
Jessica berjalan menuju meja Alvaro dan adiknya Joanne. Jessica langsung duduk lalu meminum minuman di depan Joanne tanpa ijin.
“Eh..kak..”
Joanne yang akan meminum minumannya hanya terpaku melihat gelas di depannya sudah diserobot sang kakak lebih dulu.
“Kakak kenapa?”tanya Joanne begitu melihat tingkah kakaknya yang tidak biasa
“Kenapa aku bertunangan hari ini?”tanya Jessica pada adik dan sepupunya.
Joanne dan Alvaro sama-sama mengerutkan dahinya dan saling bertatapan penuh kebingungan.
“Katakan kenapa aku mau bertunangan dengan lelaki menyebalkan seperti dia?”tanya Jessica lagi
“Apa maksud kakak?”tanya Joanne bingung
“Untuk apa aku bertunangan? Apa untungnya buatku? Apa aku tak punya otak? Sepertinya otakku tertinggal saat memutuskan bertunangan dengan lelaki aneh itu”cerosos Jessica tanpa jeda
Joanne dan Alvaro memilih diam saja mendengarkan keluhan Jessica.
“Aku bingung dengan pertanyaan kakak. Sebenarnya ada apa kak?”tanya Joanne penasaran
“Sepertinya aku memang sudah hilang akal. Aku bahkan tak memiliki otak sekecil ini pun”
Jessica menautkan ibu jari dan telunjuknya.
“Kenapa kalian tidak memperingatkanku? Kenapa?”tanya Jessica meluapkan semua kekesalan dan kekecewaannya.
“Seharusnya kalian bilang padaku untuk berpikir dengan lebih jernih dan tidak gegabah untuk menerima pertunangan ini. Aahhh..aku pasti sudah gila”
“Kalian tahu dia adalah lelaki paling narsis yang pernah ada di muka bumi ini”ejek Jessica
Mata Alvaro dan Joanne terbelalak sempurna. Karena saat ini Rafael sudah berdiri di belakang Jessica yang sedang menumpahkan kekesalannya pada Rafael.
“Lelaki paling egois dan menyebalkan yang pernah aku temui”lanjut Jessica
Joanne memaksakan tersenyum sambil menggerakkan kepalanya memberi isyarat pada sang kakak. Namun Jessica yang sudah dipenuhi kemarahan sampai ke ubun-ubun tak menangkap sinyal isyarat dari Joanne, adiknya.
“Kak..”
Joanne tersenyum sambil kepalanya diarahkan ke satu sisi memberi isyarat pada Jessica. Jessica yang melihat kelakuan aneh adiknya mulai mengerutkan dahinya.
“Apa?”tanya Jessica
“Hehehhe..”
Joanne terus tersenyum sambil mengarahkan kepalanya memberi isyarat pada sang kakak.
“Jangan katakan..”gumam Jessica dalam hati
Jessica akhirnya dapat menangkap sinyal isyarat dari Joanne. Dengan perlahan Jessica menoleh ke belakang. Dilihatnya lelaki tampan yang sudah dimakinya dari tadi. Berdiri tegak di belakangnya yang kini berjalan mendekatinya.
“Sebaiknya kami pergi dulu”pamit Joanne
Joanne dan Alvaro memilih meninggalkan pasangan yang baru saja bertunangan itu berdua.
Rafael kemudian duduk di samping Jessica. Keduanya bertatapan namun Jessica memilih mengalihkan tatapannya karena merasa canggung sudah ketahuan memaki dan membicarakan lelaki itu di belakangnya dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
“Apa kau mau berdansa denganku?”ajak Rafael
Jessica melengos.
“Entahlah. Aku sedang tidak mood sekarang”jawab Jessica
Rafael langsung mendekatkan tubuhnya dan berbisik di telinga Jessica.
“Semua orang memandang kita. Sebaiknya kau menurut saja. Lihat! Orangtuamu dan nyonya besar sedang melihat kita sekarang”bisik Rafael
Jessica melirik sepintas. Dan memang benar, Hanna Jerry dan Elizabeth menatap keduanya sambil tersenyum. Jessica pun balas tersenyum pada mereka.
“Jika bukan karena mereka, aku tak sudi berdansa denganmu”sahut Jessica menahan kesal.
Rafael tersenyum penuh arti mendengar kekesalan Jessica padanya. Rafael pun berdiri dan merapikan jas miliknya. Sebuah tangan terulur di depan Jessica. Jessica pun menerima ajakan Rafael untuk berdansa. Keduanya berdiri dan berjalan menuju suatu tempat yang sudah diplotting menjadi lantai dansa.
Sepanjang perjalanan menuju tempat itu, semua tamu undangan dan keluarga besar keduanya menatap mereka sambil tersenyum.
“Mereka benar-benar romantis”ucap Hanna
“Anda benar”sahut Elizabeth
Keduanya berdiri di lantai dansa berhadapan. Jessica meletakkan satu tangannya di bahu Rafael dan tangan yang lain digenggam oleh Rafael. Rafael tanpa canggung meletakkan sebelah tangannya di pinggang ramping Jessica. Rafael bahkan menarik tubuh Jessica hingga keduanya tak berjarak.
Jessica sempat menahan nafasnya kala Rafael menarik tubuhnya mendekat. Hingga dapat dilihatnya wajah tampan lelaki itu dari dekat. Mata keduanya pun saling bertatapan dengan lembut. Diiringi sebuah lagu cinta yang mengalun indah, keduanya berdansa dengan sangat mesra.
“Apa kau masih marah padaku?”tanya Rafael lembut
“Iya”jawab Jessica pelan
“Apa kau menyesali pertunangan ini?”tanya Rafael lagi
“Iya. Dan kamu? Apa kamu tidak menyesali pertunangan ini?”tanya balik Jessica
“Tidak”jawab Rafael tegas
Degh..
Jessica menatap Rafael begitu mendengar jawaban lelaki itu yang terlihat serius dengan jawabannya.
“Tak ada satupun yang aku sesali dari pertunangan ini”ucap Rafael.
Keduanya kemudian berdansa kembali dengan mesra. Kepala Jessica menempel di wajah tampan Rafael. Perbedaan tinggi keduanya membuat bibir Rafael dapat menyentuh kening Jessica. Gadis cantik itu begitu menikmati momen kebersamaan keduanya sambil sesekali memejamkan matanya. Keduanya begitu larut dalam kemesraan yang tercipta di lantai dansa.
“Katanya menyesal bertunangan dengan kak Rafael, tapi llihatlah sekarang! Mereka bahkan terlihat saling mencintai”keluh Joanne
“Wanita memang aneh”sindir Alvaro
“Kau bilang apa?”
Joanne yang tak terima spesies sebangsanya disindir langsung memukul lengan sepupunya itu dengan keras. Dan saat itu juga, Joanne dapat melihat lelaki yang disukainya, Albert, menatap ke arah lantai dansa dengan tatapan yang sendu.
Joanne bahkan sempat membeku selama beberapa saat. Alvaro yang melihat sepupunya diam, langsung menoleh ke arah tatapan mata Joanne. Dilihatnya Albert di kejauhan.
Alvaro yang kesal, langsung menutupi Albert dengan tubuh besarnya. Membuat Joanne mau tidak mau menatap Alvaro.
“Sudah hentikan! Dia tak pantas mendapatkan perhatianmu. Biarkan lelaki itu sendiri”pinta Alvaro
__ADS_1
Alvaro kembali teringat kejadian memilukan di pesta pernikahan sang kakak, Amanda. Dimana di malam itu, Alvaro melihat dengan mata kepalanya sendiri, Joanne yang meratapi kisah cintanya bersama Albert. Ditolak lelaki yang disukainya karena lelaki itu lebih menyukai sang kakak, Jessica. Sekeras apapun Joanne berusaha, di mata Albert hanya ada Jessica. Sehingga mustahil bagi Joanne mendapatkan cinta Albert.
****
Jessica dan Rafael masih juga berdansa diiringi lagu cinta yang dimainkan grup band pengiring musik dalam acara pertunangan itu. Keduanya begitu terbuai dengan suasana romantis yang ada. Rafael bahkan kini meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping Jessica. Sementara Jessica mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki tampan itu. Sesekali keduanya saling bertatapan dengan mesra.
Keduanya begitu menikmati suasana, sampai tak menyadari musik pengiring yang sudah berhenti. Begitu sadar, Jessica dan Rafael langsung salah tingkah berdua.
“Musiknya berhenti”ucap Rafael
“Iya. Musiknya berhenti”sahut Jessica dengan malu-malu.
Keduanya langsung melepaskan diri satu sama lain. Suasana mendadak canggung di antara keduanya.
“Prok..prok..prok”
Tepuk tangan meriah dari para tamu undangan dan keluarga yang sejak tadi menyaksikan keromantisan pasangan yang berbahagia itu membuat keduanya semakin salah tingkah.
“Kiss! Kiss! Kiss”
Tiba-tiba sebuah suara meminta pasangan yang bertunangan itu untuk berciuman. Suara itu semakin menggema karena diamini tamu undangan yang lain.
Rafael menghadapkan tubuhnya ke arah Jessica.
“Aku harus menciummu”bisik Rafael
Jessica membelalakkan matanya mendengar permintaan Rafael.
“Apa kau sudah gila? Aku tidak mau”jawab Jessica pelan
“Apa maksudmu dengan “tidak”?”tanya Rafael
“Tidak ya tidak”jawab Jessica sambil memaksakan sebuah senyuman tersungging di bibirnya karena permintaan untuk keduanya berciuman semakin santer terdengar.
“Lihat! Semua orang melihat kita. Aku harus menciummu”ucap Rafael
“Di kening. Kau boleh mencium keningku”sahut Jessica sambil melirik sekitarnya dimana para undangan semua menatap keduanya.
“Apa kau lupa kau sudah pernah menciumku secara paksa di apartemenku waktu itu?”keluh Rafael
Jessica terdiam sejenak mengingat kegilaan yang pernah dilakukannya.
“Baiklah! Tapi lakukan cepat!”ucap Jessica
“Good”sahut Rafael sambil menarik salah satu sudut bibirnya
Keduanya saling berhadapan. Tangan besar Rafael meraih tengkuk Jessica. Rafael mendekatkan kepalanya dan memiringkannya. Mata keduanya saling bertatapan dengan lembut, kemudian keduanya sama-sama memejamkan mata kala bibir keduanya bertemu.
Deg..deg..deg
Jantung keduanya berdegup sangat kencang. Kupu-kupu seakan beterbangan di dalam perut keduanya seiring ciuman hangat yang terjadi diantara keduanya. Rafael mencium bibir Jessica dengan sangat lembut. Membuat keduanya semakin merasakan kehangatan di hati masing-masing. Mereka berbalas ciuman hangat selama beberapa saat. Hingga keduanya saling melepaskan tautan bibir mereka namun dengan tatapan mata yang saling terkunci.
Suasana menjadi sedikit canggung.
“Pegang tanganku!”bisik Rafael lirih
Keduanya pun kemudian saling bergandengan tangan berdua. Dengan senyum yang merekah di wajah keduanya.
__ADS_1
“Prok..prok..prok”
Semua tamu undangan bertepuk tangan untuk keduanya. Tampak semua tamu undangan tersenyum melihat keromantisan yang diperlihatkan kedua pasangan yang sedang berbahagia itu. Hanya Albert dan Ramon yang menatap kedua pasangan itu dengan tatapan yang berbeda dengan lainnya.