Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 166


__ADS_3

"CICAK BESAR MENJIJIKAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRAKU! AKAN KUBUNUH KAU, KADAL KECIL SIALAN!" Teriak istri Grandor dengan air mata mengalir, marah dan berduka atas kematian putranya.


Kakinya sudah siap menginjak tubuh Dragonoid kecil Calliga, dan wajahnya penuh dengan amarah.


Namun, Calliga hanya tersenyum dengan nada menyeringai kepada naga besar yang mengancamnya.


Sementara itu, Grandor merasakan kepanikan yang tak terhingga. Dia terkejut oleh dua hal: pertama, putranya sepertinya telah tewas karena murka dewanya, Calliga, atas dosa besar yang telah dilakukannya.


Kedua, teriakan istrinya yang menghina dewanya dengan sebutan "lizardmen rendahan" kepada Calliga. Grandor tidak ingin kehilangan istrinya dengan cara yang sama seperti putranya, Ragnar.


"[Death]," ucap Calliga dengan kata tersebut tanpa belas kasihan kepada istri Grandor yang hampir menginjak tubuhnya.


Saat itu, istri Grandor merasakan jantungnya seperti meledak, dan dalam sekejap, jantungnya hancur. Dia tergeletak lemas dan tewas di tanah.


Grandor, terlambat untuk menyelamatkan istri dan putranya, hanya bisa berkeringat dingin sambil berlutut bersama seluruh kawanan anggota keluarganya.


"Apakah masih ada yang berani melawan aku? Selain kedua makhluk bodoh ini yang berani menentangku?" ucap Calliga dengan dingin, menunjuk ke arah mayat istri Grandor dan putra Grandor, Ragnar.


Suasana seketika menjadi sangat tegang, menunjukkan kekuatan menakutkan dewa mereka yang bisa dengan mudah mengambil nyawa mereka.


Ketegangan dan ketakutan menyelimuti seluruh kawanan naga yang masih hidup, yang kini mengerti bahwa melawan dewa mereka adalah tindakan sia-sia yang akan berakhir dengan kematian.


Suasana seperti ini adalah contoh nyata kekuatan dan otoritas Calliga sebagai dewa pencipta sekaligus dewa kematian bagi mereka.


Seluruh kawanan keluarga naga Grandor terdiam, ketakutan merajalela di wajah mereka saat mereka menghadapi Calliga, yang merupakan dewa kematian bagi mereka.


Tak ada yang berani menantangnya, hanya ketakutan yang merayap di hati mereka. Mata Calliga berkilat, menyiratkan kekuatan tak terbantahkan yang dia miliki.


"Hmm, jadikan ini sebagai peringatan bagi kalian semua, jika kalian berani menentangku, hanya kematian yang menunggu kalian, MENGERTI? " ujar Calliga dengan nada yang memancarkan otoritas.


Tatapan tajamnya mencekam, dan seluruh kawanan naga tidak bisa menghindarinya.


Tanpa kata lain, seluruh kawanan naga bersujud dan berlutut kepada Calliga, menunjukkan penghormatan dan takut yang mendalam.


Grandor, yang paling dekat dengan Calliga, berlutut lebih dalam lagi, merasa bertanggung jawab atas perilaku kurang ajar putranya yang menyebabkan semua ini terjadi.


Momen ini adalah bukti kuasa dan otoritas Calliga sebagai dewa mereka.

__ADS_1


Bagi naga-naga ini, Calliga adalah penguasa yang tak bisa ditentang, dan mereka mengerti dengan sangat jelas bahwa melawan kehendaknya akan berujung pada kematian yang tak terhindarkan.


Calliga memerintahkan kawanan keluarga Grandor untuk memasuki portal vortex yang telah dia buat, menghubungkan mereka ke lantai ketujuh dungeon.


Semua keluarga Grandor memasuki portal dengan tunduk pada kehendak dewa mereka, kecuali Grandor.


Grandor, yang gemetar dan penuh ketakutan, memohon izin kepada Calliga untuk membawa serta menguburkan mayat putranya dan istrinya di lantai ketujuh dungeon. Calliga menyetujui permintaan ini.


Grandor sebenarnya ingin memohon kepada dewanya agar istri dan putranya dibangkitkan kembali, namun dia tak berani melawan kehendak dewa atau membuatnya marah.


Ia hanya meminta izin untuk membawa tubuh keduanya dan mengubur mereka di lantai ketujuh dungeon milik Calliga.


Grandor dan saudaranya, Rodnar, menyeret mayat istrinya dan putranya menuju portal raksasa yang dibuat oleh Calliga.


Mereka melalui portal ini dan tiba di kota manusia yang hancur total, tempat mereka hanya bertemu dengan Sebas dan Calliga.


..


Calliga, setelah peristiwa yang penuh teka-teki di hari itu, memutuskan untuk kembali ke dungeon rumahnya bersama Sebas untuk beristirahat.


Namun, sebelum mereka bisa memasuki portal vortex menuju dungeon, Calliga mendengar jeritan perempuan yang keras.


Apakah kau mendengar sesuatu, anakku?" tanya Calliga dengan rasa curiga dalam suaranya.


Sebas, sedikit terkejut, bergetar dan menjawab, "Ti-tidak, ayah, aku tidak mendengar apa-apa."


Namun, jeritan keras itu datang lagi, lebih keras dari sebelumnya, dan dengan cepat berhenti, membuat Calliga merasa ada sesuatu yang sangat aneh terjadi. Jeritan itu jelas berasal dari dalam tanah.


"Ada sesuatu yang salah di sini," gumam Calliga dengan waspada, matanya yang tajam dan bercahaya mencari tahu sumber jeritan misterius itu.


Calliga dengan cepat merasa bahwa sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi, dan dengan penuh waspada, ia mengaktifkan kemampuannya yang disebut [Reality Phasing].


Dalam sekejap, ia menembus tanah layaknya hantu, menuju sumber suara misterius itu. Sebas, tanpa kemampuan serupa, hanya bisa menuruti perintah ayahnya untuk tetap diam dan berdiri di tempat.


Dalam sekejap, sebuah ledakan hebat mengguncang tanah, dan dari dalam tanah muncul sebuah lubang besar.


Calliga, berdiri di sana, membawa dua manusia dalam pelukannya. Seorang wanita hamil besar yang pingsan dengan lemas dan seorang pria tua berusia sekitar lima puluh tahun.

__ADS_1


Dengan tenang, Calliga meletakkan pria tua itu dengan lembut di tanah, lalu dengan penuh kehati-hatian menempatkan wanita hamil itu dengan lembut di sebelahnya.


Kedua manusia ini terlihat sangat lemah dan tidak sadarkan diri.


Peristiwa ini benar-benar misterius, dan tidak ada yang tahu siapa kedua manusia ini atau mengapa mereka berada di dalam tanah yang terdapat sebuah ruangan rahasia seperti penjara.


Sebas hanya melihat kebingungan dalam tindakan ayahnya saat membawa dua manusia yang pingsan, tanpa tahu alasan di baliknya.


Di sisi lain, Calliga memiliki pengetahuan lebih lanjut tentang dua manusia tersebut. Mereka terbaca dalam status yang terlihat jelas, dengan nama yang muncul di atas kepala mereka.


Wanita hamil besar itu bernama Evelyn, sedangkan pria tua yang tampak lesu adalah Rufus.


Calliga merenung sejenak, memandang kota yang hancur di sekitarnya, penuh mayat yang telah tergeletak tak berbentuk akibat perkelahian dahsyat antara Lithos dan Grandor yang terjadi sebelumnya.


Merasa simpati, terutama terhadap Evelyn yang hamil, Calliga mengambil keputusan. Dengan sikap manusianya yang masih tersisa, ia ingin memberikan perlindungan dan pertolongan kepada manusia-manusia ini.


Evelyn yang sedang mengandung memerlukan perawatan khusus, dan Rufus, bagaimanapun, bisa memberikan informasi tentang dunia manusia yang saat ini runtuh.


Sebas, yang masih bingung, hanya bisa melihat ayahnya dengan penuh pertanyaan, tetapi ia tahu bahwa ada alasannya di balik tindakan ayahnya.


Calliga kemudian merasa bahwa membawa mereka berdua ke dalam dungeonnya akan menjadi pilihan terbaik.


Dia yakin bahwa akan ada saatnya dia bisa mencari tahu lebih banyak tentang kedua manusia ini.


Dengan perintah dari Calliga, Sebas mengangkat kedua manusia yang tak sadarkan diri tersebut.


Meskipun bingung, Sebas yakin bahwa ayahnya, yang dianggapnya sebagai sosok yang penuh kebijaksanaan, memiliki rencana yang lebih dalam.


Baginya, Calliga adalah sebuah wujud kesempurnaan yang selalu menjalani tindakan yang penuh makna dan kompleks. Ini hanyalah satu lagi langkah dalam rencana yang lebih besar.


Sebas melihat ayahnya dengan penuh rasa hormat dan rasa kecil dalam hatinya.


Ia berharap suatu hari bisa mendekati tingkat kebijaksanaan dan pengetahuan ayahnya.


Dalam hatinya, ia merenung bahwa kedua manusia yang mereka bawa mungkin adalah pion dalam rencana ayahnya yang sangat kompleks.


Sebas mengangguk pada ayahnya dan dengan hati sedih melangkah menuju portal yang membawa mereka ke lantai 7 dungeon.

__ADS_1


Setelah melewati portal tersebut, mereka tiba di lantai 7.


Portal vortexnya menghilang, tidak meninggalkan tanda-tanda sama sekali, dan kota Arbandir sekarang hanya menjadi sebuah kota mati, sebuah kenangan kelam yang akan diingat oleh manusia sebagai bagian dari sejarah kelam mereka.


__ADS_2