Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 138


__ADS_3

Aku hanya mengangguk kepada Lithos dan saat itu juga Lithos berkata kepadaku mengenai sebas yang masih menangis.


"Kalau begitu, cepatlah tenangilah anak manjamu, aku tidak tahan melihat dia nangis sesenggukan seperti itu" ucapnya kepadaku sembari mengisyaratkanku untuk melihat sebas dan menghentikannya tangisannya.


Aku mendekati Sebas yang masih menangis dengan air mata deras, dan nafas yang tak beraturan, seperti bocah kecil yang tengah dimarahi oleh orang tuanya.


Dengan perasaan yang tulus, aku menyadari bahwa tindakanku terhadap Sebas terlalu berlebihan.


Dia telah membuat keributan yang sebenarnya tidak perlu, tetapi itu semua karena rasa sayang dan penghormatannya terhadapku.


Mungkin aku terlalu cepat marah dan memaki dia, tanpa memikirkan perasaannya.


Aku merenung sejenak tentang usiaku. Meskipun tubuhku sekarang adalah naga yang kuat dan besar, sebenarnya aku masih muda. Umur manusiaku adalah 21 tahun, dan sudah tiga tahun berlalu sejak aku menjadi naga. Jika dijumlahkan, aku baru berusia 24 tahun.


Aku merasa bahwa emosiku masih seperti anak muda yang belum matang, dan mungkin aku belum siap untuk menjadi seorang "orang tua".


Dengan perasaan penyesalan dan kematangan yang sedikit lebih besar, aku mendekati Sebas yang masih mencucurkan air mata.


Kali ini, aku ingin memberinya dukungan yang dia butuhkan tanpa harus melibatkan marah atau pemakian.


Terkini, aku merasa diriku menjadi seorang orang tua yang harus belajar menghadapi emosi tak stabil.


Dengan tujuh anak di sisi, masing-masing dengan kepribadian yang unik, aku menyadari bahwa peran ini bukanlah tugas yang mudah.


Aku mengangkat wajah ke langit yang luas dan menghela nafas panjang.


Peran sebagai orang tua telah menuntutku untuk merendahkan ego dan meningkatkan tingkat kesabaran.


Semua ini demi mereka, anak-anakku yang kini menjadi tanggunganku.


Menjadi orang tua ternyata jauh lebih sulit dan melelahkan daripada yang aku bayangkan sebelumnya.


Dengan penuh penyesalan, aku menoleh ke arah Sebas, yang kini terlihat jauh lebih muda daripada sebelumnya.

__ADS_1


Aku merasa sangat menyesal atas kemarahan dan kata-kata kasar yang telah kutunjukkan padanya, bahkan mengusirnya dari hadapanku. Aku tahu bahwa perbuatanku telah menyakiti hatinya.


Sebas masih terisak sesenggukan, menundukkan kepalanya.


Jika diperhatikan dengan seksama, tubuhnya gemetar, seolah-olah dia ketakutan.


Aku merasa begitu aneh dengan transformasi yang dilakukan Sebas.


Dulu, ia adalah seorang kakek tua yang memanggilku "ayah" dan berperilaku manja kepadaku.


Itu sudah cukup aneh bagi diriku yang merasa sebagai manusia muda berusia 20-an yang terjebak dalam tubuh naga ini.


Namun, sekarang, dia telah mengubah penampilannya menjadi jauh lebih muda ketika mengikuti aku ke kota manusia.


Aku tidak bisa tidak merasa terkejut dan agak tidak percaya bahwa Sebas benar-benar melakukan sesuatu yang seaneh itu.


Transformasinya ini membuat segalanya terasa semakin aneh.


Tiba-tiba, pemahamanku terbuka seperti cahaya yang menerangi pikiranku.


Dia pasti ingin terlihat lebih muda di depanku ketika kami berada di kota manusia.


Tujuannya, agar lebih dekat kepadaku, bisa memperlakukan diriku seperti seorang ayah, dan yang lebih penting, agar tidak ada yang memandangnya aneh atau menertawainya ketika ia memanggilku "ayah" di tengah manusia-manusia ini.


Bayangkan saja jika kami memasuki kota manusia tanpa perubahan penampilannya.


Aku, menyamar sebagai manusia dalam baju besi berat, dan Sebas dengan penampilan kakek tua.


Semua orang pasti akan mengira bahwa Sebas adalah ayahku, dan aku adalah anaknya dalam penampilan manusia.


Dia mungkin tidak ingin skenario seperti itu.


Melihat sejauh mana usaha yang telah dilakukan Sebas, aku merasa sangat terharu.

__ADS_1


Dia telah berpikir sedalam-dalamnya dan merubah penampilannya dengan drastis agar peran ku sebagai ayahnya tidak berubah.


Aku tetap menjadi sosok ayahnya, dan dia akan menjadi anakku dilingkungan manusia ini.


Sadar akan dedikasi dan usahanya yang luar biasa, senyum tak bisa aku tahan lagi muncul di wajahku.


Aku merasa bersalah atas kemarahanku sebelumnya.


Meskipun Sebas memiliki tubuh yang kuat dan tangguh, dalam mataku, mereka semua adalah anak-anak yang butuh kasih sayang dan bimbingan seorang ayah dariku.


Aku tahu aku harus meminta maaf kepadanya.


Dengan berat hati, aku merendahkan diriku, berjongkok di hadapan Sebas. Perbedaan tinggi kami begitu mencolok; aku yang setinggi 250 cm dan Sebas yang 'hanya' 185 cm.


Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas saat dia menundukkan kepalanya, jadi aku perlahan mengangkat wajahnya dengan tangan besarku.


Aku menyaksikan wajah Sebas yang masih penuh air mata, dengan ingus belepotan di wajahnya.


Melihatnya seperti ini membuatku merasa semakin bersalah dan menyesal atas kemarahan bodohku sebelumnya.


Tapi aku tahu, kali ini aku harus bertindak sebagai seorang ayah yang penuh pengertian dan lembut.


Dan saat itu juga mata kami berdua bertemu dan saling menatap, sementara itu sebas masih gemetaran dan ketakutan saat melihatku, mungkin ia mengira aku akan memarahi nya kembali.


Tapi karena wajah sebas dipenuhi dengan air mata yang sepertinya matanya bengkak oleh banyak menangis tanpa henti, serta dengan ingus yang membeler jatuh kemulutnya aku hanya tersenyum karena dia bagaikan bocah kecil.


Aku saat itu juga mengambil tissue diruang penyimpanan dimensiku, aku mengelap seluruh air mata dan ingus sebas diwajahnya dengan pelan-pelan penuh kehangatan bagaikan orang tua yang sayang kepada anaknya.


serta aku menyuruhnya untuk bernafas dengan kencang agar ingus dia bisa keluar semua.


Sebas walaupun masih menangis dan takut kepadaku ia melakukannya sehingga aku dapat mengelap bersih wajahnya.


Setelah beberapa lama, aku berhasil mengelap semua ingus dan air mata yang membasahi wajah Sebas.

__ADS_1


Kemudian, aku meletakkan kedua tanganku di pundaknya.


Anehnya, saat aku menyentuhnya, ekspresinya terlihat seakan kesakitan.


__ADS_2