukankah ayah memerintahkanku untuk menyelamatkan mereka? Mengapa sekarang ia membunuh mereka yang telah kuselamatkan? Apakah semua usahaku sia-sia?" gumam Sebas penuh kebingungan sambil menatap mereka yang tergeletak lemas di rerumputan.


Rasanya seperti sebuah kekejaman yang tidak adil. Sebas merasa hatinya hancur melihat hasil dari usahanya yang seolah-olah sia-sia.


Saat Sebas merenung, otaknya terasa seperti tersambar petir dengan kekuatan yang luar biasa.


Pikirannya dengan cepat memproses tindakan tersembunyi dari ayahnya yang baru saja dia sadari dan pahami.


"Ah, Jadi seperti itu! Jadi tujuan ayah bukanlah untuk menyelamatkan manusia dan petualang rendahan ini, melainkan untuk membinasakan mereka semua dengan erangan dahsyatnya. Ayah sengaja menyuruhku mengevakuasi mereka ke tempat yang jauh dari Lithos, agar mereka aman dari serangan Lithos."


"Ayah tidak ingin Lithos mengambil kesenangan membantai manusia, dia ingin menikmati kesenangan itu sendiri dengan kekuatannya sendiri. Itulah sebabnya ayah memerintahkan aku untuk membawa makhluk rendahan ini ke sini," gumam Sebas kagum dengan rencana yang jahat itu.


Lalu, tanpa belas kasihan, Sebas tersenyum sinis kepada manusia dan petualang yang terkapar di tanah.


Mereka tidak menyadari bahwa mereka hanya menjadi alat untuk memuaskan nafsu kejam ayahnya.

__ADS_1


Tiba-tiba, Sebas membuka sepasang sayapnya yang besar dan mulai terbang menuju kota Arbandir yang sudah hancur.


Di sanalah ayahnya berada, dan Sebas bertekad untuk menyusulnya.


__ADS_2