Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 134


__ADS_3

"Mustahil!" seru wanita elf dengan heran dan kebingungan.


Bagaimana mungkin serangan debuff-nya, yang menurutnya begitu kuat, tidak memiliki efek apa pun terhadap Sebas?


Bahkan serangan anak panah yang telah diperkuat dengan skill-nya sendiri gagal total, dimusnahkan menjadi abu secara misterius, dan kemudian ia dapat menangkapnya dengan mudah.


Sebas menatap wanita elf dengan pandangan tajam.


"Jangan menghalangi jalanku," katanya dengan suara berat.


"Dia telah menghina ayahku dengan panggilan 'lemah.' Kalau kau menghalangiku, nyawamu tentunya akan melayang."


Wanita elf itu terdiam sejenak, menyadari bahwa dia berada dalam situasi yang sulit.


Serangan-serangan dan upayanya untuk melindungi wanita resepsionis sepertinya sia-sia.


Dia melirik ke arah wanita resepsionis dengan pandangan yang penuh kekhawatiran, kemudian akhirnya melepaskan diri dari posisinya yang menghalangi Sebas.


Sebas berjalan perlahan menuju wanita resepsionis dengan pandangan tajam dan kemarahan yang membara di matanya.


Wanita elf masih berusaha keras melindungi wanita resepsionis, meskipun situasinya semakin genting.


"Kau berkata ayahku lemah, katamu?" Sebas berbicara sambil merendahkan suaranya, mengisi ruangan dengan ancaman yang terabaikan.


"Makhluk bodoh! Apakah kau tahu dia adalah De—"


Namun Sebas tiba-tiba terdiam, ia digeplak oleh ayahnya, sebelum ia berkata ingin menegaskan bahwa ayahnya adalah seorang dewa besar.


Pandangannya tetap tertuju tajam ke arah wanita resepsionis, tetapi dia tampaknya terlalu terkejut untuk melanjutkan ucapannya.


...


"Anak bodoh satu ini!" Gumamku dengan kesal di dalam hati saat melihat Sebas menciptakan keributan.


Sudah kukatakan sebelumnya agar tidak menggunakan kekuatan aslinya di lingkungan manusia ini, tapi malah dia melanggar perintahku dan sekarang membuat keributan besar seperti ini.

__ADS_1


Tidak ingin keributan ini meluas, aku dengan cepat merespons dengan menggeplak kepala Sebas menggunakan teknik 'chop' yang aku kenal.


PLAK! Suara keras terdengar ketika tangan kuatku menggeplak kepala Sebas dengan kuat, membuatnya merasa sakit dan terdapat benjolan di kepalanya.


Sebas, yang sebelumnya marah kepada wanita resepsionis, tiba-tiba terdiam saat aku melakukan menggeplak kepalanya.


Tatapannya beralih dari marah menjadi penuh kebingungan karena dia baru saja tersadarkan bahwa aku yang memukul kepalanya.


Sebas segera mengusap kepalanya dan memalingkan pandangannya ke arahku, matanya berkaca-kaca, dan ekspresinya mencerminkan bahwa dia berusaha menahan tangisnya di hadapanku.


Aku, sambil mencueki Sebas yang sekarang jelas menyesal atas perbuatannya, mencoba menenangkan situasi dengan berbicara kepada resepsionis wanita dan wanita elf yang ada di sekitar.


"Ah, maafkan atas keributan, tindakan kasar dan sembrono putraku ini, nona-nona," ucapku, sambil menundukkan kepala hingga membentuk sudut 90° sebagai tanda permintaan maaf kepada mereka berdua.


Wanita resepsionis dan wanita elf yang sebelumnya terkejut oleh tindakan Sebas dan tiba-tiba ku yang meminta maaf dengan sopan, tidak tahu harus berbuat apa selain memandang kejadian ini dengan kebingungan.


Aku mengisyaratkan kepada Sebas dengan menekan kepalanya menggunakan tanganku agar dia juga meminta maaf kepada wanita resepsionis dengan membungkuk sejajar dengan apa yang aku lakukan.


Sebas, yang saat itu terlihat sangat menyesal, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis akibat pukulan yang kuberikan, meminta maaf dengan berbicara gugup.


Wanita resepsionis, yang sepertinya telah kembali tenang, merespons dengan ramah dan mencoba menenangkan situasi.


"Eh? Ah, tidak masalah, tuan. Tolong angkat kepala, tidak perlu meminta maaf dengan cara seperti itu. Ini semua salahku karena saya salah mengucapkan kata," ucapnya sambil menggugah bahu dan memberikan senyuman kecil kepada Sebas dan aku.


Situasi yang sebelumnya tegang akhirnya mulai mereda, dan aku merasa lega bahwa keributan di markas guild petualang ini dapat diatasi tanpa masalah yang lebih besar.


Aku mengangguk hormat kepada wanita resepsionis dan mengucapkan terima kasih atas pemahamannya yang lapang.


Namun, wanita elf yang masih marah dengan hinaan Sebas tidak begitu mudah dipadamkan kemarahannya.


"Apakah kau pikir hinaan pada ras dan dewiku yang agung akan aku maafkan begitu saja karena kau membungkuk sedalam tadi?" ucapnya dengan nada tajam, menunjukkan bahwa ia masih sangat tersinggung oleh perkataan Sebas.


Dia melanjutkan, "Tahukah kau, di antara sesama ras kami, jika ada penghinaan terhadap dewi kami, putramu yang kau lindungi tadi pasti sudah dikepung dan dihukum dengan sangat keras. Sepertinya aku harus melaporkan penghinaan putramu ini kepada Raja Elf, Edgar agar dia segera dihukum mati!"


Wanita elf itu menunjuk Sebas yang berdiri di sampingku, mengancam akan melaporkan insiden ini kepada raja elf.

__ADS_1


Situasi yang sudah mulai mereda tiba-tiba menjadi tegang kembali.


Aku merasa perlu menjelaskan situasinya kepada wanita elf yang masih marah.


Dengan sopan dan tetap menjaga sikap hormat, aku menjawab, "Nona, saya sangat meminta maaf atas perilaku tidak pantas putra saya. Kami datang ke kota ini dengan niat baik, dan saya berharap kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai."


Saat melihat situasi semakin rumit, aku merasa frustasi dengan ulah Sebas yang telah membawa masalah ini menjadi lebih besar. Aku berbisik di hatiku, "Sial! Mengapa masalah ini jadi membesar, baru saja aku sampai di sini tidak sampai 1 jam dan Sebas sudah membuat onar."


Aku mencoba menenangkan wanita elf yang masih belum memaafkan tindakan Sebas sebelumnya.


"Sebagai tanda permintaan maaf yang tulus, apa yang bisa aku lakukan agar kau bisa memaafkan putraku dan diriku yang tak bersalah ini?" ucapku padanya dengan penuh kerendahan hati.


Wanita elf tampak berpikir sejenak, lalu dengan tegas ia menjawab, "Kalau begitu, bersujudlah meminta maaf di hadapanku, dan berikan aku sejumlah uang yang banyak! Aku bersumpah demi dewiku, lunala. bahwa aku tidak akan melaporkan kejadian ini kepada Raja Edgar dan akan memaafkan hinaan kasarmu sebelumnya !"


Saat wanita elf tersebut mengusulkan agar aku bersujud meminta maaf di hadapannya, pikiranku langsung melawan.


Mengapa aku harus bersujud di hadapannya? Dia hanyalah seorang elf yang terlalu banyak bacot, dan aku tahu aku bisa mengalahkannya dengan mudah.


Namun, situasi ini tidak memungkinkan. Terlalu banyak orang di sekitar, dan jika aku bertindak kasar, pasti akan terjadi kekacauan besar.


Berkat Sebas tolol! ini benar-benar telah menciptakan masalah besar.


Sebas yang berada di sampingku juga tampak marah, dan rasa kemarahannya dengan jelas terpancar dari tatapannya saat mendengar ucapan wanita elf.


Ia mulai bergerak perlahan, tampaknya ingin mengakhiri permasalahan ini dengan cara cepat dan brutal.


Sadar akan niat Sebas, aku dengan cepat menahan tubuhnya dan mencengkram erat bahunya.


Aku juga merasa kesal dengan tindakan bodoh Sebas yang telah membawa kami ke dalam masalah ini, tetapi aku tahu bahwa membunuh wanita elf ini bukanlah solusi yang bijak saat ini.


Saat ku mencekram bahu Sebas dengan keras, ia menatapku yang sedang kesakitan dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah sadar akan isyaratku agar diam saja, agar tak memperumit permasalahan yang telah ia buat.


Sementara Lithos, yang tak kuasa menyembunyikan rasa geramnya terhadap tindakan wanita elf tersebut, memilih berdiam diri.


Hanya matanya yang menyaksikan kami, seperti mata batu penjaga yang setia di dunia yang semakin rumit ini.

__ADS_1


Lalu, aku, dengan ekspresi seadanya, membalas wanita elf tersebut dengan nada yang berusaha mempertahankan ketenangan.


__ADS_2