
Namun, tepat sebelum kristal-kristal itu menyentuh permukaan tanah dan Grandor menerima takdirnya, terdengar raungan naga yang dahsyat, melampaui suara Grandor yang lemah.
"GRRRROOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRR!" Erangan naga yang dahsyat semakin lama semakin membesar dan mengguncangkan, mampu memecahkan gendang telinga makhluk hidup.
Gempa yang mengerikan pun terjadi, mengguncang bumi dengan kekuatan yang menakjubkan.
Saat itu, Grandor yang hampir menyerah telah menjadi saksi akan kekuatan yang tak terbayangkan.
Suara erangan dan gempa yang dahsyat itu menciptakan atmosfer yang gelap dan menakutkan, menerjang ketakutan dan keputusasaan Grandor.
Di tengah kehancuran, ada harapan yang muncul, membangkitkan semangat yang hampir padam dalam diri Grandor.
Saat itu juga, seluruh kristal yang terjatuh dan hampir menghantam Grandor retak dengan cepat, berubah menjadi tumpukan abu yang menyerupai serbuk salju.
Erangan dahsyat Calliga, seekor naga yang tak terkalahkan, telah mengubah kristal-kristal itu menjadi debu dalam sekejap.
Krak...
Krak...
Dan sekarang, langit dipenuhi dengan hujan abu, seperti salju yang turun dengan lebat akibat pecahan kristal yang kini menjadi abu.
Suasana gelap dan sedih menyelimuti tempat itu, menciptakan suasana yang tegang dan menyeramkan.
"GRROOOAAAAAAAAAARRRRRR!" Raungan Calliga semakin menggema dengan intensitas yang semakin meningkat.
Dia mengeluarkan skill [Savage Roar], yang semakin dia meraung, semakin kuat pula kehancuran yang terjadi.
Suara erangannya yang dahsyat melampaui batas, menciptakan gelombang kehancuran yang mengguncangkan dunia.
Saat itu, Calliga mendarat di depan Lithos yang berada di dekat Grandor.
Keberadaan Calliga dalam wujud aslinya kini dapat dilihat oleh banyak orang yang terbang di langit bagaikan sang dewa naga yang penuh dengan otoritas.
Keajaiban dan kekuatan yang Calliga tunjukkan menciptakan atmosfer yang gelap dan mencekam, memberikan kesan bahwa bahaya yang lebih besar sedang mengancam.
Tidak hanya itu, bahkan Grandor yang terbaring lemas di tanah merasakan getaran gempa yang dahsyat, membuat tubuhnya terombang-ambing.
Dia mendengar raungan besar Calliga, dan tubuhnya pun merinding, gemetar karena ketakutan yang melanda.
Grandor, dalam keadaan yang gemetar dan ketakutan, memandang sosok Calliga yang kini berada dalam wujud aslinya.
Meskipun masih diliputi rasa takut, Grandor terkejut melihat kehadiran naga yang tak lain adalah Calliga sendiri yang ia kira adalah sosok dewa yang datang untuk memberi pertolongan kepadanya.
Calliga memiliki sepasang tanduk besar dan panjang yang berkilauan keemasan, menampilkan keagungan yang luar biasa, seakan-akan dewa naga primordial yang menakjubkan.
Grandor melihat sosok Calliga dengan gemetar, dan ingatan tentang cerita legenda yang pernah diceritakan oleh kedua orang tuanya saat ia masih kecil, sebelum ras mereka terancam punah, terlintas dalam pikirannya.
Keheranan, kekaguman dan ketakutannya bergabung menjadi satu, menciptakan perasaan campuran yang sulit untuk diungkapkan.
__ADS_1
...***Pada Zaman Dulu Kala Saat Ras Naga Berjaya*** ...
Pada zaman yang telah lama berlalu, ketika naga-naga masih memerintah dunia dan kehidupan mereka berjaya, terdapat sebuah legenda kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam masyarakat naga.
Cerita ini menjadi dongeng tidur bagi anak-anak naga, memperdengarkan kisah tentang naga primordial yang dianggap sebagai dewa dan menjadi ayah dari seluruh naga.
Tetapi, ia tiba-tiba menghilang secara misterius, meninggalkan tanda tanya yang tak terjawab.
Naga primordial itu bernama Dracorius. Ia memiliki ciri fisik yang menakjubkan dan membedakannya dari naga-naga lainnya.
Tanduk emas yang megah menjulang tinggi di kepalanya, memancarkan aura keagungan dan kekuasaan.
Tanduk tersebut menjadi simbol bahwa Dracorius adalah raja di antara para raja naga, sebagai ayah dari seluruh naga di dunia.
Keberadaannya menjadi harapan dan inspirasi bagi naga-naga lainnya, memberikan mereka kekuatan dan keberanian dalam menghadapi segala tantangan yang ada.
Namun, dengan hilangnya Dracorius, dunia naga pun terguncang. Kehadirannya yang tak tergantikan membuat kekosongan yang tidak bisa terisi.
Naga-naga merasa kehilangan arahan dan perlindungan, dan mereka pun terjebak dalam ketidakpastian dan kegelapan.
Selain tanduknya yang mengagumkan, tubuh Dracorius dilindungi oleh sisik-sisik yang kuat dan berwarna-warni.
Setiap corak warna sisik melambangkan kekuasaan Dracorius atas berbagai elemen alam.
Sisik biru mencerminkan kekuatan air yang tenang namun kuat, sisik hijau melambangkan kelimpahan dan kesuburan tanah, sisik merah melambangkan api yang berkobar, sisik kuning melambangkan kilat dan petir yang menggemparkan, serta sisik putih melambangkan kebijaksanaan dan keanggunan.
Dengan menguasai semua elemen alam, Dracorius dianggap sebagai dewa pencipta naga.
Kabar tentang kepergian Dracorius menyebar luas, dan seiring berjalannya waktu, naga-naga yang dulu mendapatkan perlindungan dan kekuatan dari sang dewa primordial ini mulai menghadapi kepunahan yang tak terhindarkan.
Kehilangan Dracorius menghadirkan sentuhan kelam dalam kehidupan naga. Tanpa kehadiran sang dewa, mereka merasa terbuang dan terlantar, terpaku dalam kesedihan yang amat dalam.
Sisik-sisik mereka yang dulunya bersinar dengan gemilang kini pudar, mencerminkan kehilangan yang mendalam.
Kepunahan yang mengintai mengguncang masyarakat naga, menghancurkan harapan dan masa depan mereka.
Kehadiran Dracorius yang begitu kuat dan melindungi mereka telah sirna, meninggalkan mereka dalam kegelapan dan penderitaan.
Perang antara manusia dan iblis telah merenggut banyak nyawa naga, meninggalkan hanya sedikit yang tersisa.
Namun, di dalam hati naga-naga yang bertahan hidup, cerita legenda tentang Dracorius tetap hidup.
Mereka mengenang kuil-kuil naga yang dahulu dibangun untuk menyembah dan menghormati sang dewa naga.
Di dalam kuil-kuil dulu kala saat naga berjaya didunia ini, patung Dracorius didirikan sebagai simbol penghormatan dan keagungan.
Banyak naga dari berbagai ras berdoa kepada dewa mereka, Dracorius, dengan harapan mendapatkan perlindungan dan kekuatan dalam menghadapi ancaman peperangan yang melanda dunia.
Namun, sayangnya, semua kuil tersebut telah hancur akibat perang antara manusia dan iblis. Hanya reruntuhan yang tersisa, menyisakan kenangan pahit dalam ingatan para naga yang masih hidup.
__ADS_1
Suasana muram dan menyedihkan melingkupi naga-naga yang merindukan kejayaan masa lalu dan kehadiran sang dewa yang melindungi mereka.
Dalam kehancuran kuil-kuil naga, naga-naga yang tersisa merasakan kehilangan yang mendalam.
Tempat suci yang pernah menjadi pusat spiritualitas dan keyakinan mereka kini hanya menjadi tumpukan puing.
Keagungan dan kekuatan yang diwakili oleh Dracorius dalam patung-patung itu telah berubah menjadi kenangan yang berdarah-darah.
Di dunia ini, hanya sedikit naga yang berhasil bertahan hidup dan mereka merindukan rumah mereka.
Mereka membawa cerita legenda tersebut dalam hati mereka, dan perasaan yang mendalam terhadap manusia dan iblis membakar api dendam di dalam diri mereka.
Dalam hati mereka, terpendam api yang menyala untuk melindungi dan membalaskan dendam atas siksaan yang mereka terima.
Mereka mengingat betapa manusia dan iblis telah menghancurkan dunia mereka yang indah di masa lalu dan yang sekarang hanya memori indah bagi mereka.
Dalam kegelapan yang mengelilingi mereka, mereka memupuk tekad untuk membalas dendam dan melindungi apa yang tersisa dari kekuatan mereka.
...----------------...
Saat itu, tubuh Grandor terasa sangat sakit akibat luka-luka yang memerah dan menganga di seluruh tubuhnya.
Dalam keadaan itu, air mata mengalir dari matanya saat ia mengingat cerita legenda yang diceritakan oleh orang tuanya, yang ternyata merupakan kebenaran yang tak bisa diabaikan.
Air mata menyatu dengan rasa sakit yang membelenggu hatinya. Ia teringat saat ia masih kecil, pergi ke kuil bersama kedua orangtuanya, menyembah dan mengagungkan dewa mereka, Dracorius.
Kini, ia melihat sosok dewa naga primordial tersebut dengan jelas, seperti yang diceritakan oleh kedua orangtuanya dulu kala yang sudah tiada.
Namun, ketika kehancuran dahsyat melanda kalangan naga akibat peperangan antara manusia dan iblis dulu kala, Grandor kehilangan saudara-saudaranya dan kedua orangtuanya yang sangat ia cintai.
Dalam keputusasaan dan penderitaan, ia sering menghujat Dracorius, sang dewa naga primordial.
Grandor merasa terkhianati oleh Dracorius. Ia tidak pernah melihat dewa itu datang atau menyelamatkan ia dan keluarganya yang terluka dan terbantai yang merupakan anak-anaknya.
Dracorius, yang dianggap sebagai sosok bapak, ayah, dan dewa oleh banyak naga, tidak pernah memberikan perlindungan atau pertolongan kepada mereka yang sangat membutuhkannya.
Kegelapan dan kekecewaan memenuhi hati Grandor terhadap dewa yang pernah mereka sembah di masa-masa sulit ribuan tahun yang lalu.
Banyak naga yang punah akibat ulah bodoh manusia dan iblis di masa lalu.
Namun, sekarang sosok dewa naga primordial yang sering ia hujat, entah kenapa, berada di hadapannya dengan jelas, tampaknya melindunginya dari ambang kematian.
Grandor yang hampir mati karena serangan Lithos diselamatkan oleh sosok yang ia kira adalah Dracorius, dewa naga primordial.
Tubuh besar Grandor bergerak dengan sendirinya, memberikan insting untuk bertahan dan melawan rasa sakit yang melanda.
Dengan mata yang berlinang air mata, ia dengan cepat berlutut di hadapan Calliga yang sedang terbang di langit.
"Oh, Sang Ayah Agung Seluruh Naga! Ampunilah dosa-dosaku yang telah sering menghujatmu!" seru Grandor, tiba-tiba bersujud sambil menangis di hadapan Calliga, yang sedang berhadapan dengan Lithos.
__ADS_1
Namun, Calliga tidak memperhatikan Grandor, ia hanya fokus pada pertarungan melawan Lithos.