Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Vael Vs Lithos "2"


__ADS_3

Saat itu juga, seakan-akan seluruh ruangan boss dungeon ini bergabung dalam harmoni cahaya dan warna.


Kristal-kristal yang mengisi ruangan tersebut tiba-tiba menyala dengan berbagai warna yang memukau, menciptakan efek neon yang mempesona.


Seakan-akan festival cahaya neon yang luar biasa tengah berlangsung.


Namun, yang paling mencolok dari pertunjukan cahaya ini adalah bagaimana seluruh sinar dan warna tersebut merambat dengan cepat menuju tubuh Lithos yang terluka.


Seperti aliran listrik, cahaya berbagai warna itu seolah-olah membentuk "jaringan" dalam kristal-kristal Lithos yang hancur, dan perlahan-lahan, bagian-bagian retak dan rusak dari tubuh serigala kristal itu mulai meregenerasi.


Tubuh Lithos yang hancur perlahan mengalami proses penyembuhan yang memukau.


Retakan-retakan merapat, dan bagian yang pecah seolah-olah menyatu kembali seperti puzzle yang menyusun dirinya sendiri.


Semua itu berlangsung dalam tarian cahaya yang menyilaukan, memberikan kesan bahwa Lithos adalah makhluk yang tak terkalahkan.


Vael melihatnya dengan heran. Dan seketika itu juga sadar bahwa Lithos sedang meregenerasi tubuhnya.


Vael dengan cepat mengespam skill-nya, "[Celestial Cascade]!", menuju Lithos yang sedang berusaha meregenerasi tubuhnya.


Tidak ada henti dalam serangannya, seolah-olah dia memompa panah-panah suci tersebut tanpa henti seperti air yang mengalir deras.


Namun, Lithos yang terjepit dalam serangan tersebut tidak tinggal diam.


Dengan energi kristal yang ada di sekitarnya, ia mencoba menciptakan perisai kristal untuk melindungi dirinya dari hujan panah suci yang tak henti-hentinya.


Namun, hancuran dan ledakan retakan kristal yang terjadi akibat serangan Vael menggoyahkan perisai pertahanan Lithos.


Di tengah situasi yang semakin kacau, Lithos berteriak ke Vael dengan nada memelas, "Hey! hey! Kau curang beri aku waktu!" dengan suara yang penuh panik, terlihat jelas bahwa serangannya telah terganggu oleh serangan beruntun Vael.


Namun, Vael tidak memperdulikan tangisannya. Dia terus mengalirkan serangan tak henti-hentinya, memaksimalkan kekuatan serangan "[Celestial Cascade]"-nya.


Ribuan anak panah suci terus mengalir seperti sungai deras, menyerang dan merobek-robek tubuh kristal Lithos yang sedang meregenerasi.


Tiba-tiba, ledakan dan hancuran retakan kristal menciptakan suasana gemuruh dan kekacauan di ruangan besar boss dungeon ini.


Kretek-kretek dan krak-krak kristal terdengar seperti orkestra kematian yang meriah, menambah dramatisasi pertempuran yang semakin panas.


Tak memberi kesempatan pada Lithos untuk mengembalikan dirinya, Vael terus menerus melancarkan serangannya.


BAM!

__ADS_1


SHOOT!


DUAR!


Namun, saat itulah ia menyadari bahwa skill andalannya, [Celestial Cascade], telah mencapai batas penggunaan harian.


Sepuluh kali penggunaan sehari adalah harga yang harus dibayar untuk kekuatan yang besar.


Vael berhenti meluncurkan serangan menggunakan skill tersebut, memberikan waktu bagi dirinya untuk meresapi situasi.


Ruangan boss dungeon Lithos kini terlihat kacau dengan debu kristal yang bertebaran di udara akibat serangan brutal yang dilancarkannya tanpa henti.


Seakan-akan dia telah mengadakan pesta kembang api kristal di dalam sana.


Debu kristal perlahan-lahan mulai mereda, memperlihatkan pemandangan di dalam ruangan.


Vael menatap dengan tatapan fokus, dan kini dia bisa melihat jelas kondisi Lithos.


Tubuh kristal raksasa tersebut hancur menjadi serpihan-serpihan, hanya menyisakan kepala kristal serigalanya yang kini tampak retak dan rapuh.


Sebuah pemandangan yang menandai keberhasilan serangannya yang gigih.


Ia merasakan sensasi dingin dan keras di bawah kakinya saat menginjak permukaan kristal raksasa itu.


Saat Vael memberikan tekanan pada kristal tersebut, terdengarlah retakan-retakan berdentam-dentam, dan dalam sekejap, kepala Lithos hancur menjadi serpihan-serpihan kristal yang berserakan di tanah.


Tubuh Vael kemudian terlempar ke belakang karena ledakan serpihan kristal, namun dia berhasil menahan diri dengan mantap.


Nafasnya terengah-engah karena pertarungan yang sengit, namun perasaan lega mengisi dadanya.


Dalam keheningan setelah pertempuran, Vael menghela nafas panjang.


"Fiu... akhirnya anjing rendahan itu mati," gumamnya.


Wajahnya mencerminkan perasaan puas dan penyelesaian setelah berhasil mengalahkan ancaman Lithos.


Setelah kemenangannya, Vael tiba-tiba merasa kecemasan yang mendalam menghampirinya.


Matanya memandang sekeliling, merasa sesuatu yang kurang tepat.


Saat itu, bayangan ayahnya muncul di pikirannya, memori akan serangan Lithos kepadanya terus bergelayut seperti hantu.

__ADS_1


"Ayah!" serunya, suaranya penuh kekhawatiran, dan tanpa ragu, Vael meluncur menuju setiap sudut ruangan yang masih penuh dengan kristal.


Dengan kepakan sayapnya yang kuat, ia terbang cepat dari satu ujung ke ujung lainnya, mencari tanda-tanda keberadaan ayahnya.


Vael berusaha membuka setiap puing kristal, dengan hati yang berdebar cepat.


Namun, setelah usaha yang keras, keputusasaan mulai merambat saat ayahnya tak kunjung ditemukan.


Tatapan Vael mencari-cari, namun nihil. Dia terengah-engah, air mata perlahan mengalir di pipinya.


"Dimana ayah?! Aku gagal melindunginya," gumamnya, suaranya terguncang oleh kekecewaan dan penyesalan.


Rasa bersalah menghantam hatinya, merasakan bahwa dia belum bisa memenuhi tanggung jawabnya untuk melindungi orang yang paling penting dalam hidupnya.


Tanpa peringatan, tiba-tiba ada sebuah pergerakan di balik Vael.


Namun, masih terlarut dalam penyesalannya, Vael tidak menyadari ancaman yang mendekatinya dengan cepat.


Dalam sekejap, sosok misterius itu melompat ke arahnya, mengambil kesempatan dari ketidaktahuan Vael.


Dengan gerakan yang gesit, sosok tersebut menyerang ke arah bagian belakang Vael, tampaknya mengincar lehernya.


Namun, tepat di saat terjadi serangan, terdengar suara gemuruh tangkisan yang memecah hening.


Tingg...


"Kau lengah!" terdengar suara berat dan tegas dari belakang Vael, menggetarkan udara di sekitarnya.


Saat itu, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, Vael melihat belakangnya dengan penuh haru.


Di sana, ia melihat ayahnya dengan satu tangan besarnya memblokir serangan tiba-tiba yang mengincar lehernya.


"Ayah!" seru Vael dengan kegembiraan yang tak terbendung.


Kehadiran sang naga agung, ayahnya, tiba tepat pada saat yang paling krusial.


Vael menyaksikan dengan jelas sosok yang tadi menyerangnya dengan lengah.


Kristal humanoid yang berukuran besar, mirip dengan ayahnya, kini berdiri berdekatan dengan sang ayah.


Sekarang, keduanya berhadapan, memancarkan aura kuat yang siap meledak dalam pertempuran tak terelakkan.

__ADS_1


__ADS_2