Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Comfort "1"


__ADS_3

Dalam keheningan yang mencekam, aku merasa seperti sepotong limbah yang tidak dianggap oleh ayahku.


Meskipun aku telah bersujud dan memohon ampun dengan segala kerendahan hati, tetapi ayah tetap terdiam, tidak mengindahkan keberadaanku.


Rasa sakit dan kecewa yang mendalam memenuhi hatiku, seolah-olah aku telah kehilangan segalanya.


Tatapan tajam ayah masih aku rasakan menatap lurus ke hadapanku, dan setiap detik yang berlalu terasa berat dan panjang.


Aku merenung dalam ketidakberdayaanku, merasakan pukulan keras atas kesalahan bodohku.


Aku mengerti bahwa ayah marah dan kecewa, tetapi keheningan ini seperti hukuman yang lebih berat daripada apapun yang pernah aku bayangkan.


Dalam keadaan seperti ini, aku tak bisa berbicara. Bahkan tidak ada satu kata pun yang layak keluar dari mulutku.


Aku merenung tentang keputusanku untuk berbohong, dan sekarang aku merasakan efeknya dengan pahit.


Aku berharap dalam keheningan ini, ada kesempatan bagiku untuk merenung, belajar, dan menebus kesalahanku.


Saat aku terus bersujud dalam keadaan gemetar, aku juga merasa adik-adikku, Luna dan Vael, pasti penuh dengan kekecewaan dan kemarahan terhadapku.


Aku bisa membayangkan ekspresi mereka yang terdiam dan mungkin juga merasa tak tahu apa yang harus mereka katakan dalam situasi ini.


Tatapan tajam ayahku seperti terus menghujamku, membuatku semakin tidak nyaman meskipun aku telah berada dalam posisi paling rendah di depannya.


Dalam diamnya ayah, ada suatu ketegangan yang terasa dalam udara, seolah-olah segalanya sedang berada di ambang perubahan besar.


Dalam keheningan ini, aku mencoba merenung tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya.


Aku harus siap menerima hukuman apa pun yang ayah tentukan, karena itulah konsekuensi dari kesalahan bodohku.


Entah itu hukuman apa, aku akan menerimanya dengan sikap rendah hati dan berusaha memperbaiki diri.


Dalam hening yang mencekam, aku merasakan hadirnya ayahku yang mulai berdiri dari kasur raksasanya.


Pandangannya, seakan menusuk jauh ke dalam hatiku, menciptakan sensasi ketidaknyamanan yang tak terlukiskan.


Saat kemarahannya reda, kata-kata pertama yang keluar dari bibirnya membuat hatiku berhenti berdetak sesaat.


"Ma-------Ti--Kau," gumam ayahku, suara yang terputus-putus seolah terhalang oleh sesuatu.


Namun, meskipun kata-katanya tak sempurna, makna yang terkandung jelas terasa menusuk hatiku dengan tajam.


Kedengarannya seperti ia mengatakan "Matilah kau."


Terasa seolah dunia runtuh di hadapanku. Keputusasaan dan rasa takut melingkupiku saat aku mendengar ayahku mengucapkan hukuman yang kuat dan tanpa belas kasihan.


Mataku berkaca-kaca, dan aku merasa seperti aku tak bisa lagi bernapas.


Ayahku, dewa naga kuno yang kuat dan bijaksana, telah memutuskan bahwa hukuman bagi dosaku yang besar ini adalah kematian.

__ADS_1


Aku yang berpikir bahwa ia tidak akan membuangku seperti yang kukhawatirkan, ternyata dihadapkan pada hukuman yang jauh lebih berat dari yang kusangka.


Air mataku semakin deras mengalir, mewarnai pipiku dan jatuh ke tanah.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tidak ada jalan keluar, tak ada pertahanan.


Aku merasa lemah, hancur oleh keputusan yang telah diambil oleh ayahku.


Tetapi mungkin, hanya mungkin, ini adalah waktu yang memaksa diriku untuk melawan takdir yang telah ditentukan.


Pada titik ini, tak ada lagi jalan untuk bersembunyi dari kenyataan yang harus kuterima.


Dalam keputusan tak terelakkan ini, aku merasa diriku seperti seorang tawanan yang menunggu eksekusi.


Aku membenamkan wajahku dalam kepalan tanganku, tak mampu menghadapi kenyataan yang pahit.


"Bai...klah..... aku.....menerima...nya," gumamku dalam keheningan, suara rapuh yang hanya aku yang bisa dengar.


Setiap kata terasa seperti pukulan dalam, mengingatkanku pada keputusan yang begitu berat untuk ditanggung.


Aku merasa bodoh atas tindakanku yang mengelabui ayahku, seorang dewa besar yang bijak.


Sungguh, mengelabui dewa itu adalah tindakan yang sama cerobohnya seperti mencoba mengelabui matahari dengan telapak tangan.


Dan sekarang aku harus membayar harga atas kelalaian bodohku.


Ah nasi sudah menjadi bubur


Sementara aku terbenam dalam pikiran-pikiran pahit, aku mendengar suara langkah yang mendekat.


Ayahku merangkak keluar dari kasurnya, langkahnya mantap dan tanpa ragu.


Dia berjalan menuju arahku.


Aku takut....


Wajahku masih tersembunyi dalam tanganku, tetapi aku bisa merasakan kehadirannya semakin dekat.


Aku merasa getaran di lantai ketika ia mendekati tempatku bersujud.


Hatiku berdetak kencang dalam ketegangan dan takut.


Suara langkah kaki ayahku bergema di dalam hatiku, setiap langkahnya menghantarkan gelombang ketakutan yang semakin memenuhi udara.


Aku merasakan getaran lantai yang semakin kuat, menyiratkan bahwa saat itu tiba, ketika aku harus menghadapi hukuman yang telah diputuskan.


Perlahan, aku merasa hadirnya ayahku semakin mendekat.


Mati...

__ADS_1


Sepertinya itu adalah nasib yang akan aku hadapi sebentar lagi.


Meskipun tekadku menguatkan aku untuk menerima hukuman, gemetar ketakutan masih menggelayut erat dalam diriku.


Air mata masih terus mengalir dari mataku yang lelah.


Namun, dalam situasi penuh tekanan ini, ada sebuah pikiran yang menyelinap masuk ke benakku.


"Ah, jadi ayahku ingin menghabisiku sendiri? Baiklah, aku menerimanya," gumamku dalam hati, sambil merenungkan ironi dari fakta bahwa aku, harus menerima nasib yang begitu tragis akibat kebodohanku.


Wajahku masih tersembunyi dalam tanganku, tetapi detak langkah kaki ayahku terus mendekat.


Tampaknya saat penentuan ini hampir tiba, dan meskipun rasa takut melanda, ada satu hal yang harus aku akui.


"Terima kasih, ayah, telah menciptakanku ke dunia ini," berbicara dalam batin, aku menyiratkan rasa syukur yang sejati meskipun dalam ketidakpastian.


Tetapi yang tetap nyata adalah rasa ketakutan yang mencekam.


Aku merasakan kehadiran ayahku yang semakin mendekat, menimbulkan ketegangan yang tak terbendung.


Semua pikiran dan emosi berputar dalam kepala dan hatiku, menciptakan suasana yang sangat mencekam.


Aku takut, sungguh takut, karena kenyataan bahwa aku mungkin tak siap untuk menghadapi kematian yang begitu mendalam.


Di saat detik-detik tegang itu, ketika bayangan kematian semakin menghampiri, ada dua suara langkah kaki yang cepat mendekat di sebelahku.


Kedua saudaraku, Vael dan Luna, muncul dengan tindakan yang tak terduga.


"Ayah, mohon ampuni dan maafkan kesalahan Karina..." ucap Vael dengan nada tulus, sementara Luna mengikuti dengan suara lembut, "Papa, mohon ampuni dan maafkan kesalahan sis... Rina..."


Saudaraku berlutut dan bersujud di hadapan ayahku, dengan penuh keberanian mereka menghalanginya menuju arahku.


Pemandangan ini sungguh tak terduga, mengungkap sisi kepedulian dan keberanian mereka yang dalam.


Meskipun aku sering bertengkar dengan Vael, namun kali ini dia mempertaruhkan segalanya untukku.


Hati ini terasa hangat melihat mereka berdua berdiri di garis depan untuk membela diriku.


Ada getaran emosi yang melintas, suatu pengertian bahwa saudara-saudaraku masih memiliki rasa peduli yang mendalam terhadapku.


Namun, bagaimanapun juga, keputusan ayah sudah bulat.


Walaupun mereka berdua berusaha memohon ampunan untukku, ayah tetap teguh dengan hukuman mati sebagai keputusannya.


Ini adalah kenyataan yang tak terelakkan, aku telah menerima nasibku meskipun hatiku hancur dalam penerimaan yang pahit.


Terima kasih saudara-saudaraku, atas usaha kalian yang tidak terduga ini, untuk membela dan memohon ampunan bagiku.


Aku berharap kalian tidak akan mengalami nasib sepertiku di masa depan, sudah kalian lihat sendiri akibat dari mengecewakan ayah.

__ADS_1


Semoga kematianku menjadi pelajaran berharga bagi kalian.


__ADS_2