
“Aku tak mau berurusan dengan lelaki buaya sepertimu. Jadi jauh-jauh dari diriku. Dan satu hal lagi, kamu bisa kan mencari tempat selain di kantor? Kenapa harus membuat orang lain tidak nyaman dengan kelakuanmu itu?”pinta Jessica
“Aku juga termasuk pemilik saham di perusahaan ini. Jadi aku bebas melakukan apapun yang aku mau disini. Kau tak bisa melarangku”ucap Rafael dengan entengnya
“Tapi kelakuanmu seperti tadi membuat orang lain tidak nyaman. Ini kantor bukan club malam. Kalo kau mau bermesraan bukan disini tempatnya”ucap Jessica dengan sengit.
“Memangnya kenapa? Apa kau mau juga?”goda Rafael sambil menarik salah satu sudut bibirnya.
“In your dream!”ucap Jessica tegas.
Air panas yang disiapkan Jessica sudah matang. Jessica menuangkan air panas itu ke dalam cangkir satu per satu. Rafael masih juga duduk menikmati Jessica yang membuat kopi untuk para karyawan.
Tiba-tiba tanpa sengaja, air panas yang dituang Jessica mengenai tangannya sendiri.
“Ah..panas..panas”pekik Jessica kesakitan
Rafael yang melihat Jessica terkena air panas langsung melompat dari tempatnya duduk dan menghampiri Jessica yang kesakitan.
“Kenapa kau bisa begitu ceroboh? Kemarikan tanganmu!”pinta Rafael
Rafael langsung memegang tangan Jessica yang kepanasan dan mengarahkan tangan Jessica ke kran. Rafael menyalakan kran air dan membiarkan tangan Jessica yang terkena air panas terguyur air yang mengalir selama beberapa saat.
“Kau itu memang ceroboh!”sentak Rafael
Jessica yang marah sudah dikatai oleh Rafael, menarik tangannya dari kran.
__ADS_1
“Lepaskan tanganku!”gerutu Jessica sambil cemberut
“Berhentilah merajuk kalo kau tak mau tanganmu melepuh!”perintah Rafael
Rafael memegang tangan Jessica dengan sangat kuat hingga Jessica tak bisa melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Rafael.
Meskipun jengkel dengan ucapan Rafael tetapi Jessica menurut saja tangannya dirawat Rafael. Setelah lima belas menit disiram dengan air keran yang mengalir, Rafael mengambil kotak P3K di salah satu kitchen set untuk membalut luka bakar di tangan Jessica dengan perban steril.
Rafael membalut luka Jessica dengan sangat hati-hati. Jessica sesekali menatap ke arah lelaki tampan yang kini sedang fokus merawat tangannya yang terkena air panas. Sesaat Jessica merasa tersentuh dengan perhatian lelaki yang selalu mengajaknya bertengkar itu. Dan ketika tiba-tiba Rafael balik menatapnya, Jessica tampak salah tingkah. Matanya menoleh ke sana kemari takut ketahuan sudah memandangi lelaki menyebalkan itu.
“Terimakasih”ucap Jessica setelah Rafael selesai membalut lukanya.
“Jika lukanya tak juga sembuh, kau harus segera ke dokter”ucap Rafael
Jessica hendak pergi dengan membawa nampan berisi cangkir kopi untuk para karyawan. Rafael yang melihatnya langsung mengambil alih nampan yang dibawa Jessica.
“Biar aku saja”ucap Jessica hendak mengambil nampan yang direbut Rafael.
“Tanganmu itu sedang sakit, kau bisa membuatnya semakin parah”seru Rafael dengan nada tinggi.
“Dasar keras kepala”seru Rafael.
Jessica hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar Rafael menyebutnya keras kepala.
Rafael justru yang keluar membawa nampan berisi cangkir kopi. Rafael membawanya diikuti Jessica di belakangnya.
__ADS_1
“Jessi, what’s wrong with your hand?”tanya salah seorang karyawan melihat tangan Jessica yang diperban.
“Oh..i hurt my hand while making the coffee. But it’s just fine. It will recover soon. Don’t worry!”ucap Jessica
Amanda yang baru selesai berdiskusi dengan karyawannya terlihat sedikit berlari ke arah Jessica.
“Jess, tanganmu kenapa?”tanya Amanda kuatir
“Tadi aku tak sengaja kena air panas kak. Tapi sekarang sudah baik-baik saja. Kakak tenang saja”pinta Jessica
“Apa perlu kita bawa kau ke rumah sakit? Aku takut jika kau kenapa-kenapa”tanya Amanda
“Tidak perlu kak. Luka bakarnya sedikit kok”jawab Jessica
“Kalo lukanya tak segera sembuh, kau harus mau diperiksa ke dokter. Okey?”pinta Amanda
“Baiklah kak”jawab Jessica
Jessica sesekali melirik ke arah Rafael yang terlihat sedang berbincang dengan karyawan agensi dari kejauhan.
“Sebenarnya dia baik juga”gumam Jessica dalam hati
“Ah..apa yang sedang aku pikirkan? Bisa-bisanya aku memuji lelaki buaya itu”gerutu Jessica dalam hati
Jessica menggelengkan kepalanya dengan cepat begitu menyadari sudah memuji kebaikan Rafael pada dirinya. Dari kejauhan, Rafael bisa melihat Jessica yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Rafael menarik sudut bibirnya melihat kelakuan lucu dari Jessica.
__ADS_1