Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 106


__ADS_3

Ucapan Calliga, yang kali ini lebih lembut dan penuh empati, membuat hati kristal Lithos terasa hangat.


Dia merasakan pukulan emosi yang kompleks saat rasa bersalah, kehangatan, dan kerinduan saling berbaur dalam dirinya.


Tanpa ragu, Lithos berdiri dan memeluk Calliga dengan tulus. Calliga kaget dan agak jijik, tetapi dia membiarkan Lithos memeluknya.


"KAWANKU!! Kau baik sekali, meskipun aku sudah menghinamu dan menyerangmu berlebihan sebelumnya. Maafkan aku, KAWAN BAIKKU!" ucap Lithos dengan penuh emosi, memeluk Calliga dengan kuat.


Calliga merasa agak tidak nyaman dalam pelukan Lithos, dan ia perlahan-lahan mencoba melepaskan diri.


Tapi saat Lithos akhirnya melepaskan pelukannya, Calliga merasa kebingungan. Baru saja mereka bertarung dan sekarang Lithos memperlakukannya seperti teman dekat.


Semua perasaan itu bercampur aduk dalam diri Calliga, tetapi ia memutuskan untuk melihat sisi positifnya dan memberikan Lithos kesempatan.


Dengan antusiasme yang bersemangat, Lithos bertanya lagi kepada Calliga, "Kawanku! Harusnya aku bertemu denganmu lebih cepat sebelumnya. Mengapa kau tidak datang kemari lebih awal? Jika saja kau datang ribuan tahun yang lalu, tentunya aku sudah bersama denganmu sekarang dan meninggalkan tempat membosankan ini, KAWAN BAIK-KU!"


Saat Calliga mendengar pertanyaan ini, ia hampir saja terkejut sampai tercekat.


"KUHARUS JAWAB APA?!!" teriaknya dalam hati dengan frustasi.


"Dia pikir aku sudah hidup ribuan tahun? Di dunia ini saja, setelah aku menjadi naga, aku baru hidup sekitar kira-kira 2-3 tahunan," gumam Calliga kesal dalam hati.


Saat itu, otak Calliga berputar cepat, mencari alasan yang logis untuk menjelaskan mengapa dia baru datang ke tempat Lithos.


"Ahek.. Ahemm... Aku sudah lama ingin mengunjungimu, tapi baru kali ini ada kesempatan. Sayangnya, ketika aku mencoba, kau menyerangku," kata Calliga dengan canggung, berharap alasan ini akan masuk akal.


Lalu, dia melanjutkan, "Dan aku butuh waktu yang lama untuk memulihkan diri dari luka-luka parah yang kuderita sebelumnya. Jadi, aku baru bisa mengunjungimu sekarang," ucap Calliga dengan deg-degan, berharap penjelasannya terdengar masuk akal.


Lithos dengan cepat membalas, "Ah, maafkan aku yang sudah menyerangmu sebelumnya, kawanku."


Namun, Lithos segera menyadari sesuatu yang tak klop dalam penjelasan Calliga.


"Tunggu?! Kau bilang kau terluka parah? Berarti itu terjadi ribuan tahun yang lalu bukan? Ah, aku tahu! SIALAN ITU PASTI PERBUATAN MANUSIA DAN IBLIS BRENGSEK ITU! Entah kenapa dua ras rendahan itu tiada henti mencari masalah," ucap Lithos dengan amarah yang menggebu, merujuk pada perang dahsyat antara manusia dan iblis yang hampir memusnahkan ras unik, termasuk naga, ribuan tahun yang lalu.


Lithos merasa marah dan benci terhadap manusia dan iblis karena peran mereka dalam perang tersebut yang hampir membantai seluruh ras kuat termaksud naga sehingga jumlah populasi mereka sangat sedikit saat ini.


Dan ia mengira bahwa manusia dan iblislah yang menyerang kawan baik dihadapan nya ribuan Tahun yang lalu sehingga ia terluka parah akibat tindakan bodoh kedua ras rendahan tersebut.


Namun, Lithos tidak menyadari bahwa iblis sekarang telah punah dan bahwa manusia-lah yang telah mendominasi dunia selama ribuan tahun ini, termasuk di dalam dungeon yang sunyi ini.

__ADS_1


Namun, Calliga tidak ingin Lithos bertanya lebih banyak atau membuat situasi semakin rumit.


Dia cepat-cepat menyuruh Lithos, "Bisakah kau melepaskan mereka sekarang?" sambil menunjuk ke arah Sebas, Vael, dan Gameciel yang terikat oleh rantai dan tak dapat bergerak.


Dengan suara rendah, Lithos menjawab, "Baik. Baik, kawanku." Matanya memandang ke arah yang ditunjuk oleh Calliga.


Krak...


Krak...


Krak...


Seolah-olah terjadi dalam keajaiban, belenggu rantai yang mengikat Sebas, Vael, dan Gameciel mulai retak dan akhirnya hancur.


Rantai yang mengikat mereka seperti penjara telah pecah, membebaskan mereka dari tawanan mereka.


Dengan perlahan, mereka mulai dapat bergerak lagi.


Sebas tidak ingin mengulangi kehilangan ayahnya, jadi dengan cepat ia mengibaskan sayapnya yang besar dan terangkat dari tanah.


Dia meluncur dengan cepat dan dengan lembut mendarat di dekat Lithos.


Sementara itu, Gameciel dan Vael terbang dan mendarat di sekitar Calliga dan Lithos.


"Ayah!" seru Sebas, suaranya penuh dengan kehangatan dan rasa sayang, sambil memeluk erat ayahnya, Calliga.


Dalam diam, Lithos melihat adegan ini dengan sedikit senyum di wajah kristalnya.


"Kau memiliki putra yang manja sepertinya," kata Lithos dengan tangan terlipat di depan dadanya, mengamati betapa eratnya pelukan antara Sebas dan Calliga.


Calliga sendiri merasa sedikit bingung oleh perubahan tiba-tiba dalam perilaku Sebas.


Sebas biasanya dikenal dengan sikapnya yang dingin dan datar, jauh dari perilaku manja seperti ini.


Tapi entah kenapa terjadi perubahan yang mendalam pada karakternya.


Dia mengamati Sebas yang memeluknya dengan erat, merasakan kehangatan cintanya mengingat akan luna.


Saat itu, Calliga memberikan perintah tegas kepada Sebas, Gameciel, dan Vael untuk kembali ke rumah mereka, yaitu dungeon Calliga sendiri.

__ADS_1


Vael dan Gameciel, segera mematuhi perintah Calliga dan meninggalkan tempat dungeon kuno itu.


Namun, Sebas tetap teguh berpegangan pada Calliga, enggan melepaskan pelukannya.


Calliga merasakan seakan-akan dia sedang memelihara seekor anjing yang butuh kasih sayang.


dengan suara helaan nafas ringan, akhirnya ia bertanya kembali kepada Sebas apa yang sedang terjadi kepadanya.


Namun, sama seperti sebelumnya, Sebas tetap bungkam dan enggan memberikan penjelasan.


Calliga menyerah pada misteri perilaku aneh Sebas, menganggapnya sebagai salah satu dari sisi aneh sebas.


Dengan hati yang berat, Calliga memutuskan untuk kembali ke rumah mereka, menjauh dari dungeon kuno Lithos ini.


Dia mengibaskan sayapnya dan mulai terbang, tapi Sebas masih tetap memeluknya erat seperti monyet yang bergelantungan pada tubuh besar Calliga.


Saat Calliga melaju ke udara, Sebas tetap setia pada pelukannya, tampaknya tidak ingin melepaskan ayahnya yang telah ia temukan kembali.


Calliga hanya bisa menggelengkan kepala atas situasi yang konyol ini.


Mereka meluncur ke langit, menyusuri langit yang penuh dengan misteri dan rahasia, meninggalkan Lithos dan dungeon kuno dalam bayang-bayang tanya.


Lithos dengan lincahnya memanipulasi kristal disekitarnya yang membentuk sayap dan melayang di udara bersama Calliga.


Ia dengan jelas melihat tingkah konyol Sebas yang tetap memeluk kawannya dengan erat, yang bergelantungan seperti monyet.


Lithos tidak bisa menahan tawanya, dan suara tawanya bergema di langit-langit dungeon.


Tingkah manja Sebas yang melampaui batas tampaknya begitu menghibur bagi Lithos, membuatnya tertawa dengan keras.


Namun, pandangan tajam Sebas yang menyiratkan kemarahan yang mendalam kepada tawa Lithos.


Sebas memandang Lithos dengan sikap yang jelas ingin menghancurkannya.


Setelah beberapa lama terbang, mereka akhirnya keluar dari dungeon kuno melalui dalam danau yang misterius kemudian terbang kelangit-langit goa yang terdapat jalan keluar.


Mendarat di lantai 10 yang hancur berantakan akibat tindakan Calliga sebelumnya, mereka kembali ke lingkungan yang lebih dikenal.


Namun, dengan kehadiran Lithos, semuanya terasa berbeda.

__ADS_1


__ADS_2