Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Comfort "2"


__ADS_3

Rasa sayangku kepada mereka begitu dalam... dan kepada ayahku.


Ketika kami bersujud, suasana ruangan dipenuhi oleh suara berat ayahku, sepertinya mengisi setiap sudut ruangan.


"Angkatlah kepala kalian, Aku me... maafkanmu... Karina..." kata-kata ayahku menghentikan sujud kami, memerintahkan kami untuk mengangkat kepala dari posisi bersujud.


Mataku yang bengkak dan sembab akibat tangisku, kini harus menghadap ayahku.


Saat mendengar kata-kata ayahku, aku terkejut dan tak percaya pada awalnya.


Bagaimana mungkin? Aku telah melakukan dosa besar terhadap ayah, meragukan, bahkan berbohong kepadanya.


Namun, ayah telah mengucapkan kata-kata yang tak terduga: dia memaafkanku.


Dalam kebingunganku, aku memandang wajah ayahku yang bijaksana.


Hatiku terasa terbebaskan dari beban berat yang selama ini kutanggung.


Ayah, dengan segala kebijaksanaan dan kepenuhan hatinya, telah memaafkanku atas kesalahanku yang besar. Betapa besar dan mulia hatinya.


Dalam momen penuh haru, aku tak henti-hentinya mengucapkan "Terima kasih ayah" berkali-kali kepada ayahku, sambil air mata kebahagiaan mengalir.


Namun, meski kata-kata itu keluar dari bibirku, ayah tetap berdiam diri dan kekecewaannya masih terpancar dari tatapannya.


Meski demikian, kenyataan bahwa aku bebas dari hukuman mati adalah hadiah tak ternilai.


Hanya berkat perjuangan Vael dan Luna, aku masih bisa bernafas bebas. Sungguh, aku merasa beruntung memiliki saudara-saudara sebaik mereka yang rela berkorban untukku.


Namun, dalam sekejap, suara berat ayahku kembali terdengar. "Keluar," katanya tegas, diikuti oleh lanjutan, "dari kamarku."


Tatapannya masih tajam, dan hanya dengan melihatnya, tubuhku merasa bergetar dengan kekuatan yang luar biasa.


Aku merenung sejenak pada tatapan tajam ayahku. Sepertinya ia belum sepenuhnya melupakan kemarahannya terhadapku, dan dia ingin memberikan ruang bagi ketidakpuasan hatinya untuk mereda.


Meskipun aku merasa agak terpukul, aku memahami bahwa ini adalah konsekuensi dari perbuatan bodohku.


Dengan perasaan haru dan hormat, aku bangkit dari posisi berlutut dan mengucapkan "Terima kasih ayah" dengan lirih sebelum aku melangkah keluar dari kamarnya.


Meskipun hatiku ingin memeluknya sebagai ungkapan rasa terima kasih, aku bisa merasakan bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Namun, saudaraku Vael tampaknya merasakan keinginanku untuk keluar sebentar, karena dia memohon izin kepada ayah untuk menemaniku.


Ayah hanya mengangguk singkat sebagai tanda persetujuan.


Dengan Vael memegangiku, kami berdua melangkah menuju lorong, meninggalkan ruangan yang hancur akibat kemarahan ayahku tadi.


Tubuhku masih terasa lemah dan gemetar akibat peristiwa tadi.


Aku benar-benar beruntung memiliki Vael yang mendukungku dalam situasi ini.


Dia dengan lembut menuntunku menuju kamarku yang berada di lantai 8.


Meskipun langkah kami terhenti beberapa kali karena tubuhku lemah, Vael tetap sabar dan memastikan aku tetap tegak.


Kami akhirnya berhasil keluar dari pintu raksasa kamar ayahku yang kini terlihat rusak dan terbuka lebar.

__ADS_1


Bagian pintu yang besar dan berbolongan itu menjadi saksi bisu akan amarah ayah.


Kami akhirnya tiba di kamar ku di lantai 8 setelah perjalanan yang cukup melelahkan.


Dengan Vael yang setia menuntunku, pintu kamarku pun terbuka, dan kami memasuki ruangan tersebut.


Dengan lembut, Vael membawaku menuju kasur dan aku merasakan kenyamanan saat tubuhku akhirnya bisa beristirahat.


Pintu kamarku pun tertutup dengan perlahan, memberikan kami privasi.


Tapi tiba-tiba, suasana berubah drastis. Vael yang sebelumnya tampak baik dan setia tiba-tiba mengubah wajahnya menjadi marah.


Ucapannya yang tajam membuatku terkejut.


"Kau benar-benar gila, Karina," ucap Vael dengan nada marah.


Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika tiba-tiba dia menamparku dengan keras.


Suara tamparan itu terdengar nyaring di dalam kamar, dan wajahku merah memerah karena kejutan.


PLAK!!


Tidak hanya terkejut, aku juga merasa kesakitan oleh tamparan itu.


Tatapan terkejutku bertemu dengan mata Vael yang penuh amarah.


Aku mencoba memahami kenapa dia melakukan hal ini, dan akhirnya aku mendapati ekspresi marah itu...


Tanganku dengan perlahan menjauh dari pipi yang baru saja ditampar Vael dengan keras.


Rasa sakit masih terasa, dan meski aku mencoba tersenyum, aku merasakan bahwa senyumku tidaklah tulus.


"KAU SUDAH GILA! GILA! TELAH MEMBOHONGI AYAH!" Teriakannya memekakkan telinga, memecah keheningan kamar.


Tanpa peringatan, tangannya datang lagi, dan suara tamparan itu terdengar nyaring di telingaku.


SLAP!!


Sakit itu datang lagi. Aku merasakan rasa sakit di pipi yang sudah merah dan membengkak.


Vael yang sebelumnya tampak seperti malaikat, kini terlihat lebih mirip iblis yang marah.


Tidak ada tanda-tanda kelembutan di matanya, hanya kekecewaan dan kemarahan yang membara.


Aku mendengarkan kata-kata Vael dengan hati yang meronta.


Aku memahami bahwa aku telah melakukan kesalahan besar dengan berbohong dan hampir membahayakan saudaraku.


Aku merasakan kekecewaannya dan rasa bersalah yang dalam.


Vael berteriak lagi, menegaskan betapa berbahayanya tindakanku.


"KAU SUDAH TAHU AYAH BISA MENGETAHUI SEGALA HAL TERMAKSUD KEBOHONGANMU! TETAPI KAU DENGAN BANGGA MEMBOHONGINYA! AKU DAN LUNA HAMPIR MATI KARENA KEBODOHANMU!"


Suara tamparan datang lagi, dan kali ini itu adalah yang ketiga kalinya. Pipiku kini sudah lebih dari merah dan memerah. Rasa sakit itu menyakiti hatiku lebih dalam daripada fisikku.

__ADS_1


Dalam hening yang tercipta setelah segala kemarahan dan teriakan, aku memohon maaf kepada Vael dengan suara yang penuh penyesalan, seolah kata-kata itu adalah satu-satunya hal yang bisa aku tawarkan sebagai ganti dari kebodohanku.


Namun, Vael tidak segera merespon.


Dia hanya menatapku dengan tatapan yang masih penuh kekecewaan, lalu mulai berjalan mondar-mandir di kamarku.


Setiap langkahnya tampak berat, seakan mengekspresikan betapa berat hatinya akibat segala kejadian ini.


Takut akan kemungkinan akan tamparan ketiga dari saudaraku, aku menahan napas saat Vael menatapku lagi.


Aku tidak masalah jika dia menggamparku lagi, aku pantas mendapatkannya, karena kebodohan diriku, kedua nyawa Saudara-ku hampir melayang akibat amukan besar ayahku.


Namun, apa yang terjadi berbeda dari apa yang kubayangkan. Vael tiba-tiba mendekatiku dengan langkah cepat dan seolah akan menamparku lagi.


Namun, kejutan menyenangkan datang ketika dia justru memelukku dengan erat. Aku merasakan kedua lengannya yang kuat melingkari tubuhku, merangkulku dengan penuh kasih sayang.


Hatiku terasa hangat, seolah ada cahaya kecil yang menyinari kegelapan yang baru saja melanda.


Dia berbicara dengan suara lembut, meminta maaf atas reaksinya yang keras dan mengakui ketakutannya akan kemarahan ayah.


Tubuhnya yang gemetar mengisyaratkan betapa mendalam efek dari insiden tadi.


Dan dalam pelukannya, aku merasa seperti ada tempat perlindungan, seperti sebuah oasis di tengah badai.


Vael perlahan melepaskan pelukannya, tetapi jejak hangatnya masih terasa di dalam hatiku. Aku memandang wajahnya yang lekat, mencoba menahan air mata yang terus mengalir.


Dia mengambil sapu tangan dari dimensi penyimpanannya dan mengelap air mataku dengan penuh kelembutan, seolah menghapus bekas-bekas kesedihan dari wajahku.


"Adik-ku, maafkan aku," katanya dengan suara lembut, sambil mengusap-usap kepalaku. "Sudahlah, jangan pikirkan hal-hal yang aneh. Ayah sudah memaafkanmu, jadi sudahlah tangisan dan kesedihanmu."


Aku merasakan kehangatan dalam kata-katanya dan seiring dengan usapan tangannya, tangisanku mereda.


Meski tak bisa sepenuhnya menghilangkan beban emosional, kata-kata dan perhatiannya memberiku ketenangan yang ku butuhkan saat ini.


Vael kemudian meminta aku untuk beristirahat. Dengan penuh perhatian, dia membuka selimut di atas kasurku, mengizinkanku untuk berbaring.


Aku mengikuti langkahnya dengan cepat, merasa lelah dan hancur oleh peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi.


Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang lembut, menarik selimut untuk menutupi diriku.


Pandanganku memandang langit-langit kamarku yang tenang, seolah mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang melintas dalam pikiranku.


Vael tersenyum kepadaku, sebuah senyuman yang penuh dengan kehangatan dan pengertian. "Istirahatlah, Karina. Semua akan baik-baik saja."


Vael dengan lembut menyelimuti tubuhku, memastikan bahwa aku nyaman.


Aku merasakan tangan lembutnya mengusap kepalaku dengan lembut, memberiku rasa tenang yang lama hilang.


Kata-katanya terdengar seperti lullaby yang menenangkan hatiku yang kacau.


"Istirahatlah, biar pikiranmu jernih kembali. Jika kau membutuhkan sesuatu, [Message]lah aku. Aku akan kembali kepada ayah," ucapnya dengan nada yang lembut dan perhatian.


Tubuhku yang lelah mulai terasa semakin berat, dan aku merasakan diriku terhanyut dalam perlahan tidur yang mendekapku.


Setelah melihat Vael melangkah ke luar dan menutup pintu kamarku dengan lembut, aku merasa tenggelam dalam rasa kantuk yang begitu mendalam.

__ADS_1


Terakhir kali aku melihat cahaya lampu yang redup sebelum mataku tertutup rapat.


Sebelum benar-benar tenggelam dalam tidur, aku tak bisa menahan diri untuk berkata, "Terima kasih, ayah." Kata-kata itu terucap dengan suara lembut sebelum aku benar-benar terlelap.


__ADS_2