
Dengan penuh emosi, Rufus melanjutkan, "Bagaimana jika kau tidak keluar hidup dari tempat kematian itu? Apakah kau tidak merasa kasihan pada istrimu yang sedang hamil besar? Dan anakmu yang akan istrimu lahirkan? Demi dewa! bagaimana kau bisa membuat pilihan bodoh seperti itu?"
Evelyn, yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka, merasakan kekecewaannya yang mendalam.
Namun, dia berusaha menyembunyikan perasaannya di balik senyuman yang samar.
Saat itulah, seperti kilat menyambar, pintu ruangan Rio terbuka lebar dengan tiba-tiba.
Klak...
Terkejut menyapu wajah mereka bertiga, khususnya Evelyn dan Rufus, yang melihat sosok pria muncul di ambang pintu.
Dengan langkah perlahan, pria itu mendekati mereka, khususnya mendekati Rio.
Kejutan dan ketegangan mengisi udara, dan tidak sabar menunggu untuk mengetahui identitas pria itu.
Evelyn dan Rufus tidak berpikir dua kali, segera berlutut di hadapan sosok yang mereka hadapi. Namun, tindakan cepat mereka tiba-tiba membuat suasana terasa kaku.
Sosok pria itu melangkah lebih dekat, menunjukkan ekspresi yang tenang namun penuh pengaruh.
Meskipun ingin segera bergabung dengan penghormatan mereka, Rio berusaha bangkit dari ranjangnya. Namun, tangannya yang cepat meraihnya menghentikannya dengan lembut.
"Tenanglah, Rio," ucap sosok pria itu, suaranya lembut dan hangat. "Tubuhmu masih lemah. Tidak perlu berlebihan dalam penghormatanmu terhadapku. Kau diizinkan untuk tetap di tempat."
Sosok pria itu, yang berdiri di depan Rio, mengenakan pakaian megah berwarna keemasan dengan sentuhan merah yang mencolok.
Pandangannya melayang ke kasur tempat Rio tidur, yang saat itu masih memiliki basahan air dari semburan air yang tidak sengaja dilemparkan Rufus.
Dengan pandangan tajamnya, pria itu tampak menginspeksi ruangan dengan teliti, seolah-olah sedang memutuskan apakah tempat itu pantas untuk menjadi tempat baru bagi Rio.
"Hmm, bersiaplah. Sebentar lagi, kau akan dipindahkan ke tempatku," ucap pria tersebut dengan nada tegas dan berwibawa.
"Bai... baik yang mulia!" ucap Rio dengan hormat, tangannya diletakkan di dadanya sebagai tanda penghormatan kepada pria yang ternyata adalah Raja Theovilus sendiri.
Sorot mata Raja Theovilus beralih pada Evelyn, istri Rio, dan dia dengan cepat menyadari bahwa wanita itu sedang hamil besar.
Dengan ramah, ia mengucapkan selamat atas berita tersebut. Namun, pandangannya segera bergeser, menunjukkan kebingungannya.
"Mengapa kau sendirian? Dan di mana yang lain? Bukankah kau pergi bersama para prajurit yang bersedia mengikuti? Aku tidak melihat mereka di sini, jadi sepertinya hanya beberapa yang selamat," ucap Raja Theovilus, tatapan tajamnya menyorot Rio.
__ADS_1
Sebenarnya, di dalam istana, hampir semua kesatria terbaik Raja Theovilus tidak hadir. Mereka beranggapan bahwa para kesatria telah mengikuti Rio dalam misi untuk menjelajahi Hutan Kematian Elysian.
Namun, Rio merasa geram oleh sikap mereka yang selalu ingin mencari pujian di hadapan raja.
"Beberapa?" gumam Rio dengan kesal. Ia benar-benar muak dengan sikap congkak para bangsawan ini.
Rio melirik Evelyn, yang masih berlutut dilantai dengan penuh dukungan.
Kehadirannya memberikan keberanian pada Rio untuk berbicara terbuka kepada raja. Dengan sedikit napas dalam-dalam, Rio berbalik kepada Raja Theovilus.
"Yang mulia, bolehkah aku jujur kepada Anda?" ucap Rio dengan tegas.
Raja Theovilus mengangguk mengizinkannya, dan Rio mulai mengungkapkan pikirannya, ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan suara keras.
Seorang pria berpakaian armor masuk, dan Rio mengenalinya sebagai prajurit bangsawan yang pernah mengancamnya.
Tersentak oleh kedatangan yang tiba-tiba, Rio tercekat sejenak. Tetapi sebelum dia bisa melanjutkan kata-katanya, tatapan tajamnya menatap pria tersebut.
Dalam sekejap, keberanian Rio dan dukungan Evelyn menciptakan ketegangan di udara.
Dengan tatapan yang terasa seperti pukulan, pria prajurit itu mengerti bahwa situasinya seperti yang dia kira.
"Ah, maafkan aku, Yang Mulia. Aku terlambat," ucap prajurit tersebut, berusaha membenarkan dirinya.
"Aku baru saja kembali bersama Rio dan menopang beberapa prajurit terluka yang ikut dengannya."
Ia berjalan menuju samping Raja Theovilus dan perlahan membungkukkan tubuhnya dengan hormat.
Raja Theovilus mengangguk lega, merasa lega bahwa mereka semua selamat kembali, dan keyakinannya terhadap Rio tampaknya terbukti.
Namun, dalam hati Rio, kemarahan semakin memuncak.
Ia bisa merasakan tindakan kepalsuan prajurit itu dan keinginannya untuk melampiaskan kemarahan itu hampir tak terkendali.
Tapi, ia harus menahan diri di depan Raja Theovilus.
"Silakan, lanjutkan ucapanmu, Rio. Ah, sebelum itu, kalian berdua bisa berdiri kembali," ucap Raja Theovilus kepada Rio, sambil memberi isyarat kepada Evelyn dan Rufus untuk berdiri.
Saat mata Rio bertemu dengan tatapan tajam prajurit yang baru masuk, seperti ada ancaman tersirat dalam tatapannya.
__ADS_1
Evelyn dan Rufus dengan hormat berdiri kembali, mengikuti perintah raja. Dan pada saat itu, Raja Theovilus memberi instruksi kepada keduanya untuk menunggu di luar sejenak.
Dengan suara 'klak', pintu tertutup kembali, meninggalkan Rio dan Raja Theovilus sendirian dalam ruangan.
Rio bisa merasakan tekanan dan pengawasan yang begitu kuat, namun dia tahu bahwa ini adalah saat yang penting untuk mengungkapkan kebenaran mengenai sikap para bangsawan bajingan.
Saat itu, dalam ruangan yang tersisa hanya tiga orang. Rio merasa detak jantungnya semakin cepat, tetapi tekadnya untuk melindungi istri tercinta membuatnya tetap kuat.
"Yang Mulia... Bolehkah... Yang Mulia mengizinkan istri saya masuk kembali bersama dengan saya?" ucap Rio, suaranya sedikit gemetar karena perasaan gugup dan kekhawatirannya terhadap Evelyn.
"Tentu saja," jawab Raja Theovilus dengan nada setuju.
Ia memanggil kembali Evelyn, yang berjalan pelan dan berdiri di samping Rio dengan wajah yang pucat.
Meskipun perutnya sudah besar menunjukkan kehamilannya, ekspresi cemas terpancar dari matanya.
Rio merasakan lega yang mendalam ketika istrinya kembali berada di sisinya. Ia merasa tanggung jawab besar untuk melindungi dan memastikan Evelyn aman dari segala ancaman.
Wajahnya yang tadinya tegang mulai sedikit mengendur, dan ia meraih tangan Evelyn dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang, aku akan berbicara dengan jujur, Yang Mulia," ucap Rio dengan suara mantap, mencoba mengumpulkan keberanian dalam dirinya.
Kehadiran Evelyn memberikan kepadanya kekuatan ekstra, dan ia bertekad untuk menghadapi apapun demi masa depan mereka yang aman.
"Yang Mulia... Sebenarnya... Aku melakukan penelusuran sendirian... Seluruh kesatria yang Mulia pilih, mereka semua tidak ikut bergabung denganku, termasuk dia!" ucap Rio dengan tegas, matanya menatap penuh tekad pada prajurit Alvin yang berdiri di samping Raja Theovilus.
Saat itu, Alvin menatap Rio dengan pandangan penuh kebencian dan kemarahan. Tangannya menggenggam erat gagang pedangnya, tetapi ia harus mengendalikan emosinya di hadapan sang raja.
"Hmm... Apakah kau yakin, Rio?" ucap Raja Theovilus dengan suara rendah, melipat tangannya di hadapan dadanya, seakan merenungkan kata-kata Rio.
Tatapannya kemudian beralih ke arah Alvin, menunjukkan bahwa ia ingin mendengar semua pihak.
Saat itu, Alvin terlihat gugup. Dengan cepat, ia merespon, "Jangan percaya pada Rakyat jelata rendahan seperti dia, Yang Mulia. Dia dipenuhi dengan kebohongan dan kebusukan!" Alvin berkata dengan nada marah sambil menunjuk Rio dengan jari telunjuknya.
Namun, Rio tidak lagi mau diam.
"Kebusukan katamu? Apakah kau tidak memiliki cermin? Kau bilang kau ikut denganku? Jangan mengarang! Kalau begitu, KATAKAN APA YANG KAU LIHAT DI TEMPAT KEMATIAN ITU!" ucap Rio dengan tegas, suaranya menggelegar di ruangan, sambil memegang erat tangan Evelyn yang memberikan dukungan padanya.
Alvin terlihat tergagap-gagap, merasa terjebak dalam kebenaran yang dituntut oleh Rio.
__ADS_1
Kekacauan pun terlihat dalam pandangan matanya saat ia mencari-cari kata yang tepat untuk menjawab.